
Shella tengah terbaring di ranjangnya yang baru saja ia beli. Setelah berhasil mengambil semua barang brandednya di apartemen Ine, Shella memang langsung menjual semua barang branded miliknya yang diberikan oleh Zayyan dan juga Riyan.
Saat pengambilan barang-barang miliknya, Ine dan Shella bertengkar hebat. Ine keukeuh tidak memperbolehkan jika Shella membawa barang-barang branded itu. Tapi bukan Shella namanya jika ia tidak bisa membawa barang-barang mahal itu keluar dari apartemennya. Shella mendorong tubuh ibunya sampai tersungkur sehingga ia bisa membawa barang-barang miliknya keluar dari apartemen milik Ine.
"Aku benci mama," Shella menggeram kesal.
Pasalnya barang-barang mewah Shella sebagian lagi sudah di jual oleh Ine. Shella tidak mengerti ke mana larinya uang-uang itu? Terlebih Shella tahu jika Ine menyiksa Fuji dengan uang yang minim.
"Apa mama bermain ju-di online ya?" Shella menduga-duga ke mana larinya uang sang ibunda.
"Bo-do amat lah! Mau mama ma-t1 sekalipun, aku udah gak peduli," Shella segera bangun dari tidurannya.
"Tapi, jangan dulu deh! Nanti aku berikan anak ini ke siapa?" Shella tampak berpikir.
"Kalau anak ini anak Zayyan, aku bisa kasihin ke dia. Kalau anak Riyyan? Ah pusing. Gimana entar lah, yang jelas aku tidak akan pernah sudi ngurus anak ini!" Shella bangkit dari ranjang yang ia beli.
Setelah Shella menjual barang-barang brandednya seperti tas, sepatu, jam, Shella memang langsung menyewa satu rumah lumayan mewah untuk ia tempati. Menyewa rumah tentunya lebih murah jika Shella harus menyewa sebuah apartemen.
__ADS_1
Shella membuka tudung saji. Ia segera makan makanan yang baru ia pesan via go food. Tampak meja makan itu penuh dengan makanan yang mahal. Shella tidak peduli, yang pasti Shella harus memanjakan dirinya. Shella sudah terlalu lelah dengan keadaan yang seolah tidak memihaknya saat ini.
Shella berjalan ke arah kulkas, ia membuka lemari pendingin itu dan mengambil sebotol minuman beral-kohol yang Shella beli tadi siang. Shella langsung menenggaknya langsung dari botol. Ia berharap ja-nin yang ada di perutnya luruh dengan alk-ohol itu.
"Mengapa kau sangat kuat, Hmm? Kau sengaja ingin menghancurkanku?" Shella berkata kepada perutnya yang sudah buncit itu.
Shella meminum alko-hol itu hingga menyisakan setengah. Wanita itu berhenti setelah perutnya merasa di aduk. Shella meringis kesakitan, ia memegangi perutnya yang terasa melilit. Shella tak kuat lagi, ia berjongkok memegangi perutnya.
"Sakit sekali!" Lirih Shella. Namun di hatinya ia senang, mungkin bayinya sebentar lagi akan gu-gur.
Shella kemudian mengesot, ia mengambil ponselnya dan menekan nomor ambulance. Keringat sebesar biji jagung membasahi kening dan anak rambutnya. Sakitnya sangat menyiksa sekali. Shella sampai menangis karena tak kuat dengan sakit yang menderanya.
Setelah menelepon, Shella masih saja duduk. Tak lama terdengar bunyi sirine ambulance yang sangat keras, beruntung rumah Shella tidak dikunci. Ia lalu berteriak dengan suara parau, karena terlalu lama menahan sakit. Para petugas medis yang berada di ambulance datang. Mereka langsung masuk dan menggendong Shella. Para medis memasukan wanita yang sedang kesakitan itu ke dalam ambulance.
Lima belas menit kemudian, Shella telah sampai di IGD Rumah Sakit Harapan Bangsa. Para perawat yang berjaga seketika berlari seraya mendorong brankar. Melihat pasien dalam keadaan hamil, dokter umum yang berjaga di IGD pun menelepon dokter Obygin yang sedang membuka poliklinik hari ini. Kebetulan sekali, Keysha sedang membuka polikliniknya sore ini. Setelah izin dulu pada pasien yang sedang menunggu antrian, Keysha segera berlari menuju IGD.
"Silahkan, Dok! Pasiennya ada di sebelah sana!" Para perawat IGD mempersilahkan Keysha masuk.
__ADS_1
Keysha mengangguk, ia lalu berjalan menuju arah tempat Shella. Keysha membuka tirai dan betapa terkejutnya Keysha saat ia melihat Shella yang sedang terbaring lemah di brangkar.
"Dok, sakit sekali! Tolong aku!" Lirih Shella dengan mata terpejam. Ia tak menyadari bahwa Keysha adalah dokter yang akan memeriksanya.
Keysha segera menguasai dirinya dari rasa keterkejutannya. Ia lalu memeriksa keadaan Shella dan bayinya. Keysha mencium aroma alko-hol, ia langsung bisa menyimpulkan jika Shella baru saja menenggak alko-hol dengan jumlah yang cukup banyak.
Dengan cekatan, Keysha mengambil fetal doopler atau alat pendeteksi denyut jantung janin. Keysha bernafas lega saat masih mendengar janin Shella masih berdetak. Ia lalu memberikan cairan melalui Vena untuk mencegah dehidrasi. Sebab diketahui alkohol bersifat meningkatkan produksi urine dalam tubuh (diuretik).
Keysha juga memberikan beberapa obat untuk menetralkan alkohol di dalam tubuh Shella yang disuntikan melalui infus. Selain itu, Keysha memberikan beberapa resep obat untuk menguatkan janin yang ada di dalam perut selingkuhan mantan suaminya itu.
"Bagaimana, Dok? Apa janinnya bisa di selamatkan?" Tanya bidan yang berjaga di ruang IGD.
Keysha mengangguk, hingga membuat bidan itu bernafas dengan lega. "Segera pindahkan pasien ini ke ruang rawat inap! Ia harus di observasi oleh dokter spesialis penyakit dalam. Karena menurut pemeriksaan saya, ada beberapa masalah di lambung karena kebiasaan pasien yang suka meminum alko-hol! Saya juga harus memantau janinnya. Pasien ini tidak bisa dipulangkan sekarang," tegas Keysha, sementara bidan tadi hanya menganggukan kepalanya.
"Baik, Dok!" Jawab Bidan itu. Ia lalu meminta bantuan kepada para perawat yang berjaga untuk memindahkan Shella ke ruang rawat inap.
Para perawat yang berjaga langsung mendorong brankar yang ditempati Shella menuju lift untuk dipindahkan ke ruang rawat inap. Sementara Keysha meninggalkan IGD. Ia tidak menyangka akan menangani Shella di rumah sakit ini. Walaupun ia sudah move on dengan Zayyan, namun perbuatan tak seno-noh mereka masih saja teringat jelas di memorinya. Namun Keysha juga tak bisa membiarkan Shella begitu saja. Keysha sudah bersumpah bahwa ia akan profesional melayani pasien dengan sepenuh hati meskipun itu adalah orang yang sangat ia benci.
__ADS_1