Good Partner

Good Partner
Part 63 - Jealous


__ADS_3

Aku mengambil berkas kasus yang berjatuhan di lantai dan membukanya lagi dengan tanganku gemetar. Nama Inspektur William tertera di berkas kasus itu membuatku semakin keringat dingin.


"Ada apa? Kenapa kamu ketakutan begitu?" tanya Adrian sangat penasaran.


"Detektif yang menangani kasus itu ... adalah atasanku," jawabku terbata-bata.


Tatapan Adrian melotot. "Apa?"


Aku menggeleng lemas. "Aku juga tidak tahu. Memang aku mulai mencurigainya saat di kantor tadi pagi ketika mendengar ucapannya. Dia ingin mengubur kasusnya."


"Jangan bilang pelaku yang mengintaimu waktu itu ...." Adrian tidak melanjutkan pembicaraannya hingga mulutnya menganga.


"Dia adalah pelakunya. Inspektur William yang selama ini dipuja kalangan kepolisian."


"Bagaimana sosok inspektur melakukan hal seperti itu! Ini tidak bisa dibiarkan!" ketus Adrian semakin kesal.


"Kita hanya tinggal melihat pergerakannya saja. Aku harus mengawasi gerak geriknya selama di kantor dan mengikutinya dari belakang. Aku sangat yakin dia pasti selama ini berinteraksi dengan pelaku sebenarnya," ucapku dengan tatapan serius.


"Tapi kalau seandainya dia tertangkap basah, apakah kamu akan membiarkannya saja seperti itu?"


"Aku masih belum memikirkan sampai sejauh itu. Tapi kalau aku ingin mengancamnya, kita tinggal pakai kelemahannya agar dia buka mulut."


drrt...drrt...


Ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku mengambil ponsel di atas meja. Tumben sekali Josh meneleponku di saat begini.


"Halo Josh, ada apa kamu meneleponku malam-malam begini?"


"**Be**sok kamu ada waktu luang? Kebetulan besok hari libur, jadinya aku berasumsi kamu tidak akan sibuk besok."


"Hmm sepertinya besok aku tidak terlalu sibuk. Ada apa, ya?"


"Aku ingin mengundangmu ke acara ulang tahunku besok. Apakah kamu bisa datang?"


Aku memberi jeda sejenak. Aku sungguh terkejut diundang seorang CEO menghadiri pesta ulang tahunnya adalah suatu kehormatan bagiku. "Tentu saja bisa."


"Baguslah. Nanti aku akan kirim alamat rumahku kepadamu. Oh ya, pacarmu juga sekalian ajak."


Aku menatap Adrian sekilas. "Kamu ingin mengundang pacarku juga? Padahal kamu tidak mengenalnya sama sekali."


"Tidak masalah. Lagi pula pacarmu itu kenalan darimu, jadinya tentu saja aku sekalian mengajaknya juga."


"Baiklah akan kusampaikan padanya nanti."


"Kalau begitu aku tutup teleponnya sekarang, selamat malam." Josh menutup panggilan teleponnya.


Aku menaruh kembali ponselku di atas meja lalu Adrian menatapku dengan tatapan curiga.


"Siapa yang meneleponmu barusan?" tanyanya seperti menginterogasiku.


"Itu Josh. Waktu itu aku mengira dia pembunuh."


"Sedang apa dia meneleponmu malam-malam begini?" Adrian melontarkan pertanyaannya lagi dengan kesal.


Aku melipat kedua tangan di dada. "Iih kenapa sih kamu bertanya kepadaku dengan nada kesal!"


"Aku tidak kesal, hanya tanya saja masa tidak boleh!"


"Kalau cemburu mendingan jujur deh, Adrian!" celetukku menyunggingkan senyuman nakal.


Embusan napas kasar dikeluarkan dari mulutnya.


"Iya, aku jujur deh. Sebenarnya aku sangat cemburu melihatmu berkomunikasi dengan pria lain malam-malam begini! Apalagi saat kamu sedang meneleponnya, kamu tersenyum!"


"Dasar tukang cemburu! Padahal Josh ingin mengundangmu ke acara ulang tahunnya besok."


Ekspresi wajah Adrian kembali datar dan bernapas sedikit lega. "Benarkah? Aku diundang ke acara ulang tahunnya besok? Tapi dia bagaimana bisa tahu kamu sudah punya pacar?"


"Aku memberitahunya."


Adrian mulai tersenyum tipis mengelus dada. "Begitu rupanya, aku sedikit lega mendengarnya."

__ADS_1


"Sekarang kamu sudah puas, 'kan? Kamu masih cemburu?"


Adrian mengelus kepalaku menampakkan senyuman ceria. "Aku tidak akan cemburu lagi, tenang saja."


Keesokan harinya, aku bersiap-siap sebelum mengunjungi rumahnya Josh. Aku memakai baju kasualku yang biasa kupakai saat acara formal dan merias wajahku. Setelah selesai semuanya, aku keluar dari kamarku sambil membawa tas sling bagku. Adrian keluar dari kamarnya lalu menatapku sampai melongok, membuatku sedikit gugup.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?"


Bukan merasa bahagia, justru tatapannya seperti menyimpan dendam padaku. "Kamu seperti sedang ingin berkencan dengan pria lain saja! Kalau wajahmu cantik seperti itu, nanti pria lain akan mengincarmu terus!"


"Kamu ini berlebihan sekali sih, Adrian! Aku hanya merias wajahku sederhana saja. Lagi pula kalau setiap kali aku pergi bersamamu, aku pasti akan merias wajahku semaksimal mungkin!" bentakku balik dengan sengaja membuang mukaku.


Adrian tertawa puas mencubit pipiku. "Bercanda, Penny, jangan cemberut."


"Sudahlah, ayo kita pergi sekarang!" ajakku merangkul tangannya berjalan menuju basement.


Kami berdua menatap rumah Josh sampai melongok. Rumah itu sangat megah bahkan rumahnya Pak Colin masih kalah jauh dari rumah ini. Ada taman yang sangat luas untuk bercocok tanam dan juga ada kolam renang.


Josh menghampiri kami berdua, menyambut dengan ramah. "Selamat datang di rumahku, Penny!"


"Terima kasih sudah mengundangku. Aku tidak percaya bakalan diundang seorang CEO dari stasiun TV ternama untuk menghadiri acara ulang tahun di rumahnya," sahutku tersenyum ramah padanya.


Adrian menatapnya sangat risih lalu ia menggenggam tanganku dengan erat.


Sedangkan Josh menatap Adrian sedikit gugup. "Lalu pria sebelahmu ini ...."


"Aku pacarnya Penny, panggilku saja Adrian," ucap Adrian dengan nada sombong sambil merangkul bahuku mesra di hadapannya.


Josh berjabat tangan dengan Adrian. "Oh, jadi kamu pacarnya Penny. Senang berkenalan denganmu, Adrian. Aku Josh, CEO Stasiun TV BYZ."


Adrian menatap sekeliling exterior rumah dengan tatapan iri. "Rumahmu ini bagus juga ya, aku iri melihatnya."


"Ayo kalian masuk ke dalam sekarang!" ajak Josh menuntun kami memasuki rumahnya.


Saat aku sedang berjalan memasuki rumahnya, aku melihat ada seekor anjing sangat lucu sedang berlarian mengelilingi kumpulan pot bunga.


"Anjingmu ini sangat lucu ya," ucapku ingin memeluk anjing itu tapi karena ada trauma sejak kecil, aku tidak berani menyentuh anjing lagi.


"Kamu ingin punya anjing seperti itu?" tanya Josh.


Mendengar perkataannya membuatku tersenyum mengambang sekarang sambil mempererat rangkulannya. Apalagi nada bicaranya sudah seperti malaikat sesungguhnya.


"Begitu rupanya, sayang sekali," balas Josh dengan nada pasrah.


Aku merangkul lengan Adrian girang. "Ayo kita masuk! Aku tidak sabar ingin menyantap makanannya."


Aku dan Adrian berjalan menuju ruang makan. Di sini banyak sekali tamu undangan yang hadir sedang menyantap makanan.


Aku mengambil sebuah potongan kue kecil rasa cokelat, mencicipinya sambil memejamkan mataku. "Mmm rasanya lezat sekali!"


Adrian tertawa gemas mencolek hidungku. "Sikapmu tidak pernah berubah sejak dulu. Setiap kamu makan cokelat, kamu semakin manis."


"Apa pun yang rasanya cokelat, aku pasti akan makannya dengan melahap," jawabku tersenyum ceria.


"Wah, kode keras nih! Baiklah lain kali aku akan belikan banyak cokelat untukmu."


"Aku ingin mencicipi kue cokelat itu lagi, rasanya bagaikan di surga." Aku sibuk menatap kue cokelat itu dari kejauhan, rasanya aku ingin makan semuanya.


"Akan kuambilkan untukmu." Adrian berinisiatif mengambil sepotong kecil kue cokelat itu lagi untukku.


"Terima kasih." Aku ingin mengambil kue cokelat yang ada di tangan Adrian, tapi ia tidak ingin memberikannya kepadaku.


"Biar aku yang menyuapimu, buka mulutmu dengan lebar."


Aku membuka mulutku lebar, membiarkan Adrian menyuapiku. Mmm rasanya berbeda dari yang sebelumnya, membuat mataku terpejam sejenak sambil menikmatinya.


"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Adrian bingung.


"Rasa kue cokelatnya berbeda dari yang kucicipi sebelumnya."


Alisnya terangkat sebelah. "Bukankah kuenya terlihat sama saja?"

__ADS_1


"Karena rasa kuenya semakin enak jika disuapi oleh pria yang kusayangi," gombalku tersenyum manis padanya.


Kini giliran Adrian tersenyum tidak karuan sambil menyelipkan helaian rambutku ke belakang telingaku. "Ternyata kamu semakin pandai menggombalku juga."


"Kasih aku lagi kuenya!" rengekku manja.


"Tunggu di sini, ya." Adrian mengambil dua potong kue cokelat kecil lalu menghampiriku lagi.


Adrian menyuapiku dengan tatapan manis ditambah kue cokelat ini terasa sangat manis membuatku ingin berada di sisinya terus. Ia merupakan satu-satunya pria yang bisa menghapus pikiran dan hatiku yang pahit ini setelah menghadapi berbagai masalah di kantor belakangan ini.


"Mmm aku semakin suka dengan kuenya dan juga kamu, Adrian," gombalku lagi dengan tatapan manja.


Adrian memajukan wajahnya mendekati bibirku. "Coba kamu suapiku juga!"


Aku mengambil sepotong kue cokelat lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


Adrian memandangiku dengan pandangan berbinar sambil mengelus pipiku. "Aku juga sangat menyukai cokelat dan kamu, Penny."


"Kamu tidak ada bedanya denganku. Setiap kali kamu makan cokelat bersamaku, kamu pasti makannya melahap atau memintaku menyuapimu."


"Supaya terkesan lebih manis," gombalnya mengedipkan matanya kiri padaku.


"Cukup sudah menggombalnya. Aku jadi tidak kuat." Pipiku semakin merah merona melihat tingkahnya terlalu manis.


"Mulutmu dipenuhi cokelat."


Dengan tangan kosong tanpa dibaluti kain apa pun, Adrian mengusap bibirku dipenuhi cokelat. Kini jarak antara wajahku dengannya lumayan dekat. Ia menatapku dengan tatapan fokus membuat jantungku semakin berdebar. Entah apa yang merasuki pikirannya, perlahan ia memajukan bibirnya mendekati bibirku membuat jantungku berdegup semakin kencang.


Tiba-tiba di tengah momen indahku dengannya, Josh mengambil microphonenya berpidato singkat.


"Terima kasih para tamu undangan yang telah hadir di acara ulang tahun saya. Mudah-mudahan kita semua akan selalu berhubungan dengan baik sampai selamanya. Selamat menikmati acaranya dan juga hidangan dari saya."


Aku mengambil dua gelas anggur ada di meja, lalu aku berikan kepada Adrian. Sebenarnya tujuanku mengalihkan pikiranku sudah melayang memikirkan adegan tadi.


"Sesekali kita minum anggur mahal ini, ayo bersulang!" ajakku sambil mengangkat gelas kaca.


"Ingat hanya segelas saja ya. Kita harus kembali bekerja besok."


"Aku tahu, jangan menasihatiku terus. Aku bosan mendengarnya," keluhku memanyunkan bibirku.


Acaranya telah usai, aku dan Adrian berpamitan pulang dengan Josh. Kepalaku agak pusing karena tidak terbiasa minum anggur. Aku kesulitan menatap sekelilingku seolah-olah seperti terjadi gempa.


Di saat tubuhku hampir terjatuh, Adrian menahan tubuhku dengan sigap. "Kamu tidak apa-apa, Penny?"


Aku memijit pelipisku pelan. "Aku hanya sedikit pusing saja karena tidak terbiasa minum anggur."


"Sini biar aku menuntunmu jalan." Adrian merangkul bahuku sambil menuntunku jalan menuju mobilnya.


Di tengah perjalanan pulang, aku menyandarkan kepalaku pada kaca jendela sambil memegang kepalaku.


"Kamu kalau tidak bisa minum anggur sebaiknya jangan memaksakan dirimu!" ujarnya tegas.


"Aku hanya ingin mencobanya sesekali saja, aku tidak pernah minum minuman seperti itu seumur hidupku."


"Biarpun begitu, kamu juga jangan nekat. Untung saja aku datang bersamamu hari ini jadinya kamu tertolong!"


"Aku bisa minta bantuan Josh mengantarkan aku pulang kalau kamu tidak datang bersamaku," ucapku sedikit bergurau mengomporinya.


Di persimpangan lampu merah, Adrian memberhentikan mobilnya tiba-tiba hingga membuat tubuhku hampir terpental ke depan. Untung saja aku menggunakan sabuk pengaman.


Aku memanyunkan bibir sambil merapikan rambutku kusut. "Adrian, kamu ini kenapa sih? Aku hampir serangan jantung barusan!"


"Maka dari itu, jangan pernah mengungkit pria lain di hadapanku! Aku tidak suka!"


"Aku hanya bercanda. Aku tidak ingin berdebat denganmu mengenal hal kecil ini. Kepalaku terasa semakin sakit."


Di saat lampu merah masih menyala, Adrian mengelus kepalaku dengan lembut lalu memberikan kecupan manis pada keningku sekilas.


"Bagaimana sekarang? Apakah masih terasa sakit?" tanyanya sambil mengelus kepalaku.


Aku tersenyum manja. "Sudah mulai membaik."

__ADS_1


"Aku tidak akan membuat keributan lagi. Maaf gara-gara aku, kepalamu semakin terasa sakit."


"Aku juga tidak akan mengungkit pria lain di hadapanmu lagi supaya kamu tidak cemburu."


__ADS_2