Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Meyakinkan Zayyan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Zayyan diam saja. Ia memikirkan perkataan Keysha tadi. Zayyan mengemudikan mobilnya dengan pikiran yang berkecamuk. Bagaimana jika benar anak yang dikandung Shella bukan anaknya? Jika benar itu terjadi, Zayyan akan membuat perhitungan dengan istri sirinya itu.


"Sayang?" Shella menatap Zayyan dengan khawatir. Wanita yang tengah hamil itu takut Zayyan akan terpengaruh dengan ucapan Keysha.


"Apa kamu sedang memikirkan kata-kata mantan istrimu itu?" Lanjutnya lagi.


"Tentu saja tidak," Zayyan mengelak. Entah mengapa ia lebih percaya Keysha, karena lima tahun berumah tangga, Zayyan sangat tahu watak Keysha yang tidak suka berbohong.


"Tolong turunkan aku di sini!" Pinta Shella dengan wajah kesal.


Shella menatap jalanan yang cukup lengang. Sejujurnya ia takut Zayyan benar akan menurunkannya. Namun Shella harus bisa meyakinkan Zayyan. Meyakinkan bahwa anak yang dikandungnya itu adalah anak dari hasil perbuatannya bersama Zayyan, walaupun Shella sendiri merasa tak yakin.


"Rumah mama masih jauh! Mengapa minta turun dari sini?" Tanya Zayyan keheranan. Ia menatap mata Shella yang telah berlinang air mata. Tak lupa Zayyan menepikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi.


"Aku akan pergi dari hidup kamu, Zayyan! Buat apa aku terus bersama suami yang lebih percaya kepada mantan istrinya dibanding istrinya sendiri?" Shella menangis tergugu, membuat Zayyan kelimpungan.


"Bulan begitu, aku hanya sedang berpikir Shell. Tidak ada yang meragukan mu!" Zayyan mengangkat dagu Shella lembut. Ia lalu mengusap air mata model cantik itu.


"Tidak, kamu meragukan aku, Zayyan! Bahkan sikapmu sepanjang perjalanan pulang sangat dingin dan ketus. Jangan samakan aku dengan Kesyha yang tidak peka! Aku lebih pintar menilai dirimu, Zayyan!" Sahut Shella berapi-api. Air matanya semakin deras membasahi pipinya yang mulus.


"Aku hanya takut apa yang dikatakan Keysha benar. Normal kan jika aku berpikir seperti itu? Mengingat Keysha tidak suka berbohong," Zayyan menatap Shella. Ia berusaha mencari kejujuran di mata istrinya itu. Namun nihil, ia tidak bisa menemukan apapun dari ekspresi wajah Shella.


"Keysha itu masih mencintaimu, Zayyan! Dia mempunyai dendam yang sangat besar kepada kita. Jika dia tidak dendam kepada kita, dia tidak akan mungkin mengambil seluruh aset dan hartamu. Dia benar-benar membuat kita menderita! Selain kita tidak mempunyai uang sama sekali, dia juga membuat kita hidup terkatung-katung tak memiliki tempat tinggal. Apa itu perbuatan yang terpuji? Dia sangat serakah. Ingin hidup bergelimang harta tanpa mempedulikan mu!" Teriak Shella dengan penuh emosi.

__ADS_1


Smentara Zayyan mencerna kata-kata Shella dengan baik. Memang benar, Keysha sekarang sangat jauh berbeda dengan Keysha yang ia kenal dulu. Keysha dulu sangat anggun, penyabar, dan manja. Berbeda dengan hari ini, seakan ia tidak mengenali Keysha. Tapi bukankah sikap Kesyha seperti itu karena Zayyan mengkhianatinya lebih dulu?


"Kamu pun ingat kan? Pertama kali kita melakukannya, aku masih p*rawan. Aku menyerahkan harga diri dan kehormatanku hanya untuk kamu saja, Zayyan!" Ucapan Shella membuatnya teringat pada malam itu. Di mana Zayyan mabuk. Memang Zayyan tak mengingat sepenuhnya. Namun yang Zayyan ingat, ia melihat bercak darah di spray milik Shella.


Zayyan lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia langsung memeluk Shella. "Maafkan aku, aku sempat meragukanmu! Aku sangat berharap memiliki seorang putra. Maafkan aku, sayang!" Zayyan terbuai dengan kata-kata Shella. Ia sangat menyesali sikapnya yang sempat ketus pada istrinya.


"Ya, terima kasih karena sudah percaya padaku! Aku mencintaimu, Zayyan!" Lirih Shella.


Memang apa yang dikatannya jujur. Shella sangat mencintai Zayyan. Ia mencintai pria itu hingga rela melakukan operasi selaput darah. Namun cinta saja tidak cukup. Shella juga perlu harta Zayyan, dan ia akan menemani Zayyan sampai Zayyan bangkit lagi.


Setidaknya sampai anak ini lahir. Jika perekonomian Zayyan pulih lagi, Shella akan melanjutkan hubungannya bersama pria jangkung itu. Tetapi jika Zayyan masih belum bisa bangkit, dengan terpaksa ia akan meninggalkan Zayyan bersama anaknya. Shella ingin menggapai cita-citanya lagi sebagai model. Itulah yang ada di pikiran Shella saat ini.


****


"Key?" Panggilan Andra membuat wanita berambut panjang itu menoleh pada Andra.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Andra dengan nada yang sanga khawatir.


"Saya baik-baik saja. Jangan khawatirkan saya, Dok! Saya sudah biasa diserang perihal kehadiran seorang anak," Keysha tertawa sumbang.


"Saya tahu kamu wanita kuat, Key!" Andra tersenyum menatap wajah cantik itu.


Senyuman Keysha menghilang ketika ia mengingat hasil tes Zayyan. Walaupun dirinya membenci Zayyan, namun ia merasa kasihan pada mantan suaminya itu. Apalagi kepada Rena. Walaupun mereka sudah resmi bercerai, namun Keysha selalu menganggap Rena ibu keduanya setelah Kania.

__ADS_1


Keysha melanjutkan langkahnya. Ia tidak mungkin menceritakan aib mantan suaminya kepada Andra. Walaupun Keysha tahu Andra orang yang pintar menjaga rahasia. Namun Keysha lebih memilih bungkam. Ia tidak suka mengumbar aib orang lain, apalagi orang itu pernah hidup bersamanya bertahun-tahun.


"Oh ya, Key? Apa kamu ada waktu untuk meminum teh bersamaku sore ini?" Tanya Andra dengan wajah penuh harap.


"Maafkan saya, Dok! Tapi saya harus pulang," Keysha menolak ajakan Andra.


"Sampai kapan kamu akan hindari saya, Key?" Andra bertanya pada intinya, ia masih saja merasa Keysha sedang menghindari dirinya.


"Maafkan saya, Dok! Tpi setelah saya bercerai, saya kembali kepada kedua orang tua saya. Saya milik mereka. Jika ada yang ingin dokter utarakan, dokter bisa berbicara dengan ke dua orang tua saya."


"Benarkah, Key? Apa saya boleh datang ke rumah?" Andra memperjelas perkataan Keysha. Matanya berbinar seolah diberikan harapan oleh wanita cantik yang ada di hadapannya. Niat Andra memanglah serius dan bukan untuk bermain-main.


Keysha mengangguk mengiyakan. Wanita itu lalu mendahului langkah Andra. Rona merah menghiasi pipi Keysha. Keysha tahu ini terlalu cepat, tapi salahkah jika Keysha mulai membuka hati? Salahkah Keysha bila ingin menemukan kebahagiaannya sendiri? Salahkah Keysha bila ingin menghapus nestapa dengan membuka hati untuk sorang baru? Ia yakin semua pria tidaklah sama seperti Zayyan. Apalagi Keysha begitu mengetahui sifat Dokter Andra.


"Key, tunggu!" Panggil Andra lagi. Ia mengejar langkah Keysha yang kecil-kecil.


"Papamu suka martabak tidak?" Tanyanya watados yang membuat Keysha terkekeh.


"Suka, seperti bapak-bapak pada umumnya. Mama saya juga suka roti bakar," Keysha tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Nanti saya bawa ya? Kalau anaknya suka apa ya?" Andra tampak kebingungan.


"Anaknya tidak neko-neko. Cukup setia dan rajib beribadah," jawab Keysha sambil berjalan ke arah mobilnya dengan pipi merona.

__ADS_1


__ADS_2