
Malam tiba, Ine sudah bersiap untuk pergi menemui kenalannya. Ine memakai masker dan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya yang kini sudah rusak. Wanita dua anak itu berjalan ke arah kamar putri bungsunya.
"Fuji, ayo cepet keluar!" Ine berteriak di depan pintu kamar putri bungsunya. Pintu masih dalam keadaan tertutup rapat.
"Ayo kita pergi!" Ine berteriak lagi.
Merasa tidak ada jawaban, Ine langsung membuka pintu kamar putrinya. Matanya terbelalak ketika ia tidak mendapati Fuji di dalam kamarnya. Lekas Ine memeriksa lemari dan juga mencari keberadaan koper pink milik putrinya. Dugaannya pun benar dan tidak salah.
"Dasar anak si*lan!" Ine memaki karena tahu jika Fuji sudah kabur.
"Bagaimana ini?" Dada Ine terlihat naik turun menahan amarah yang sudah mengubun-ubun karena kepergian Fuji.
"Dasar ber*ngsek!" Ine terus memaki.
"Padahal dia harapan aku," Ine menendang pintu.
Saat Ine masih dikuasai oleh amarahnya, terdengar ponselnya berbunyi. Ine segera mengangkat panggilan telfon itu.
"Iya?"
"Mana anakmu itu? Kalian sudah berangkat?" Suara bariton pria terdengar di sebrang telfon.
"Anu!" Ine merasa bingung.
"Anu apa?" Pria itu tampak tidak sabar.
"Anakku kabur," Ine memberi tahu.
"Kurang ajar! Aku tidak mau tahu. Kembalikan uang dua puluh juta yang sudah aku transfer!" Suara pria itu terus saja meninggi. Saat telfon beberapa waktu lalu, Ine memang meminta DP di awal. Wanita itu meminta dua puluh juta sebagai uang pengikat.
"Cepat kembalikan atau aku akan mencarimu!" Ancam pria itu dengan bengis.
"Kasih aku waktu sampai besok aja! Kalau tuh anak gak ada, aku balikin uangnya," Ine menawar.
"Oke kalau begitu," pria itu menyetujui. Ia tidak terlalu khawatir karena dirinya tahu di mana keberadaan apartemen milik Ine.
*****
__ADS_1
Hari ini Fuji sudah mulai bekerja sebagai ojek online. Fuji memilih profesi ini karena dirinya bisa menyetir motor, alasan lain karena ojek online tidak terikat dengan waktu. Fuji bisa sesekali datang ke kampus untuk mengetahui pendaftaran dan jadwal sidang.
"Panas banget!" Fuji membuka helmnya.
Hari ini Fuji sudah menarik empat orang penumpang. Fuji tersenyum ketika menatap ponselnya. Fuji tersenyum karena melihat empat orang penumpang tadi memberikan bintang lima kepadanya. Fuji semakin senang saat ada penumpang yang memberikan tip yang lumayan besar kepadanya. Fuji memang mengutamakan keramahan agar dapat memperlancar pekerjaannya. Saat Fuji sedang mengipas-ngipas wajah dengan tangan, datang seorang pria ke arahnya dengan tergesa-gesa.
"Teh, anterin saya ke Coblong!" Pinta pria itu yang langsung terduduk di motor Fuji.
"Kak, kenapa main duduk-duduk aja?" Fuji merasa heran, karena pria di hadapannya ini tidak memesan online.
"Saya buru-buru. Anterin saya sekarang ya? Saya bayar gede deh," pinta pria itu dengan raut wajah yang tergesa.
"Oke deh," Fuji langsung memakai helmnya lagi dan langsung naik ke motornya.
"Coblongnya ke mana ini, Kak?" Fuji merasa kebingungan.
"Ke Jl. Wirayuda," jawab pria itu pendek.
Fuji langsung mengarahkan motornya ke alamat yang disebutkan pria yang sedang menaiki motornya.
"Kerja di perusahaan minyak milik pemerintah itu ya, Kak?" Fuji mengajak ngobrol orang yang sedang di boncengnya.
"Ya, saya lihat tadi logo perusahaan terkenal itu di baju kerja kakak," jawab Fuji jujur.
"Pasti kakak lulusan institut yang di Jl. Taman Sari ya?" Fuji bertanya lagi.
"Iya. Saya lulusan sana."
"Pantes aja langsung kerja di perusahaan plat merah, Kak. Masuk sana kan susah. Terlebih Institut itu kan terkenal sebagai perguruan tinggi yang kalau udah lulus bukannya kita ngejar perusahaan, tapi perusahaan yang ngejar kita," Fuji berkata dengan tersenyum.
"Kamu terlalu berlebihan!" Pria itu tertawa.
"Engga, emang faktanya gitu kan? Lulusan sana pasti masa depannya mentereng. Ya, gak heran sih, biaya kuliahnya juga mahal banget. Bapak B.J Habibie juga lulusan sana kan sebelum ke Jerman? Eh, maaf ya kak, saya jadi banyak bicara," Fuji menertawakan dirinya sendiri.
"Gak apa-apa. Saya jadi lupa sama kepanikan saya hari ini," pria di belakang Fuji ikut tertawa. Ia menilai Fuji adalah orang yang supel karena bisa akrab dengan dirinya walau baru pertama bertemu.
"Emang kakaknya kenapa buru-buru?" Fuji tampak penasaran.
__ADS_1
"Harusnya hari ini saya libur, tapi saya lupa harus menyerahkan laporan mengenai perhitungan cadangan minyak dan gas untuk optimasi pengelolaan cadangan minyak," jelas pria yang sepertinya umurnya tak terlalu jauh dengan Fuji.
"Keren kak kedengerannya. Pasti kakak bagian Eenginering ya?" Fuji bertanya dengan santai. Baru sehari bekerja, Fuji bahkan sudah terlatih untuk berbasa-basi.
"Lebih tepatnya Reservoir Engineer," pria tadi memperbaiki. Dia tidak merasa risih dengan Fuji, karena baginya, Fuji bukanlah ancaman bagi privasi dirinya.
"Keren, Kak!" Suara Fuji penuh dengan ketakjuban.
"Setahuku gajinya sampai 32 juta perbulan. Tapi kenapa gak bawa kendaraan pribadi ya?" Fuji tampak bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Mobil saya tadi mogok di sebelah sana," pria tadi seakan bisa menebak apa yang Fuji pikirkan.
"Oh begitu, Kak," Fuji tersenyum. Ia pun saat ini memilih diam. Takut jika penumpangnya merasa risih dengan dirinya yang bawel.
"Duh macet ya?" Pria itu mengeluh saat kemacetan tidak kunjung terurai di jalanan utama.
"Pegangan ya, Kak?" Fuji langsung membelokan motornya menuju jalan tikus.
Penumpang itu pun memegang sedikit baju Fuji. Ia merasa harus menghormati sang driver dan mencari jarak aman. Fuji semakin melajukan motornya dengan kecepatan yang tinggi. Fuji terus melewati jalan pintas. Setelah lima belas menit, akhirnya tujuan mereka pun terlihat.
"Makasih ya? Kayanya kamu tahu banget jalan pintas ke sini?" Penumpang itu membuka helmnya dan menyerahkannya kepada Fuji.
"Iya, kebetulan waktu kuliah sering cari kulineran sekitar sini," Fuji menggantungkan helm itu di depan.
"Oh gitu. Ini makasih ya?" Pria itu memberikan uang dua ratus ribu untuk Fuji.
"Kegedean, Kak. Cuma 25 ribu kok," Fuji merasa sungkan.
"Gak apa-apa. Itu karena kamu udah bawa saya tepat waktu. Oh iya, boleh saya minta nomor telfon kamu? Jaga-jaga kalau saya kepepet kaya tadi saya bisa hubungin kamu," pinta pria tadi. Pasalnya setiap senin, ia merasa malas jika harus membawa mobil ke kantor.
"Oh jadi saya jadi abudemen nih, Kak? Wah, asik!" Fuji kegirangan.
"Iya. Setiap senin saya bakal hubungin kamu ya buat jemput saya kerja?"
"Siap kak. Bisa banget," Fuji bersemangat dan mulai mengeja nomor ponselnya.
"Itu nomor saya!" Pria tadi melakukan missed call kepada nomor Fuji.
__ADS_1
"Nama kakak siapa?" Fuji bertanya ketika dirinya akan menyimpan kontak pria itu.
"Nama saya Fikri," timpal pria itu dan langsung berpamitan untuk masuk ke dalam kantor cabang perusahaan minyak dan gas terbesar di Indonesia itu.