Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Meminta Sertifikat


__ADS_3

Raka sedang terlelap bersama seorang wanita. Pria yang pernah menjadi suami Nadia itu merekatkan pelukannya karena udara yang semakin malam semakin dingin. Waktu sudah menunjukan pukul tiga pagi, namun Raka tak ingin beranjak dari sisi selingkuhannya yang sedang tertidur dengan lelap. Sesekali tangannya yang nakal meraba tubuh polos yang ada di sampingnya. Ya, Malam ini dia sedang menghabiskan malam bersama kekasih gelapnya. Seorang wanita yang membuat Raka membuang Nadia dan putrinya dengan begitu keji.


Suara gedoran pintu membuatnya menajamkan telinganya. Raka mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menerka siapa yang ada di balik pintu. Wanita yang ada di sampingnya pun menggeliat beberapa kali. Wanita itu pun mendengar suara yang memekekan telinga.


"Raka, buka pintunya!" Teriak suara bariton beberapa pria penuh dengan amarah.


Mata Raka melebar. Ia sangat tak asing dengan suara salah satu pria itu. Suara pria itu adalah suara Bang Yudi. Preman sekaligus rentenir yang ada di desa itu.


"Raka, buka pintunya! Atau gue dobrak?" Sungutnya yang terdengar sangat kesal.


"Gawat, sayang! Itu pasti bang Yudi. Sayang, bangun!" Raka membangunkan selingkuhannya yang masih tertidur lelap. Dia menggoyangkan tubuh wanitanya membuat wanita itu mengerjap beberapa kali.


Raka dengan cepat menyambar bajunya. Lalu memakaikan seluruh pakaiannya dengan asal. Ia pun menyelimuti selingkuhannya sampai leher. Raka takut preman yang terkenal kejam itu sampai masuk ke kamarnya, dan menemukan kekasihnya yang sedang polos.


"Buka pintunya sialan!" Hardik bang Yudi. Lintah darat itu sudah tidak sabar menanti pintu terbuka.


Dengan cepat Raka berjalan menghampiri pintu. Ia lalu membukanya dan melihat wajah Bang Yudi yang ditekuk dan tidak ramah. Tak lupa di belakang Bang Yudi ada beberapa orang pria berwajah sangar dengan tato di badannya. Mungkin itu adalah anak buah rentenir yang terkenal kejam di desa itu. Melihat Raka membuka pintu, dengan sekali gerakan Bang Yudi memukul hidung Raka hingga darah segar mengalir dari hidung Raka.


"Kapan lu mau bayar hutang-hutang lu? Ini sudah jatuh tempo!" Geramnya, seiring dengan emosinya yang tak terkendali.


"Ampun, Bang! Tapi saya belum punya uang. Beri saya waktu!" Raka meringis, ia mengusap darah segar yang mengucur di hidungnya karena pukulan dari rentenir itu.

__ADS_1


"Udah gue kasih waktu sebulan! Tapi lu gak bayar-bayar juga, malah lu keliatan seneng sama pacar baru lu" Bang Yudi menendang Raka, hingga tubuh Raka terpental.


"Kasih waktu saya lagi, Bang! Saya janji akan lunasin semuanya!" Raka mengiba, meminta belas kasihan lintah darat itu. Tapi Raka salah besar, Bang Yudi bukanlah orang yang mudah mengasihani orang lain, terutama orang yang berhutang padanya.


"Saya mohon, Bang! Kasih saya kesempatan buat bayar. Saya bakal cari uang buat bayar hutang-hutang saya ke Abang!" Raka semakin mengiba.


Bang Yudi tampak berpikir, ia seperti menimbang-nimbang. "Oke, gue kasih waktu sehari. Kalau lu gak bayar. Gue abisin lu!" Ancamnya dengan mata melotot, kemudian Bang Yudi dan anak buahnya melenggang pergi meninggalkan Raka yang sedang kebingungan di mana ia harus mendapatkan uang.


Akan tetapi, Raka bersyukur. Setidaknya malam ini ia bisa bebas dari hajaran rentenir yang terkenal sangat kejam itu. Raka memang meminjam uang pada Bang Yudi untuk bisa menyenangkan hati selingkuhannya dengan uang. Raka yang berprofesi sebagai tukang bangunan itu tidak memiliki uang untuk menyenangkan hati sang kekasih. Maka ia pun terpaksa mengambil jalan pintas dengan meminjam uang dari bang Yudi.


Raka tak bisa membiarkan dirinya dalam bahaya. Bagaimana pun ancaman Bang Yudi bukan main-main. Ia berjalan mondar mandir. Otaknya sibuk berpikir dari mana ia bisa mendapatkan uang dengan cepat? Akhirnya Raka tersenyum saat mengingat sertifikat rumah Nadia. Ya, dia harus mendapatkan sertifikat itu secepatnya. Mengingat Bang Yudi hanya memberinya waktu satu hari, maka Raka harus bertindak dengan cepat.


"Nadia, buka pintunya!" Teriaknya lantang.


Tangannya menggedor lagi, hingga terdengar suara tangisan bayi yang memecahkan keheningan waktu shubuh. Namun Raka tak peduli dengan tangisan Rengganis. Ia hanya ingin cepat-cepat masuk dan mengambil sertifikat rumah itu untuk dijual. Rencananya Raka akan menggunakan uang hasil penjualan rumah orang tua Nadia untuk membayar hutang dan sisanya untuk memanjakan kekasihnya.


"Siapa?" Terdengar suara Nadia dari dalam


"Ini aku Raka! Aku ingin melihat Rengganis. Aku merindukannya!" Dusta Raka, ia tak sabar Nadia membuka pintunya.


Selang beberap detik, Nadia kemudian memutar knop pintu. Ia melihat Raka yang berdiri dengan gusar. Namun Nadia tak bergeming. Wanita itu hanya menatap mantan suaminya dengan tatapan kebencian dan kekecewaan.

__ADS_1


"Mau apa lagi kamu ke sini?" Tanya Nadia dengan ketus, namun Raka tak menghiraukannya.


Raka melenggang masuk ke rumah tanpa di Persilahkan. Ia lalu menabrak bahu Nadia hingga membuat wanita kurus itu hampir terjungkal.


"Hentikan! Mau apa kau datang kemari?" Nadia mengejar Raka, dan memegangi lengan kekarnya.


"Di mana sertifikat rumah ini?" Raka bertanya langsung ke inti. Ia malas berbasa-basi dengan Nadia. Di matanya, Nadia sudah tak berarti apa-apa untuknya.


"Sertifikat? Apa hakmu menanyakan sertifikat rumahku? Rumah ini milik kedua orang tuaku bukan milikmu!" Bentak Nadia berapi-rapi.


Raka tersulut emosinya saat mendengar bentakan Nadia. Ia lalu menjambak rambut Nadia hingga membuat wanita kurus itu meringis.


"Aku berhak atas rumah ini j*lang! Mengingat kemarin-kemarin aku memberikan nafkah padamu. Rumah ini termasuk harta gono-gini kita," cengkraman tangan Raka di rambut Nadia sangat kuat. Beruntung sebelum membuka pintu, Nadia menenangkan dan menyimpan Rengganis di ayunan hingga anaknya pun selamat dari amukan ayah kandungnya itu.


"Kau tidak berhak! Ini rumah kedua orang tuaku. Tidak ada campur keringatmu setetes pun di rumah ini!" Nadia masih saja mempertahankan rumah kedua orang tuanya. Meskipun cengkraman di rambutnya terasa kuat. Ia merasakan nyeri di kulit kepalanya.


"Diam kau J*lang! Kau tak bisa melawan ku!" Raka menghempas Nadia dengan kasar, hingga wanita itu tersungkur. Tubuh ringkihnya terpental dengan keras di atas lantai.


"Pergi kau dari rumahku!" Pekik Nadia, matanya berkaca-kaca. Demi apapun ia ingin sekali memb*nuh pria yang ada di hadapannya ini.


"Tidak akan. Sebelum aku mendapatkan sertifikat rumah ini, aku tidak akan pergi!" Raka tersenyum menyeringai. Ia kemudian melenggang pergi menuju kamar Nadia, ia yakin Nadia menyimpan sertifikat itu di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2