Good Partner

Good Partner
Part 25 - Versailles


__ADS_3

Aku melihat sebuah lukisan istana **Versaill**es di hadapanku. Sepertinya lukisan itu sudah sangat lama sehingga sudah mulai berdebu. Aku jadi teringat dengan kata yang sedang kucari selama ini. Tapi mustahil Pak Colin melakukan hal seperti itu.


"Ada apa, Detektif Penny?" tanya Pak Colin mengamatiku terus berfokus pada lukisannya.


"Bapak, kenapa terobsesi dengan istana Versailles ya? Karena saya melihat lukisan istana kuno itu terpajang di bingkai itu. Apakah ada suatu makna penting di balik lukisan itu?" tanyaku penasaran sedikit gugup.


Pak Colin menatap lukisan itu dengan fokus. "Versailles, itu istana kuno antik yang terletak di Eropa. Dulu sebelum saya sukses seperti ini, saya memiliki keinginan untuk memiliki gedung atau rumah seperti Versailles. Jadi untuk membangkitkan semangat saya, saya meminta pelukis andal untuk melukiskan istana itu dan saya memajangnya di ruang tamu sejak dulu supaya teringat dengan hal itu dan bisa termotivasi. Lalu pada akhirnya, sekarang saya menjadi sukses berkat keinginan itu."


Mendengar cerita Pak Colin membuat Adrian merasa termotivasi. "Wah saya salut sama Bapak!"


"Pantesan wujud restoran Bapak itu seperti istana classic haha."


"Ayo lanjutkan makannya, setelah itu kita lanjut berbincang lagi!" ajak Pak Colin.


Setelah kami berbincang panjang lebar, aku dan Adrian berpamitan pulang. Di luar rumah Pak Colin, kami berbincang sebentar dulu sebelum berpisah. Apalagi Adrian terus tertawa lepas seperti sedang menertawaiku sekarang.


"Ternyata kamu terobsesi banget ya sama hal gituan," ejek Adrian.


Aku menunduk malu. "Iya, dari dulu aku suka bangunan istana kuno di Eropa. Aku ingin pergi ke sana."


Adrian mendekatiku sambil menyentuh pundakku dengan kedua tangannya. "Penny, aku yakin kamu pasti juga bisa ke sana."


Aku menghela napas lesu. "Sepertinya mustahil deh apalagi melihat kondisi pekerjaanku yang selalu sibuk membuatku tidak bisa pergi ke sana. Bahkan aku ingin bersantai di hari libur saja tidak bisa."


"Di dunia ini tidak ada yang mustahil, Penny. Kalau seandainya suatu hari nanti ada keajaiban gimana? Aku penasaran dengan reaksimu."


Dilihat dari tingkah Adrian, sepertinya ia masih belum menyerah menyemangatiku dari metodenya. Aku terus tertawa gemas saja apalagi tangannya sekarang membelai rambutku lembut dengan tatapan penuh makna bagiku.


"Penny, kalau kita berusaha dengan semampu kita pasti bisa. Mungkin bisa juga setelah kita berhasil menyelesaikan kasus ini, kamu akan diberi penghargaan."


"Aku sih tidak butuh penghargaan. Kita berhasil menyelesaikan kasus berat ini saja sudah sangat bersyukur bagiku," lontarku ragu.


"Memang sih apalagi ini pertama kalinya bagi kita menghadapi kasus pembunuhan. Tapi aku yakin kita pasti berhasil menangkap pelakunya secepatnya.


Melihat waktu terus berjalan, aku tidak bisa berbincang terlalu lama. Terpaksa aku harus berpamitan padahal aku sudah terlanjur nyaman. "Sudahlah aku mau pulang dulu, sampai bertemu lagi, Adrian."


"Sampai jumpa, Penny."


Sebelum tertidur pulas, aku membaringkan tubuhku di ranjang sambil menatap langit-langit masih memikirkan bangunan Versailles itu. Melihat rumah mewah Pak Colin, membuatku ingin memiliki rumah seperti itu juga. Seandainya saja aku memiliki banyak uang, aku pasti membeli tanah yang luas dan membangun rumah seperti rumah Pak Colin. Jika ayah tidak menghilang begitu saja, pasti sekarang ayah bangga melihat sahabatnya yang sukses. Pokoknya aku harus bekerja keras agar mendapatkan promosi naik jabatan dan penghasilannya banyak sehingga bisa membangun rumah itu. Tapi sepertinya itu membutuhkan waktu yang lama supaya aku bisa mendapatkan promosi jabatan.

__ADS_1


Keesokan pagi, aku mengunjungi kantor penuh semangat menampakkan gigi putihku hingga Nathan dan Tania terheran melihatku seperti itu.


"Kamu kenapa, Penny? Tidak biasanya kamu bertingkah begini," tanya Nathan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apa mungkin kamu baru berpacaran dengan seseorang? Apakah pria itu terlihat tampan? Atau mungkin dia adalah seseorang yang sangat kita kenal?" Tania mulai melontarkan banyak pertanyaan dengan heboh apalagi semua pertanyaannya itu terdengar sangat aneh.


Aku mencubit lengan Tania. "Aduh, Tania! Mana mungkin di situasi menegangkan begini aku masih bisa berpacaran seseorang."


"Ayo Penny, kamu harus memberitahu kami!" rayu Tania sambil terus menggerakkan lenganku.


Aku merangkul pundak mereka berdua. "Semalam aku pergi ke rumah Pak Colin. Apakah kalian tahu? Rumahnya itu mewah seperti istana. Terlihat persis seperti istana Versailles. Maka dari itu, aku jadi ingin memiliki rumah seperti itu. Jadi mulai sekarang, aku harus bekerja dengan giat supaya aku bisa naik pangkat dan mendapatkan banyak penghasilan."


Tania langsunv melepas rangkulan. "Astaga, Penny! Kenapa di saat begini kamu masih bisa memikirkan hal seperti itu! Aku yakin bahwa kamu pasti lupa sekarang kita sedang mencari maksud 'Versailles' dari catatan Pak John itu apa!"


Aku baru ingat! Bahkan misi rahasiaku sampai kulupakan karena rumah mewah itu. Tanganku langsung menepuk jidatku untuk menyadarkanku dari halusinasi. "Astaga aku sungguh melupakannya! Untung saja kamu mengingatkanku, Tania."


"Kamu mulai pikun, Penny," sindir Tania sambil menggelengkan kepalanya.


"Jadi gimana apakah kalian menemukan hal yang baru lagi atau sesuatu yang terlihat mencurigakan?" tanyaku mulai fokus pada penyelidikannya.


Sementara Nathan mengamati sekelilingnya apalagi tatapannya terfokus pada meja kerja Pak John yang terlihat sangat bersih.


"Ish kenapa kalian tidak memberi tahuku dari tadi mengenai hal ini!" sungutku mengomeli mereka berdua.


"Habisnya tadi kamu sudah seperti orang aneh saat datang ke sini tadi," elak Nathan memalingkan matanya dariku.


"Ayo kita periksa rekaman CCTV sekitar rumah Pak John!" ajakku.


Aku memerintahkan petugas keamanan untuk memperlihatkan rekaman CCTV pada kami. Kami mengecek rekaman CCTV di sekitar sana hingga mata kami terfokus pada layar. Memang rekaman CCTV itu menunjukkan bahwa Pak John melakukan aktivitasnya seperti biasa selama ini dan tidak ada hal yang mencurigakan.


"Sepertinya hari ini dia tidak keluar sama sekali," kata Tania sambil mengamati rekaman CCTV.


"Apa mungkin dia tidak enak badan?" pikir Nathan mulai berspekulasi aneh.


"Dia tidak mungkin enak badan. Kalau dia sedang sakit, mana mungkin dia mengambill cuti selama itu," sanggahku.


"Berarti kita harus memantaunya terus setiap hari agar tahu pergerakannya," usul Tania.


"Kalau begitu, ayo kita ke sana sekarang!" ajakku.

__ADS_1


Tania menggenggam tanganku erat. "Jangan pergi ke sana dulu, Penny! Aku belum camilan dulu di minimarket."


Setibanya di minimarket, aku sudah pasrah melihat kebiasaan Tania suka membeli banyak camilan. Namun anehnya kali ini, ia membeli banyak parfum.


"Tumben kamu beli parfum, biasanya kamu borong banyak camilan," ledekku.


"Kali ini kita mengintai selama berhari-hari jadi aku butuh sesuatu yang berbau harum supaya semangat untuk mengintai," sahut Tania sambil mencoba tester parfum.


"Nanti kamu tidak akan betah mengintai dan berkeliaran lagi, aku yakin sekali," sindir Nathan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Lihat saja nanti. Sampai aku tidak ke mana-mana selama mengintai, salah satu dari kalian harus mentraktir makanan yang mahal," ancam Tania memelototiku dan Nathan tajam.


Selama kami mengintai, tidak ada tanda-tanda mencurigakan dari Pak John. Seharian ia tidak keluar rumah seperti orang yang sedang sakit. Kami mengintai Pak John sampai tidak tidur hingga besok pagi. Pagi harinya juga tidak ada tanda kehadiran Pak John.


Tania menguap sambil mengucek mata. "Hoam ... Kenapa dia tidak keluar rumah sejak kemarin?"


Dahi Nathan berkerut. "Apa mungkin dia tahu bahwa kita sedang mengintainya?"


"Pokoknya kita harus memantau terus sampai dia keluar," jawabku menghembuskan napasku kasar.


Tak terasa hari sudah gelap, aku sudah mulai bosan memantau Pak John sejak kemarin. Sedangkan Tania sibuk makan terus hingga stok camilannya habis.


"Penny ...." Tania memanggilku dengan manis.


"Kenapa memanggilku dengan nada seperti itu?" jawabku dengan curiga.


"Apakah aku boleh pergi sebentar? Camilannya sudah habis nih, jadi aku mau pergi beli lagi," rayu Tania menunduk malu.


Aku mengerutkan bibir. "Waktu itu kamu bilang akan selalu ikut pantau terus, sekarang bilang kamu akan pergi sebentar."


"Ayolah, Penny! Izinkan aku pergi keluar sebentar!" rengek Tania seperti anak kecil.


Aku memutar bola mata bermalasan menyahutinya. "Iya deh, paling lama 15 menit ya perginya."


"Kalau begitu aku pergi dulu ya," pamit Tania langsung keluar dari mobil.


Sekarang tinggal aku sendiri yang mengintai di sini. Nathan sakit perut sibuk mencari toilet umum, sedangkan Tania mengunjungi minimarket lagi. Terpaksa aku harus memantau dengan fokus terus dan tidak boleh melihat hal lain.


Tak lama kemudian, Pak John keluar dari rumahnya dan berjalan kaki menuju suatu tempat. Aku bergegas turun dari mobil dan mengikutinya secara diam-diam. Pak John berjalan melewati gang kecil agar tidak terekam kamera CCTV atau siapa pun. Aku berjalan terus dan lumayan jauh jarak antara rumahnya dengan tempat tujuannya.

__ADS_1


Tiba-tiba Pak John menghentikan langkahnya dan sedang berbicara dengan seseorang. Aku langsung mencari tempat bersembunyi untuk melihat siapa pelaku sebenarnya.


__ADS_2