
Zayyan membuka matanya. Ia teringat betul bagaimana dirinya melakukan penyatuan berkali kali dengan teman SMA nya itu. Zayyan tersenyum mengingat service Shella yang sangat mem*uaskannya.
"Aku tidak pernah merasakan itu dengan Keysha," Zayyan memiringkan tubuhnya. Ia membelai wajah Shella dengan lembut. Zayyan sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. Kesenangan duniawi mulai menggelapkan mata hati dan akal sehatnya.
Shella memicingkan matanya. Sebetulnya ia sudah lebih bangun terlebih dahulu. Akan tetapi, Shella ingin lebih lama berada di dalam dekapan pria beristri itu.
"Zayyan, maksud saya Pak Zayyan mengapa bapak ada di sini? Dan apa yang terjadi?" Shella berpura-pura terkejut. Ia mendudukan dirinya. Wanita itu menutup tubuh mulusnya dengan selimut hotel. Zayyan pun ikut mendudukan dirinya.
"Kita-" wajah Zayyan merona.
"Kita kenapa, Pak?" Shella masih memasang wajah terkejutnya.
"Semalam kamu mabuk," Zayyan tampak akan memberikan penjelasan.
"Aku anterin kamu ke kamar-"
"Lalu, kita melakukannya lagi?" Shella berpura-pura memasang wajah frustasi.
Zayyan pun mengangguk. Perlahan senyumannya memudar. Zayyan mendekati Shella yang terduduk di tepi ranjang.
"Apa kamu menyesal?" Zayyan nyaris bergumam.
"Tentu saja, Pak. Aku takut bu Keysha tau," Shella berpura-pura menangis.
Zayyan menangkup wajah Shella dengan lembut.
"Lupakan Keysha! Apakah semalam ucapan kamu benar?" Zayyan menatap sorot mata Shella yang begitu menawan.
"Ucapan yang mana, Pak?" Shella berpura-pura tidak ingat. Shella tampak menghindari tatapan mata Zayyan yang memburunya. Ia berakting dengan sempurna. Shella ingin Zayyan semakin penasaran dengannya.
"Kamu mencintai saya dan kamu tidak peduli jadi kekasih gelap saya?" Zayyan menatap Shella penuh harap.
"Bapak mau kejujuran saya?" Mata Shella berkaca-kaca.
"Itu semua benar, Pak. Saya memang cinta sama Bapak dari zaman kita SMA. Saya sakit pak!" Shella melepaskan tangan Zayyan dari wajahnya.
"Saya sakit di sini!" Shella terisak. Ia memegang d*adanya.
__ADS_1
"Saya sakit setiap kali liat bapak yang selalu ngacuhin saya. Saya sakit ketika bapak ga pernah respon surat surat saya," tangis Shella semakin pecah.
"Jadi, kamu yang kirim surat cinta ke saya tanpa nama?" Zayyan terpaku.
"Iya. Saya yang kirim. Saya selalu kepoin hidup bapak. Saya stalking medsos bapa. Saya yang taruh makanan di tas bapak kalau sedang pelajaran olahraga. Tapi Bapak tidak kunjung membals perasaan saya," air mata semakin deras menuruni pipi Shella yang glowing. Bak aktris profesional, Shella sudah layak diganjar piala oscar.
"Maafin saya, Shell! Saya yang salah tidak peka," Zayyan tampak sangat menyesal. Bagaimana bisa ia mengacuhkan Shella?
"Tapi saya sadar, bapak sudah menikah dengan Ibu Keysha. Saya tidak ada apa-apanya dengan beliau," Shella berpura-pura rendah diri.
"Lagi pula Bapak juga gak ada perasaan apa-apa sama saya," Shella tersenyum getir di sela tangisnya.
"Kalau saya suka dan sayang sama kamu gimana?" Zayyan menghapus air mata Shella dengan jemarinya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Shella.
"Bapak pasti bercanda! Jangan beri saya harapan palsu! Saya tidak butuh dikasihani," Shella menggelengkan kepalanya.
"Saya serius. Saya tertarik sama kamu, Shell. Sejak reuni itu, sejak kamu menghiasi hari-hari saya dengan chat lucu, perhatian, itu saya nyaman sama kamu. Saya menemukan kamu yang tidak saya lihat dari Keysha. Kamu aelalu ada buat saya. Kamu selalu dengerin keluh kesah saya di chat. Dan berhenti panggil saya Bapak!" Suara Zayyan mendayu-dayu.
Ia memang sudah memutuskan untuk menemukan kebahagiaan dalam diri Shella. Ia sudah cukup muak diabaikan oleh Keysha yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Shella pun diam dan berpura-pura jual mahal.
Shella terdiam berpura-pura mencari keputusan. Tak berapa lama, ia tersenyum lalu mengangguk setuju.
"Terima kasih, Shell," Zayyan merengkuh Shella ke dalam dekapannya.
"Saya cinta Bapak dari dulu. Tidak masalah menjadi simpanan Bapak yang penting saya selalu dekat bapak, memastikan bapak sudah makan, memastikan bapak tidak sakit itu udah bikin saya senang," Shella berbisik di telinga Zayyan.
"Berhenti berbicara bahasa formal," Zayyan mendaratkan ci*umannya di bibir Shella dengan lembut.
"Iya," Shella mengangguk.
"Aku ingin hubungan kita tidak ada yang tau. Kamu bisa, Shel?" Zayyan melepaskan pelukannya.
"Tentu. Aku bakal rahasiakan tentang ini. Hanya kita yang tau. Lagi pula aku gak nuntut apapun. Aku cuma ingin di samping kamu terus," Shella tersenyum.
"Makasih, Shell."
__ADS_1
"Zayyan, aku bakal terus bergerak dengan pasti. Hari ini memang aku hanya kekasih gelapmu. Tapi lihatlah ke depannya! Kamu bakal bertekuk lutut sampai kamu rela ninggalin istri kamu. Setelah itu, aku bakal jadi nyonya Zayyan dan hidup senang di sangkar emasmu," Shella tersenyum.
"Kalau begitu ayo kita siap-siap! Aku takut rekan kerja kita ada yang tau," Shella berdiri dan menyeret langkahnya ke kamar mandi. Ia berpura-pura menjatuhkan seprai yang membungkus tubuhnya ke lantai.
"Upps!" Shella tersenyum menggoda.
Zayyan yang melihat pun tidak tahan. Ia berdiri dan menggiring Shella kembali ke tempat tidur.
"Zayyan, kita harus kerja!" Suara Shella mendayu-dayu.
"Aku tidak peduli. Dan satu lagi, panggil aku sayang!" Zayyan membungkam bibir Shella dengan cium*nnya yang memabukan. Perlahan suhu di ruangan itu memanas dan hanya terdengar l*eguhan nyaring dari keduanya.
****
Setelah menyelesaikan pergumulan panas di pagi hari itu, Zayyan mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya. Teman-teman kerjanya pun tidak menangkap basah keduanya karena mereka sudah cukup lelah dengan perayaan semalam.
Setelah bersiap dengan rapi, Zayyan pun berkumpul dengan yang lain untuk sarapan bersama. Mata Zayyan tampak mencari keberadaan kekasih barunya itu.
"Shella ke mana sih?" Feli tampak mencari keberadaan wanita yang menjadi duri dalam daging di rumah tangga bosnya itu.
"Mungkin lagi dandan," jawab Ayu sekenanya. Ia menggerak-gerakan sendok seolah tidak tahan untuk segera makan makanan yang tersaji di meja. Mereka tidak akan mulai makan jika Shella belum datang.
Zayyan tampak tak menyentuh makanannya. Bagaikan remaja di mabuk asmara, Zayyan terus mencari keberadaan kekasihnya. Tak berapa lama, yang dicari pun terlihat batang hidungnya. Shella datang dengan tampilan yang mempesona. Wanita itu mendudukan dirinya tepat di samping Zayyan.
"Pantesan lama, dandannya totalitas sih!" Sindir Feli yang melihat dandanan wah dari rekan kerjanya iu.
"Maaf ya jadi buat kalian nunggu!" Shella menatap rekan kerjanya bergantian.
"Nanti juga tuh lipstik pudar kali Shell sama makanan," lontar Feli dengan julid karena ia tahu Shella sedang cari perhatian kepada bosnya.
Shella tidak menanggapi ocehan Feli. Hatinya terlalu senang karena sudah mendapatkan Zayyan walaupun belum seutuhnya.
"Ya udah makan, yu!" Arsha bersuara.
Mereka pun mulai melahap makanannya dengan diam. Mereka enggan bersuara karena merasa segan dengan Zayyan. Tangan kiri Zayyan diam-diam meraih tangan Shella yang bersedekap di atas p*ha. Shella pun membalas hingga kini jemari mereka saling bertautan. Semua tidak melihat adegan perselingkuhan itu. Zayyan semakin erat menggenggam tangan Shella seolah ia takut kehilangan wanitanya.
"Duh kaca mataku jatuh!" Ayu menunduk untuk mengambil kaca mata yang jatuh ke bawah meja makan.
__ADS_1
Matanya membulat ketika ia melihat tangan Zayyan dan Shella bertautan dengan mesra. Ia sampai mendekap mulutnya karena terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ayu bahkan sampai beberapa kali mengucek matanya untuk memastikan bahwa matanya tidak salah melihat.