
Fuji menghela nafas ketika dosen pembimbing mencoret-coret skripsi miliknya. Ya, Fuji adalah mahasiswa semester akhir di salah satu kampus swasta yang ada di Bandung. Tinggal selangkah lagi Fuji harus menyelesaikan tugas akhirnya untuk mendapat gelar sarjana.
"Jam sebelas saya tunggu lagi di sini. Kamu harus revisi bab dua yang ada di dalam skripsi kamu," pinta dosen pembimbing Fuji sembari melihat skripsi mahasiswa lainnya.
"Tapi, Pa apakah bisa besok?" Fuji memberanikan diri bertanya.
"Udah saya kasih kamu keringanan, kok kamu malah kaya keberatan? Saya meminta kamu merevisi hari ini karena besok saya ada tugas ke luar kota," jawab Dosen itu dengan sedikit jengkel.
"Baik, Pa. Saya akan kembali lagi jam sebelas nanti," Fuji mengangguk patuh, kemudian ia pergi dari ruang dosen itu setelah berpamitan.
Seharusnya Fuji senang mendapatkan dosen pembimbing seperti itu, sehingga waktu skripsinya menjadi lebih singkat. Dosen yang mudah ditemui juga memberikan deadline yang cepar adalah idaman mahasiswa. Itu berlaku untuk Fuji. Ia amat bersyukur memiliki dosen yang gampang ditemui. Akan tetapi, keuangan tidak mendukungnya. Untuk print ulang skripsi tentunya jadi beban untuk Fuji. Ine, ibunya hanya memberikan uang pas-pasan kepadanya. Fuji memanglah tidak memiliki printer sendiri di rumah, sehingga ia harus datang ke tempat foto copy untuk memprint lembar demi lembar skripsinya.
Fuji tidak langsung pulang. Ia berjalan ke area Gazebo kampus. Fuji menghidupkan laptop miliknya dan segera melakukan revisi yang dosennya minta. Sesekali perutnya berbunyi sebagai tanda jika gadis itu tengah menahan lapar.
"Ini gara-gara mama jarang masak buat aku," Fuji menghembuskan nafasnya dengan berat.
Setelah melakukan revisi terkait bab dua skripsinya. Fuji langsung mematikan laptop yang memiliki layar retak itu. Laptopnya memang rusak, akan tetapi Fuji tidak berani meminta kepada Ine. Dulu saat Shella di atas angin dan di manja oleh Zayyan, Fuji selalu mendapatkan uang saku yang lumayan. Tapi kini semua seolah sirna setelah Zayyan terpuruk. Berbeda dengan Ine, walaupun wanita itu sudah mendapatkan pria kaya raya, tapi tetap saja Ine perhitungan sekali dengan Fuji. Entahlah Fuji tidak mengerti mengapa Ine terlihat benci padanya, sehingga rela hanya memberikan uang jajan pas-pasan.
Fuji berjalan ke arah foto copy. Di sana ia langsung memprint skripsi yang akan disetorkan hari ini. Saat Fuji membayar, di sakunya hanya ada uang dua belas ribu saja. Fuji berdoa semoga saja harga print tidak lebih dari itu.
"Berapa, Mang?" Tanya Fuji kepada orang yang tengah menghekter skripsinya.
"Dua belas ribu, Neng," ucap penjaga foto copy itu.
"Pas sekali."
"Ini, Mang! Nuhun," Fuji memberikan uang dua belas ribu di kantongnya.
Fuji segera kembali ke ruang dosen, ia menyerahkan skripsi yang sudah di revisi ke dosen pembimbingnya itu.
__ADS_1
"Bab dua sudah saya acc ya? Kamu bisa lanjut ke bab tiga, yaitu penelitian," Dosen pembimbing membubuhkan tanda tangan di buku bimbingan yang diberikan pihak kampus.
"Terima kasih, Pak," Fuji tersenyum senang. Lagi-lagi ia merasa amat bersyukur mendapatkan dosen pembimbing yang baik.
"Kapan bimbingan dengan dosen pembimbing kedua?" Tanya Dosen pembimbing pertama Fuji.
"Tidak tahu, Pak. Kata Wakil dekan, dosen pembimbing kedua skripsi saya sedang ada di Jerman," beri tahu Fuji.
"Kalau beliau sudah pulang, kamu harus gesit ya? Langsung kejar dan minta bimbingan!"
"Baik, Pak. Terima kasih untuk hari ini, Pak," Fuji tersenyum semanis mungkin. Kemudian ia menc1-um tangan dosen pembimbingnya dengan takzim dan berpamitan keluar dari ruangan dosen.
Fuji tersenyum senang. Ia memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di selasar masjid. Fuji membuka ponselnya. Ia langsung membuka aplikasi whatsapp. Ia menilik pesannya yang dikirimkan kepada nomor Dokter Andra tadi pagi. Fuji memang chat dokter itu lagi dengan berpura-pura menanyakan jadwal praktek. Tapi tetap saja, Andra tak membalas pesannya.
"Sudahlah, aku menyerah saja. Toh rasanya tidak mungkin mendekati dokter itu. Aku tidak punya celah untuk mendekatinya," Fuji langsung mendelete kontak Andra dari ponselnya. Merasa sadar diri jika ia tidak akan bersinggungan dengan kehidupan Andra.
Fuji tidak mau ambil pusing. Setidaknya kini ia sudah lebih bijak dalam berpikir. Fuji tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Baginya yang terpenting saat ini adalah kuliahnya lancar sampai ia wisuda nanti. Dengan begitu, Fuji bisa langsung mencari kerja dan menghasilkan uang sendiri. Fuji sudah terlalu lelah harus bergantung terus kepada Ine yang nyatanya tidak pernah memikirkan nasibnya.
"Kenapa, Ji?" Kata teman Fuji yang melihat.
"Biasa, ngadat!" Jawab Fuji singkat.
"Oh," jawab temannya tanpa menawarkan bantuan kepada gadis yang sedang kesusahan itu.
Fuji tidak mempersoalkan. Toh kehidupan seperti ini sudah akrab dengannya. Fuji langsung mendorong kembali motornya. Debu, terik matahari, asap kendaraan begitu menyiksa dirinya. Tapi Fuji tidak bergeming. Ia masih saja menuntun motor yang dulu Shella berikan untuknya.
"Mama kaya bukan seorang ibu. Dia gak pernah tanya aku udah makan atau belum, padahal uang jajan ku pun pas-pasan," Fuji bergumam sendiri.
Kemudian sebuah ide melintas di kepalanya. Ia teringat akan ponsel mahal berkamera bobanya. Apa harus Fuji menjual ponsel itu untuk memenuhi kebutuhannya? Tak berpikir lama, Fuji pun langsung memutuskan untuk menjual ponselnya saja. Ia tidak bisa menadah tangan terus kepada sang ibu yang acuh padanya.
__ADS_1
"Setelah sampai ke apartemen, aku akan posting ponsel ini di akun facebook atau O*-LX," Fuji tersenyum dan segera mendorong motor dengan lebih keras.
****
Hampir satu jam Fuji mendorong motor sampai ke apartemen milik ibunya. Fuji langsung masuk ke dalam apartemen dan membaringkan tubuhnya di sofa. Fuji menarik nafas panjang. Ia amat lelah sekali mendorong motor dari kampus sampai apartemen yang cukup jauh. Fuju berusaha memejamkan matanya. Saat matanya baru tertutup, terdengar pintu terbuka.
"Enak ya kamu! Kerjaan cuma leha-leha, menye-menye!" Ine berteriak. Moodnya sudah cukup buruk karena kumpul arisan yang justru seperti acara untuk mempermalukan dirinya.
"Leha-leha gimana sih, Ma? Aku baru dateng dari kampus. Aku harus dorong motor segitu jauhnya karena motor aku bensinnya abis" Fuji memutar bola matanya kesal.
"Ya itu salah kamu dong. Noh lihat mahasiswa mahasiswi lain kuliah tuh sambil kerja sambilan, jadi mereka punya uang buat biayain kebutuhannya sendiri!" Ine berkata dengan intonasi yang tinggi.
"Kan mama tahu aku ambil kelas reguler, bukan kelas karyawan. Mana bisa aku kuliah sambil kerja, Ma?" Fuji lagi-lagi membantah.
"Kamu kan udah semester akhir. Udah kosong dong berarti tuh mata kuliah?"
"Ya terus gimana skripsi aku, Ma?" Fuji berusaha memejamkan matanya lagi.
"Bangun! Malam ini mama mau kenalin kamu ke seseorang," Ine menarik tangan putri bungsunya.
"Seseorang?"
"Iya. Pria tajir melintir," Ine tersenyum samar.
"Jangan bilang mama jual aku ke pria tua gendut!" Fuji menyipitkan matanya.
Walaupun dulu Fuji sering berpesta bersama teman-temannya di kl-ub malam. Akan tetapi, faktanya gadis itu masih mempertahankan harga dirinya untuk tidak bergaul secara berlebihan dengan lawan jenis. Fuji tidak mau harus bernasib sama seperti ine dan juga kakaknya, Shella. Impiannya adalah mendapatkan pria yang Fuji cintai dan mencintainya.
"Gi-la ya kamu! Ke ibu sendiri bisa-bisanya punya pikiran buruk kaya gitu! Mama ini mama kamu, Ji. Mana mungkin mama mau ngejual kamu ke pria tua. Mama cuma mau ngenalin kamu ke seseorang yang tajir melintir. Kalau kamu oke ya lanjutin hubungan, kalau ga ya ga usah!"
__ADS_1
Fuji tampak waspasa. Ia tidak akan bisa Ine kelabui. Hidup lama bersama ibunya tentu membuat Fuji hafal betul bagaimana tingkah Ine dan prilakunya.