Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Hari pertama Berjualan


__ADS_3

Zayyan membawa gerobak yang dipenuhi dengan bakso ke kontrakannya. Hari ini ia berencana akan berjualan bakso keliling. Berkat petunjuk yang diberikan oleh tetangga kontrakannya, Zayyan mendatangi rumah juragan bakso yang sangat terkenal ditempat itu. Zayyan bisa bernafas lega saat juragan bakso mempercayainya dan mengizinkannya untuk berdagang.


Dengan berbekal KTP, Zayyan berhasil membuat juragan bakso itu percaya padanya. Zayyan berjalan dengan semangat baru. Pria iyang tidak pernah hidup susah itu kemudian mandi agar kebersihannya sebagai pedagang terjaga. Dirinya tak mau para pembeli yang kabur karena penampilannya yang kumel. Tak lupa Zayyan pun memakai topi khas tukang bakso. Zayyan tak ingin masyarakat melihat jelas wajahnya dan mengingat video viralnya bersama Shella.


Zayyan tak ingin video itu menghancurkan hidupnya lagi. Zayyan harus bangun dari keterpurukannya. Setelah mandi, Zayyan berpakaian kaos dan celana training. Rambutnya ia sisir dengan rapi. Zayyan lalu mendorong gerobaknya menuju lapangan yang biasa diisi oleh pasar minggu.


Zayyan menghembuskan nafasnya pelan saat menyadari jika pengunjung pasar minggu hanya ada beberapa orang saja. Mungkin efek dari PSBB, tidak ada kerumunan di sana. Semua orang takut datang di keramaian. Akhirnya ia menghentikan gerobaknya di bawah pohon beringin yang lumayan teduh. Kulit Zayyan pun tidak terkena panas matahari yang sedang terik.


"Sepi sekali!" Lirihnya, hati Zayyan mencelos saat tidak ada satupun orang yang memesan baksonya. Tapi Zayyan tak boleh berkecil hati, Zayyan masih setia duduk menunggu di sana.


Mata Zayyan memicing, ia melihat sebuah tenda merah yang besar. Rupanya di sana ada tukang bakso juga. Pantas saja baksonya sepi pembeli. Zayyan hanya bisa bersabar, hari pertama berjualan penuh dengan ujian.


"Mas? Mas?" seru seorang pria berperawakan gempal yang mendatangi Zayyan, Zayyan tersenyum penuh dengan semangat saat melihat pria itu. Ia mengira orang itu akan menjadi pelanggan pertamanya.


"Silahkan baksonya, Mas!" Tawar Zayyan dengan ramah. Seorang pedagang memang harus ramah bukan?


"Saya gak niat beli bakso situ! Saya ini mengingatkan kalau sampean jangan jualan di sini! Dilarang jualan disini! Kawasan ini saya yang megang. Mas, lihat kan tenda itu jualan bakso? Itu punya saya! Makanya mas silahkan pergi dari sini!" Pria tadi berkata dengan ketus, tidak ada keramah tamahan di wajahnya.


"Memang tanah ini punya anda, Pak? Apa anda sewa? Apa ada tulisannya dilarang berjualan di sini?" Tanya Zayyan berargumen.


"Memang bukan punya saya, tapi saya sudah bayar uang keamanan kepada preman sekitar sini. Situ jangan ngotot dong! Udah sana pergi, gak usah jualan di sini! Hargai penjual lain dong!" Gerutu pria tadi tak mau kalah, ia lalu mengibas-ngibaskan tangannya. Khas mengusir seseorang.


Zayyan tertegun. Ternyata berjualan bakso tidaklah segampang yang ia kira. Zayyan menatap gerobaknya yang belum seporsi pun terjual.


"Heh, bukannya pergi, malah melamun! Sana pergi!" Usir pria tadi membuyarkan lamunan Zayyan.


Akhirnya Zayyan mengalah. Ia mendorong gerobaknya meninggalkan pasar Minggu itu. Terik matahari seakan membakar tubuhnya, Zayyan menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang ia gantungkan di lehernya.

__ADS_1


"Tak apa-apa lah, hitung-hitung olahraga!" Hibur Zayyan pada dirinya sendiri.


Zayyan lalu membelokan gerobaknya ke arah perumahan yang cukup mewah. Zayyan memberhentikan gerobak miliknya di depan sebuah mesjid. Ia lalu mengambil tempat di bawah pohon yang teduh.


"Mang, baksonya satu! Jangan pake mie sama sayur ya, Mang!" Seorang pria menghampirinya, memesan satu porsi bakso.


"Baik, Bang," Zayyan tersenyum senang, ini pelanggan pertamanya. Dengan senyum ramah, ia melayani pembeli dengan sepenuh hati.


Zayyan menghidangkan seporsi bakso dengan menu yang diminta dan memberikannya pada pembeli. Dalam hati ia sangat bersyukur baksonya ada yang membeli. Zayyan berharap hari ini baksonya habis terjual.


Setelah pelanggan pergi, Zayyan bergegas menuju tempat wudhu. Ia akan melaksanakan shalat Dzuhur. Zayyan melakukan ibadahnya dengan khusyuk, berharap Allah mengampuni segala dosa-dosanya di masa lalu. Setelah selesai shalat dan berdoa, Zayyan kembali ke tempat gerobaknya yang ia simpan dibawah pohon tadi. Terlihat empat orang perempuan remaja menunggunya.


"Mang, kok lama sih?" Tanya salah satu pembeli yang memakai kerudung pashmina pink.


"Maaf, Neng. Tadi Mang shalat dulu," jawab Zayyan ramah.


"Oh gitu, Mang. Aku pesan empat porsi bakso ya?" Jawab perempuan dengan rambut sebahu.


"Silahkan, Neng duduk dulu!" Zayyan berkata dengan ramah.


"Nuhun, Mang," ke empat gadis itu menjawab serempak, lalu mengambil kursi plastik itu dan mendudukinya.


Zayyan mengangguk, lekas ia menyiapkan bakso sesuai dengan apa yang mereka minta. Zayyan lalu mengantarkannya pada ke empat pelanggan yang sudah menunggunya.


"Silahkan, Neng!" Kata Zayyan tersenyum.


"Terima kasih, Mang," jawab gadis yang memakai kerudung pashmina cokelat.

__ADS_1


"Sama-sama, Neng."


Zayyan lalu merapikan tempat seledri dan bawang sambil menunggu ke empat pelanggannya menghabiskan bakso. Ia lalu membuka ponselnya, Zayyan menghela nafas berat saat tak ada seorang pun yang menghubunginya. Akhirnya Zayyan memasukan kembali ponselnya ke saku celananya.


"Mang?" Seru seorang wanita yang tengah menggendong bayi yang masih merah. Wanita itu memakai daster dan kerudung blus yang sudah kusam. Ia menghampiri gerobak Zayyan.


"Ya, Neng? Mau pesan berapa porsi?" Tanya Zayyan antusias. Dalam hati, Zayyan tak henti mengucapkan syukur karena sudah ada pembeli baru yang menghampirinya.


"Satu aja. Seporsinya berapa, Mang?" Wanita tadi mengusap keringat di keningnya. Sesekali tangannya mengelus kepala bayi yang ada di gendongannya.


"Dua belas ribu, Neng," jawab Zayyan sopan.


Wanita tadi mengeluarkan uang recehan, ia menghitung. Keningnya berkerut. Terlihat sekali wanita itu sedang berpikir keras.


"Boleh setengah porsi, Neng. Enam ribu saja," sahut Zayyan seakan membaca kegalauan wanita berdaster cokelat itu.


"Alhamdulillah kalau gitu, berarti uangnya pas enam ribu. Ini, Mang!" Wanita berdaster cokelat itu mengulurkan uang ke arah Zayyan, pria tampan itu segera menerimanya.


"Dibungkus ya, Mang?" Titah wanita tadi, Zayyan hanya mengangguk. Ia segera membuatkan pesanan wanita yang sedang menggendong bayi itu. Setelah selesai, wanita tadi mengucapkan kata terimakasih dan bergegas pergi.


"Eh tadi si Nadia kan ya? Miris amat ya hidupnya jadi begitu?" Tiba-tiba saja seorang gadis berkerudung pashmina pink yang sedang memakan bakso berkata dengan ekspresi yang miris. Sementara Zayyan hanya mendengarkan obrolan ke empat gadis yang tengah menikmati bakso itu. Bukan kepo, tapi memang suara mereka begitu keras saat menggunjingkan wanita yang baru membeli bakso setengah porsi tadi.


"Iya, dulu dia cantik banget. Gak nyangka udah nikah sama si Chairul hidupnya gitu banget!" Timpal seorang gadis rambut sebahu.


"Kata orang sih dia suka disiksa ama lakinya! Baru aja lahiran, dia udah disuruh kerja ini itu. Lakinya gak mau kerja!" Wanita berkerudung cokelat menambahi.


"Kasihan ya dia, dapat laki macam begitu. Kalau jadi aku sih mending cerai atau kabur!"

__ADS_1


"Susah, lakinya beringas begitu! Udah ah lanjut makan kita. Ngapain bahas orang lain?" Wanita yang memakai berambut sebahu menutup obrolan itu.


Mereka tak menyadari jika Zayyan menyimak obrolan ke empat wanita tadi. Di hatinya ia merasa sangat kasihan kepada wanita tadi. Apakah ada hidupnya yang lebih menderita dari hidupnya? Dan jawabannya banyak. Detik ini Zayyan mensyukuri sesuatu yang terjadi di hidupnya. Setidaknya sekarang pun ia mempunyai mata pencaharian walaupun tidak selalu ada setiap hari.


__ADS_2