
Andra merebahkan dirinya di ruangannya yang ada di rumah sakit. Ya , dia memang mempunyai ruangannya sendiri untuk beristirahat. Andra menyalakan ponselnya, keningnya berkerut saat membaca sebuah pesan WhatsApp yang masuk.
"Siang, Dok! Ini nomor saya, Fuji. pasien yang kemarin berkonsultasi dengan dokter."
Andra mengingat-ngingat nama Fuji, ia tak ingat betul dengan pasiennya. Karena setiap hari ada puluhan wanita memeriksakan kesehatannya. Ada yang kontrol hamil, program hamil, ada juga yang sekedar memeriksakan kesehatan rahimnya saja.
Andra memilih mengabaikannya saja karena Andra akan membalas pesan yang penting dan darurat saja, kecuali bila pesan itu dari Keysha. Pesan penting atau tidak, Andra akan tetap membalasnya.
Ponsel Andra berbunyi lagi. Ia mengeceknya masih dengan pengirim nomor WhatsApp yang sama. Andra masih tak membalasnya. Andra lebih memilih untuk menyimpan ponselnya di atas nakas.
Andra mulai memejamkan matanya. Fisiknya sudah cukup lelah dengan hari ini. Bagaimana tidak, dari pagi sampai sore Andra sibuk melakukan tindakan operasi dan melakukan visit ke ruangan pasien. Andra juga membuka poliklinik walaupun hanya beberapa jam saja.
"Ndra?" Sebuah suara bariton seorang pria memanggilnya diiringi dengan ketukan pintu.
Andra bangkit dari posisi tidurannya dengan malas. Dalam hati Andra menggerutu siapa yang mengganggunya disaat jam istirahatnya?
"Papa? Ayo masuk, Pa!" Andra membuka pintu dan melebarkannya saat melihat Sagara yang memanggilnya.
"Ada yang perlu papa sampaikan kepadamu, Ndra!" Sagara mengekori Andra yang berjalan terlebih dahulu. Mereka mendudukan diri mereka di sofa yang empuk.
"Ada apa, Pa?" Tanya Andra, ia menyenderkan punggungnya di sofa yang empuk.
"Kamu masih mengingat Vebby? teman kuliahmu saat di Boston?"
Dahi Andra berkerut, berusaha mengingat temannya dulu ketika ia kuliah di Amerika. Lalu detik berikutnya Andra mengingat temannya yang bernama Vebby. Dia sangat fashionable dengan wajah blansteran Eropa. Kemudian Andra menganggukan kepalanya. "Ya, aku ingat Vebby. Ada apa, Pa?" Tanya Andra penuh dengan rasa keingintahuan.
"Vebby itu ternyata anak teman Papa, Dokter Edwin. Vebby melamar sebagai dokter di rumah sakit ini. Nanti kamu tolong bimbing dan arahkan dia ya!" Perintah Sagara dengan berwibawa.
__ADS_1
Andra tak mengiyakan keinginan ayahnya, karena biasanya Sagara tak bersikap seperti itu. Biasanya Dokter Sagara akan lebih memilih meminta tolong dokter Herry untuk membimbing dan mengarahkan dokter yang baru di rumah sakit ini. Apa Dokter Sagara tengah menjodohkannya dengan Vebby?
"Papa berusaha mendekatkan Andra dengan Vebby ya?" Andra memicingkan matanya, menelisik niat pria yang tengah duduk di hadapannya.
"Ya ampun, Ndra! Tidak ada yang menjodohkan. Papa hanya meminta kamu mengarahkan Vebby di sini. Jika kalian cocok, papa bersyukur setidaknya kamu mengarahkannya untuk bekerja dengan baik di rumah sakit ini, Jika kalian dekat itu adalah bonus," Sagara terkekeh pelan.
"Andra tidak berminat, Pa. Tolong papa berhenti untuk selalu mendekatkan Andra dengan wanita pilihan papa itu!" Tolak Andra tegas yang membuat senyum di bibir Sagara seketika lenyap.
"Jangan bilang alasanmu ini karena kamu masih belum bisa move on dari Nadien!" Sagara mendecakan lidahnya dengan jengkel. Ia tak merasa tak habis pikir mengapa putra bungsunya itu sangat keras kepala.
"Bukan, Pa. Andra sedang mencintai wanita lain," Andra mengalihkan tatapannya pada arah lain. Dokter tampan itu tersenyum samar saat mengingat wajah cantik Keysha yang setiap malam selalu saja menghiasi pikirannya sebelum tidur.
Mata Sagara berbinar, senyum tipis menghiasi pria yang sudah mulai menginjak usia senja itu.
"Siapa, Ndra?" Kejarnya yang segera meminta jawaban dari putra bungsunya.
"Dokter Keysha, Pa. Andra mencintainya!" Jawab Andra tanpa rasa malu-malu.
Pasalnya Keysha adalah salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit ini, rumah sakit miliknya. Ia juga anak dari sahabatnya, Dokter Reynard. Keysha juga terkenal membuka praktek di poliklinik Obygin di Rumah sakit milik ayahnya.
"Tapi dia janda, Ndra!" Sagara merasa keberatan saat anaknya mengutarakan perasaannya.
Ya, Sagara memang tidak pernah memandang orang dari segi materi dan jabatan. Namun dengan Keysha, walaupun Keysha anak dari sahabatnya saat masa kuliah dulu. Sagara merasa sedikit keberatan karena status Keysha yang bukan gadis lajang lagi.
Apalagi video viral perselingkuhan suaminya cukup menyita perhatian para netizen di tanah air. Ia takut Andra akan mendapatkan masalah. Apalagi mengingat mantan suaminya yang seorang pengusaha, walaupun Sagara tak tahu kabar terbaru dari mantan suami Keysha.
"Apa papa keberatan Andra menyukai Keysha, Pa? Biasanya Papa tidak pernah memandang orang dari status?" Andra bertanya dengan penuh kebingungan saat melihat ekspresi ayahnya.
__ADS_1
"Tapi papa menginginkanmu menikah dengan wanita yang belum pernah gagal berumah tangga, Ndra!" Raut wajah Sagara terlihat tidak suka.
"Kalau begitu papa tidak akan pernah melihat Andra menikah," Andra memberikan keputusan telak yang membuat Sagara diam seketika.
"Lagi pula mama juga udah setuju kok, Pa!" Tambah Andra lagi. Sekilas ia melihat raut terkejut dari ayahnya.
"Mamamu tahu tentang ini? Tapi mengapa mam tidak memberi tahu papa?" Sagara bertanya-tanya.
"Mana Andra tahu. Mama kan istri papa," Andra mengangkat bahunya.
"Kamu pikirin lagi deh bagaimana konsekuensi menikah dengan orang yang sudah gagal berumah tangga!" Titah Sagara tegas.
"Pa, perceraian memang di benci oleh Allah. Tapi perceraian juga di perbolehkan jika posisi rumah tangga itu penuh kezoliman seperti rumah tangga Keysha. Memang papa maunya Keysha diam saja saat suaminya main serong? Papa maunya seorang wanita diam saat di perlakukan semena-mena oleh suaminya?" Dokter Andra balik bertanya dengan wajah yang serius. Dokter Sagara terlihat diam dengan perkataan putranya. Tak lama dia pun menjawab.
"Cape papa ngomong sama anak keras kepala kaya kamu, Ndra!" Sagara bangkit dari duduknya dengan gusar, ia lalu meninggalkan ruangan dokter yang merupakan putranya itu.
Sedangkan Andra mengangkat bahunya tak acuh. Ia lalu kembali merebahkan dirinya di kasurnya yang empuk tanpa mempedulikan ayahnya yang tengah merajuk.
Sementara Sagara melangkahkan kakinya melewati lorong-lorong rumah sakit. Saat ia melewati poli Obygin, Sagara melihat Keysha yang sedang berjalan ke arahnya dengan memakai setelah pakaian operasi. Spontan dokter cantik itu tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan santun ke arah Sagara.
"Sore, Dokter!" Sapa Keysha ramah begitu mereka saling bertatap muka.
"Sore, Dokter Keysha!" Sagara tersenyum.
Sagara memperhatikan wajah teduh dokter muda itu. Paras Keysha yang ayu memang memikat para kaum Adam, dan Sagara menyadari kecantikan dan kebaikan dari Keysha. Sikap tanggung jawab dan tingginya profesional dalam bekerja pun Sagara sudah tahu bahwa Keysha memiliki nilai plus.
"Apa kabar dokter Reynard?" Tanya Sagara kepada Keysha. Sagara lalu berjalan beriringan di samping dokter cantik itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, Dok," Keysha tersenyum.
Mereka mengobrol ringan, hingga Sagara menyadari memang pribadi Keysha sangat menyenangkan. Haruskah ia mengizinkan Andra untuk mendekati Keysha?