
Pengacara Leonard ingin meminta maaf padaku tiba-tiba apa aku tidak salah mendengarnya barusan? Waktu itu saat aku interogasi Nielsen, ia sangat sombong dan meremehkanku. Sedangkan sekarang tiba-tiba ia bersikap lembut padaku seperti orang normal. Mungkin kepalanya terbentur sesuatu barusan jadinya sikapnya berubah drastis. Aku gelagapan bingung ingin membalasnya seperti apa karena hari ini merupakan pertemuan keduaku dengannya.
"Meminta maaf padaku soal apa? Kamu tidak berbuat salah sama sekali padaku." Aku sengaja berbasa basi dengannya karena penasaran dengan reaksinya.
"Karena memang aku ada salahnya padamu," balasnya memasang raut wajah kepolosannya.
"Oh, jadi kamu sekarang baru menyadari bahwa waktu itu kamu meremehkanku dan berkata bahwa aku ini seorang detektif yang bodoh," sergahku memelototinya.
"Iya nih. Sebagai permintaan maafku yang tulus, aku ingin mengajakmu makan siang bersama."
"Tapi aku ada janji makan bersama anggota timku lainnya," tolakku halus.
"Tidak apa-apa. Kamu bisa makan bersama anggota timmu di lain waktu."
"Tapi--"
"Kamu harus menerima tawaranku ini. Karena aku sedang tidak sibuk jadinya bisa mengajakmu makan siang bersama."
Aku mendengkus kesal hanya bisa pasrah saja menerima tawarannya sedikit memaksaku. Padahal aku sudah menanti momen makan siang bersama anggota timku.
"Kalau begitu aku beritahu kepada anggota timku membatalkan rencana makan siang bersama mereka."
Aku memasuki ruang kerja timku lagi berpamitan kepada mereka semua terlebih dahulu.
"Kalian nanti makan siang tanpaku saja. Aku ada janji makan siang bersama orang lain."
"Tumben kamu makan siang bersama orang lain. Siapa itu?" tanya Hans mulai penasaran denganku.
"Pengacara Leonard mengajakku makan siang barusan. Aku tidak mungkin menolak kebaikannya. Jadinya kita makan siang di lain waktu saja."
"Yah padahal sudah lama kita tidak makan siang bersama!" Raut wajah kekecewaan terlukis pada wajahnya Tania.
"Sudahlah biarkan saja Penny makan siang bersama pengacara itu," ujar Hans dengan nada sedikit mengusirku.
"Maaf ya aku tiba-tiba berubah pikiran begini terhadap kalian semua. Terutama Tania, kamu sangat kecewa padaku."
"Tidak apa-apa, Penny. Kalau ada seseorang mengajakmu makan siang, kamu tidak boleh menolaknya," balas Tania tersenyum terpaksa.
"Ya sudah, aku pinjam mobilmu Nathan. Tadi pagi aku diantar oleh Adrian jadinya aku tidak membawa mobilku."
"Yah padahal aku ingin memakai mobilku," balas Nathan menolak halus.
"Ya sudah deh. Aku pergi naik taksi saja."
Aku melangkahkan kakiku berat keluar dari ruang kerja timku kembali menghampiri pengacara Leonard.
"Kita pergi sekarang saja," ucapku datar.
"Naik mobilku saja!"
"Tidak perlu. Aku bisa naik taksi."
"Tidak apa-apa. Lagi pula tujuan tempat kita kunjungi sama saja."
"Kalau kamu memaksaku apa boleh buat aku menurutimu saja," balasku memutar bola mataku bermalasan.
Pengacara Leonard menuntunku keluar dari kantor polisi. Ia membukakan pintu mobilnya untukku mempersilakanku memasuki mobilnya.
Sedangkan di sisi lain, Fina membuka pintu ruangannya sedikit dan mengintip melalui celah kecil itu.
"Bagus ini adalah waktu yang tepat!" seru Fina tersenyum cerdas menutup pintunya kembali.
"Apanya yang tepat, Fina? Penny dibawa oleh pria lain," tanya Nathan.
"Kalau Adrian tahu istrinya makan siang bersama pria lain, aku penasaran dengan reaksinya seperti apa." Hans mengangkat alisnya bertopang dagu.
"Maka dari itu, ini waktu yang tepat untuk Adrian menunjukkan aksinya. Aku harus memberitahunya bahwa istrinya sedang bersama pria lain. Aku jamin dia pasti akan langsung mendatanginya." Senyuman cerdas terlukis pada wajahnya Fina sambil menggeser layar ponselnya untuk menghubungi Adrian.
Tidak sampai lima detik menunggunya, Adrian langsung menjawab panggilan telepon dari Fina.
"Halo Fina, ada apa kamu meneleponku?"
"Aku akan langsung bicara pada intinya saja. Penny saat ini sedang makan siang bersama pria lain."
"Apa? Kenapa kamu tidak mencegahnya?!" Suara Adrian terdengar seperti sedang berteriak hingga Fina menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Tadinya aku ingin mencegahnya tapi Penny terus memaksa jadinya apa boleh buat aku tidak bisa berbuat apa pun."
"Kamu tahu sekarang dia ada di mana?"
"Astaga aku lupa menanyakannya tadi!"
"Aish, Fina! Kamu memberitahuku informasinya tidak lengkap! Ya sudah deh aku akan menjemputnya sekarang!"
Adrian langsung memutuskan panggilan teleponnya membuat Fina menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya nanti Adrian bakal marah deh. Lihat saja nih dia main langsung matikan panggilan teleponku."
"Yang pasti kali ini aku tidak akan ikut campur dengan urusan mereka berdua." Tania berlagak polos tatapan matanya beralih mengamati sekeliling ruangannya.
Sementara saat ini aku seperti sedang diculik paksa oleh seseorang. Sebenarnya aku tidak ingin makan siang bersama pengacara Leonard. Sebenarnya aku ingin melarikan diri diam-diam darinya. Tapi apa boleh buat, ia membawaku ke sebuah restoran ala Eropa sekalian juga mentraktirku makan siang jadinya aku tidak mungkin menolaknya. Aku mengambil pisau dan garpu di atas meja memotong daging steaknya berwajah murung.
"Kamu tidak suka makanannya?" tanya pengacara Leonard.
"Tidak," jawabku datar.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu murung begitu?"
"Mungkin karena belakangan ini aku kelelahan bekerja jadi wajahku terlihat murung."
drrt...drrt...
Getaran ponselku di dalam saku blazerku menghilangkan suasana canggung saat ini. Dengan penuh semangat, aku langsung menggeser layar ponselku mengangkat panggilan telepon dari vitamin penyemangatku.
"Penny, sekarang kamu ada di mana?"
"Aku ada di D'Steak Restaurant. Kenapa kamu menghubungiku tiba-tiba?"
Panggilan telepon itu langsung terputus. Aku mengerutkan dahiku lalu melanjutkan memotong daging steaknya lagi. Dasar suami tidak sopan main tutup teleponnya tanpa memberi kabar padaku.
"Tadi barusan siapa yang meneleponmu? Apakah mungkin salah satu anggota timmu mencarimu?" tanya pengacara Leonard penasaran.
"Bukan anggota timku. Tapi seseorang yang sangat istimewa bagiku," jawabku tersenyum simpul.
"Seseorang yang istimewa tapi langsung mematikan teleponnya. Sungguh tidak ada etika sama sekali!"
"Dia merupakan orang yang penyabar dan sopan. Kamu tidak usah sembarangan mengatakannya seperti itu," sergahku dengan tatapan tajam.
"Ternyata kamu orangnya baik juga, ya."
Ucapan yang dilontarkannya barusan membuatku terdengar aneh rasanya.
"Aku memang orang yang baik. Makanya aku memiliki banyak teman yang selalu mendukungku," ucapku berlagak sombong mengangkat kepalaku.
"Seandainya saja aku menjadikanmu sebagai kekasihku."
"Uhuk...uhuk..."
Aku tersentak hingga batuk tersedak. Semakin lama perbincangannya semakin terdengar aneh bagiku. Aku sudah mulai kesal padanya memalingkan mataku darinya.
"Usiamu jauh lebih muda daripadaku tapi kamu baru saja mengucapkan perkataan yang tidak sepantasnya padaku!" hardikku.
"Mungkin saja kamu belum memiliki kekasih karena kamu biasanya sibuk dengan pekerjaanmu setiap harinya jadi tidak ada waktu berkencan dengan seorang pria."
"Kamu jangan pernah berpikir bisa merebut Penny dariku!"
Suara khas yang selalu membuatku merasa bahagia setiap saat terdengar lantang dari belakangku. Aku menoleh ke belakang mengamati Adrian menghentakkan kakinya kasar mendatangiku lalu langsung duduk tepat di sebelahku.
"Adrian, sedang apa kamu kesini?" tanyaku sambil menyentuh tangannya diam-diam di bawah meja.
"Tentu saja aku ingin makan siang bersamamu!"
"Ternyata kamu sudah memiliki kekasih, Detektif Penny. Aku tidak menyangka kekasihmu merupakan seorang jaksa." Pengacara Leonard mengernyitkan alisnya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Penny bukan sekadar kekasihku. Tapi dia merupakan istriku, kamu tidak usah berpikir untuk merebutnya dariku!" celetuk Adrian seperti ingin menerkamnya.
"Bergurau tapi terdengar seperti serius, Pengacara Leonard!"
Apa yang terjadi sebenarnya? Suamiku dan pengacara Leonard sudah saling mengenal?
"Tunggu sebentar! Kalian saling mengenal?" Aku bingung dengan situasi saat ini hingga dahiku berkerut.
"Bukan saling mengenal. Tapi lebih cenderung dia merupakan musuhku," sahut Adrian.
"Aku sering bertemu denganmu di gedung pengadilan walaupun di ruang persidangan kita tidak pernah saling bertemu."
"Lalu sekarang saat bertemu denganmu kondisi seperti ini, aku semakin membencimu!" ketus Adrian semakin mempererat genggaman tanganku.
"Kenapa? Kamu cemburu? Kamu takut istrimu bakal berpaling darimu lebih memilih seorang pengacara yang kompeten dari firma hukum L&C."
"Tidak juga. Untuk apa aku cemburu padamu! Istriku pasti lebih memilih suaminya merupakan seorang jaksa terbaik di matanya!"
Perasaanku semakin tidak enak mendengar perdebatan mereka terus hingga aku tidak berselera makan. Aku menghentikan perdebatan mereka dengan mencolek lengannya Adrian halus. Ia menoleh ke arahku kemudian aku mengulum senyuman khasku kepadanya. Adrian membelai rambutku perlahan tersenyum manis padaku.
"Sebaiknya kalian jangan berdebat lagi. Aku dari tadi ingin makan siang saja jadi tidak bisa," tegurku memanyunkan bibir.
"Maaf, Sayang. Kalau begitu kamu bisa lanjutkan makan siangmu," sahut Adrian manis.
"Kalau begitu aku memesankan makanan untukmu juga, Jaksa Adrian," ucap pengacara Leonard sambil melambaikan tangannya untuk memanggil salah satu pelayan restoran.
Pelayan restoran tersebut mendatangi Leonard sambil membawa catatan kecilnya lalu mencatat pesanan makan untuk Adrian. Usai itu, kami bertiga melanjutkan perbincangannya lagi.
"Kenapa kamu mengajak istriku makan siang tiba-tiba? Bukankah biasanya kamu merupakan pengacara tersibuk sepanjang masa," tanya Adrian seperti sedang menginterogasinya.
"Tenang saja aku bukan bermaksud untuk mengajaknya kencan. Tapi ini sebagai permintaan maaf dariku yang tulus karena telah meremehkannya waktu itu," jawab pengacara Leonard sambil memotong daging steaknya.
"Oh, jadi kamu diam-diam meremehkan istriku. Aku tidak akan memaafkanmu begitu saja! Beraninya kamu meremehkannya padahal dia merupakan seorang detektif wanita terbaik bagiku," celoteh Adrian nada bicaranya naik satu oktaf.
"Karena waktu itu merupakan pertemuan pertamaku dengannya. Aku masih belum mengenal karakter aslinya seperti apa. Ternyata dia adalah wanita yang baik."
"Maka dari itu, kamu tidak boleh sembarang menilai orang hanya karena tindakannya waktu itu!"
Aku semakin terngiang-ngiang mendengar ucapan yang dilontarkan Adrian barusan. Kepalaku terasa ringan untuk bersandar pada pundaknya sekarang. Tapi karena situasi tidak memungkinkan untuk bermesraan jadinya aku menahannya dengan penuh kesabaran.
Tak lama kemudian, seorang pelayan restoran menghidangkan steaknya untuk Adrian. Lalu ia mengambil sendok dan pisaunya mulai memotong daging steaknya dengan penuh emosi. Pengacara Leonard tertawa kecil menggelengkan kepalanya menatap tingkah anehnya Adrian sambil menikmati daging steaknya.
Usai makan siang, kami bertiga saling berpamitan di depan restoran. Adrian merangkul bahuku mesra berlagak sombong di hadapan pengacara Leonard.
"Aku yang akan mengantarkannya kembali ke kantornya. Kamu sebaiknya kembali ke kantormu saja," ucap Adrian.
"Baiklah kalau begitu aku permisi dulu. Sampai bertemu, Detektif Penny," pamit Leonard tersenyum ramah padaku lalu memasuki mobilnya.
__ADS_1
Sedangkan aku dan Adrian tidak mengucapkan sepatah kata pun di dalam mobil seperti sedang perang dingin. Suasana saat ini terasa sedikit canggung membuat diriku tidak nyaman berada di sini. Adrian menyadari bahwa suasana hatiku sedang tidak enak dan inisiatif membuka suaranya.
"Sayang, aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman," ucapnya lesuh.
"Aku tidak apa-apa," jawabku datar.
"Lagi pula kenapa kamu makan siang bersamanya sih! Kan aku selalu bilang kepadamu bahwa kamu hanya boleh makan bersama suamimu dan jangan pernah bersama pria lain!"
"Aku hanya merasa tidak enak padanya saja karena telah mengajakku tadi. Lagi pula dia juga sedikit memaksaku untuk makan bersamanya."
"Tapi kamu bisa terus menolaknya!"
"Aku sudah menolaknya tapi dia tetap memaksaku sampai mulutku pegal nih! Lagi pula kenapa sih kamu marah-marah padaku? Memangnya aku apa salahnya denganmu?" Aku sedikit kesal padanya menaikkan nada bicaraku satu oktaf sambil mengibaskan kerah kemejaku akibat mulai gerah sekarang.
"Aku tidak marah padamu! Untuk apa aku marah, nanti bisa darah tinggi lama-lama!"
"Tapi dari tadi nada bicaramu seperti sedang memarahiku! Kamu saja yang tidak jelas dari tadi bisanya mengamuk!"
"Itu karena aku sedang cemburu!"
Tatapan mata kami berdua saling bertemu. Aku merasa dirinya seperti anak kecil cemburunya lalu menghadapkan tubuhku ke arah kaca jendela sampingku. Lebih baik aku tidur saja daripada berdebat dengannya terus karena masalah kecil.
"Cemburu tapi sikapnya kekanak-kanakan!" ketusku mendengkus kesal.
"Kamu barusan bilang apa?"
"Aku tidak bicara. Kamu fokus menyetir saja!"
"Ish dasar tukang ngambek!"
Perdebatan yang dialami kami berdua barusan berakhir perang dingin lagi. Aku malas melihat wajahnya sepanjang perjalanan kembali menuju kantor polisi. Sementara Adrian terus fokus menyetir tidak membuka suaranya lagi.
Setelah perjalanan menghabiskan waktu sekitar 20 menit, akhirnya tiba juga di kantor polisi. Aku tanpa berpamitan dengannya langsung melepas sabuk pengaman yang mengikat perutku. Ketika aku menggenggam gagang pintu mobil, Adrian menarik tanganku hingga tubuhku terjatuh dalam pelukan hangatnya.
"Lepaskan aku!" pekikku memberontaknya.
"Tidak mau!"
"Tadi kamu marah padaku, sekarang tiba-tiba perhatian padaku! Kamu maunya apa sih sebenarnya!" bentakku memukuli lengannya terus sebagai perlawananku.
Adrian mencium puncak kepalaku mendalam dengan penuh kasih sayang. Suasana hatiku kembali membaik akibat mendapat perlakuan hangat darinya. Senyuman tipis kembali mengukir pada wajahku. Aku mengurungkan niatku memarahinya lagi.
"Sayang ...." panggilku lirih.
"Maaf ya, aku membuatmu kesal. Tadi aku cemburu karena tandanya aku sangat sayang padamu," ucapnya tersenyum manis.
"Tapi kamu cemburunya sedikit aneh sih."
"Kamu tidak suka aku bersikap cemburu, ya?"
"Bukan begitu. Memang kamu sedikit kekanak-kanakan tapi aku senang kamu cemburu." Aku mengelus kepalanya seperti anak kecil.
"Tapi tadi kamu sungguh menolaknya, kan, saat dia bilang ingin menjadikanmu sebagai kekasihnya?"
"Tentu saja aku menolaknya karena usianya jauh lebih muda dariku dan dia bukan tipe pria idamanku."
"Lalu tipe pria idamanmu seperti apa?" Adrian semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku dengan senyuman godaan.
"Ish kamu padahal sudah tahu jelas jawabannya seperti apa! Yang pasti kamu sesuai dengan kriteria pria idamanku. Tidak ada yang bisa mengalahkanmu, Sayang."
"Aku jadi lega deh mendengarmu berkata begitu. Aku tidak perlu khawatir ada pria lain berani merebutmu dariku." Adrian bernapas lega mengelus dadanya.
"Ish untuk apa aku berbuat tindakan bodoh begitu kalau sudah memiliki seorang pria yang sempurna!"
"Kita tidak akan tahu kejadian di masa depan bakal seperti apa."
Aku menggoyangkan kalung pemberiannya saat hari ulang tahunku mengulum senyuman khasku.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu sama seperti aku tidak pernah melepas kalung pemberianmu sejak hari ulang tahunku."
"Yang terpenting sekarang setiap kali kamu ingin bepergian dengan seseorang yang tidak kamu kenal, jangan lupa selalu menghubungiku. Kalau seandainya kamu diperlakukan buruk gimana. Untung saja kamu tidak bertemu dengan seorang pembunuh sungguhan."
"Iya tenang saja. Mulai sekarang aku akan selalu menghubungimu setiap kali bepergian."
"Aku suka kamu selalu menurutiku." Adrian membelai rambutku perlahan.
"Tapi Adrian, saat kamu tadi meneleponku, aku sangat lega sebenarnya seperti seorang pahlawan ingin menolongku dari penculik." Aku mengedipkan mataku berlagak imut terkagum padanya.
"Tentu saja aku selalu menjadi pahlawan keren spesial bagimu sepanjang masa," balasnya mengedipkan mata kirinya padaku.
"Tapi kamu langsung mematikan teleponnya padahal aku belum selesai bicara padamu."
"Itu karena aku sungguh takut kamu akan diperlakukan buruk olehnya. Maka dari itu, aku langsung mendatangimu tanpa memerlukan waktu yang lama. Tapi kamu ingin berbicara apa padaku sampai protes begini?"
"Terima kasih, Malaikat kesayanganku, aku menyayangimu," ungkapku mencium pipinya sekilas.
"Aku sangat menyayangi, Bintang kesayanganku," balasnya mencium pipiku selama beberapa detik.
"Omong-omong, aku harus kembali bekerja. Kamu juga harus kembali ke kantormu."
"Baiklah kalau begitu jangan lupa bersemangat bekerja. Sampai bertemu nanti malam, Sayang."
"Sampai bertemu juga, Sayang." Aku mengecup pipinya manis lalu melambaikan tanganku sambil keluar dari mobilnya.
Saat aku ingin memasuki ruang kerja timku, ada seorang pria paruh baya sedang berdiri di depan sana.
__ADS_1