Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Merencanakan Bisnis


__ADS_3

Nadia telah selesai melayani pembeli, para pembeli serentak membubarkan diri mereka setelah mereka mendapatkan makanan yang di inginkan. Melihat warung sudah sepi, Nadia bergegas menuju kontrakan Zayyan. Ia merasa tak enak sudah menitipkan Rengganis lumayan lama.


"A Zayyan?" Panggil Nadia seraya mengetuk pintu.


"Masuk, Nad!" Terdengar suara Zayyan dari dalam.


Dengan gugup, Nadia membuka pintu lebar-lebar. Akhir-akhir ini jantungnya selalu saja berdetak lebih cepat saat akan bertemu dengan Zayyan. Entahlah apa yang terjadi pada perasaan Nadia, yang jelas Nadya selalu saja salah tingkah di hadapan pria yang ia kenal sebagai pria pekerja keras itu.


Nadia melihat Zayyan sedang duduk. Rengganis yang masih berusia dua bulan itu sedang tengkurap seraya tertawa keras. Mata Nadia berkaca-kaca, ia tak pernah melihat anaknya seceria itu ketika bersama dirinya.


"Sini duduk, Nad!" Perintah Zayyan, Spontan Nadia langsung mengangguk mengiyakan.


"Rengganis harus sering Tummy time ya, Nad? bagus untuk tumbuh kembangnya," kata Zayyan, Seraya mengambil Rengganis yang sedang asyik tengkurap.


"Iya, A. Nadia jarang memberikan stimulasi Tummy time. Maklum lah Nadia sibuk sama pekerjaan rumah dan melayani pembeli," Nadia tersenyum getir, baginya tak mudah mengasuh sambil mengais rezeki untuk bertahan hidup. Apalagi tidak ada sanak keluarga yang membantu Nadia dalam mengurus Rengganis.


"Kamu ibu yang hebat, Nad! Rengganis pasti bangga sama kamu!" Zayyan terkagum, membuat Nadia tersenyum malu.


Zayyan kemudian menyerahkan Rengganis ke pangkuan Nadya. Lekas ia mengambil paperbag berwarna hitam yang berisi dress couple dan sebuah kerudung.


"Kebetulan saya ada rezeki lebih hari ini. Saya beli sesuatu buat kamu sama Ganis," Zayyan mengulurkan paper bag dengan tulisan brand ternama itu ke arah Nadia.


"Sesuatu buat saya?" Nadia menunjuk drinya sendiri.


"Ya," jawab Zayyan singkat.

__ADS_1


"Apa ini, A?" Nadia memicingkan matanya, ia tak pernah menyangka seseorang yang tidak memiliki hubungan apapun memberikannya sebuah hadiah.


"Buka saja!"


Nadia membuka paper bag itu. Matanya membola saat melihat dress yang sangat cantik. Dress itu memiliki renda dan warna ombre yang sedang kekinian. Nadia sudah menebak bahwa harga dress itu sangat mahal. Seumur hidupnya Nadia tak pernah mempunyai dress sebagus itu. Lalu tangannya melebarkan dress untuk bayi. Dress itu terlihat sangat lucu dengan aksen bunga di bagian bahunya.


"Ya ampun A, ini cantik sekali!" Tiba-tiba saja mata Nadis mengembun, ia merasa terharu dengan kebaikan Zayyan yang bertubi-tubi.


Sebenarnya Nadia penasaran dari mana Zayyan mampu membelikan dirinya dan Ganis dress sebagus itu. Nadia mengira pasti harganya sangat mahal. Apalagi melihat brand Ch*nnel membuat Nadia semakin yakin saja jika itu adalah dress yang sangat mahal. Dari mana Zayyan memiliki uang? Padahal yang Nadia tahu pria itu adalah tukang bakso keliling. Nadia ingin bertanya lebih lanjut, tapi ia urungkan karena takut mengusik privasi pria baik itu.


Satu hal yang Nadia yakin adalah Zayyan bukanlah orang sembarangan. Walaupun pria itu bekerja sebagai pedagang bakso keliling, tapi Nadia mampu melihat Zayyan sebagai orang yang berpendidikan dan mempunyai kharisma. Nadia tahu dari bahasa dan tutur kata pria itu. Tapi Nadia tidak ingin menerka-nerka. Satu hal lagi yang penting baginya adalah tidak mengusik lebih dalam privasi Zayyan.


"Iya, saya tadi sedang di mall. Sepertinya kamu dan Rengganis bagus memakai dress itu," Zayyan berbicara dengan jujur, hatinya berbunga-bunga saat melihat respon Nadia yang begitu gembira setelah menerima hadiah darinya.


"Baik, A!" Nadya mengambil dress bayi itu dan memakaikannya di tubuh bayi yang berparas cantik itu.


"Rengganis cantik sekali! Seperti boneka!" Puji Zayyan, tangannya langsung mencubit pelan pipi gembul Rengganis.


"Terima kasih, Uncle!" Nadia mengecilkan suaranya. Ia lalu mengarahkan wajah Rengganis dan menciumkannya di pipi Zayyan.


Hati Zayyan bergetar saat Rengganis mencium pipinya. Ingin sekali Zayyan mempunyai buah hati sendiri. Namun lekas ia menepis rasa yang hadir. Zayyan tak boleh meratapi nasibnya yang malang. Baginya tanpa seorang anak pun, ia harus hidup bahagia dan bermanfaat pada sesama. Apalagi kepada Rena. Sudah sering sekali Zayyan membuatnya kecewa. Zayyan bertekad akan membahagiakan kedua orang tuanya di usia senja mereka.


"Sama-sama, Sayang!" Jawab Zayyan, lekas ia menyembunyikan perasaan sedih yang hadir.


"Oh ya, Nad, apa kamu tahu bisnis apa yang cocok ditengah pandemi seperti ini?" Zayyan mengalihkan pembicaraan, sejujurnya ia masih bingung bisnis apa yang akan digelutinya.

__ADS_1


"A Zayyan kan sudah mempunyai usaha, jualan bakso kan?" Nadia seolah bingung dengan pertanyaan pria tampan yang ada di hadapannya.


"Saya ingin berhenti, Nad saya juga tak akan berkecimpung di dunia perbaksoan lagi. Ingin sih memiliki kedai bakso sendiri dengan resep saya sendiri. Tapi saya tak tega dengan pak Haji. Pak haji sudah berbaik hati mengizinkan saya mengambil bakso plus gerobaknya pula. Tak elok jika saya tiba-tiba saja membuka kedai bakso milik saya sendiri" Akhirnya Zayyan menceritakan kegundahan hatinya.


"Maaf A, memang A Zayyan sudah memiliki modal yang cukup?" Tanya Nadia dengan hati-hati, ia takut akan menyinggung perasaan pria yang sangat menyayangi anaknya itu.


"Alhamdulillah cukup, Nad. Saya baru saja dapat Rezeki yang lumayan besar."


"Bagaimana kalau bisnis pakaian bayi saja, A? Kebetulan Nadia bisa merancang baju. cita-cita Nadia ingin menjadi seorang designer, tapi terkendala biaya. Jika A Zayyan mengizinkan, Nadia akan membantu A Zayyan untuk merancang baju. Setelah mendapatkan rancangannya, A Zayyan menyewa pekerja untuk menjahit. Nanti bisa dipasarkan melalui platform belanja online," usul Nadia yang terdengar cerdas di telinga Zayyan.


"Wah kok saya tidak kepikiran ke sana ya, Nad? Hebat kamu, Nad! Kalau begitu, bagaimana jika kamu bergabung saja dengan usaha saya ya? Tenang, nanti saya akan bayar kamu dengan layak!" Zayyan sangat antusias merencakan bisnis yang tanpa ia sadari akan banyak melibatkan Nadia.


"Tenang saja, A! Saya akan membantu. Saya juga dulu pernah bekerja di toko online. Nanti saya akan bantu untuk memasarkan lewat online ya? Tapi dari mana kita mendapatkan suplay kain yang murah, A?" Nadia terlihat kebingungan. Bagaimana pun harga bahan baku sangat menentukan margin penjualan.


"Kalau itu gampang, saya punya banyak banyak teman pemilik pabrik tekstil."


Nadia semakin heran saja. Dia tak mengerti dari mana Zayyan yang seorang notabene penjual bakso bisa memiliki kenalan dengan para pengusaha tekstil? Namun Nadia tak menanyakannya. Nadia takut Zayyan tersinggung.


"Nanti jika produk sudah ada, kita perlu seorang bayi untuk pemotretan bajunya, A."


"Tidak usah bingung, Nad! Kita kan punya Rengganis. Dia pasti cantik sekali dijadikan model iklan baju!" Puji Zayyan, hati Nadia merasa tersentuh saat mendengar pujian Zayyan kepada putrinya. Jika Nadia boleh berharap, bolehkah ia berharap jika Zayyan menjadi papa sambung untuk Rengganis?


Ah Nadia, sepertinya mimpimu terlalu besar. Lirih Nadya dengan mata mengembun.


Untuk novel Kimmy sama Nayla besok otor update ya. Otor mau menikmati akhir pekan dulu 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2