Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Kedatangan Ibu Mertua


__ADS_3

Sekumpulan ibu-ibu sosialita tengah berkumpul di sebuah restoran mewah tempat para kalangan atas berkumpul. Mereka sedang menikmati sarapan pagi mereka, dan moment itu dijadikan mereka sebagai ajang adu gengsi dan pamer harta.


"Jeng, anak kamu hebat banget ya? Masih muda udah punya perusahaan" Puji ibu sosialita yang bernama Fira kepada Rena. Rena tak lain adalah ibu dari Zayyan.


Rena hanya tersenyum. Ia menyesap capuccino nya dengan anggun.


"Ya pasti hebat! Siapa dulu dong ibunya?" Rena tersenyum bangga sambil menyimpan gelasnya dengan anggun.


"Apalagi menantu kamu itu dokter, dan pewaris rumah sakit terbesar di Indonesia. Benar-benar berkelas!!" Temannya yang lain bernama Astrid mengayun-ngayunkan garpu.


Keysha memang anak dari seorang dokter bernama Reynard. Dokter Reynard ayah Keysha, adalah pemilik Rumah sakit bertaraf internasional yang sangat terkenal di Indonesia. Ayah Keysha juga menggeluti beberapa usaha bisnis seperti membuat pabrik masker, sarung tangan medis, handsanitizer, dan alat-alat medis lainnya. Tentunya semua aset yang Dokter Reynard punya akan diserahkan kepemimpinannya pada Keysha kelak jika ayahnya sudah pensiun, karena Keysha adalah putri semata wayang dari Dokter Reynard.


Rena hanya tersenyum dengan bangga, ia menatap rivalnya Ine yang wajahnya ditekuk. Ine merasa panas jika Rena disanjung dan dipuji oleh teman-temannya yang lain.


"Buat apa dokter hebat tapi masih belum punya anak?" Seloroh Ine yang membuat wajah Rena merah padam menahan amarah.


"Belum waktunya kali, Jeng Ine! Kan yang ngasih keturunan itu Tuhan. Dan kita manusia hanya bisa berikhtiar saja!" Astrid membela Rena.


"Anakku walaupun belum menikah, tapi dia juga sudah sukses, Jeng. Dia sudah jadi model, dan kini hidupnya juga sendiri. Dia memilih pisah dari rumah, karena takut merepotkan. Tapi setiap bulan, dia selalu mentransfer untuk kebutuhan adiknya," Ine mulai membangga-banggakan anaknya yang tak lain adalah Shella.


"Anak gadis jangan dibiarin tinggal sendirian lah! Kalau kebablasan gimana? Zaman sekarang banyak tuh yang kumpul kebo," Rena mengeluarkan kipas miliknya dan mengipas-ngipas wajahnya yang sedikit berkeringat.


Wajah Ine memerah menahan malu. Jika berdebat dengan Rena, pasti ia akan kalah karena Rena sangat pintar bicara. Sementara teman-teman sosialitanya yang lain hanya saling pandang. Mereka sebenarnya kurang suka dengan Ine, karena track record nya yang sering merebuat suami orang. Mereka selalu mencari alasan supaya Ine tidak ikut berkumpul. Namun, Ine selalu mengetahui jadwal acara-acara mereka walaupun tidak diajak.


"Nanti aku perkenalkan deh anakku yang model itu! Pasti kalian takjub!" Ine berbicara lagi dengan jumawa.


"Oh ya semua, makanan kalian biar aku yang bayar ya?" Ine menatap Rena dengan tatapan meremehkan.


"Wah yang bener, Jeng? Kalau begitu makasih lho!" Fira langsung berubah menjadi ramah.

__ADS_1


Sementara Rena dan Astrid hanya tersenyum kecut menatap Ine yang tersenyum dengan penuh kemenangan.


*****


"Sayang, sarapan dulu!" Sapa Keysha saat melihat suaminya menuruni tangga.


"Sayang, aku makan di kantor saja ya? Hari ini ada audit dari Jepang. Aku harus datang lebih awal," Zayyan memasangkan jam tangan branded di pergelangan tangannya.


Keysha mengangguk. Ia segera mengambil kotak bekal makanan. Ia buat menjadi dua kotak. Satu untuk sarapan pagi, dan satu lagi untuk makan siang Zayyan.


"Ini kotak bekalnya! Dihabiskan ya?" Titah Keysha dengan nada manja.


Zayyan mengangguk, ia mencium kening istrinya dan segera pergi berangkat bekerja. Sepeninggal Zayyan, Keysha membersihkan meja makan bekas sarapannya tadi.


"Biar saya bereskan, Nyonya!" Bi Herna dengan tergopoh mengambil alih pekerjaan yang sedang di kerjakan oleh Keysha.


Inilah yang membuat Bi Herna betah bekerja di rumah majikannya itu. Keysha sangat baik dan tak pernah memperlakukan Bi Herna dengan seenaknya. Keysha juga selalu mengambil alih pekerjaan memasaknya walaupun jadwalnya sangat sibuk. Dokter muda itu berujar bahwa memasak itu adalah tugas istri agar suami selalu kangen rumah.


"Hari ini ke rumah sakit, Non?" Tanya Bi Herna dengan sopan.


Keysha mengangguk, dan melihat arloji di pergelangan tangannya. " Iya, Bi. Satu jam lagi aku berangkat."


Bell pintu berbunyi mengalihkan obrolan Keysha dan Bi Herna. Bi Herna akan membuka pintu, namun dicegah oleh Keysha. Dokter itu terlebih dahulu berjalan menuju arah pintu. Keysha sangat penasaran siapa orang yang bertamu sepagi ini.


Saat membuka pintu, Keysha melihat Bu Rena wajah mertuanya yang sedari tadi melipatkan tangan di dada dengan wajah kesal.


"Mama?" Sapa Keysha heran, pasalnya mertuanya itu tak biasanya mendatangi rumahnya sepagi ini.


"Lama banget sih Key buka pintunya!!" Rena memasang wajah masam.

__ADS_1


"Ayo masuk, Ma!" KeyshA membuka pintu yang sangat lebar untuk sang mertua.


Rena berjalan santai memasuki rumah anak dan menantunya. Rumah itu sangat mewah. Akan tetapi, terlihat sangat sepi karena Keysha dan Zayyan belum dikaruniai buah hati.


"Diminum, Ma!" Keysha menguguhkan teh hangat beserta camilan lainnya.


"Mama tuh lagi kesel lho, Key!!" Rena memanyunkan bibirnya, terlihat sekali mertua Keysha itu tengah gusar.


"Pasti teman mama yang geng sosialita itu?" tebak Keysha tepat sasaran.


"Siapa lagi kalau bukan si Ine si janda gatel itu!! Mama tadi mau traktir temen-temen mama. Tapi diduluin sama dia. Dia kalau ada perkumpulan Arisan, selalu saja memuji-muji anaknya yang model. Mama gak tau yang mana. Anaknya saja tidak terkenal," cerocos Rena dengan kesal.


Keysha hanya tertawa mendengar curahan hati sang mertua. Hubungan Keysha dan Rena memang sangatlah akur, walaupun Rena orangnya sering ceplas ceplos. Namun Rena sangat menyayangi Keysha. Rena menjadikan Keysha menantu kesayangan dari menantu lainnya karena latar belakang keluarga Keysha yang terpandang.


"Saran dari aku sih, mama jauh-jauh sama rival mama itu. Udah lah mending mama di rumah aja atau berkebun dari pada ngumpul-ngumpul gak ada faedahnya, Ma!" Keysha berbicara dengan intonasi yang lembut.


"Kalau mama punya cucu dari kamu, pasti mama udah di rumah terus Key gak akan keluyuran. Mama pasti ngasuh anak dari kamu dan Zayyan. Apalagi cucu mama yang lain jauh-jauh," Rena menyandarkan bahunya di sofa.


Mendengar perihal anak, Keysha menjadi diam. Ia sebenernya sangat sedih karena rumah tangganya sudah menumpuh tahun ke 5, namun belum kunjung diberikan buah hati. Keysha sudah memeriksakan dirinya dan hasilnya sehat. Hanya dirinya belum menempuh inseminasi buatan atau program bayi tabung dan yang lainnya karena Zayyan melarang.


Melihat menantunya diam, Bu Rena menyadari ia sudah salah berbicara. Akan tetapi, ia tak peduli dengan perasaan Keysha, yang penting baginya mengutarakan isi hati di depan orang yang dimaksud tanpa harus berbicara di belakang.


"Doain ya, Ma? Semoga Keysha dan Zayyan segera diberikan keturunan!" Keysha kembali bersuara setelah tercipta hening beberapa saat.


"Mama sama papa selalu doain kamu, Key. Tapi kamu juga harus berusaha. Mama perhatiin kamu kok sibuk terus di rumah sakit. Kalau kamu terus-terusan sibuk seperti itu, kapan ada waktu berduanya dong sama Zayyan?" Tukas Rena tak mau kalah.


"Aku udah ngurangin jadwal praktek aku, Ma. Minta doanya aja!"


"Mama selalu berdoa buat kamu dan Zayyan kok, tidak perlu kamu minta, " Rena melunak.

__ADS_1


__ADS_2