
Andra sangat gugup hari ini. Bagaimana tidak, malam minggu ini dokter tampan itu rela mengosongkan jadwal prakteknya dan memilih menemui dokter Reynard di kediamannya.
Andra berdandan dengan rapi. Tak lupa, Andra semprotkan parfum agar menyempurnakan penampilannya. Setelah di rasa rapi, Andra segera pergi ke ruma orang tua Keysha. Ia memarkirkan mobil miliknya di carport yang sudah di sediakan. Andra lalu menekan bell. Ia berdehem beberapa kali, mencoba mengatur dirinya yang sedang diliputi kegugupan.
"Andra, lho kok kamu ke sini gak berkabar?" Reynard terkejut saat membuka pintu, melihat anak sahabatnya ketika SMA.
"Hehe lagi pengen aja mampir ke sini!" Andra tersenyum kikuk. Ia lalu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Dulu pertama kali bertemu dengan kedua orang tua Nadien tidak segugup ini. Namun berbeda sekali sekali saat bertemu Reynard. Walaupun mereka sudah sering bertemu, namun sangat berbeda saat Andra akan menjelaskan maksud dan tujuannya ke sini.
"Silahkan masuk, Ndra!" Reynard mempersilahkannya masuk, Andra mengangguk. Ia lalu mengikuti sang tuan rumah menuju ruang tamu.
"Saya panggil dulu istri saya ya, Ndra!" Pamit Reynard ramah.
"Silahkan, Om!" Andra tersenyum. Lantas Andra menyimpan buah tangannya yang ia beli beberapa saat yang lalu.
Malam ini Andra membawa martabak rasa toping cokelat mix keju. Andra tak tahu apakah kedua orang tua Keysha akan menyukainya atau tidak. Ia hanya melihat di film-film kalau membawa martabak bisa membuat mood calon mertua membaik.
"Andra, kok gak ngabarin Tante kalau mau ke sini?" Kania datang tiba-tiba, Andra langsung menyalami Kania dan Reynard dengan takjim.
"Pengen biar Tante sekeluarga terkejut aja Andra datang tiba-tiba ke sini!" Kekehnya pelan, Andra kemudian duduk di sofa ketika Kania mempersilahkannya duduk.
Reynard dan Kania duduk di kursi yang bersebrangan dengan Andra. Sepasang suami istri itu mengernyitkan dahinya bingung, menerka-nerka apa tujuan datangnya dokter tampan itu.
"Jadi, malam ini saya ingin membicarakan sesuatu tentang putri Tante dan Om," Andra berujar pelan.
"Keysha? Apa ada masalah antara kamu dan Keysha, Ndra ?" Tanya Reynard khawatir, ia sangat takut putrinya mempunyai masalah dengan pria yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Bukan. Maksud saya ke sini, saya ingin meminta izin om dan Tante, untuk secepatnya menghalalkan Keysha. Saya mencintainya, om," Tutur Andra tegas yang membuat Reynard membelalakan matanya karena terkejut.
"Benarkah itu, Ndra?" Tatapan Kania penuh harapan. Tak menyangka angan-angannya bisa terwujud dengan nyata malam ini.
Andra mengangguk, lantas ia tersenyum "Ya, Tan! Saya ingin meminta izin untuk segera mempersunting Keysha!"
Reynard mengangguk-ngangguk, ia lalu menyesap kopinya yang masih mengepulkan asap nya dengan pelan.
"Kamu tidak akan menyesal karena status Keysha seorang janda, Ndra?" Tanya Reynard.
Pria paruh baya itu menelisik keseriusan di mata pria yang sedang duduk di hadapannya. Pasalnya Reynard begitu mengenal Andra. Ia bukanlah pria sembarangan.
"Tidak, saya sudah mengenal Keysha dengan sangat baik. Saya bersungguh-sungguh!" Jawab Andra mantap.
Tak terasa air mata Kania menitik. Ia mengusap sudut matanya yang basah. Kania merasa terharu ada pria yang berani meminang putrinya langsung tepat saat masa iddahnya habis.
Setelah berpamitan pada Reynard dan Andra, Kania memanggil putri semata wayangnya itu. Tak berapa lama muncullah kedatangan Keysha. Wanita itu tampak berpenampilan sederhana dengan piyama satin berwarna maroon. Sangat berbeda sekali saat ia berpenampilan sebagai seorang dokter di rumah sakit tempatnya bekerja. Kesyah terlihat lebih muda ketika berpenampilan dengan memakai baju rumahan. Andra tersenyum menatap Keysha. Ia jadi membayangkan Keysha memakai daster sambil mengurus anak-anak mereka kelak.
Keysha terkejut saat melihat Andra sedang mengobrol dengan ayahnya. Sesekali dahinya mengernyit meminta penjelasan pada Kania, sang mama. Namun Kania hanya mengulum senyumnya dengan tatapan yang berbinar.
"Dok, kok dokter Andra ke sini?" Tanya Keysha saat mereka bertemu di ruang tamu.
"Duduklah, Key! Ada sesuatu yang Andra utarakan padamu. Papa harap kamu pun bisa menjawab malam ini juga ya?" Wajah misterius Dokter Reynard membuat Keysha mendadak gugup.
Keysha mengangguk, ia lalu mendudukan dirinya di sebelah ayah dan ibunya. Sesekali dokter cantik itu menelan salivanya. Tiba-tiba saja Keysha merasa gugup saat menatap dokter tampan itu. Keysha mengalihkan kegugupannya, ia mengambil segelas air putih dingin dan meminumnya dengan jantung yang berdebar.
"Key, malam ini saya meminta izin kepada kedua orang tuamu untuk menjalani hubungan yang serius denganmu. Saya tertarik kepadamu, dan saya ingin meminangmu segera!" Tegas Andra yang membuat Keysha tersedak. Keysha langsung terbatuk-batuk hingga Kania membantu mengelus punggungnya.
__ADS_1
"Hati-hati dong, Key!" Peringat Kania, ia lalu mengambil tisu dan mengelap bibir putrinya itu.
"Dok, jangan bercanda!" Peringat Keysha begitu pulih dari keterkejutannya.
"Saya tidak bercanda. Saya serius ingin segera melamar kamu, Key!"
Reynard menatap dalam wajah Andra, ia melihat sebuah keseriusan terpancar di manik matanya itu. Reynard tak berani menolak atau menerima. Ia menyerahkan semua keputusan pada putrinya, Keysha.
"Ya ampun! Dokter mengejutkan saya!" Keysha memegang dadanya yang tiba-tiba saja berdebar tak karuan.
"Bagaimana, Key? Apa kamu mau menerima niat baik Andra?" Kania seolah meminta jawaban.
Keysha menatap dokter tampan itu, ia lalu teringat dengan Vebby. Mendadak Keysha menjadi insecure.
"Tapi saya seorang janda, Dok!" Lirihnya pelan.
"Ya, saya tahu kamu janda. Lalu apa salahnya dengan janda? Kamu janda terhormat dan saya tidak mempermasalahkan itu!" Kata-kata Andra mengandung tekanan yang menyentuh hati Keysha seketika.
Bohong jika Keysha tak tertarik pada Andra, Keysha pun memiliki perasaan yang sama. Tapi apakah harus secepat ini? Bagaimana jika Andra hanya bermain-main saja?
"Saya serius, Key. Jangan menilai saya hanya bermain-main!" Seru Andra seolah tahu apa yang Keysha pikirkan.
"Bagaimana, Key? Keputusan papa serahkan semuanya padamu!" Reynard memberikan keputusannya. Ia menatap putrinya yang sedang duduk termenung.
"Tapi apa tidak terlalu cepat, Dok? Saya memang mempunyai perasaan yang sama. Tapi jika kita menikah sekarang, apa tidak membuat semua orang terkejut dan menilai kita negatif?" Keysha akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya.
"Pernikahan itu justru melindungi kita dari fitnah, Key. Saya ingin memuliakan kamu dengan menjadikan kamu istri saya bukan kekasih saya!"
__ADS_1
Kania dan Reynard merasa bangga dengan keberanian Andra. Begitu gamblangnya pria itu meyakinkan Keysha. Reynard dan Kania hanya berdoa semoga Keysha menyetujui ajakan Andra untuk menikah. Mereka tak ingin putri mereka selalu merasa kesepian. Mereka juga ingin ada yang menjaga putri semata wayangnya, dan tentunya pria itu harus orang yang tepat dan setia. Reynard juga menilai Andra bisa menerima keadaan Keysha yang sibuk, karena Andra satu profesi dengan Keysha. Pasti Andra tahu resiko menikahi putrinya yang seorang wanita karier.