
Keysha sudah mendaftarkan gugatannya pada pengadilan agama. Lusa adalah jadwal mediasi bersama Zayyan. Namun Keysha berencana tidak akan menghadiri mediasi itu. Ia sudah menyerahkan sepenuhnya pada pengacaranya termasuk tentang perjanjian pra nikah, dan harta gono gini. Keysha tidak akan membiarkan Shella menikmati harta Zayyan yang didapat ketika masih bersamanya.
Keysha merebahkan tubuhnya di ranjang nya yang berukuran king size. Ia mengamati langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Meskipun Keysha berusaha kuat, namun hatinya terkadang rapuh. Ia berusaha tidak meratapi pernikahannya yang sebentar lagi akan kandas.
Getaran ponsel membuyarkan lamunan wanita cantik itu. Keysha mengambil ponselnya dengan malas, dahinya berkerut tatkala nama Andra memanggilnya. Ia merasa aneh karena untuk pertama kalinya Andra menghubunginya.
"Hallo, Dok?" Keysha menyapa Andra dengan hati yang berdebar. Entahlah ada apa dengan dirinya. Setiap kali menyangkut dokter Andra, hatinya selalu tiba-tiba saja merasa aneh.
"Key, kamu tidak apa-apa? Apa tamparan kemarin malam masih sakit?" Suara Andra di ujung sana terdengar sangat khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja," balas Keysha dengan pendek.
"Maafkan aku! Harusnya aku mengantarkan mu sampai gerbang. Mungkin suamimu itu tidak akan memukulmu," ada nada penyesalan terdengar dari suara Andra.
Sebagai seorang wanita dewasa, Keysha cukup peka dengan Andra. Keysha menduga Andra mulai memperhatikannya. Namun ini salah, Keysha tidak boleh terbuai dengan Andra. Apalagi statusnya saat ini masih sebagai istrinya Zayyan. Ia harus berusaha menjaga martabat dirinya dan juga Andra. Andra tidak boleh terseret di permasalahan rumah tangganya. Keysha tidak boleh membuat Andra berada dalam masalah.
"Tidak apa-apa, Dok. Saya baik-baik saja. Kalau begitu, saya tutup teleponnya ya? Saya ingin tidur," tiba-tiba suara Keysha menjadi dingin, sedingin es. Keysha terpaksa harus bersikap demikian. Hal itu Keysha lakukan paling tidak sampai putusan sidang perceraian keluar dan menyatakan ia resmi bercerai dengan Zayyan.
"Oh ya, maaf mengganggumu. Kalau begitu, selamat malam!" Andra mengakhiri panggilan itu dengan kikuk
Sementara di seberang sana, Andra menyugar rambutnya dengan frustasi. Ia membanting ponsel miliknya. Tiba-tiba saja ia menyesal karena menelepon Keysha. Andra menganggap dirinya begitu ceroboh.
"Andra, kau gila! Berani-beraninya kau menelpon Keysha!!" Andra menjatuhkan tubuhnya pada ranjangnya dan berguling di sana hingga menimbulkan suara ribut yang mengundang Dewi, sang ibu untuk mendatangi kamarnya.
"Ada apa sih, Ndra? Kamu kok ribut banget?" Sembur Dewi tiba-tiba saat membuka pintu kamar Andra. Ia merasa heran melihat putranya yang berguling ke sana-kemari bak anak kecil.
"Ndra, kamu baik-baik aja?" Dewi mulai khawatir dengan tingkah laku sang putra.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Ma. Mama tolong keluar! Andra sedang ingin sendiri," Andra menjawab dengan malas. Ia masih berguling di posisinya tadi.
Sementara Dewi hanya menggelengkan kepalanya, ia menatap sang bungsu dengan tatapan aneh. "Kayanya kamu harus cepet nikah, Ndra! Kelakuanmu itu lho bikin Mama khawatir!" Cebik Dewi seraya menutup pintu.
****
Andra mengawali harinya dengan membuka poliklinik di rumah sakit seperti biasanya. Walaupun semalaman ia tidak bisa tidur, namun Andra harus profesional dan dituntut berpenampilan rapi dan sehat saat akan memeriksa pasien-pasiennya.
Andra meneliti map berwarna hijau yang berisi rekaman medis pasien satu persatu. Tiba giliran map yang bernama Fuji. Andra memerintahkan asistennya untuk memanggil Fuji sesuai dengan nomor antrian.
Fuji tersenyum riang kala asisten Andra memanggil namanya. Gadis itu mengekori asisten dokter Andra menuju ruang pemeriksaan.
"Sore, Dokter Andra!" Sapa Fuji dengan ramahnya. Fuji tampak cantik sekali hari ini. Bahkan sebelum datang ke rumah sakit, Fuji melakukan perawatan di salon kecantikan agar penampilannya benar-benar kinclong dan mengundang perhatian dokter tampan itu.
"Sore, Fuji! Gimana kabar kamu sekarang?" Andra tersenyum simpul ke arah pasiennya itu. Andra memang selalu bersikap ramah kepada semua pasiennya.
"Bagaimana h*idnya? Apa masih nyeri?" Dokter Andra menatap map yang berisi rekam medis Fuji, ia lalu membuka dan membacanya.
"Masih, Dok. Bahkan sekarang jauh lebih sakit," tutur Fuji dengan jujur.
"Kalau begitu berbaringlah! Kita periksa ya?" Andra berbicara dengan santai.
Asisten Andra membantu Fuji untuk berbaring, kemudian sang asisten melumuri perut bawah Fuji dengan gel yang terasa dingin. Andra menghampiri Fuji, ia mulai pemeriksaan dengan transducer yang ada di tangannya. Tatapannya tajam dan sangat fokus pada layar monitor. Tangannya terus menggerakkan transducer itu di perut Fuji.
Hati Fuji sedikit menceos karena Andra besikap biasa saja melihat wajahnya. Padahal Fuji sudah melakukan perawatan sebelumnya. Sejujurnya Fuji sangat deg-degan. Namun saat melihat dokter tampan itu, Fuji hanya tersenyum kecil. Fuji seakan kehilangan fokus saat berhadapan dengan dokter muda itu.
"Yuk duduk lagi!" Perintah Andra. Asisten Andra membantu Fuji untuk bangun. Fuji kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi dokter Andra. kini mereka duduk berhadapan dan hanya dipisahkan oleh meja.
__ADS_1
"Fuji, hasil pemeriksaan saya kamu terdiagnosa menderita PCOS," Dokter Andra memberikan penjelasan.
"PCOS? Tapi bagaimana bisa, Dok? Apa saya bisa sembuh?" Fuji merasa syok saat mendengarnya. Matanya membelalak karena kaget.
"Biasanya faktor genetik atau karena gaya hidup yang tidak sehat. Bisa sembuh asal kamu optimis dan memperbaiki gaya hidupmu menjadi lebih sehat. Nanti saya akan meresepkan beberapa obat untuk terapi hormonnya," Andra menuliskan resep obat di buku resep.
"Apa saya bisa hamil, Dok?" Suara Fuji terdengar bergetar. Ia tampak was-was akan masa depannya. Karena menurut Fuji yang tidak terlalu mengenal dunia kesehatan, PCOS menyebabkan sulit untuk hamil.
"Bisa, kamu jangan khawatir apalagi stres! Justru setres akan memperparah kondisimu," nasihat Andra dengan penuh kepedulian kepada pasiennya.
"Dua Minggu lagi setelah obat itu habis, kamu harus kontrol lagi ke sini!" Perintah dokter Andra seraya mengamati wajah Fuji yang masih termangu karena syok.
"Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi! Kamu harus selalu berhusnuzon! Kadang sesuatu yang terjadi berasal dari apa yang kita pikirkan. Berusaha untuk selalu berpikir positif, hidup sehat dan tentunya berdoa setiap waktu," Dokter Andra memberikan petuah.
"Tapi, Dok. Saya takut saja susah untuk hamil kelak," Fuji masih bersedih.
"Anak itu rahasia Allah. Sebagai manusia kita hanya bisa berdoa dan berikhtiar semampu mungkin. Cara kamu berikhtiar adalah dengan ibadah yang rajin, hidup sehat, selalu berpikir positif dan istirahat yang cukup. Semoga dengan hal itu, PCOS kamu bisa sembuh," Dokter Andra memberikan sedikit ceramah.
Hati Fuji seketika membaik seperti sedang berada di sebuah oase. Andra memang pintar dalam menenangkan.
"Baik, Dok," Fuji mengangguk. Kekaguman terhadap dokter itu semakin besar. Fuji yakin, Andra adalah pria yang mampu membuat hidupnya lebih baik. Tapi, bagaimana cara agar bisa dekat dengan dokter itu? Fuji sungguh sangat pusing memikirkan itu.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Dokter Andra memecahkan lamunan pasiennya itu. Fuji hanya menggeleng.
"Sudah cukup, Dok. Terima kasih," Fuji tersenyum manis pada Andra.
"Semoga nanti aku bisa menarik perhatiannya," Batin Fuji penuh harap.
__ADS_1