
Ine memencet bell saat dirinya sudah di depan pintu apartemen anaknya, Shella. Beberapa detik kemudian, Shella membukanya dengan wajah khas bangun tidur.
"Baru bangun kamu jam segini?" Ine menggelengkan kepalanya pelan.
Shella mengucek-ngucek matanya. Kemudian ia menguap dan refleks langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Hari ini aku gak masuk kerja, Mah. Lagi males," Shella berkata dengan suara khas yang baru saja bangun tidur.
"Enak banget kamu jadi istri yang punya perusahaan! Datang kerja sesukanya, fasilitas apa saja diberikan. Kamu memang beruntung!" Ine menjawil hidung mancung Shella dengan gemas dan bangga.
"Iya dong. Sebentar lagi aku akan menjadi istri sah nya Zayyan, Ma. Dan semuanya akan menjadi milikku," Shella tersenyum jumawa.
"Omong-omong pas nikahan kamu, siapa itu yang jadi wali, Shel?" Ine merasa penasaran. Sebab ia melihat seorang pria mengaku menjadi ayah Shella.
"Oh itu orang bayaran aku. Pihak KUA keukeuh ngasih persyaratan kalau aku harus bawa wali kalau mau nikah. Pihak KUA juga gak tau aku hamil," Shella menjawab dengan sekenanya.
"Gak sah dong nikahan kamu, Shell! Tapi gak apalah yang penting kamu udah jadi istri bos," Ine terlihat tidak peduli dengan dosa besar yang dilakukan anaknya.
Shella kemudian mempersilahkan Ine untuk masuk ke dalam apartemennya. Lagi-lagi Ine berdecak kagum saat melihat interior apartemen dan barang-barang furniture yang ada di apartemen anaknya. Walaupun sudah sering ke sana, namun Ine tetap saja terpukau mengagumi apartemen anaknya yang sangat mewah.
Ine berjalan menuju meja makan, ia membuka tudung saji. Betapa kagetnya ia karena di meja makan tidak terhidang makanan apapun. Padahal Ine belum sarapan saat berangkat dari rumah.
"Kamu gak masak, Shell?" Ine menatap putrinya dengan sebal.
"Aku gak pernah masak, Ma. Mama tau sendiri kan, aku gak bisa masak dan gak pernah mau masak. Kalau mau makan, tinggal order aja di luar! Aku yang bayar!" Ucap Shella enteng.
"Kamu harus belajar masak! Selain kamu memuaskan Zayyan di ranjang, kamu juga harus memuaskan lidahnya dengan masakan kamu!" Ine memberikan petuahnya.
__ADS_1
"Santai aja, Ma. Lagi pula Zayyan sudah bertekuk lutut kepada Shella. Saat ini juga Zayyan sedang pergi untuk melakukan mediasi perceraian dengan istrinya yang mandul itu," jawab Shella dengan kata pedasnya.
"Benarkah mereka akan bercerai? Wah sepertinya Zayyan memang tergila-gila padamu, sayang. Sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Zayyan seutuhnya!" Ine tersenyum penuh kemenangan.
Senyum Shella lenyap seketika saat Shella mengingat tentang Rena. Ia lupa belum memberitahu ibunya tentang musuh bebuyutannya.
"Ma, mama tau gak kalau musuh bebuyutan mama itu ibunya Zayyan?" Tanya Shella dengan air muka yang gelap dan penuh kebencian.
"Musuh mama?" Ine mengkerutkan keningnya.
"Itu teman arisan mama yang tempo hari kita hina-hina itu!" Shella mengingatkan.
Ine tersentak mendengar pertanyaan puterinya. Bagaimana mungkin? Matanya membola karena kaget tak menyangka jika dunia sesempit daun kelor.
"Maksud kamu si Rena yang kampungan itu?" Ine memastikan.
"Kemarin-kemarin dia ke sini, Ma. Dia bawa menantu si*lannya itu! Mereka merundungku, Ma. Bahkan musuh mama itu ngejambak rambutku sampai rontok," Shella mengepalkan tangannya kala menceritakan soal penggerebekan yang dilakukan Rena dan Keysha.
"Kurang ajar! Berani-beraninya dia!!" Bentak Ine murka.
"Ini juga salah mama. Kalau mama gak ngajak aku buat kerjain musuh mama itu, gak akan kaya gini ceritanya. Hubungan aku ditentang banget, Ma. Bahkan Zayyan disuruh milih dan gak boleh ngakuin dia ibunya lagi kalau sampai Zayyan memilihku!" Cebik Shella kesal.
Ine hanya menghembuskan nafasnya ke udara, tak menyangka jika Rena memang mempunyai anak seorang CEO.
"Mama kan gak tahu, Shell. Ya sudah Shell, pers*tan dengan si Rena! Tugas kamu hanya menghasut Zayyan untuk membenci ibunya. Agar semua harta suamimu itu kamu kuasai sepenuhnya tanpa campur tangan si Rena. Kita buat Si Rena dan keluarganya menderita karena ulah anaknya sendiri," Ine menyeringai licik.
"Aku suka ide mama. Lagi pula aku gak berniat mengambil hati wanita tua itu," sahut Shella dengan nada jijik.
__ADS_1
****
Setelah pertemuannya dengan Ine sang ibunda, Shella memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall yang ada di pusat kota. Ia membeli barang yang branded dan limited dengan kartu debit dan kredit yang tak terbatas dari suami sirinya itu.
Shella mendekati konter yang terbesar di mall itu. Ia berencana untuk membeli ponsel dengan logo Apel keluaran terbaru.
Dua pelayan langsung menyambut Shella dengan ramah. Mereka juga menunjukan ponsel yang dicari Shella. Shella sangat bahagia karena memiliki Zayyan, hidupnya tidak lagi susah dan apa yang ia mau begitu mudahnya ia dapatkan.
Shella langsung menyetujui membeli ponsel itu. Kini saatnya ia antri dikasir untuk membayar. Namun saat Shella akan membayar, seseorang mencekal pergelangan tangannya. Mata Shella membeliak saat melihat Keysha tersenyum sinis kepadanya.
"Enak sekali kamu berbelanja dengan kartu kredit milik suamiku!" Keysha berkata dengan suara yang cukup kencang hingga membuat semua orang yang ada di sekitar memperhatikan mereka dan menjadikan mereka sebagai pusat perhatian.
"Apa maksudmu? Ini kartu kredit milik suamiku!" Shella berteriak bermaksud mempermalukan balik Keysha.
"Betapa menyedihkannya dirimu! Ingin berbelanja saja kau harus menjual tubuhmu itu kepada pria beristri," sinis Keysha dengan sorot mata penuh dendam dan amarah yang berkobar.
Para pengunjung mall di sana segera membuka ponselnya. Mereka merekam perseteruan dua wanita cantik itu. Sedangkan kasir yang melayani Shella terlihat bingung karena Shella belum kunjung membayar. Keysha langsung merebut kartu kredit dari tangan Shella, ia memperlihatkan tanda tangan dibalik kartu kredit itu.
"Lihatlah ini nama suamiku! Kamu tak berhak mendapatkan kartu ini!" Keysha memperlihatkan kartu yang ia rebut kepada semua orang dan menaruhnya di dalam tas.
"Whuu, dasar pelakor!!" Seru beberapa orang pengunjung yang ikut tersulut emosi jika dikaitkan dengan wanita perebut suami orang.
Wajah Shella merah padam bak kepiting rebus. Harga dirinya seolah diinjak dihadapan khalayak ramai. Shella mengepalkan tangannya erat, detik selanjutnya ia bersiap melayangkan tamparan pada Keysha. Namun Keysha dengan cepat menangkisnya.
"Ini baru permulaan dari sekian banyaknya pembalasanku," bisik Keysha dengan sengit.
Para pengunjung semakin berdatangan karena melihat orang yang bergerombol. Dengan berdecih Shella langsung pergi dengan menabrak bahu Keysha. Semua orang di sana menyurakinya. Betapa terhinanya harga diri Shella dipermalukan di tempat umum. Shella bertekad akan membalas atas apa yang Keysha lakukan hari ini.
__ADS_1