
Setelah memeriksa keadaan Shella, Keysha tidak menemukan sesuatu yang membahayakan janin. Keysha merasa heran, mengapa bayi itu sangat kuat padahal Shella menenggak alk*hol dengan dosis yang banyak?
Kesyha berpikir mungkin Allah menakdirkan bayi ini untuk hidup. Allah menguatkannya, maka semua terjadi dan Keysha sangat percaya dengan hal itu. Namun Keysha pun masih merasa khawatir, ia takut janin itu mengalami kelainan. Mengingat Shella memiliki kebiasaan yang tak sehat. Keysha menyimpulkan bahwa Shella sangat membenci janinnya. Keysha menduga Shella pernah ada niat menggugurkan kandungannya. Apakah Zayyan sudah tahu jika anak itu bukanlah darah dagingnya? Tapi bagaimana bisa? Keysha menepis pikirannya. Tentunya itu bukanlah urusannya. Itu bukan ranah pribadinya untuk tahu. Keysha pun sudah tidak peduli dengan mantan suami dan selingkuhannya itu.
Mengenai kekhawatiran mengenai keadaan calon bayi Shella, Keysha harus mengkonsultasikan kepada Andra, karena Andra bisa melakukan USG Fetomaternal. USG Fetomaternal harus dilakukan oleh dokter Fetomaternal, subspesialisasi salah satu cabang dari bagian kandungan dan kebidanan. Kegunaan dilakukannya USG Fetomaternal adalah mengecek apakah ada kelainan pada janin dan hamil. Dengan deteksi dini, maka kelainan pun dapat diatasi.
"Dokter Keysha?" Panggil dokter Hilman yang membuyarkan konsentrasi Keysha.
"Ya, Dok?" Sahut Keysha seraya menatap rekan kerjanya itu.
"Saya sudah melakukan pemeriksaan, pasien ini menderita sakit lambung yang sangat kronis. Penyebabnya bisa bervariasi, makanan tidak teratur, stres yang terlalu tinggi, makanan tidak sehat, serta minuman alk*hol menjadi penyebab utamanya," papar dokter Hilman menjelaskan hasil dari pemeriksaannya.
"Lalu, bagaimana, Dok? Apakah berpengaruh pada kehamilannya?" Tanya asisten Keysha penasaran.
"Sebetulnya ada, tapi biasanya ibu hamil yang akan merasakan dampaknya. Seperti sering sekali sakit perut, tubuh lemah, kepala pusing, mual, hingga muntah," Dokter Hilman menjawab yang membuat asistennya manggut-manggut.
"Semoga saja kondisinya membaik. Kasihan janin yang ada di dalam perutnya," lirih Keysha, matanya menatap Shella yang tertidur akibat obat penenang tadi.
"Nanti akan saya resepkan obat yang aman untuk ibu hamil. Obat itu membantu meredakan sakit maghnya. Mengurangi gejala-gejala yang pasien rasakan," dokter Hilman mengakhiri pembicaraannya,
__ADS_1
Setelah memeriksa keadaan Shella, ketiga pegawai medis itu pun meninggalkan ruangan Shella. Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya mereka berpisah di lorong. Kini Keysha melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter Andra. Kebetulan sekali Andra mengabarinya bahwa ia sedang berada di rumah sakit.
Keysha mengetuk pintu saat sudah dihadapan ruangan dokter tampan itu. Keysha tahu jika Andra ada di dalam ruangannya.
"Masuk!" Perintah Andra yang terdengar dari dalam.
"Dokter maaf mengganggu waktunya. Saya ada urusan penting mengenai pasien," Keysha berbicara formal. Membuat Andra tersenyum kecil dengan sikapnya yang sangat profesional.
"Duduklah, Dokter Keysha!" Andra mempersilahkan. Keysha mengangguk, ia lalu mendudukan dirinya di sofa yang bersebrangan dengan sofa yang diduduki oleh Andra.
"Shella datang ke IGD, mungkin dokter sudah tahu tentang dia dan mantan suami saya. Dia menenggak alk*hol dengan takaran yang lumayan banyak. Beruntung ja-ninnya masih bisa diselamatkan, tapi saya meminta tolong pada dokter untuk dilakukan USG Fetomaternal. Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada janinnya. Saya juga meminta izin untuk menunjuk dokter lain sebagai pengganti saya, selaku dokter yang menanganinya," Keysha menjelaskan maksud kedatangannya.
"Bukan seperti itu. Tadi saya melakukan visit ke ruangannya. Tapi reaksi dia sangat berlebihan. Wanita itu berteriak dan histeris. Saya takut kedatangan saya malah meningkatkan emosinya, dan semakin memperburuk kondisi dia dan janinnya!" Jawab Keysha yang membuat Andra seketika bernafas lega.
"Baiklah. Kalau begitu saya yang akan menanganinya," Andra memberikan keputusan yang membuat Keysha seketika tersenyum senang.
"Baiklah, Dok. Terima kasih keputusannya. Kalau begitu saya pamit!" Keysha lalu bangkit dari duduknya. Namun Andra menahan pergelangan tangannya.
"Kok buru-buru Dokter Keysha?" Andra tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Dok, lepaskan! Ini lingkungan rumah sakit!" Keysha melepaskan cekalan tangan dokter Andra.
"Terima kasih, Key. Saya terpana dengan kebaikan hati kamu. Walaupun wanita itu pernah menghancurkan hidup kamu, tapi kamu masih berlaku baik padanya. Apalagi kamu terlihat sangat khawatir dengan janinnya," puji Andra yang merasa takjub dengan kebaikan wanita yang akan segera dinikahinya itu.
"Saya menolongnya karena saya sudah bersumpah dengan profesi saya, Dok. Bukan saya peduli padanya secara pribadi. Mengenai janinnya, saya merasa kasihan pada janin itu. Janin itu tak bersalah, orang tuanya lah yang bersalah bukan calon bayi itu!" Tegas Keysha.
"Apapun alasannya, saya sangat beruntung sebentar lagi saya akan menikahi wanita sebaik kamu," Andra tak berhenti menyanjung Keysha, hingga membuat pipi dokter cantik itu bersemu merah.
"Dokter mulai gombal! Sudah lah saya pamit keluar dulu! Jangan lupa bekal yang saya buat dihabiskan!" Keysha menatap bekal yang ia berikan tadi pagi pada Andra.
"Siap calon istriku!" Seru Andra yang membuat Keysha lagi-lagi tersipu malu.
"Ish, sudah ah saya pamit!" Kesyha berjalan keluar.
Setelah menutup pintu, Keysha memegang dadanya yang berdebar. Lalu Keysha tersenyum kecil. Dokter cantik itu lalu meninggalkan ruangan Andra dengan wajah yang ceria. Keysha tak menyadari ada Vebby yang memperhatikan gerak-geriknya. Apalagi Vebby sangat penasaran mengapa Keysha mendatangi Andra di ruangannya.
"Dasar janda gatal! Rupanya ia menawarkan tubuhnya pada Andra! Tak profesional sekali! Di lingkungan rumah sakit, dokter Keysha masih mencari kesempatan untuk menggoda rekan kerjanya" Sinis Vebby yang langsung menyimpulkan apa yang ia lihat.
Akhirnya Vebby meninggalkan tempat persembunyiannya untuk memata-matai Keysha. Di otaknya ia berpikir bagaimana caranya menjatuhkan Keysha di hadapan Andra.
__ADS_1