Good Partner

Good Partner
Special Part 8 - Reveal


__ADS_3

Aku merasa ada yang janggal dengan botol obat itu. Aku menatap botol obat itu dengan fokus seperti ada sesuatu yang sangat mengganggu pada pikiranku. Botol obat yang kulihat waktu itu saat Pak Celio sedang meminumnya di rumah sakit, kemasannya sama dengan botol obat ini. Tapi ada sedikit berbeda dari kedua botol obat ini. Botol obat yang Celio waktu itu minum tidak ada label merk obatnya dan yang kulihat saat itu tablet obatnya berwarna putih. Sedangkan botol obat yang kupegang sekarang itu ada label merknya dan juga warna tabletnya itu cokelat. Sudah kupastikan bahwa obat yang dikonsumsi Pak Celio merupakan obat illegal.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menatap serius begitu?" tanya Adrian kebingungan melihatku.


"Aku harus pergi ke rumah sakit bersama anggota timku sekarang juga. Aku harus menangkap pelaku kejahatan."


"Aku antarkan kamu ke kantor polisi dulu."


Aku memotret botol obat itu sebagai bukti lalu menaruhnya kembali di etalase. Tadinya aku bertujuan untuk membeli vitamin tidak jadi gara-gara botol obat itu. Adrian mengendarai mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi mengantarku ke kantor. Kemudian Adrian memberhentikan mobilnya tepat di depan kantorku, aku langsung membuka sabuk pengamannya terburu-buru dan bersiap-siap membuka pintu mobilnya.


"Aku masuk ke kantor dulu, ya, Sayang," pamitku.


"Kalau terjadi sesuatu, kamu harus hubungi aku, ya. Aku pasti akan membantumu."


"Tidak perlu. Kasus ini sama sekali tidak ada kaitannya denganmu. Kamu fokus kerja saja di kantor."


"Aku cemas demammu akan kambuh lagi kalau kerja kelelahan. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Sayang," ucapnya membelai rambutku lembut.


Di saat genting begini, Adrian masih bisa mencemaskan kondisi kesehatanku. Aku tidak merasa lemah, malahan aku semakin semangat berkat dirinya.


"Tidak mungkin kambuh lagi. Semalam kamu memberiku obat yang spesial membuat antibodiku semakin kuat. Aku pasti akan selalu kuat berkat kamu, Sayang." Aku menyentuh tangannya sambil mengelusnya pelan.


"Kamu yakin?"


"Iya aku yakin."


"Kalau begitu aku sedikit tenang deh."


Aku mencium pipinya dengan mesra lalu berpamitan dengannya.


"Vitamin penyemangat dariku untukmu supaya semangat bekerja. Aku masuk ke kantor dulu, ya. Hati-hati di jalan, Sayang," pamitku bersiap-siap mengambil tas kerjaku.


"Jadi semakin semangat nih, terima kasih, Sayang."


Aku melepas genggaman tangannya lalu membuka gagang pintu keluar dari mobilnya.


Sementara Adrian dibalik wajah cerianya tadi sebenarnya masih sedikit menaruh perasaan cemasnya. Untuk menghilangkan rasa cemas itu, Adrian memutuskan menghubungi Fina.


"Halo Fina, aku boleh minta bantuan tidak?"


"Tumben kamu meminta bantuanku. Memangnya ada apa?"


"Tolong kamu awasi Penny seharian ini. Aku cemas terjadi sesuatu padanya lagi. Masalahnya dia baru sembuh dari demamnya semalam. Kalau terjadi sesuatu padanya, tolong bantu aku menjaganya dengan baik."


"Kalau masalah itu serahkan saja padaku. Tenang saja aku akan menjaga Penny dengan baik."


"Terima kasih, Fina. Aku sangat mengandalkanmu kali ini." Adrian menutup panggilan teleponnya kemudian melanjutkan perjalanannya lagi menuju kantornya.


Aku memanggil semua anggota timku langsung berkumpul di ruang rapat. Di dalam ruang rapat, kami semua langsung dalam fokus dengan rapat darurat yang aku rencanakan.


"Kita harus menangkap Bu Margareth sekarang juga," usulku mulai fokus pada rapatnya.


"Apa mungkin dia sungguh membunuh anaknya sendiri?" tanya Nathan.


"Dia tidak membunuh anaknya, tapi dia berencana melumpuhkan suaminya," jawabku.


Semuanya tersentak dan tatapan mereka langsung melotot padaku.


"Apa? Bagaimana mungkin?" tanya Hans masih tidak percaya.


"Aku punya buktinya." Aku mengambil ponselku pada saku blazerku dan memperlihatkan foto botol obatnya kepada mereka semua.


"Ini ...." Fina membulatkan matanya dengan sempurna.


"Waktu itu kamu melihat botol obat ini juga, 'kan?" tanyaku kepada Fina.


"Iya persis dengan waktu itu."


"Obat yang dikonsumsi oleh Pak Celio itu illegal. Itu adalah obat palsu. Yang dikatakan Pak Celio obat yang dikonsumsinya itu untuk menenangkan pikirannya, sedangkan di foto ini menunjukkan bahwa obat ini merupakan suplemen tubuh saja. Bukankah ini sangat aneh?"


"Benar juga sih. Berarti kemungkinan Bu Margareth menerima obat itu dari Dokter Reyhan. Pasti antara mereka berdua yang bermaksud jahat untuk mencelakakan Pak Celio," balas Fina berspekulasi hingga dahinya mengernyit.

__ADS_1


"Kalau begitu kita sebaiknya menangkap mereka berdua. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Hanya karena masalah kecil dibuat menjadi besar!" ketus Hans geram menggebrak mejanya kasar.


"Kita berangkat sekarang saja ke rumah sakit!" ajak Nathan.


"Biar aku yang menyetir," tawar Hans mengambil kunci mobil van hitam.


Kami semua bergegas menaikki mobil van hitam ke rumah sakit. Setibanya di sana, kami langsung berjalan menuju kamarnya Fiona menerobos masuk secara langsung tanpa mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu. Kebetulan sekali seluruh anggota keluarganya sedang berkumpul sehingga aku bisa membongkar sifat busuk Bu Margareth terang-terangan.


"Mau apa kalian ke sini lagi? Bukankah tidak ada hal yang harus diselidiki lagi? Jelas-jelas putri saya tidak dibunuh oleh saya!" bentak Bu Margareth menatapku tajam seperti ingin membunuhku.


"Saya ke sini bukan menangkap Anda sebagai pelaku kejahatan percobaan pembunuhan putri Anda, tapi pelaku kejahatan yang mencoba membunuh suami Anda," sahutku dengan percaya diri.


"Apa Anda bilang? Anda semakin hari semakin tidak punya etika sama sekali! Apakah tamparan saya waktu itu belum cukup membuat Anda kapok!" bentak Bu Margareth mengepalkan tangannya bersiap-siap untuk menghajarku lagi.


Tapi kali ini aku tidak berdiam diri saja. Aku menahan tangannya yang hampir menampar pipiku lagi dengan sekuat tenagaku.


"Saya tidak akan bersikap bodoh lagi. Saya tidak akan menerima tamparan dari orang rendahan seperti Anda." Aku melepas tangannya lalu mendorong tubuhnya menjauh dariku.


"Tapi saya tetap tidak mengerti maksud Anda. Bagaimana bisa istri saya mencoba membunuh saya?" tanya Pak Celio bingung dengan situasi sekarang sambil berkacak pinggang.


"Obat yang Anda minum waktu itu. Itu bukan obat untuk menenangkan pikiran. Itu obat illegal, saya punya buktinya."


"Bukti apa?"


Aku mengeluarkan ponselku lalu memperlihatkannya kepada Pak Celio.


"Coba Anda perhatikan baik-baik botol obatnya! Terlihat sama, 'kan?"


"Iya benar. Itu obat yang saya minum selama ini."


"Tabletnya beda dengan apa yang Anda konsumsi selama ini. Tablet yang Anda telan selama ini berwarna putih, sedangkan tablet asli dari obat ini berwarna cokelat. Sudah jelas obat yang Anda minum selama ini adalah palsu," ucapku yang berterus terang.


"Anda main sembarang ambil kesimpulan saja! Mana mungkin saya mencoba membunuh suami saya!" celetuk Bu Margareth lagi.


"Yang dikatakan detektif benar. Ibu berusaha membunuh ayah," potong Fiona membuka suaranya tiba-tiba.


"Fiona, kamu pasti salah paham. Mungkin benturanmu itu membuat ingatanmu menjadi aneh," ucap Bu Margareth sedikit gugup.


"Boleh tolong kamu ceritakan kepadaku apa yang kamu dengar?" tanyaku dengan baik.


"Jadi begini ...."


*****


Kejadian itu sekitar seminggu yang lalu. Fiona dan ibunya sedang asyik berbelanja di pusat perbelanjaan. Mereka berdua sibuk mencoba satu per satu kosmetik yang terpajang di sebuah etalase.


"Menurutmu lipstik ini cocok untuk ibu tidak?" tanya Bu Margareth.


"Ibu kalau mau memakai lipstik apa pun cocok. Ibu selalu terlihat cantik walaupun tidak merias wajah sama sekali."


"Dasar kamu! Inilah alasan kenapa ibu malas mengajakmu belanja bersama ibu. Kamu kebanyakan fokus belajar jadinya untuk hal kecil begini tidak tertarik sama sekali."


"Aku belajar buat persiapan olimpiade matematika tingkat nasional. Jadinya aku harus belajar dengan giat," ucap Fiona merangkul tangan ibunya.


drrt...drrt...


Bu Margareth langsung melepas rangkulan tangan anaknya dan mengambil ponselnya dari tas tangannya. Ketika ia melihat nama peneleponnya, wajahnya langsung berubah drastis dan meninggalkan anaknya sendirian. Dengan penuh rasa penasaran, Fiona membuntuti ibunya dari belakang. Bu Margareth menghentikan langkah kakinya dan mulai berbicara dengan penelepon. Sedangkan Fiona bersembunyi di balik tembok mendengar pembicaraan ibunya.


"Baiklah kita akan bertemu di sana sekarang," ucapnya.


Bu Margareth melangkahkan kakinya lagi menuju suatu tempat membuat Fiona semakin penasaran sebenarnya ibunya ingin pergi ke mana dan menemui siapa. Ia memasuki suatu Kafe dan bertemu dengan sosok pria muda. Sementara Fiona sibuk melakukan penyamaran berpura-pura sedang asyik bermain ponselnya di tempat duduk yang sedikit jauh jaraknya dengan ibunya.


"Aku sangat merindukanmu, Reyhan," ucap Bu Margareth memeluk Dokter Reyhan mesra.


Fiona langsung terkejut ketika mendengar ucapan ibunya barusan hingga matanya terbelalak. Ia sangat tidak percaya ibunya mengatakan itu kepada pria lain. Ia sudah mulai geram dan mengepalkan kedua tangannya. Tapi Fiona tidak mudah lengah, ia tetap mendengar percakapan ibunya dengan Dokter Reyhan.


"Kamu bawa obatnya, 'kan?" tanya Bu Margareth.


"Tenang saja aku selalu membawanya," jawab Dokter Reyhan memberikan botol obatnya ke Bu Margareth.


"Terima kasih, Reyhan."

__ADS_1


"Bagaimana dengan perkembangan suamimu ?"


"Sejak minum obat ini, dia semakin bodoh. Bahkan dia mudah tertipu denganku. Aku sangat menyesal menikah dengannya dulu. Untuk apa aku menikah dengan pria yang sangat lemah dan tidak mampu mencari nafkah. Bahkan aku sendiri lebih mampu darinya, dasar suami tidak berguna!" ketus Bu Margareth panjang lebar seperti tidak berdosa sama sekali.


"Kalau begitu kenapa kamu tidak cerai dengan suamimu secepatnya? Bukankah itu lebih baik?"


"Aku maunya sih begitu. Tapi tunggu obat ini melumpuhkan sebagian otaknya dulu. Jadinya dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi."


"Seandainya saja obat itu bereaksi dengan cepat, mungkin sekarang keparat itu tidak akan bisa berbuat apa pun lagi!"


Fiona seperti terkena sambaran petir setelah mendengar pembicaraan mereka berdua. Ia semakin geram rasanya ingin menampar ibunya yang tega melakukan hal kejam itu kepada ayahnya. Rasanya sekarang tangisannya akan pecah tapi ia menahannya dan memendamnya di hati.


"Kenapa ibu tega sekali melakukan hal keji itu kepada ayah? Walaupun ayah terlihat lemah kenapa ibu ingin membunuhnya? Selama ini aku mengira ibu menyayangi kita semua, tapi kenyataannya tidak. Aku tidak akan pernah memaafkan ibu begitu saja. Meskipun ibu membelikan sesuatu yang kuinginkan dan memperlakukanku dengan baik, aku tidak akan menganggap ibu tulus denganku lagi! Aku akan mengungkapkan kejahatan ibu suatu hari nanti!"


*****


Kembali lagi di saat aku sedang ingin menangkap Bu Margareth atas perlakuan kejahatannya terhadap suaminya.


"Fiona, ibu tidak bermaksud untuk--" Bu Margareth gemetar ingin menyentuh tangan anaknya.


"Ibu tidak usah berpura-pura baik deh! Aku sudah muak dengan perbuatan ibu! Ibu melakukan dua kejahatan sekaligus terhadap ayah yaitu selingkuh dan juga melumpuhkan rangsangan otak ayah!" ketus Fiona menepis tangan ibunya kasar.


"Margareth, bagaimana kamu bisa memperlakukanku begini! Memangnya aku ada salah apa? Walaupun aku adalah lelaki yang sangat lemah tapi kamu tega sekali ingin melumpuhkanku!" bentak Pak Celio hingga napasnya terengah-rengah.


"Tenang saja, Pak Celio. Saya akan menangkap istri Anda sekarang juga," ucapku dengan santainya sambil mengambil borgolku.


"Memangnya Anda akan menangkap saya sebagai kejahatan apa? Bukankah Anda hanya bertugas menyelidiki kasus putri saya saja?" tanya Bu Margareth sedikit mendorong tubuhku.


"Fiona!" panggil Vilia memasuki kamar ini dan menghampiri temannya.


"Vilia, kenapa kamu ke sini?" tanya Fiona.


"Aku ingin memastikan keadaanmu saja. Aku takut kehilanganmu," jawab Vilia sambil memeluk Fiona dengan erat.


"Aku harus kuat demi mengungkapkan kejahatan ibu."


Sementara itu Bu Margareth, menghampiri anaknya dan mengepalkan tangannya. Aku dengan sigap menahan kepalan tangannya itu mendarat ke wajah anaknya.


"Apa yang Anda lakukan?!" bentak Bu Margareth.


"Jangan mencoba menyakiti anak Anda juga! Anda benar-benar wanita bermuka tebal! Anak Anda jelas-jelas sedang sakit tapi Anda masih ingin menamparnya!" tegasku dengan tatapan tajam.


"Dia ini adalah anak kurang ajar! Beraninya dia menuduh ibunya sendiri mendorong anaknya terjatuh di tangga darurat!"


"Aku melakukan itu supaya hukuman ibu lebih banyak! Belakangan ini aku sangat frustasi sampai rasanya ingin bunuh diri!"


*****


Sejak Bu Margareth tertangkap basah oleh anaknya sendiri mengenai perselingkuhannya, setiap hari Fiona mengalami depresi sampai tidak konsentrasi belajar untuk mempersiapkan dirinya mengikuti olimpiade sains tingkat nasional. Bahkan ia sempat berpikir untuk mengundurkan dirinya dari ajang kompetisi itu. Nafsu makannya menurun drastis setiap hari dan juga ia selalu pulang malam agar tidak bisa melihat wajah ibunya yang menjengkelkan. Sampai suatu hari, ia berencana membunuh dirinya di atap apartemennya. Pada hari itu, sepulang sekolahnya ia langsung menaikki tangga darurat menuju atap apartemennya. Ia melempar tasnya ke lantai dan melangkahkan kakinya menuju ujung atap tersebut. Fiona mulai mengangkat kaki sebelah kirinya dan diikuti dengan kaki kanannya untuk berdiri di sudut atap. Ia merentangkan kedua tanganya secara lebar bersiap-siap untuk melompat dari gedung yang lumayan tinggi itu sambil memejamkan matanya.


Sementara di sisi lain, sebenarnya Bu Teresa juga sedang menghirup udara segar di atap. Tapi karena jarak antar mereka berdua sangat jauh jadinya Bu Teresa tidak menyadari kehadiran Fiona di sana.


Fiona menangis dengan keras dan terus berteriak sampai suaranya berserak untuk melampiaskan amarahnya yang terpendam di hatinya. Ia menangis sambil memegang dadanya terus dan juga mengacak-acak rambutnya kesal.


"Aaarghh rasanya aku ingin mati sekarang juga! Aku tidak sanggup hidup begini terus!"


Fiona ingin menghapus semua kenangan yang telah ia lakukan bersama ibunya begitu saja. Ia juga membayangkan betapa bahagianya ayahnya selalu terlihat bahagia ketika bersama Bu Margareth. Fiona termenung memikirkan seandainya ia bunuh diri begitu saja bagaimana dengan reaksinya ayahnya. Setelah menghabiskan waktu sekitar hampir 10 menit di sudut atap itu, Fiona memutuskan untuk tidak melakukannya demi ayahnya. Ia berencana untuk melaporkan kejahatan ibunya kepada polisi. Di saat ia sedang menuruni tangga darurat sambil menggerutu sendiri, tiba-tiba ia salah melangkahkan kakinya dan terjatuh dari tangga darurat itu. Pada saat yang bersamaan, Vilia melewati tangga darurat menatap temannya terjatuh terguling dari tangga hingga menabrak ke tembok.


*****


Fiona menceritakan kepadaku semua kejadian yang dialaminya dengan rinci. Ia menyentuh telapak tanganku menatapku tersenyum ramah.


"Maaf Detektif Penny, aku tidak bermaksud membohongimu sebelumnya. Aku hanya ingin membuat hukuman ibuku menjadi lebih berat atas perbuatan kejahatannya," sesal Fiona menunduk lesuh.


"Tidak apa-apa. Itu bukan masalah besar, yang terpenting kamu sudah jujur padaku."


Aku menghampiri Bu Margareth dan memborgol kedua tangannya.


"Bu Margareth, Anda ditangkap atas percobaan membahayakan tubuh suami Anda dengan menggunakan obat illegal. Anda memiliki hak menyewa pengacara untuk membela Anda atau hak untuk berdiam diri saja," ucapku tersenyum licik di hadapannya merasa lega akhirnya dirinya kena karma juga atas perbuatan kasarnya terhadapku kemarin.


Fina menuntun Bu Margareth keluar dari ruangan ini. Sementara Hans memasuki ruangan dengan raut wajah panik.

__ADS_1


"Ini gawat!"


__ADS_2