Good Partner

Good Partner
S2 : Part 9 - Ini Tidak Mungkin


__ADS_3

Aku membuka notifikasi email dari tim forensik mengenai hasil autopsinya. Tapi anehnya kali ini ditemukan sidik jari pada seluruh tubuh korban. Sedangkan pembunuhan sebelumnya tidak ada sidik jari yang teridentifikasi. Ini antara sebuah kebetulan atau pelakunya sedang lalai dalam menjalankan misi kejamnya.


Aku membuka file dari hasil autopsinya dan membacanya secara perlahan. Aku membelalakan mataku karena sulit memercayai hasil autopsi ini. Tanganku gemetar lalu aku menggenggam tangannya Adrian dengan erat sambil menelan salivaku berat.


"Penny, kamu kenapa?" tanyanya menyeka keringat dingin yang mengalir di kepalaku.


"Apa ada yang salah dengan hasil autopsinya?" tanya Hans mulai penasaran sambil menarik kursinya mendekatiku.


Aku bingung harus berkata apa dan hanya bisa memandang wajah suamiku sendiri tanpa memedulikan anggota timku lainnya.


"Apa mungkin sidik jari pelakunya teridentifikasi pada hasil autopsinya?" tanya Adrian ragu.


"Iya," jawabku lesuh.


"Lalu siapa pelakunya? Apakah pelakunya itu seseorang yang kita kenal sampai kamu ketakutan begitu?" tanya Fina sangat penasaran sampai berdiri tepat di belakangku.


Aku memperlihatkan hasil autopsinya kepada semua anggota timku. Reaksinya Fina ketika membaca hasil autopsinya sampai tubuhnya tersentak ke belakang menabrak tembok.


"Ini ... tidak mungkin," ucap Fina membelalakkan matanya.


"Hasil autopsi dari tim forensik tidak pernah keliru," ujar Adrian.


"Tapi bagaimana bisa Nielsen adalah pelakunya? Dia tidak terlihat seperti pembunuhnya kalau dilihat dari raut wajahnya," pungkas Tania tampak kebingungan sampai memiringkan kepalanya.


Sejenak tatapan Adrian beralih pada Fina yang bereaksi sangat terkejut, membuatnya menggeleng pelan bermaksud mengejek.


"Reaksimu ini berlebihan sekali, Fina. Bukankah kamu selama ini mencurigai Nielsen sebagai pelaku pembunuhannya?"


"Tadinya sih begitu. Hanya kalau sekarang rasanya aneh saja."


"Jadinya sekarang kita harus gimana, Penny?" tanya Nathan.


"Sepertinya kita harus tetap mengikuti prosedur penangkapan secara terpaksa. Nielsen sudah jelas terbukti sebagai tersangka utama dalam kasus pembunuhan ini. Dia tertangkap basah dalam kamera CCTV dan juga sidik jarinya teridentifikasi dalam hasil autopsi. Kalau seandainya dia adalah pelaku yang sesungguhnya, kita tidak mungkin membiarkannya berkeliaran secara bebas sebelum menambah korban jiwa lagi." Aku menghela napasku lesuh.


"Ya sudah deh, kalau begitu aku akan mengajukan surat penangkapannya secara resmi dulu," balas Nathan lesuh meninggalkan ruangan ini.


Aku melipat kedua tanganku di atas mejaku lalu menaruh kepalaku di atas lipatan tanganku.


"Penny ..." panggil Adrian lirih menyentuh punggungku.


"Penny, apa kamu baik-baik saja?" tanya Fina menatapku cemas.


"Aku tahu kamu pasti syok mengenai ini, Penny," ujar Hans menepuk pundakku.


"Memang ini rasanya masih sulit dipercaya, Penny. Aku pun juga merasakannya begitu," kata Tania.


"Sudahlah aku tahu kalian semua sangat mencemaskanku mengenai masalah ini. Tapi bisakah kalian semua memberiku sedikit ruangan untuk bernapas? Rasanya semakin sesak kalau kalian menghampiriku."


"Baiklah kalau begitu kami tidak akan mengganggu ketenanganmu, Penny," patuh Tania kembali menuju meja kerjanya.


Hans dan Fina menurutiku kembali ke meja kerjanya masing-masing. Adrian juga sedikit menarik kursinya menjauh dariku tapi aku mencegahnya menggenggam tangannya karena hanya ia yang satu-satunya bisa menenangkan hatiku.


"Temani aku di sini, Adrian. Aku sangat membutuhkanmu saat ini," rayuku lemas.


Adrian juga melipat tangannya di atas meja untuk menopang kepalanya. Saat ini posisi kepalaku berhadapan dengannya dalam jarak yang sangat dekat.


"Aku pasti selalu menemanimu, Penny," ucapnya sambil mengusap kepalaku.


"Sambil menunggu Nathan selesai mengajukan surat penangkapannya, aku ingin kita terus seperti ini."


"Penny, kalau suasana hatimu sedang tidak enak, kamu harus mengeluarkan curahan hatimu padaku. Kamu harus terbuka dengan suamimu sendiri."


"Hanya saja aku sedikit ketakutan dari tadi. Perasaanku tercampur aduk sekarang. Antara ingin marah atau menangis. Apalagi tadi aku menginterogasi seorang tersangka utama dalam kasus pembunuhan ini."


"Memang sih rasanya sangat berat."


"Tapi aku sebenarnya masih sedikit ragu sih dengan hasil autopsinya. Kalau seandainya hasil autopsi itu salah dan ternyata sebenarnya Nielsen bukanlah pelakunya, apa yang harus aku lakukan? Aku jadi teringat sewaktuku dulu menangani kasusnya Josh. Aku dituduh salah menangkap tersangka tanpa adanya bukti yang akurat. Aku takut kesalahan itu mungkin akan terjadi lagi."


Sejenak Adrian mendaratkan kecupan manis pada kelopak mataku. Sudut bibirku langsung terangkat berkat asupan vitamin darinya di situasi seperti ini.


"Penny, kalau aku jadi dirimu lebih baik tetap menjadi dirimu sendiri dan jangan pernah mendengar perkataan orang. Lebih baik kamu mendengar isi hatimu sendiri karena hanya kamu yang mengenali dirimu sendiri dengan baik," pesannya menasihatiku lembut.


"Selain mendengar isi hatiku sendiri, aku juga mendengar pendapat dari suami kesayanganku," balasku tersenyum manis mengelus kepalanya.


"Kalau itu sih sudah wajib kamu jalani sebagai istriku."


"Malahan setiap kali mendengar pendapatmu atau nasihatimu, rasanya aku kembali bangkit dari lembah keputus asaan. Kamu selalu menerangi kehidupanku, Adrian."


"Syukurlah, jadinya aku tidak usah terlalu mencemaskanmu lagi."

__ADS_1


Tak lama kemudian, Nathan memasuki ruangan ini tiba-tiba merusak momen manisku bersama Adrian. Nathan mengamatiku yang sibuk berduaan bersama Adrian langsung menunduk malu di hadapanku.


"Maaf Penny, aku tidak bermaksud mengganggu suasana kalian," ucapnya tertunduk bersalah.


"Tidak apa-apa. Apakah surat penangkapannya sudah keluar?" tanyaku kepada Nathan.


"Ini ada di tanganku sekarang."


"Baiklah kalau begitu kita pergi sekarang!" ajakku kembali fokus pada pekerjaan lagi.


"Aku yang menyetir van hitamnya saja," ucap Nathan menawarkan dirinya sambil mencari kunci mobil van hitam.


"Aku pergi bersama Adrian saja. Aku sedang ingin berdua dengannya saja," kataku merangkul tangan suamiku.


"Ya sudah, karena kamu adalah atasan kami jadinya apa boleh buat kami tidak memiliki hak memaksa kehendakmu itu. Kalau begitu kita harus bergegas sekarang!" seru Hans.


Sambil melangkahkan kakiku cepat menuju lahan parkir, Adrian berbisik denganku.


"Pilihan yang bagus, Sayang."


"Karena aku tidak ingin melewatkan kesempatan emasku yang langka ini," balasku tersenyum cerdas.


Setelah menghabiskan waktu perjalanan selama 20 menit, akhirnya kami tiba juga di Felicity High School karena sempat terjebak macet tadi. Kami semua bergegas menghampiri ruang kelasnya Nielsen untuk mencarinya. Karena sekarang jam pulang sekolah, sosok Nielsen tidak menampakkan dirinya di sana. Aku meninggalkan ruang kelasnya terburu-buru lalu tanpa sengaja berpapasan dengan Bu Fransisca di koridor sekolah.


"Detektif Penny, sedang apa Anda berkunjung ke mari?" tanya Bu Fransisca.


"Apakah mungkin Anda melihat Nielsen?" tanyaku balik.


"Sepertinya Nielsen sudah pulang ke rumahnya sekarang."


"Apa mungkin Anda tahu alamat rumahnya ada di mana?" tanya Fina.


Bu Fransisca menuliskan alamat rumahnya Nielsen pada selembar kertas kecil yang masih kosong lalu memberikannya padaku.


"Terima kasih, Bu Fransisca," ucapku sopan.


"Kalau boleh tahu kenapa Anda mencari Nielsen sampai ke rumahnya, ya?" tanya Bu Fransisca mulai penasaran padaku.


"Maaf saya bukan bermaksud untuk menakuti Anda. Tapi untuk saat ini, Nielsen ditetapkan sebagai tersangka utama dalam kasus ledakan gedung yang terjadi semalam," ucapku berwajah datar.


Bu Fransisca menilik tidak memercayaiku dan mengangkat alisnya.


"Kenapa Anda bisa memiliki pemikiran seperti itu? Selama ini Nielsen selalu menjadi anak baik di kelas." Bu Fransisca berkacak pinggang mendekatiku.


"Tapi bagaimana bisa?" Bu Fransisca menggigit bibirnya semakin gugup.


"Nanti akan kami selidiki kembali kasusnya lebih mendalam. Yang pasti sekarang kami harus menangkap Nielsen terlebih dahulu," jawab Fina.


"Kalau begitu kami permisi dulu," pamitku menundukkan kepalaku hormat lalu meninggalkan Bu Fransisca yang diekori oleh semua anggota timku.


Sekarang aku dan seluruh anggota timku melakukan perjalanan menuju tempat tinggalnya Nielsen.


Nathan mengendarai mobil van hitam dengan kecepatan di atas rata-rata hingga membuat Fina seperti biasa sedikit pusing. Hans secara spontan membiarkan kepalanya Fina bersandar pada pundaknya.


"Kebiasaan mabuk," sindir Hans tertawa kecil.


"Setidaknya sekarang aku sudah memiliki perkembangan. Aku sudah tidak mual lagi," balas Fina berlagak sombong.


"Makanya Fina, jangan jadi orang berlagak tegar padahal kamu sendiri sama saja lemah! Bahkan kamu paling lemah di antara kami semua," celoteh Nathan sambil fokus menyetir.


"Hei, Nathan! Lebih baik kamu fokus menyetir saja. Jangan menyindir, Fina!" tegur Hans tegas.


"Hufft dasar cerewet!" ketus Nathan mengerucutkan bibirnya.


Sementara tepat di belakang mobil van hitam diekori juga olehku dan Adrian. Firasatku ketika melihat cara menyetirnya Nathan kebut seperti itu pasti Fina mengalami mabuk jalanan lagi. Aku hanya bisa tertawa kecil membayangkannya sambil menyandarkan kepalaku bermalasan pada kaca jendela di sebelahku.


Setelah menempuh perjalanan cukup singkat, Adrian dan Nathan memarkirkan mobilnya tepat di depan tempat tinggalnya Nielsen. Aku dan seluruh anggota timku bergegas keluar dari mobil dan mengepung seluruh akses depan rumah.


Aku menekan tombol bel rumahnya berulang kali tapi tetap tidak ada seorang pun yang meresponnya. Adrian merasa ada yang janggal di depan rumah itu bergegas menghampiri sebuah tempat sampah tepat di depan rumah sambil memakai sarung tangan karetnya.


"Penny! Cepat ke sini deh!" panggil Adrian agak panik.


"Ada apa, Adrian?" sahutku langsung menghampirinya.


Adrian mengeluarkan tas sekolah satu per satu dari tempat sampah.


"Ini tas para korban pembakaran gedung," ucapnya.


"Jadi ini sudah pasti Nielsen sungguh pelaku pembunuhannya?" tanya Tania.

__ADS_1


"Sudah pastilah! Coba kamu sendiri lihat masa ada tas para korban di sini! Jarak antara gedung itu dan rumah ini lumayan jauh. Tidak mungkin pemulung memungutnya lalu membuangnya ke sini dari seluruh pelosok kota," tegas Hans.


"Kalau begitu kita harus bawa tas para korban ke tim forensik untuk mengidentifikasi sidik jarinya," ucapku mengambil kantong plastik untuk membungkus semua tas sekolah sambil memakai sarung tangan karet.


"Kalian sedang apa di sini?" tanya Nielsen tiba-tiba muncul.


Aku dan seluruh anggota timku bergegas mengepung Nielsen ketat supaya tidak bisa kabur dari kami.


"Apakah kamu pelaku dibalik kasus pembunuhan ini?" tanyaku tersenyum sinis.


"Aku pelakunya? Tidak! Bukan aku pelakunya!" sangkal Nielsen terus menggelengkan kepalanya.


"Kamu tertangkap basah pada rekaman CCTV di depan gedung. Selain itu sidik jarimu di tubuhnya para korban juga teridentifikasi. Lalu yang terakhir saat aku ingin mengunjungi rumahmu, tas para korban ada di tempat sampah depan rumahmu. Aku sudah memiliki tiga bukti akurat membuktikan kejahatanmu tapi kamu masih saja menyangkalnya!" tegasku sambil mengeluarkan borgol dari saku blazerku.


"Sungguh bukan aku pelakunya!" sangkal Nielsen lagi.


"Lebih baik kamu menuruti perintahku saja dan jangan memberontak sebelum aku memperlakukanmu kasar!" bentakku.


"Walaupun aku tertangkap pada kamera CCTV, bukan berarti aku pelakunya!"


"Kamu ditangkap atas pembakaran gedung beserta perusakan properti tempat umum dan juga melakukan pembunuhan pada empat korban dalam gedung tersebut. Kamu memiliki hak menyewa pengacara untuk membelamu atau hak untuk berdiam saja," ucapku sambil memborgol tangannya.


Fina dan Hans menuntun Nielsen secara paksa memasuki mobil van hitamnya. Sedangkan Nathan dan Tania membawa tas para korban memasuki mobilnya. Di saat aku sedang ingin memasuki mobil Adrian, aku merasa seperti ada seseorang yang sedang mengawasiku dari kejauhan. Aku mengamati sekelilingku namun tidak ada seorang pun yang melewati daerah ini.


"Penny, kamu kenapa?" tanya Adrian.


"Tidak apa-apa. Sebaiknya kita kembali ke kantor polisi sekarang," jawabku memegang kepalaku.


Setibanya di kantor polisi, aku menuntun Nielsen kembali memasuki ruang interogasinya lagi. Kali ini ia dipanggil sebagai tersangka utama, bukanlah seorang saksi mata lagi. Aku menyusun semua berkas kasusnya beserta bukti kejahatannya berderet di atas meja.


"Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran? Bukankah tadi siang kamu mengatakan bahwa aku ini adalah seorang saksi?" tanya Nielsen gugup.


Aku menarik kursi di hadapannya lalu menatapnya dengan tajam memperlihatkan hasil autopsinya kepadanya.


"Bisa tolong jelaskan maksud dari hasil autopsi ini? Sidik jarimu jelas teridentifikasi pada tubuh para korban." Aku mulai fokus pada proses interogasinya lagi sambil menggerakkan leherku yang mulai terasa pegal.


"Bukan aku pelakunya!"


"Lalu kalau seandainya bukan kamu pelakunya, kenapa tas para korban ada di depan rumahmu?" tanyaku tersenyum licik.


"Itu juga bukan aku menaruhnya!"


"Name tag para korban, kamu sembunyikan di mana? Di rumahmu? Di warnet? Atau di tempat rahasia di mana tempat tersebut merupakan tempat persembunyian menaruh semua barang bukti di sana?"


"BUKAN AKU PELAKUNYA! Sidik jariku teridentifikasi dan juga tas para korban yang ditemukan di depan rumahku jelas bukan aku pelakunya!" teriak Nielsen sudah tidak bisa menahan amarahnya hingga menggertak mejanya.


"Kalau begitu apakah ceritamu tadi siang itu merupakan sebuah kebohongan?"


Raut wajahnya Nielsen berubah drastis. Kegelisahan yang ada pada dirinya timbul lagi seperti tadi siang saat aku menginterogasinya.


"Kalau itu aku juga tidak membohongimu," ucap Nielsen sedikit terbata-bata.


"Apa kamu yakin?"


"Iya aku yakin sekali!"


"Namun sayangnya kalau kamu terus menyangkal seperti ini, kamu tetap tidak akan bisa lepas dari gugatan ini. Kecuali ada saksi yang memberikan informasi akurat kepadaku."


"Kalau tidak percaya kamu bisa memanggil semua temanku yang nongkrong bersamaku di warnet semalam!"


"Omong-omong, apakah kau sungguh membunuh kedua teman baikmu sekitar enam bulan yang lalu?" tanyaku menyipitkan mataku melipat kedua tanganku.


"Kenapa kau menanyakan itu? Kasus mereka berdua dan kasus ini tidak ada kaitannya sama sekali!"


"Anehnya itu hasil autopsi tubuh Angelina dan Gracia tidak ada sidik jarimu sama sekali. Sedangkan hasil autopsi untuk kasus pembakaran gedung kali ini, sidik jarimu teridentifikasi dengan jelas. Apa mungkin kamu lalai dalam menjalankan misi kejahatanmu itu?"


"Kedua kasus yang kamu selidiki saat ini jelas bukan aku pembunuhnya!"


"Tapi kedua kasus yang sedang aku selidiki saat ini saling berkaitan dilihat dari pola pembunuhannya!"


"Tidak apa-apa kalau kamu berusaha ingin menangkapku. Tenang saja, pasti nanti akan ada seorang pengacara terbaik mendatangiku untuk membelaku." Nielsen berlagak santai.


"Ya sudah, kalau begitu untuk sementara ini sesi interogasinya sampai di sini saja. Kamu ditahan selama 48 jam dulu di sel sementara."


Aku merapikan semua berkas kasusnya di atas meja lalu keluar dari ruang interogasi. Hans membawa Nielsen menuju sel sementara dan mengurungnya di dalam sana. Hari sudah gelap dan juga perutku sudah mengamuk dari tadi. Aku bergegas menghampiri Adrian yang dari tadi menungguku di depan ruang interogasi, menarik tangannya keluar dari kantor polisi.


"Ayo, kita pulang sekarang!" ajakku.


"Untuk hari ini kita makan malam di restoran saja. Karena hari sudah larut jadinya tidak mungkin aku masak makan malam jam segini."

__ADS_1


"Baiklah. Aku sih yang penting sekarang harus mengisi perutku yang sudah memarahiku dari tadi." Aku terus mengelus perutku.


"Dasar Penny, kamu mulai rakus!" Adrian mencubit pipiku lembut.


__ADS_2