
Setelah memberikan laporan kepada kantor cabang, Fikri langsung pulang kembali ke rumahnya. Tentunya dengan naik taksi karena hujan baru saja turun dengan deras.
"Hari libur jadi keganggu," Fikri mendudukan dirinya di sofa yang empuk.
"Baru pulang kamu, Nak?" Tanya Rena, ibunya.
"Iya, Ma," Fikri merebahkan tubuhnya di atas sofa yang mahal itu.
"Semangat kerjanya ya, Sayang? Anak mama semuanya anak-anak yang kuat," Rena tersenyum menatap wajah anak keduanya.
"Iya. Ma, bagaimana keadaan Kak Zayyan?" Fikri mendudukan dirinya. Ia merasa amat penasaran dengan kondisi kakaknya.
"Kakak kamu sekarang jadi tukang bakso keliling," beri tahu Rena.
"Apa? Jadi tukang bakso?" Raika yang baru masuk ke dalam rumah berkata setengah berteriak.
"Iya, kakakmu jadi tukang bakso keliling," Rena menjawab pertanyaan anak bungsunya itu.
"Kenapa kakak jadi tukang bakso, Ma?" Raika berkata dengan sedih.
"Itulah hidup, Ka. Roda itu berputar," Rena berkata dengan sendu menatap Raika. Tak lama air matanya terjatuh.
Fikri langsung bangkit dari duduknya. Ia memeluk ibunya dengan erat. Fikri tahu bagaimana rapuhnya hati Rena. Pasti Rena amatlah bersedih dengan kondisi Zayyan.
"Ini semua karena wanita itu! Dia yang sudah menghancurkan hidup kak Zayyan!" Fikri menggeram kesal. Matanya berkilat karena amarah.
"Iya, ini semua karena p*lacur itu!" Maki Raika membenarkan perkataan kakaknya.
"Andai saja wanita itu tidak menggoda kakak. Pasti kakak sekarang masih dengan kak Keysha," ucap Fikri masih dengan nada penuh amarah.
"Memang sudah jadi suratan takdir kakak kamu, Fik. Semuanya sudah diatur oleh sang pembuat skenario kehidupan. Setelah semua yang terjadi, semoga kakakmu bisa benar-benar merenungkan semua kesalahannya dan tidak mengulang dikemudian hari. Kakakmu sudah melakukan dosa besar dan mama berharap dia tidak akan mengulang lagi seumur hidupnya," Rena berkata dengan terisak.
"Lalu, bagaimana dengan anak di perut wanita s*alan itu?" Tanya Fikri, ia tidak sudi menyebut nama Shella dengan bibirnya.
"Anak itu anak orang lain. Kakakmu mempunyai masalah dengan kesuburannya. Jadi, bisa dipastikan itu bukanlah anak kakakmu," beri tahu Rena.
__ADS_1
Rena memang belum berbicara dengan kedua anaknya perihal kesehatan Zayyan. Rena hanya baru berbicara dengan Hanan.
"Kurang ajar!" Maki Fikri.
Pria itu berdiri dari duduknya. Berjalan hendak keluar dari rumah.
"Aku harus buat perhitungan dengan wanita sampah itu!" Ucap Fikri.
"Jangan, Fik!" Cegah Rena. Ia berdiri dan menyusul langkah Fikri yang sudah dipenuhi oleh amarah.
"Kenapa jangan, Ma?" Fikri menatap wajah Rena. Ia menghentikan langkahnya.
"Karena mama tidak tahu wanita sund*al itu ada di mana! Lagi pula dia sudah terlepas dari kakakmu. Biarkan wanita itu!" Rena mencekal tangan anak keduanya.
"Biarkan gimana sih, Ma? Dia udah hancurin dan nipu kakak aku!" Raika menghampiri Fikri dan Rena.
"Sayang, tuhan bekerja dengan caranya. Tidak ada yang luput dari pengawasan Allah. Bahkan satu daun gugur pun atas kehendak Allah. Shella pasti akan segera menerima balasannya. Mama selalu percaya dengan hal itu," jawab Rena yang membungkam Fikri dan Raika seketika.
"Ayo kalian masuk!" Rena menggandeng tangan Fikri dan Raika masuk. Mereka diam dalam hening.
"Lalu, bagaimana, Ma? Bagaimana dengan nasib kak Zayyan?" Raika bertanya dengan suara parau. Merasa sangat sakit ketika tahu kakak tertuanya itu menderita di luar sana.
"Lalu, bagaimana dengan kesehatan kak Zayyan, Ma? Dia pun ingin memiliki keturunan," Fikri bertanya dengan sedih.
"Mama akan bawa Zayyan berobat, Fik," putus Rena.
"Tabungan mama masih cukup banyak. Mama akan membawa Zayyan berobat."
"Fikri akan membantu biaya berobatnya, Ma." Fikri menjawab.
"Tidak usah, Nak. Tabungan mama masih lebih dari cukup. Mama selama ini berinvestasi di barang-barang branded. Mengapa mama selalu membeli barang-barang branded? Karena Setiap tahun, barang-barang seperti itu harganya naik dan itu bisa dijadikan lahan investasi oleh mama," Rena memberikan penjelasan.
"Kamu cukup biayai kuliah Raika saja," pinta Rena kepada anak keduanya.
"Kalau itu sudah pasti, Ma. Lagi pula biaya kuliah Raika sangat terjangkau," Fikri tersenyum.
__ADS_1
"Fik, mama harap kelak kamu bisa menemukan wanita yang baik. Jelas asal usulnya tidak seperti keluarga wanita j*lang itu!"
"Fikri belum terpikir ke arah sana, Ma."
"Ini hanya pesan dari mama, Nak. Jangan seperti kakakmu yang terjerumus dengan wanita yang salah!"
"Iya, Ma. Fikri akan berhati-hati memilih seorang wanita," jawab Fikri pada akhirnya.
****
Di rumahnya, Shella sedang berleha-leha saja di atas tempat tidur. Shella sedang memantau akun gosip yang membahas masalah rumah tangga artis. Segala keperluan Shella memang sudah di hendel oleh Fuji. Adiknya itu yang membereskan pekerjaan rumah sebelum menarik ojek.
"Kak?" Fuji masuk ke dalam kamar kakaknya.
"Ada apa, Ji?" Shella bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari gadget.
"Kak, kakak belum belanja juga baju-baju bayi? Ayo Uji temani kakak! Kita pergi ke toko peralatan bayi," ajak Fuji kepada kakaknya.
"Gak usah, Ji. Kakak gak peduli nih bayi pake baju atau engga," Shella berkata dengan enteng. Masih dengan memegang ponselnya.
"Kak, jangan gitu dong! Bayi kakak nanti mau pake apa? Mau pake karung goni?" Fuji duduk di tepi kasur Shella.
Shella pun menyimpan ponselnya. Ia cukup emosi mendengar perkataan adiknya. Shella ingin sekali membentaknya. Tapi Shella tahan sekuat tenaga. Shella tidak boleh kasar pada Fuji, agar gadis itu tidak pergi dari rumahnya. Ya, Shella harus menahan amarahnya sampai bayi itu lahir dan dia melarikan diri meninggalkan bayi itu bersama Fuji.
"Bukan gitu, Ji. Kamu tahu sendiri kan kakak frustasi. Kak Zayyan gak mau ngakuin anak ini. Kakak jadi gak peduli sama bayi ini," Shella berpura-pura terisak.
"Lalu, kenapa kakak lampiasin ke bayi kakak sih, Kak? Bayi itu tidak memiliki salah apapun sama kakak," Fuji berusaha menasehati Shella.
"Ji, kamu masih terlalu muda buat ngerti semuanya. Kakak sakit, Ji. Kakak diabaikan dan dibuang ketika dalam kondisi hamil kaya gini," Shella semakin terisak. Lebih tepatnya air mata itu hanyalah air mata buaya.
"Kakak udah coba gugurin bayi ini. Tapi bayi ini gak mau lepas dari kakak."
"Bukan gak mau lepas, Kak. Memang bayi itu di kasih oleh Allah buat nemenin kesendirian kakak. Harusnya kakak bersyukur akan hal itu," timpal Fuji.
"Nemenin kesendirian? Maksud kamu nemenin kesendirian kamu, Ji? Haha. Fuji, kamu benar. Anak ini bakal nemenin kesendirian. Lebih tepatnya kesendirian kamu, karena setelah ini aku bakal melarikan diri dari rumah ini, Ji. Setelah kamu ngurus bayi ini, aku pengen tahu apa kata-kata kamu ini masih bijak?" Racau Shella dalam hatinya.
__ADS_1
"Udahlah, Ji. Kakak pengen istirahat. Kakak gak mau beli peralatan apapun untuk bayi ini. Tolong hormati keputusan kakak!" Shella membaringkan tubuhnya dan membelakangi Fuji.
Fuji pun menghela nafasnya. Ia pun keluar dari kamar kakak satu-satunya itu. Fuji merogoh sakunya. Ia melihat uang yang diberikan oleh Fikri sebagai bayaran menggunakan jasanya sebagai tukang ojek. Fuji menggabungkan uang itu dengan uang penghasilan ngojeknya hari ini. Rencana Fuji adalah membeli peralatan bayi sebelum ia menarik penumpang lagi.