
Shella dan Zayyan langsung pulang ke rumah usai berbelanja. Zayyan tampak menenteng belanjaan rumah yang ia beli dengan uangnya sendiri.
"Sayang, ngapain sih belanja pakai uang kamu segala?" Shella bertanya dengan sewot.
"Jangan protes ya? Kita numpang di rumah mama. Makanan ini juga kita makan lagi," Zayyan tampak tidak suka dengan ucapan istri sirinya itu.
"Tapi kita kan sedang ngirit. ATM kamu udah abis kan di gondol si tuyul Keysha?" Shella berdecak lidah.
"Nanti juga aku gajian dan punya uang lagi," Zayyan berkata sambil terus berjalan dengan tentengan belanjaan di tangannya.
Sepasang suami istri siri itu pun masuk ke dalam rumah, Zayyan dan Shella langsung berjalan ke belakang dan menyimpan belanjaan itu di dapur. Tak lama, suara ponsel milik Zayyan berdering.
"Iya, Hallo!" Zayyan mengangkat telfonnya.
"Baik. Saya ke sana sekarang," lanjut Zayyan dan segera menutup panggilan telfonnya.
"Sayang, maaf ya? Aku harus ke kantor," Zayyan merasa tidak enak hati.
"Ke kantor libur gini, sayang? Aku sama siapa dong di sini?" Shella merajuk.
"Ada mama sama Raika. Kamu ngobrol aja ya sama mereka?" Pinta Zayyan dengan tegas.
"Sayang, kamu gak lihat sikap mama dan adik kamu ke aku gimana? Mereka gak suka sama kehadiran aku," Shella merengek.
"Sayang, aku tahu mama. Aku tahu Raika adikku. Mereka bakal luluh kalau kamu baikin mereka. Percaya sama aku! Kenapa kamu gak coba deketin mereka?" Zayyan mulai terpancing emosi.
"Tapi, sayang-"
"Udah ya? Tidak ada tapi-tapian. Aku harus kerja cari nafkah, cari uang buat kamu dan anak kita," Zayyan langsung meninggalkan Shella di dapur.
"S*al!!" Shella terus mengomel. Setelah puas mengomel, wanita itu mengeluarkan apel dari plastik belanjaan dan memakannya.
"Hey, hey siapa yang izinin kamu makan apel itu?" Rena yang tiba-tiba datang ke dapur menunjuk Shella dengan wajah juteknya.
"Lho, kan ini suamiku yang beli, Ma," Shella berusaha menjawab.
"Suami suami. Anggap aja itu uang sewa selama di sini. Emang listrik, air, tempat kamu berteduh di sini gratis gitu?" Rena melipat tangannya di dada.
__ADS_1
"Ya masa mama perhitungan sama anak sendiri," Shella berusaha menghaluskan nada bicaranya.
"Perhitungan-perhitungan. Semua dibeli pakai uang. Air, listrik, wifi internet dibayar pake uang. Lagian saya gak ada kewajiban buat nampung orang yang sudah berumah tangga," Rena berkacak pinggang.
"Taruh apel itu lagi!" Perintah Rena dengan tanpa ampun.
Shella pun menyimpan kembali apel yang sudah ia gigit di atas meja. Rena pun tersenyum sinis. Ia melangkahkan kakinya mendekati menantu yang tidak diharapkannya itu.
"Oh iya, nanti teman-teman arisan saya mau ke sini. Kamu jangan lupa ya ngelayanin mereka! Saya sudah pecat asisten rumah tangga di rumah ini," Rena menatap wajah kesal Shella.
"Kenapa dipecat, Ma? Terus yang layanin kita siapa?" Shella memberanikan diri menatap Rena.
"Ya kan ada kamu. Terus gunanya kamu apa di sini? Kamu kan seorang istri, masa kamu ga bisa beres-beres rumah. Itung-itung buat hemat pengeluaran kan?" Rena berkata dengan enteng.
"Iya, Ma," Shella hanya mengangguk.
Bagaimana pun Shella tengah mengandung saat ini. Ia ingin sekali melawan Rena. Tapi jika ia ditendang dari rumah ini, ke mana Shella akan pergi? Terlebih dirinya sudah tidak memiliki penghasilan dan mustahil Ine mau menampungnya.
Suara ponsel langsung memecah lamunan Shella. Ia langsung menatap Rena yang mengangkat telfon itu.
"Oh, Jeng-Jeng sudah di depan? Oke, aku keluar ya?" Timpal Rena dengan ramah. Rena langsung membuka lemari dan mengeluarkan dus-dus yang berisi kue ke hadapan Shella.
"Iya, Ma."
"Kan saya udah bilang, jangan panggil saya mama! Panggil saya Nyonya depan teman-teman saya ya? Kamu ngerti bahasa Indonesia kan?" Rena meninggikan suaranya.
"Baik," jawab Shella pada akhirnya.
Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan dapur untuk menyambut teman-temannya. Shela diam mematung. Marah, kesal, terhina, sedih, itulah yang Shella rasakan. Ia ingin mengejar dan menjambak rambut Rena saat ini juga. Tapi lagi-lagi sesosok makhluk kecil di dalam perutnya membuat Shella tidak berdaya. Zayyan juga tidak bisa menjanjikan sebuah tempat tinggal untuk dirinya. Hanya rumah Rena satu-satunya kini tempatnya bernaung menunggu bayi ini lahir.
"Sabar," Shella berbisik.
Shella segera menata kue-kue itu di atas piring. Kemudian Shella menyimpan piring-piring yang berisi kue di atas nampan. Tak lupa, Shella membuatkan lima gelas jus jeruk. Shella hanya menerka-nerka. Sebenarnya ia pun tidak tahu ada berapa jumlah tamu yang hadir.
Setelah semua siap, Shella membawa nampan-nampan itu ke ruang tamu. Ia melihat Rena tengah ketawa ketiwi dengan teman-teman sosialitanya. Jantung Shella berdetak lebih cepat. Ia begitu mengenali ibu-ibu rempong itu. Mereka tidak lain adalah teman-teman Ine, ibu dari Shella.
"Kamu ini kan Shella? Anak dari Ine kan?" Tanya teman Rena dengan menatap wajah Shella.
__ADS_1
"Iya. Dia anaknya Ine," jawab Rena dengan ramah.
"Jadi, dia yang viral sama anakmu, Jeng?" Tanya teman Rena yang lain.
"Ah, itu gosip yang salah. Shella ini melamar jadi asisten rumah tangga saya di sini. Dia lakuin itu karena Ine usir dia dari apartemennya. Jadi dia ngelamar ke sini jadi asisten rumah tangga. Gitu kan ya, Shell?" Rena menatap Shella dengan senyum mematikan. Senyuman itu seakan memaksa Shella untuk menjawab.
"Iya, Nyonya," Shella akhirnya menjawab.
"Duh, Jeng! Kamu baik banget sih! Dia juga kan pernah permaluin kamu ya waktu itu?" Sahut ibu-ibu yang lain.
"Iya. Tapi saya tidak pendendam. Kasian anaknya Ine cari makan ya? Ya saya kasih dia kerjaan lah. Itung-itung bantu Ine," timpal Rena dengan bangga.
"Duh baiknya Jeng Rena ini! Jeng Ine gak ikut ke sini. Pasti dia malu anaknya jadi asisten rumah tangga ya? Dia kan selalu bilang anaknya model," cicit teman Rena lagi.
Shella hanya mendengarkan ocehan ibu-ibu itu dengan hati yang panas dan terhina. Tidak disangka hidupnya akan seperti ini. Menjadi bulan-bulanan Rena dan juga teman-temannya.
"Oh iya, ini kok kamu bawa lima minuman sih? Kan temen saya ada tujuh orang?" Rena tampak sewot.
"Saya ambilkan lagi," Shella tersenyum dan langsung berlalu dari hadapan sana.
"si*lan itu emak-emak rese!" Shella sudah tidak bisa menahan lagi kemarahannya. Ia mengepalkan tangannya dengan penuh emosi.
"Zayyan, mengapa kamu bawa aku ke rumah terkutuk ini?" Shella mengambil gelas dan langsung membuat lagi dua gelas jus jeruk.
Shella dengan cepat membawa jus jeruk itu ke ruang tamu. Ia ingin segera masuk ke dalam kamar dan mengunci diri agar Rena tidak menyuruh-nyuruhnya lagi. Saat Shella berjalan, Rena sengaja menyandung kaki wanita itu hingga ia sedikit hilang keseimbangan. Minuman yang Shella bawa langsung jatuh ke lantai karena tubuh wanita itu oleng.
"Duh, Shell! Gimana sih kamu ini?" Rena berdecak kesal.
"Iya. Minumannya jadi kena kaki saya. Gimana sih ini?" Teman Rena yang kakinya basah berkata dengan kesal.
"Bersihin sekarang ya, Shell? Saya mau mulai ini arisannya," ujar Rena masih dengan nada kesal.
"Saya ambil lap, Nyonya!" Shella hendak berjalan ke arah dapur.
"Shell, lap yang di dapur kotor. Ambil aja lap baju yang ada di kresek dapur!" Perintah Rena.
Shella langsung ke dapur dan membawa lap yang di minta Rena. Shella langsung berjongkok dan mengelap keramik dengan lap yang ia bawa. Ia membersihkan minuman itu tepat di hadapan kaki-kaki ibu-ibu sosialita itu.
__ADS_1
"Tolong sekalian lap kaki saya ya, Shell! Basah tuh soalnya," teman Rena yang tadi menyodorkan kakinya. Perlahan air mata menetes dari pelupuk mata Shella. Harga dirinya begitu terluka.
Hey semua!! Selagi menunggu novel ini update, kalian bisa baca novel otor yang lain ya. Novel yang sedang on going ada "Menikah dengan Nona Kim". Kalian bisa membaca kisah cinta yang lembut antara Archie si pengantin pengganti yang harus rela nikahin wanita pilihan ayahnya. Dukung karya otor dengan tinggalkan jejak kalian berupa like, komentar atau vote ya. Terima kasih. 😘