
Aku mengerjapkan mataku, refleks aku bangun dari posisi tiduranku. Aku meringis saat merasakan rasa sakit yang menjalar di sekitar pinggangku. Ya, pasti ini semua gara-gara kehamilanku yang semakin membesar. Sekarang kehamilanku sudah memasuki usia lima bulan.
Ku langkahkan kakiku menuju dapur, dengan semangat aku membuka tudung saji. Akan tetapi, seperti biasa aku harus menelan kekecewaan saat melihat meja makan yang kosong. Ibuku tak pernah memasak untukku atau pun Fuji. Ibuku selalu pergi ke luar, pergi bersenang-senang. Menggoda para pria yang beristri. Ibu hanya memberikan uang pas-pasan untuk Fuji agar dia bisa membeli makanan murah di kampusnya. Ah, aku agak kasihan dengan anak itu.
Dulu ibu adalah wanita yang baik dan lembut kepadaku dan Fuji. Ibu memanjakan kami dengan segara kemewahan. Namun semua itu berubah saat ayahku ketahuan berselingkuh, dan memilih istri mudanya. Ayah meninggalkan kami tanpa memberi nafkah sepeser pun. Ibu menjadi ringan tangan kepada kami, terutama kepada Fuji yang selalu menjadi sasaran amukannya. Fuji seolah menjadi samsak ibu untuk menumpahkan segala kemarahannya. Hanya dengan menyiksa Fuji, ibu akan menjadi lebih baik. Ayah tidak meninggalkan apapun untuk kami. Hanya rumah yang cukup mewah yang ia tinggalkan untuk aku, ibu dan adikku. Kadang kami harus berdebat jika ayah datang dan meminta rumah itu untuk dijual dan membagi hasil penjualannya.
Dari perselingkuhan ayah, ibu ku berubah menjadi wanita pemarah dan tak memperhatikan kami lagi. Ibu mulai berganti-ganti membawa pria beristri. Dari sana ibu mendapatkan uang yang banyak untuk membiayai segala kehidupan kami. Saat itu ibu masih memanjakan kami, masih membelikan kami barang-barang yang branded walau kebiasaan ibu memukuli Fuji tidaklah berubah.
Saat tahun ke lima ibu menjanda, ibu sempat di gerebek oleh para warga karena kedapatan setiap malam memasukan pria ke dalam rumah. Kami di usir dari rumah peninggalan ayahku. Padahal rumah itu sudah ibu bayar kepada ayahku karena ayah selalu memaksa meminta setengah bagian dari rumah itu. Setelah di usir, ibu membawa kami ke sebuah apartemen yang ia sewa. Awalnya kami hanya menyewa, tapi setelah menjual rumah, ibu akhirnya bisa membeli apartemen dengan dua kamar. Setelah peristiwa penggerebegan dan pengusiran, ibu sangat berubah. Ia tak pernah memanjakan kami lagi. Bahkan cenderung mendidik kami agar kami menjadi mesin pencetak uang dengan dalih bisa membalas budi pada ibu. Ibu kandung kami yang telah melahirkan dan merawat kami seolah ingin kami membayar atas apa yang ia lakukan selama ini.
Dari remaja aku sudah terjun ke dunia modeling, ibu mendaftarkanku karena wajahku yang cukup menawan. Dari sana pergaulan bebasku di mulai. Dulu aku juga sering pergi bersama om-om alias pria beristri mereka memanjakan ku, memberikan uang yang sangat banyak padaku. Saat itu aku masih bisa menjaga kesucianku, aku hanya bermain-main saja pada mereka. Setelah mendapatkan uang yang banyak, aku menghilang begitu saja.
Om Pram memuluskan karier modelku tentunya dengan syarat aku harus membayar dengan tubuhku. Aku iyakan saja. Toh tidak ada artinya aku pertahankan kesucian ini. Setelah itu, karierku di dunia modelling mentereng. Om Pram selalu memprioritaskan aku untuk mengambil banyak pemotretan dan job-job penting lainnya. Setelah bisa mandiri secara finansial, aku memberanikan diri keluar dari apartemen ibu agar aku bisa memanjakan diriku dan tentunya mempunyai privasi. Aku menyewa sebuah apartemen yang lumayan mahal. Tapi setelah pindah pun, ibu masih saja menerorku dengan meminta uang yang nominalnya besar. Ibu selalu bilang bahwa itu untuk keperluan Fuji. Terkadang aku iri dengan adikku sendiri. Fuji bisa sekolah dengan hasil jerih payahku. Anak itu tidak perlu menjajakan tubuhnya untuk mendapatkan uang.
Acara reuni mengubah semua hidupku. Di sana aku bertemu dengan Zayyan. Pria yang aku cintai dari SMA. Bisa dikatakan Zayyan adalah cinta sejatiku. Aku mulai memikirkan cara bagaimana menarik perhatian dan mendapat cintanya walau aku tahu dia seorang pria beristri. Aku tidak peduli akan hal itu, terlebih aku tahu Zayyan adalah orang yang sudah sangat sukses. Rencana mulai aku susun dengan rapi dan matang. Langkah pertama untuk menjalankan rencanaku adalah dengan melakukan operasi s*laput d*ar*ah. Aku memberanikan diri terbaring di ranjang operasi untuk memuluskan rencanaku. Aku yakin hal ini akan mengikat Zayyan dengan dalam.
Lamunanku terbuyar saat mendengar perutku yang berbunyi. Sepertinya calon anakku sangat lapar. Aku mendudukkan diriku di kursi meja makan. Dengan cepat aku meninju perutku yang mulai membuncit. Aku menginginkan dia mati saja, agar dia tak lahir dan membebaniku nanti. Terlebih aku tidak bisa memastikan siapa ayah dari bayi ini. Apakah Zayyan atau Riyan? Kemarin aku sudah mengkonsumi obat penggugur kandungan yang aku beli secara ilegal, tapi bayi ini masih saja tak mau gugur. Mengapa bayi ini sangat kuat?
Tak terhitung sudah berapa hari, Zayyan tak ada menjemputku. Aku merasa putus asa dengan kenyataan yang tak sesuai harapan. Ke mana pria itu? Mengapa dia meninggalkanku aku terpuruk seperti ini? Bahkan uang yang ia berikan sebesar dua juta rupiah, sudah hampir habis. Hanya sisa lima ratus ribu saja.
Ingin aku meminta job pada Om Pram, tapi tak mungkin. Dia sudah tak bisa di andalkan. Terlebih aku sudah j*ijik denganny yang sudah tua bangka. Aku segera mengambil ponselku, ku buka aplikasi tiktok. Sudah lama sekali aku tak membuat konten dan berjoget ria untuk mendapatkan saweran gift dari para penggemarku. Tapi lagi-lagi aku mengutuki bayi ini, karena bayi inilah yang membuatku tak bebas untuk berekspresi seperti dahulu lagi.
Suara bell mengejutkanku, menarik ku dari lamunan yang sangat panjang. Gegas aku berdiri dan membuka pintu, aku terkejut saat melihat Zayyan sedang berdiri di hadapanku dengan wajah yang cuek.
"Sayang?" Lirihku. Aku tak percaya ternyata dia datang juga menemuiku, semoga saja dia menjemputku dan mengajakku pergi dari apartemen si*lan ini.
"Aku bawakan belanjaanmu!" Sahutnya ketus, ia lalu mengulurkan belanjaanku tempo hari yang dikemas dengan kresek yang sangat besar.
Senyumku menyurut saat mendengar perkataannya yang dingin. "Sayang, kau tak mengajakku untuk pulang?" Tanyaku dengan sedih.
Aku sangat sedih jika harus berpisah dari Zayyan. Bukan karena alasan cinta, aku memang mencintai Zayyan. Tapi aku wanita yang hidup dengan penuh realita. Rencananya jika aku masih hamil, aku tak ingin meninggalkan Zayyan terlebih dahulu. Aku harus melahirkan dulu, dan memberikan bayi itu pada Zayyan, karena keluargaku tak mungkin mau menampung bayi si*lan ini. Setelahnya aku bisa bebas lagi menjemput masa depanku.
"Maaf, tapi kamu bukan istriku. Kamu bukan tanggung jawabku!" Jawabnya yang masih tak menunjukan wajah yang bersahabat.
Reflek aku menangis tergugu, aku harus mengeluarkan senjata pamungkasku. Aku langsung bersimpuh di kakinya. Aku peluk kaki pria jangkung itu. Biarlah aku menyingkirkan harga diriku sejenak, yang penting nanti aku akan memberikan bayi ini kepadanya.
"Sayang, tolong maafkan semua kebohonganku! Tapi aku bersumpah, tak ada kebohongan yang lain, tolong pertimbangkan lagi! Tak kasiankah kamu pada anak kamu ini? Apa kamu mau bayi ini lahir tanpa seorang ayah?" Isakku mengeluarkan air mata buaya. Aku sangat tahu bahwa Zayyan sangat menyayangi calon bayi ini. Aku harus memanfaatkan nya sebagai senjata.
"Tolong bawa aku dari sini! Setiap hari aku kurang makan. Mama tidak pernah memasak untukku," kataku parau.
__ADS_1
Zayyan terlihat tertegun. Ia melihatku lekat. Detik berikutnya tangannya terulur menyentuh bahuku.
"Baiklah. Kami bisa ikut ke kontrakan bersamaku," jawabnya tegas yang membuat sudut bibirku tertarik ke atas. Ah Zayyan. Betapa bodohnya kau!
Akhirnya Zayyan menuntunku menuju pintu keluar. Aku hanya membawa beberapa stel baju yang ku masukan ke ranselku. Aku tidak berpamitan kepada siapa pun karena apartemen memang sedang kosong. Kami menaiki mobil Zayyan dengan suasana yang hening, namun aku tak ingin melewatkan kesempatan. Ku sandarkan tubuhku pada bahunya. Aku melingkarkan tanganku pada tangannya yang sedang fokus menyetir.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih kamu sudah membawaku pergi dari apartemen terkutuk itu!" Ucapku, lalu aku mengecup pelan pipinya hingga membuat ia sedikit terkejut, Namun pria itu masih saja tak bergeming. Zayyan masih mendiamkan ku.
Ku pindai sekitar mobilnya, aku heran mengapa Zayyan tak menjual saja mobilnya? Mobil ini sangat mewah, mobil bermerk Robiccon dengan edisi terbatas di Indonesia. Pasti mobil mewah ini mempunyai harga yang fantastis. Namun mataku teralih pada sebuah kotak cincin yang berwarna biru yang keluar dari tas Zayyan yang terbuka.
Aku memicingkan mataku, saat melihat kotak cincin itu. Melihat dari tempatnya saja, cincin itu pasti bernilai fantastis. Apakah itu untukku? Aku harus menunggu Zayyan memberikan cincin itu padaku. Jika tidak, aku akan mengambilnya secara diam-diam saat dia lengah.
"Sayang, kamu mengontrak di sini?" Tanyaku mendayu-dayu.
"Ya, apakah kamu bisa bertahan di kontrakan itu? Tempatnya sangat kecil dan sederhana," Zayyan masih saja fokus menyetir tanpa menoleh ke arahku.
"Tak apa-apa, asalkan denganmu aku akan tetap bahagia!" Godaku lagi, berusaha mencairkan sikapnya yang sangat dingin bak salju di Kutub Utara.
Kemudian mobil Zayyan terhenti saat kami di pelataran rumah yang mirip kontrakan. Banyak sekali bangunan yang saling berjejer. Tempat itu itu sangat kecil, tapi biarlah. Aku tak mempedulikan itu, yang penting aku bisa hidup bersama Zayyan, lalu mengambil apa yang ia punya, dan memberikan bayi ini saat dia sudah terlahir di dunia.
Kami memasuki sebuah ruangan yang bercat krem. Ruangan itu sangat sempit. Hanya ada satu kamar dan satu dapur saja. Zayyan pergi keluar untuk membelikan ku makanan, karena aku mengeluh lapar. Dari situlah aku beraksi. Aku mengambil ransel Zayyan yang terbuka. Aku segera mengambil kotak cincin itu. Ku buka kotak itu dan isinya membuatku terbelalak. Cincin itu adalah cincin berlian yang lumayan besar dengan merk C*rtier. Aku tak sabar menunggu Zayyan datang dan memberikannya padaku.
Bisa-bisanya setelah menjadi mantan, dia masih saja mencuri perhatian Zayyan. Aku tak mau melewatkan kesempatan emas ini. Dengan cepat aku memasukan kotak cincin beserta surat dan sertifikatnya ke dalam tasku. Aku harap Zayyan tak menyadarinya. Aku merapikan ransel itu lagi, dan duduk seperti semula. Zayyan terlihat membawa kantong kresek yang besar. Beruntung ia tak curiga dengan sikapku yang mulai gugup. Tapi aku harus bisa mengontrol diriku. Aku tak boleh ketahuan telah mengambil cincin itu.
"Aku belikan kamu bakso! Makanlah!" Titahnya. Zayyan lalu membawa mangkuk dan membuka plastik itu. Zayyan dengan hati-hati menuangkan bakso yang menggugah selera ke dalam mangkok.
Aku meneguk salivaku. Bakso itu terlihat sangat menggiurkan. Segera aku membawa sendok, dan memakannya dengan lahap kebetulan sejak malam aku belum makan. Zayyan memperhatikanku dengan ekspresi tak terbaca. Antara kasihan atau sedih. Entahlah aku tak tahu!
"Kenapa, sayang?" Tanyaku malu-malu.
"Kasihan bayiku, karena keegoisan ibumu calon anakku kelaparan," risaunya dengan tatapan tak suka.
Aku hanya mengangkat bahuku, berpura-pura sedih. "Mama memang begitu!" Aku berpura-pura mengerjapkan kedua mataku.
Zayyan menatapku dengan tatapan iba, ia lalu mengelus perutku. "Tinggallah bersamaku selama kamu hamil, Shell! Tapi kita tidak boleh bercampur satu sama lain. Kita belum mempunyai sebuah hubungan yang halal. Setelah lahir barulah aku akan mempertimbangkan apakah kita masih bisa bersama atau tidak!" Jelas Zayyan dengan tatapan sendu.
Berapa hari tak bertemu, Zayyan sedikit berbeda. Ia jauh lebih kurus dan kurang terawat, janggut dan kumis tipisnya pun terlihat belum dibersihkan. Zayyan pun sangat irit berbicara. Sangat berbeda dengan Zayyan dulu yang saat dimabuk cinta kepadaku.
"Terima kasih kamu sudah memberikan kesempatan kepadaku, Sayang!" Aku tersenyum.
__ADS_1
Aku akui aku sangat mencintai Zayyan sedari SMA. Namun karena cara didik ibuku, aku harus mengesampingkan rasa cinta. Uang adalah segalanya untukku, hanya uang yang bisa membuatku bahagia bukan cinta. Dengan uang, aku bisa menangis di Paris, aku bisa melamun di Disneyland dan aku bisa menyeka air mataku dengan tas Dior. Hanya dengan uang. Itu pikirku.
Aku meneguk air putih yang berada di dalam gelas. Saat aku selesai makan bakso yang dibelikan Zayyan, Zayyan kemudian berdiri, melihatku di pintu yang terbuka.
"Ayo kita pergi ke supermarket! Kita tidak punya stok makanan untuk malam nanti," ajaknya yang masih saja dingin, namun tak sedingin tadi. Sikapnya sedikit hangat saat dia mengelus perutku. Mungkin dia merasakan gerakan sang Jabang bayi.
Aku menganggukan kepalaku, lekas aku berdiri dan menghampirinya. Kemudian aku duduk di samping kemudi. Memperhatikan Zayyan yang mengemudikan mobil miliknya menuju Super market terdekat. Setelah sampai, Zayyan memparkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia. Kami berjalan beriringan menuju pintu super market, karena tak memperhatikan jalan aku menabrak seorang bahu pria.
"Maaf!" Seru pria itu, namun mataku terbelalak saat melihat Om Pram yang sama terkejutnya saat melihatku.
"Kalau lihat pakai mata! Hampir saja istriku terjatuh. Dia sedang hamil" Sambar Zayyan tiba-tiba, dan memegangi kedua bahuku.
Mendadak jantungku berdetak lebih cepat. Aku takut sekali jika Om Pram berbicara hal yang tidak-tidak pada Zayyan. Ya Tuhan! Bagaimana ini?
"Oh dia istrimu? Jadi Shella ini sudah menikah?" Tanyanya lagi.
Dahi Zayyan mengernyit, ia menatapku seakan meminta penjelasan. Dengan cepat aku segera mengalihkan pembicaraan. "Dia yang punya agensi di tempat bekerja dulu, saat aku bekerja sebagai model," jelasku terburu-buru, lantas aku segera menggandeng lengan Zayyan cepat. Ingin segera terbebas dari situasi yang memuakan ini. Aku melihat Om Pram tersenyum sinis, ia memperhatikan perutku yang membuncit.
"Tolong jaga pandangan anda!" Peringat Zayyan sengit, ia takut sekali jika perutku kenapa-kenapa. Lebih tepatnya ia sangat takut sesuatu terjadi menimpa bayiku.
"Jangan lupa, Shell! Kita bukan sekedar bos dan anak buah, kita ini partner ranjang!" Kekehnya yang membuat perut buncitnya bergoyang, mengikuti alunan tawanya yang menjijikkan.
"Apa maksudmu?" Tanya Zayyan yang sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Ia menarik kerah kemeja Om Pram. Namun pria tua itu dengan cepat melepaskan cengkraman Zayyan.
"Ayo sayang kita pergi! Jangan ladeni dia! Dia benci aku semenjak aku keluar dari agensi model miliknya," aku semakin panik saja saat dugaanku tak salah. Ternyata Om Pram masih saja membahas masa lalu kami.
"Tidak, biarkan dia berbicara!" Zayyan seolah tahu aku mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Tenanglah! Tidak akan ada yang mau merebutnya darimu! Aku sudah puas dengan tubuhnya. Jadi ambillah dia sesukamu!" Ledek Om Pram yang membuat wajahku panas, ingin sekali aku memukulnya dan melenyapkannya dari muka bumi ini.
Zayyan menatapku dengan tajam seperti seekor elang yang menatap buruannya. Matilah aku!
Hai hai ini dua episode ya, tapi otor satukan saja episodenya biar ga banyak bab nantinya. Jangan lupa beri otor sesajen, bukan pulsa atau koin! Rajin-rajinlah like, berikan hadiah, dan vote novel ini ya. Terimakasih readersku tersayang! Semoga kalian selalu dilimpahkan kesehatan
Dan kebahagiaan selalu.
Salam sayang.
otor imut, rajin menabung dan tak sombong❤️
__ADS_1