
Shella masuk ke dalam kamar yang ada di samping dapur. Ya, kamar bekas asisten rumah tangga yang kini ia tempati bersama suaminya, Zayyan. Shella terduduk di tepi ranjang. Air matanya menetes mengingat perlakuan Rena dan teman-temannya tadi. Shella kemudian menunduk dan menatap perutnya yang mulai membuncit. Wanita itu mengelus perutnya. Air matanya semakin deras tatkala ia mengingat masa-masa yang pernah di laluinya.
Flashback on....
Shella menatap kepergian Zayyan dari jendela apartemennya. Hari ini Zayyan memutuskan untuk pulang ke rumah Keysha. Lagi-lagi waktunya harus di duakan dengan Keysha. Shella harus benar-benar mendapatkan Zayyan seutuhnya tanpa berbagi dengan Keysha. Dengan kata lain, Shella harus segera merampas Zayyan sepenuhnya dari tangan Keysha.
Shella begitu kesepian, apalagi hari ini akhir pekan. Untuk menghilangkan kejenuhan, Shella pun memutuskan untuk menonton acara gosip di televisi dan berselancar informasi di ponsel pintarnya. Tapi tetap saja, ia begitu bosan. Shella kemudian memutuskan untuk pergi ke area Gym yang diperuntukan untuk penghuni apartemen. Apartemen yang diberikan oleh Zayyan memang memiliki fasilitas premium. Jadi, tak mengherankan apabila ada tempat Gym yang bisa didatangi oleh penghuni apartemen.
Shella memakai baju olahraganya yang mini. Ia memasuki tempat Gym untuk melepas sepi dan bosan. Shella berjalan ke arah treadmill. Shella segera berjalan di atas treadmill itu. Shella bertekad harus menurunkan berat badannya yang belakangan naik karena terlalu dimanjakan oleh Zayyan. Bagaimana pun, tubuh ramping adalah hal mutlak untuk Shella.
"Bagaimana aku merebut Zayyan seutuhnya? Bagaimana cara agar Keysha tersingkir selamanya dari sisi Zayyan?" Shella bergumam sendiri.
Shella terlalu fokus dengan lamunannya. Hingga tanpa ia sadari, kakinya kehilangan keseimbangan dan tubuh Shella terhuyung ke belakang. Untung saja seorang pria sigap menangkap tubuhnya yang ramping itu.
"Hey, kau tidak apa-apa?" Pria itu menangkap tubuh Shella. Tangannya memegangi pinggang Shella.
Shella menatap pria itu dengan wajah terkejut. Hampir saja dirinya celaka. Untung saja pria itu membantu menangkap tubuhnya.
"Riyan?" Shella tersenyum menatap pria mancung yang telah membantunya.
Riyan adalah teman lama dari Shella. Dia adalah teman di kampusnya dulu. Mereka pernah berada dalam satu organisasi yang sama. Kini Riyan bekerja sebagai pengusaha di London. Memang sudah lama ia bermukim di sana.
"Maaf!" Riyan melepaskan tangannya di pinggang Shella. Ia mengamati wajah Shella yang memang memiliki wajah ayu. Sejenak Riyan seolah mengenal Shella. Tapi ia kebingungan di mana mereka pernah bertemu.
"Kamu Shella kan?" Riyan akhirnya mengingat wanita yang ada di depannya. Pasalnya saat kuliah, Riyan pernah menaruh hati kepada Shella. Tapi saat itu ia urung untuk mendekati Shella.
"Iya. Aku Shella Arnesta. Teman kamu di organisasi kewirausahaan. Kamu beda ya sekarang?" Shella menatap Riyan yang memiliki badan atletis.
"Iya. Kamu juga beda banget ya? Sekarang kamu tambah cantik banget," Riyan tersenyum memamerkan lesung pipit di pipinya.
"Kamu penghuni apartemen ini juga?" Shella tampak ingin tahu dengan Riyan kini. Ia menilik penampilan Riyan yang rupawan juga tampaknya sudah sukses.
"Iya. Aku penghuni apartemen ini juga. Papa memberikanku apartemen ini," jelas Riyan.
__ADS_1
"Hadiah apartemen? Waw! Pasti Riyan sekarang tajir melintir nih!" Shella begitu kaget mendengar ucapan Riyan.
"Aku sedang liburan. Aku sekarang kerja di London, Shel," ujar Riyan lagi sembari berjalan menuju kursi untuk beristirahat.
"Wah hebat banget! Kerja di bagian apa?" Shella mengekori Riyan. Sementara Riyan yang sudah menjelma menjadi seorang playboy tersenyum kala melihat Shella yang begitu ramah padanya.
"Aku kerja di perusahaan teknologi. Sebagai salah satu investor juga."
"Wah hebat! apartemen kamu di lantai berapa? Bisa dong kita saling mengunjungi?" Shella tersenyum menggoda ke arah Riyan. Shella sudah memutuskan untuk menjadikan Riyan tameng di kala sepinya. Pengganti Zayyan ketika pria itu tidak ada.
"Lantai lima nomor 102," beritahu Riyan.
"Serius? Aku juga di lantai lima. Nomor kamarku 101," Shella memberitahu dengan wajah berbinar.
Mereka pun berbincang hangat dan menceritakan masa-masa kuliah mereka. Tanpa mereka sadari, Riyan dan Shella sudah berbincang lebih dari empat jam. Tujuan awal untuk berolahraga kini sudah sirna. Shella dan Riyan pun saling terpikat dengan versi diri baru mereka kini.
Riyan berencana untuk mengunjungi apartemen Shella esok hari atau hari minggu. Keduanya keluar dari tempat Gym dan masuk ke dalam lift untuk sampai di lantai 5. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Shella mendekati Riyan dan berdiri di depannya. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher pria teman kuliahnya itu.
"Aku tertarik padamu," Shella menc*ium bibir Riyan tanpa aba-aba. Riyan pun membalas pagutan bibir Shella hingga nafas mereka terengah-engah.
"Temui aku besok! Ayo kita kenang lagi masa-masa kuliah kita!" Shella langsung berjalan lebih dulu ketika lift sudah terbuka.
Keesokan harinya...
Riyan memencet bel apartemen Shella. Shella membukanya dengan semangat. Ia sudah tahu pasti itu adalah Riyan. Shella mempersilahkan Riyan masuk, pria itu pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Shella. Ia menatap Shella yang sangat cantik dengan pakaian yang begitu terbuka.
"Kamu bawa apa?" Shella menatap buah tangan yang dibawa oleh Riyan.
"Ini ada sesuatu untukmu," Riyan langsung memberikan buah tangan yang ia bawa. Shella membukanya dengan antusias.
"Ya ampun! Ini kan cincin koleksi dari B*lgari," mata Shella membelalak ketika Riyan membawakannya barang branded.
"Gila! Baru ketemu lagi kemarin tapi dia sudah memberikanku barang mahal," Shella bermonolog dalam hatinya.
__ADS_1
"Anggap saja itu untuk membayar tubuhnya. Itu hanya barang kecil. Lagi pula aku hanya beberapa bulan di sini. Lumayan ketemu Shella. Wanita secantik ini gak bisa dianggurin, Haha," Riyan tertawa di dalam hatinya.
Riyan dan Shella pun berbincang hangat di balkon. Shella tidak segan untuk menyandarkan tubuhnya pada Riyan. Riyan pun tersenyum dengan tingkah Shella yang menurutnya agresif.
"Kamu kayanya kedinginan?" Riyan menatap baju mini yang dikenakan oleh Shella.
"Iya. Mau buat aku hangat?" Shella berbisik di telinga Riyan. Tentu saja sebagai pria normal, ia begitu mengenali rayuan itu.
"Bukankah terlalu cepat?" Riyan bertanya.
"Tidak. Aku sudah tertarik sama kamu dari kemaren. Kamu beda sekarang dan aku suka!" Shella langsung duduk di pangkuan Riyan.
"Jadi, hubungan kita apa?" Riyan tersenyum mencoba untuk mencari tahu hubungan macan apa yang akan mereka jalani.
"Friends with benefit," jawab Shella.
Wanita itu segera melahap bibir Riyan dengan rakus. Riyan tampak mengimbangi permainan Shella. Pria yang sebenarnya akan segera menikah itu segera membawa Shella ke arah tempat tidur. Tak lama, mereka kini sudah tidak memakai sehelai benang pun. Detik selanjutnya mereka bergumul panas di atas ranjang.
"Besok aku belikan baju koleksi musim semi dari Di*or ya?" Ucap Riyan di sela-sela percintaan mereka.
"Makasih, sayang!" Shella semakin liar. Ia bagai lupa daratan.
Setelah malam itu, setiap Zayyan meninggalkan Shella, pasti Shella mengundang atau mendatangi Riyan ke apartemennya. Setiap bertemu, mereka pasti melakukan perbuatan terlarang itu.
"Baby, bagaimana kalau aku hamil? Setiap main kamu gak pernah pakai pengaman," Shella bergelayut manja di dada Riyan. Mereka kini sedang berada di dalam bathub yang ada di dalam apartemen Riyan.
"Aku akan tanggung jawab," Riyan mencium Shella lagi. Percintaan panas pun berlanjut di bathub itu.
Tak Shella sangka, itulah terakhir kali dirinya bertemu dengan Riyan. Setelah percintaan mereka di dalam bathub, Riyan bak hilang di telan bumi. Apartemennya kosong. Shella yang sudah mengetahui pin keamanan apartemen Riyan pun mendadak tidak bisa masuk karena pin sudah diganti. Shella berusaha menghubungi Riyan, tapi nomornya sudah tidak aktif.
*Flashback of**f*...
"Semoga saja ini anak Zayyan," Shella bergumam sembari terus mengelus perutnya.
__ADS_1
Air mata Shella terus menetes. Selain karena sakit hati atas perlakuan Rena, diam-diam Shella cemas dengan kejelasan anak yang dikandungnya. Jika yang ada di dalam perutnya bukan anak Zayyan, tentu Shella harus bersiap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi.