Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Niat Shella


__ADS_3

Dalam pelariannya, tiba-tiba satu nama terlintas di dalam pikiran Fuji. Ya, Fuji harus menghubungi orang itu dan meminta bantuan kepadanya. Fuji mengeluarkan ponselnya. Fuji segera mencari kontak kakaknya, Shella. Fuji yakin kakak kandungnya itu mau menampung dirinya. Bagaimana pun dirinya adalah adik dari Shella. Bukankah darah lebih kental dari pada air? Fuji yakin Shella mau membantunya. Fuji segera menghubungi Shella. Fuji menunggu dengan harap-harap cemas. Setelah lama menunggu, akhirnya panggilan Fuji pun diangkat oleh Shella.


"Kak!" Fuji langsung kegirangan saat Shella mengangkat telfonnya.


"Mau apa kamu, hah?" Shella berteriak dari sebrang telfon. Raut wajah bahagia Fuji pun langsung pupus.


"Kak, tolong aku!" Fuji terisak. Merasa harapannya pupus saat Shella mengangkat telfonnya dengan bengis.


"Tolong apa, hah? Aku pun sedang sangat kesusahan, Ji. Mau apa kamu? Minta uang?" Teriak Shella lagi.


"Bukan, kak. Aku kabur dari apartemen mama. Tolong aku, kak! Izinin aku ikut sama kakak," Fuji mengiba.


"Enak aja! Ngapain aku nolongin kamu? Buang-buang duit aja!" Shella masih saja berkata dengan nada penuh amarah.


"Kak, mama mau jual aku ke pria hidung belang. Kakak emang tega adik kakak dijual?" Air mata semakin deras membasahi pipi Fuji.


"Hahaha!" Shella tertawa dengan lepas.


"Bagus dong kalau kamu dijual! Biar kamu tahu dan rasain gimana kejamnya dunia ini, Ji. Biar kamu rasain juga gimana susahnya cari uang. Selama ini aku yang biayain kamu, Ji. Kamu enak punya kehidupan normal. Bisa kuliah, bisa makan tanpa beban," Shella terus mengomel. Merasa ada orang yang pas untuk dijadikan samsak kemarahannya.


"Kak, aku mohon! Izinin Uji tinggal sama kakak," Fuji memohon dengan suara parau.


"Untuk sehari-hari, Uji bisa kerja, kak. Uji bakal cari kerja," Fuji terus memelas.


"Diam kamu adik gak berguna! Aku gak akan sudi nampung beban kaya kamu!"


Tut..tut..tut..


Shella mematikan telfonnya. Fuji menghirup udara yang terasa kian menipis dan menghimpit dadanya. Kepada siapa lagi Fuji harus meminta bantuan? Fuji terus menangis di dalam angkot yang terus melaju. Di kursi pengemudi, supir angkot sesekali melihat spion tengah. Merasa heran karena ada penumpang yang menangis dengan tergugu.


Sementara itu di kontrakan mewahnya, Shella segera melempar ponselnya ke atas kasur. Ia begitu emosi karena Fuji menghubunginya untuk meminta bantuan.


"Dasar adik gak berguna!" Shella terus mengomel.

__ADS_1


"Eh tunggu bentar!" Tangan Shella berusaha mengambil ponselnya lagi.


"Bukannya ini kesempatan emas ya buat aku?" Shella tersenyum licik.


"Jika Fuji tinggal di sini. Aku bisa ngasih bayi ini ke dia," Shella berkata dengan girang. Merasa sudah menemukan solusi atas permasalahan hidup yang sedang ia alami.


"Jadi gini, aku bakal nampung Fuji di sini. Setelah aku lahiran, aku bakal kasih bayi ini ke dia dan aku bakal kabur dari rumah ini. Selain itu, aku bisa manfaatin Fuji buat ngurus aku dan semua pekerjaan rumah. Ya ampun Shella, kamu ini emang pintar!" Shella bertepuk tangan dengan riang setelah memuji dirinya sendiri.


Wanita itu langsung mengambil ponselnya kembali. Dengan cepat ia menelfon kembali adiknya yang tengah kebingungan harus pergi ke mana. Fuji yang melihat Shella menelfonnya lagi segera mengangkat panggilan itu.


"Uji, maafin kakak!" Shella mulai berakting.


"Maafin kakak karena sudah kasar sama kamu. Sini datang ke kakak! Kakak bakal nampung kamu selama kamu mau!" Shella berkata dengan lembut.


"Beneran, kak?" Fuji mengusap air matanya. Kini senyuman terbit dari bibir gadis itu.


"Beneran. Maafin kakak ya? Tadi kakak emosi. Kakak saat ini sedang sakit. Kakak kemarin di rawat di rumah sakit dan gak ada yang nemenin kakak. Kakak baru sadar jika kita bisa saling melindungi satu sama lain," Shella berkata dengan memutar bola matanya.


"Kakak sharelock aja ya tempat tinggal kakak! Kakak nunggu kamu ya, Ji? Cepetan sini! Kalau kamu udah sampai entar, masuk aja langsung. Kakak gak kunci pintunya."


"Iya, kak. Kakak cepet kirim lokasinya! Aku matikan panggilannya ya, kak?" Fuji langsung mematikan telfonnya.


"Dasar anak t*lol!" Shella tersenyum sinis sembari mengirimkan alamatnya.


Setelah mendapat alamat Shella, Fuji langsung turun dari angkot yang ia tumpangi. Fuji langsung memesan ojek online agar lebih cepat sampai di kediaman Shella. Setelah tiga puluh menit menaiki ojek online, Fuji akhirnya sampai di depan kontrakan Shella.


"Ini rumah kakak apa sewa ya? Besar banget!" Fuji menatap rumah sewaan kakaknya yang memang mahal.


"Kak?" Fuji langsung memasuki kediaman Shella.


"Kakak di kamar," teriak Shella.


Fuji langsung masuk ke dalam kamar kakaknya. Ia melihat Shella tengah terbaring si atas kasur.

__ADS_1


"Kak?" Fuji langsung berhambur memeluk Shella. Merasa ingin menyalurkan semua kesedihannya kepada orang yang tepat. Fuji berpikir Shella adalah orang yang tepat karena wanita itu dilahirkan dari rahim yang sama dengannya.


"Kamu gak kenapa-kenapa kan?" Shella berpura-pura peduli. Tentunya agar Fuji betah berada di sisinya. Jika Fuji betah, maka kesempatan meninggalkan bayinya bersama Fuji akan terbuka lebar.


"Gak, kak. Aku takut, kak. Mama udah gak bisa berpikir rasional lagi!" Fuji menangis sesegukan.


"Sekarang ini kita hanya berdua, Ji. Kakak berharap kita bisa saling menitipkan diri masing-masing. Seperti yang kamu lihat, kakak udah gak bisa ngapa-ngapain. Kakak berharap kamu mau bantuin kakak," Shella berkata dengan lembut.


"Iya, kak. Uji bakal bantuin kakak dan beres-beres rumah," Fuji mengangguk.


"Gimana skripsi kamu, Ji? Apa udah beres?" Shella berpura-pura bertanya. Padahal sejatinya ia tidak peduli dengan akademik adiknya.


"Tinggal sidang, kak. Tapi aku gak punya uang buat daftar sidangnya. Biarlah Uji ambil cuti kuliah aja," Fuji memaksakan senyumnya.


"Jangan gitu, Ji! Kuliah kamu selangkah lagi beres," Shella mengambil tasnya yang tergeletak di atas nakas.


"Ini uang buat bayar sidang kamu ya?" Shella mengambil sejumlah uang dan memberikannya ke tangan Fuji.


"Kak?" Mata Fuji berkaca-kaca.


"Kakak pengen kuliah kamu beres, Ji. Biar kamu bisa cepet kerja," Shella mengelus rambut adiknya.


"Makasih ya, kak?" Fuji menangis dan berhambur kembali memeluk Shella. Ia amat bersyukur Shella mau menerimanya. Shella yang dipeluk pun memutar bola matanya dengan malas. Ingin sekali Shella mendorong Fuji yang tengah memeluknya, tapi Shella tahan agar rencana yang telah ia susun rapi tidaklah berantakan.


"Sama-sama, Ji. Tapi, untuk sehari-hari, apa bisa kamu cari kerja, Ji? Kamu kan liat sendiri keadaan kakak gimana, kakak gak bisa cari uang," Shella melepaskan pelukan Fuji dengan lembut.


Sebenarnya uang yang Shella dapat dari menjual barang branded masih lumayan banyak, tapi ia tidak sudi jika uang itu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari Fuji. Untuk biaya sidang skripsi Fuji, Shella memberikannya dengan terpaksa agar Fuji terikat pada dirinya dan mempunyai utang budi.


"Aku bisa kerja kok, kak. Aku liat di halaman depan ada motor. Apa boleh aku pake buat cari uang, kak? Rencananya Uji mau jadi ojek online aja," Fuji menyampaikan keinginannya.


"Boleh. Pake aja ya! Tapi itu motor setoran, kamu lanjutin cicilannya aja ya?" Shella berbohong.


Padahal faktanya motor itu dibeli dengan cash. Sebelum masuk rumah sakit, Shella memang sudah membeli motor dengan tujuan untuk memudahkan mobilitasnya. Akan tetapi, dirinya keburu masuk rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2