
Kesepakatan kedua keluarga sudah di dapatkan. Pernikahan Keysha dan Andra akan dilangsungkan satu bulan lagi. Tentunya Dewi dan Kania yang sibuk mengurus vendor dan WO yang berpengalaman dan terbaik.
Hari ini Keysha berangkat menuju rumah sakit untuk bekerja. Senyum manis tidak lepas dari wajah dokter cantik itu. Tentunya ia sedang berbunga-bunga, mengingat pertemuannya bersama keluarga Andra semalam. Saat Keysha melewati ruang IGD, ia dikejutkan oleh ibu hamil yang berteriak dan meringis kesakitan. Keysha segera mendekati ibu hamil itu dan memeriksanya.
"Tolong saya, Dok! Perut saya sakit sekali!" Lirih ibu hamil itu dengan nafas yang memburu.
"Iya sebentar ya, Bu! Biar saya periksa dulu," jawab Keysha dengan tenang. Tentunya ia harus tenang agar pemeriksaan dapat dilakukan dengan baik.
"Dokter Keysha bagaimana ini? Pasien ini biasanya ditangani oleh Dokter Vebby. Tapi beliau belum datang juga. Apa kita harus menunggu Dokter Vebby datang?" Salah satu perawat di IGD terlihat gusar saat melihat ibu hamil itu yang terus merintih kesakitan.
"Apakah suster sudah menelepon atau menghubungi dokter Vebby?" Tanya Keysha kembali, sedangkan tangannya masih sibuk memeriksa ibu itu. Keysha pun memeriksa jalan lahir ibu hamil tersebut untuk menghitung jumlah pembukaan.
"Kami sudah menelepon tapi tidak diangkat, Dok!" Perawat yang menemani Keysha mulai kebingungan.
"Segera siapkan semua peralatan! Kita akan melakukan tindakan sekarang juga. Ibu ini sudah pembukaan delapan. Kita tidak mungkin menunggu dokter Vebby datang," akhirnya Keysha mengambil keputusan dengan tegas.
Perawat itu mengangguk. Ia lalu menghubungi Dokter Anak yang sedang membuka poliklinik hari ini. Perawat itu menghubungi dokter spesialis anak tersebut untuk memeriksa bayi yang akan lahir tersebut.
Tak lama, Dokter anak yang ditunggu sudah hadir di meja persalinan. Setelah pembukaan terakhir, Keysha segera memimpin jalannya persalinan. Ia membantu ibu hamil itu untuk mengeluarkan bayi yang sudah ditunggu sembilan bulan itu. Keysha menyuruh pasien itu untuk terus mengejan. Sesekali Keysha menyemangati ibu hamil tersebut agar terus berjuang.
__ADS_1
"Ayo Bu sedikit lagi!" Perintah Keysha lagi.
Ibu hamil itu mengejan sekuat tenaga, hingga tak lama terdengar tangisan bayi yang memecah keheningan ruangan yang bernuansa soft.
"Alhamdulillah!" Lirihnya, Keysha lalu menyerahkan bayi itu kepada dokter spesialis anak untuk di periksa.
"Bagaimana keadaan bayi saya, Dok?" Tanya ibu yang telah melahirkan itu dengan lemah.
"Alhamdulillah bayi ibu dalam keadaan sehat, semua lengkap. Sekarang sedang di observasi dahulu oleh dokter spesialis anak untuk menilai kondisinya secara menyeluruh," jawab Keysha ramah.
"Sus, tolong berikan teh manis untuk ibu ini! !Disuapi ya pakai sendok!" Perintah Keysha pada perawat yang hari ini ikut menangani persalinan.
Dokter Vebby termenung saat ia menatap Keysha yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia baru saja datang. Vebby terlambat karena di jalanan sangat macet. Vebby juga tak mengangkat telepon dari perawat karena ponselnya sengaja di berikan mode silent karena ia sedang fokus menyetir.
"Dokter Keysha?" Sapanya dengan wajah datar.
"Iya, Dok? Dokter baru datang?" Keysha menatap lawan bicaranya
"Iya tadi saya terjebak macet. Apakah pasien saya sudah dokter tangani?" Tanyanya menatap bola mata Keysha yang berwarna cokelat.
__ADS_1
Keysha mengangguk, ia membalas tatapan tak ramah dari dokter Vebby dengan senyum kecil.
"Ya, Dok. Jika kami menunggu kedatangan dokter, saya khawatir ibu itu tidak akan kuat menunggu lebih lama lagi," sahut Keysha dengan santai.
Entah mengapa saat melihat Keysha, Vebby merasa kesal sekali, mengingat kemarin dirinya melihat Keysha dan Andra mengobrol di kantin. Dalam hatinya, Vebby merasa cemburu saat melihat kedekatan dokter Keysha dengan putra pemilik rumah sakit itu. Ia pun kesal hari ini, karena Keysha mengambil alih pekerjaannya. Walaupun Vebby sadari, pasien itu dalam keadaan darurat, tapi seharusnya Keysha meneleponnya dulu kan untuk meminta izin?
"Terima kasih, Dok. Akan tetapi, lain kali hubungi saya dahulu jika akan menggantikan saya! Jika saya tahu dokter Keysha yang menangani pasien saya, saya tidak akan kebut-kebutan di jalan! Keselamatan saya dipertaruhkan lho ketika saya datang ke rumah sakit ini!" Cebik Vebby merasa kesal karena Keysha tidak ada menghubunginya.
"Mohon maaf, Dok. Tapi saya juga kebetulan lewat dan melihat ibu tersebut sudah dalam keadaan darurat. Tadi pun perawat di IGD menghubungi dokter, tapi dokter tidak mengangkat teleponnya. Lalu, bagaimana saya bisa menelepon? Dokter saja tak mengangkat panggilan perawat tadi. Apakah saya harus melakukan telepati?" Sanggah Keysha dengan tegas. Jika bukan kesalahannya, Keysha akan sangat berani untuk mendebat orang lain. Tak peduli gelar Vebby lebih tinggi dari gelarnya.
"Ya, tadi saya sedang fokus menyetir. Baiklah sekarang saya maafkan! Tapi jika terulang lagi, mohon hubungi saya dulu!" Vebby masih saja arogan. Ia seakan mencari-cari kesalahan Keysha.
"Saya tidak harus minta maaf pada dokter! Harusnya dokter yang berterima kasih pada saya lho!" Sengit Keysha yang mulai terpancing dengan keegoisan rekannya itu.
"Oh ya satu lagi, Dok! Di rumah sakit ini kita harus memprioritaskan pasien, bukan keegoisan kita. Keselamatan mereka taruhannya. Siapapun yang dalam kondisi darurat bebas ditangani oleh dokter siapa pun, asalkan dokter itu spesialis di bidangnya. Saya rasa tidak masalah, kalau begitu saya pamit!" Keysha berlalu tanpa menunggu jawaban dokter Vebby.
"Kurang ajar! Berani sekali dia mendebatku!" Vebby mendecakan lidahnya dengan kesal.
Vebby memang memiliki sifat ingin selalu di hormati, tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat berkecukupan, membuat Vebby tumbuh menjadi seseorang yang arogan dan individualis. Ayah Vebby masih rekan dokter Sagara. Namun ia memilih menjadi dokter spesialis jantung di Amerika, Vebby pun kuliah di sana dan sekelas dengan Andra saat melanjutkan kuliahnya.
__ADS_1
Sedangkan sang ibu, berprofesi sebagai seorang dosen di universitas Columbia. Membuat Vebby hidup bergelimang harta di negeri orang, hingga ia tak mau kembali ke tanah air. Namun beberapa tahun kemudian, kedua orang tuanya menyuruh Vebby untuk kembali ke tanah air setelah nenek dan kakek Vebby meninggal. Vebby di berikan amanat untuk mengurus rumah dan aset yang ditinggalkan oleh nenek dan kakeknya. Jadi di sinilah Vebby memilih bekerja. Di rumah sakit milik ayah dari temannya, Andra.