
Kami bertiga mengunjungi sebuah toko es krim yang merupakan tempat langganan kami. Seperti biasanya Adrian memesan es krim rasa cokelat dicampur dengan vanilla perpaduan rasa yang sangat melekat pada mulut.
"Pesan dua es krim rasa cokelat vanilanya, ya," ucap Adrian kepada petugas kasirnya.
Apa aku tidak salah mendengarnya barusan? Jelas tidak hanya kami berdua yang berkunjung kesini tapi ia memesannya hanya untuk dua orang. Perasaanku mulai tidak enak sekarang. Aku sengaja menyenggol lengannya mendekatkan bibirku pada daun telinganya.
"Kenapa kamu pesan es krimnya dua saja?" tanyaku berbasa basi.
"Karena aku ingin makan es krimnya berdua denganmu, Sayang," jawabnya dengan senyuman godaan.
"Ingin kutendang kakimu sekarang. Apa kamu lupa anak kita nanti bisa melihat kita? Kalau tidak ada dia sih tidak masalah."
"Mama sedang ngapain?" tanya Victoria penasaran.
Aku hanya bisa tersenyum kikuk padanya sambil terus menyenggol lengannya Adrian. Dengan sigap aku langsung mengubah pesanan es krimnya.
"Pesan es krimnya tiga deh," ucapku kepada petugas kasirnya.
"Jangan! Dua saja!" sergah Adrian.
"Ish dasar keras kepala!"
"Mama papa lucu," tawa Victoria terkekeh sambil memeluk boneka kelincinya.
"Benarkah? Yang penting papa dan mama menghiburmu supaya tertawa puas," balas Adrian memasang wajah tidak ada malunya sama sekali.
Wajahku kini merah merona karena malu ditertawakan anak sendiri. Namun tiba-tiba ada ide terlintas dalam pikiranku. Aku dan Adrian bisa menikmati es krimnya berdua dengan cara yang aman. Aku memesan es krim rasa cokelat vanillanya namun yang biasanya ditaruh di piring dihiasi dengan waffle. Dengan begini ia tidak akan bertindak aneh.
Disela makan es krimnya, Victoria menikmatinya sampai melahap hingga bibir mungilnya belepotan. Adrian mengambil sapu tangannya lalu menyeka bercak cokelat yang melekat pada sudut bibir mungil Victoria.
"Victoria, makan es krimnya jangan terburu-buru nanti batuk," pesanku baik.
"Oke, Mama!"
"Padahal kamu sendiri juga sama belepotan! Makan es krim rakus!" ketusnya sambil menyeka mulutku yang belepotan menggunakan sapu tangannya.
Setiap kali wajahnya mendekatiku, detak jantungku mulai tidak bisa dikendalikan lagi. Terutama pandangannya padaku sekarang dengan senyuman manisnya membuatku semakin terngiang-ngiang. Aku mengambil sesendok es krim lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Sayang, aku bisa makan sendiri," ucapnya malu.
"Oh, tidak mau disuapiku. Ya sudah, makan sendiri sana," balasku ngambek.
"Jangan! Aku tarik ucapanku barusan!"
"Papa manja," ledek Victoria menertawainya.
"Wah sekarang anak papa nakal, ya! Tapi tidak masalah yang penting tetap gemas di mataku," Adrian mencubit pipi mungilnya Victoria lembut.
"Sudahlah sebaiknya kita habiskan es krimnya sebelum mencair."
Usai menghabiskan es krimnya, kami bertiga melanjutkan perjalanan lagi mengelilingi pusat perbelanjaannya. Tiba-tiba Adrian mengajakku dan Victoria memasuki sebuah toko kosmetik tempat biasanya aku beli alat makeup. Adrian mengambilkan sebuah lipstik berwarna merah cerah lalu membayarnya dulu. Setelah itu, ia memberikan lipstiknya untukku.
"Ini spesial untukmu, Sayang."
Aku terheran dengannya memiringkan kepalaku mengamati merk lipstik yang berbeda dari biasanya kupakai. Memang sih selama ini ia juga suka membelikan lipstik untukku, tapi kali ini ia membelikan lipstik limited edition.
"Sayang, tumben kamu membelikan merk lipstik yang berbeda untukku."
"Karena aku ingin melihat bibirmu lebih berkilauan dari biasanya," lontarnya mengedipkan mata kirinya padaku.
Mendengar lontarannya barusan, detak jantungku semakin tidak stabil hingga aku terus memegangi dadaku dengan senyuman tidak karuan.
"Terima kasih, Sayang," ucapku tersenyum hangat.
"Kamu tidak ingin mencobanya dulu?"
"Kalau begitu tunggu sebentar, ya."
Aku membuka segel kotaknya dan mengambil cermin kecil dari dalam sling bag. Lipstik spesial pemberiannya langsung kupakai sambil tersenyum manis hingga membuat jantungnya berdebar tidak karuan sekarang. Adrian terus mengamatiku, menelan salivanya berat.
"Cantik dan manis sekali istri kesayanganku. Kamu selalu berhasil membuatku semakin jatuh cinta padamu," ungkapnya tulus.
Aku tidak mendengar ucapannya barusan karena sibuk meratakan warna lipstiknya dengan mengusap bibirku menggunakan jari jempolku. Namun aku penasaran dengan ucapannya dengan mendekatkan wajahku pada wajahnya mengedipkan mataku manis.
Adrian merangkul pinggangku sambil menyelipkan helaian rambutku ke belakang telingaku.
"Kamu cantik sekali, Sayang. Setiap kali aku melihat kecantikanmu, rasanya aku tidak kuat melihatnya."
"Wah, mama cantik sekali!" puji Victoria berdecak kagum.
"Terima kasih anakku yang imut." Aku mengelus kepala Victoria pelan.
"Nanti kamu juga bisa cantik seperti mama kalau sudah dewasa." Adrian mengelus kepalanya Victoria pelan.
Sorot mataku kembali tertuju pada suamiku. Secara spontan tangan kananku menyentuh puncak kepalanya.
"Aku juga tidak kuat melihat ketampananmu setiap saat."
"Kamu bisa saja berkata seperti itu."
Tak terasa waktu berjalan cepat. Kini hari sudah gelap waktunya membacakan dongeng untuk Victoria sebelum tidur. Namun karena hari ini cerah jadinya kami bisa mengamati bintang lagi menggunakan teropong bintang. Terutama Victoria tersenyum ceria ketika mengamati bintangnya sampai berjingkak-jingkak.
"Mama papa! Bintangnya banyak sekali!"
"Victoria mau lihat bintang sampai puas juga tidak masalah. Yang penting jangan sampai terlalu larut nanti bisa sakit," saran Adrian.
"Oke, Papa!"
"Untung saja papa membelikan teropong bintang ini spesial untuk kalian berdua. Karena papa tahu kalian sangat menyukai bintang terutama mama sampai ketagihan mengamatinya," tutur Adrian merangkul bahuku.
"Tidak sampai ketagihan juga. Daripada ketagihan mengamati bintang, mendingan ketagihan mengamatimu saja," ungkapku berterus terang.
"Kamu barusan bilang apa, Sayang?" Adrian mendongakkan kepalanya tepat di hadapanku dengan menyunggingkan senyuman nakalnya.
"Setiap kali memandangimu dan bintang selalu membuatku ketagihan," lontarku pelan berlagak seperti orang polos memalingkan mataku darinya.
"Hoam ...." Matanya Victoria terasa berat membukanya secara lebar sambil mengucek matanya.
"Sini biar papa antar ke kamar papa." Adrian menggendong tubuh mungilnya memasuki kamar kami.
Dengan tanganku yang lincah, aku langsung menyelimuti Victoria dengan selimut tebalnya. Aku dan Adrian membaringkan tubuh tepat di sebelah Victoria memeluknya hangat penuh dengan kasih sayang.
"Mama, besok kita main lagi?" tanya Victoria.
"Boleh banget. Kamu mau main apa besok? Mau main di taman bermain?" tanyaku balik.
"Aku bosan main di taman bermain."
"Walaupun Victoria bosan main di taman bermain, tapi bagi mama sangat menyenangkan bermain bersamamu dan papa di sana."
*****
Sebenarnya Adrian sudah beberapa kali mengajakku dan Victoria bermain bersama di suatu taman bermain. Bagiku setiap momen kebersamaan kami di sana sangatlah berharga. Terutama setiap kali Victoria bermain semua wahana favoritnya, senyuman cerianya sekaligus dirinya selalu tertawa lepas membuatku dan Adrian semakin bahagia.
Saat itu, Victoria berlarian sambil menarik tanganku dan Adrian menuju suatu wahana yang ingin dinaikkinya. Langkah kaki mungilnya terhenti lalu menunjuk sebuah wahana komidi putar dengan jari telunjuknya.
"Mama papa! Aku mau naik kuda!" rengeknya menggoyangkan tanganku.
"Oh, Victoria mau naik komidi putar. Oke, kita bertiga main bersama sekarang!" ajak Adrian menggendong Victoria dan menggandeng tanganku bersemangat.
"Sepertinya papa juga suka naik kuda nih! Ayo berangkat sekarang!" seruku.
Setibanya di tempat wahana tersebut, Adrian mengangkat tubuh Victoria menaikki salah satu kudanya lalu dirinya memeluk Victoria erat dari belakang. Sementara aku ingin menaikki kuda di sebelahnya, Adrian mencegahku tiba-tiba.
"Sayang!" pekiknya.
__ADS_1
Aku membalikkan tubuhku menghadapnya. Adrian mengulurkan tangan kirinya padaku.
"Naiklah bersamaku, Sayang."
"Nanti kalau kita naik bertiga tidak akan muat," lirihku ragu.
"Tenang, Sayang. Tubuhmu kurus pasti bakal muat. Lagi pula tubuh Victoria juga mungil."
"Baiklah kalau tidak muat, aku akan naik kuda sebelah."
Adrian beranjak sejenak mengangkat tubuhku ringan menaikki kudanya. Lalu aku mengulurkan tanganku membantunya menaikkinya di belakangku. Setiap ada kesempatan pasti ia mempergunakannya dengan baik. Adrian melingkarkan kedua tangannya pada perutku menyandarkan kepalanya pada pundakku dengan manja.
"Sudah kukatakan padamu. Pasti akan muat karena kamu dan Victoria tidak gemuk," ucap Adrian.
"Pasti kamu sengaja supaya bisa memelukku terus, 'kan," balasku tersenyum mengambang padanya.
"Kamu tahu juga, Sayang." Adrian mencubit pipiku lembut.
"Aku juga ingin menikmatinya bersamamu, Sayang."
Spontan tanganku memeluk Victoria erat supaya tubuhnya tidak terjatuh saat bermain wahana ini. Ketika kami bertiga sedang asyik bermain, gelak tawa bahagia Victoria membuatku mengecup pipi mungilnya sekilas.
"Victoria sepertinya bahagia sekali bermain komidi putar!" sorakku ikut tertawa bahagia.
"Aku suka main kuda, asyik!"
"Papa juga suka sekali bermain bersama Victoria dan mama." Adrian mengecup pipiku sekilas.
"Sayang! Kamu membuatku kaget saja menciumku tiba-tiba," balasku tersipu malu.
"Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting aku ingin bersenang-senang bersamamu dan anak kita sekarang."
"Ini seru sekali!" Victoria terus melayangkan tangan kanannya ke atas dengan girang.
Memang bermain bersama dengan keluarga kecilku sendiri adalah salah satu hal yang paling bahagia dalam hidupku. Apalagi disela bermain bersama anak, Adrian selalu saja ingin bermesraan denganku tanpa sepengetahuan anak kita.
*****
Mengingat kebersamaan kami waktu itu, rasanya aku dan Adrian sangat merindukan momen itu dan ingin melakukannya lagi. Tapi karena Victoria merasa bosan, sehingga kami harus menuruti sesuai permintaannya.
"Jadinya Victoria ingin bermain di mana? Mau main di pantai?" tanyaku padanya.
"Jangan pernah berkunjung ke pantai!" tegas Adrian langsung.
"Ish kenapa sih kamu sensitif sekali dengan pantai! Aku tahu kamu takut kulitku terbakar nanti!" sungutku bibirku mengerucut.
"Aku tidak suka melihat kulitmu menjadi hitam dan kering nanti! Kamu tidak akan terlihat cantik lagi. Lagi pula kamu hampir setiap hari bekerja di lapangan terbuka, jadinya kamu tidak boleh membiarkan kulitmu terbakar!"
"Aku tidak suka pantai," sungut Victoria melipat kedua tangannya di dada.
"Hmm atau mau piknik bersama di taman?" tawar Adrian dengan ide cerdasnya.
"Benar juga. Sudah lama kita tidak piknik bersama. Jadi Victoria mau berpiknik?"
"Aku mau. Aku suka piknik menyenangkan!" sorak Victoria.
"Oke, kalau begitu besok mama akan membuatkan makanan yang enak untuk piknik nanti."
"Dibantu sama papa juga," tambah Adrian sambil mengedipkan mata kirinya padaku.
"Asyik aku sayang papa dan mama!"
Di saat Victoria sudah tertidur lelap, aku merasakan sentuhan hangat dari suamiku pada keningku tiba-tiba. Adrian beranjak dari ranjangnya perlahan hingga tidak membangunkan mimpi indahnya Victoria lalu melangkah keluar dari kamar. Tingkahnya sedikit aneh membuatku curiga padanya lalu mengikutinya juga keluar dari kamar.
Ternyata Adrian bangun dari tidurnya karena ingin menonton pertandingan sepak bola. Aku menduduki sofa tepat di sebelahnya untuk menemaninya nonton daripada menonton sendirian seperti tidak memiliki istri. Adrian menyadari kehadiranku tepat di sebelahnya langsung pandangannya teralih padaku.
"Sayang, maaf aku tidak bermaksud membangunkanmu," sesalnya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Lagi pula aku sudah terbiasa menemanimu menonton pertandingan sepak bola."
Aku menggeleng pelan sambil menggenggam tangannya tersenyum manis.
"Memang ini keinginanku untuk menemanimu. Aku tidak ingin suamiku menontonnya sendirian."
Adrian langsung mematikan TV membuatku merasa bersalah padanya.
"Kenapa kamu tidak nonton?" tanyaku.
"Aku bisa melihat hasil pertandingannya lewat internet. Menghabiskan waktu bersamamu jauh lebih diutamakan daripada menonton pertandingan."
"Adrian, kalau kamu ingin menonton, aku tidak mempermasalahkannya sama sekali. Aku bisa menemanimu sepanjang malam."
Adrian membiarkanku duduk di atas pangkuannya mendekapku dengan hangat.
"Aku ingin berbincang denganmu saja. Sekarang aku tidak ingin melakukan hal lain lagi. Gara-gara kita sibuk menyelidiki kasus jadi waktu kebersamaan kita berkurang banyak."
"Adrian ...."
"Penny, aku tidak menyangka anak kita sudah besar dan cerdas. Aku tidak menyangka waktu berjalan dengan cepat."
"Aku merasa baru saja melahirkan anak kita dan mengurusnya sampai tidak bisa tidur nyenyak. Tapi aku tidak pernah mengeluh karena ini demi anak kita sendiri."
"Bagaimana kalau kita memiliki anak kedua?"
Tawarannya barusan membuatku terkejut hingga membulatkan mataku dengan sempurna. Adrian tersadar dengan lontarannya barusan lalu kepalanya menunduk lesuh.
"Aku hanya bercanda, Penny. Aku tahu mengurus seorang anak itu sangat melelahkan sampai kamu terjatuh sakit."
Senyuman khas terukir pada wajahku lalu kedua tanganku melingkar pada lehernya.
"Kalau kamu mau memiliki anak lagi tidak masalah bagiku. Yang terpenting kamu akan selalu jadi ayahnya anakku. Kita bisa melakukannya."
"Penny ...."
"Apa kamu masih ingat sewaktu sebulan setelah pernikahan kita? Di saat aku masih belum mengandung Victoria."
"Momen indah waktu itu, aku masih mengingatnya dengan jelas sampai sekarang."
*****
Sebulan setelah pernikahan...
Waktu itu di saat hari libur setelah melakukan dinner romantis bersama Adrian, ia mengajakku menuju suatu tempat yang masih dirahasiakan saat ini. Seperti biasa hobinya suka memberiku kejutan spesial yang selalu menyentuh hatiku. Kini aku tidak bisa melihat apa pun, hanya bisa merasakan sentuhan tangannya.
Adrian menuntunku turun dari mobilnya perlahan sambil terus menutupi pandanganku dengan kedua tangannya sambil melangkah menuju suatu tempat. Rasa penasaranku semakin meningkat ingin menepis tangannya dari pandanganku. Pada akhirnya aku memutuskan untuk membuka suara.
"Sayang, sebenarnya kita ada di mana sih?" tanyaku penasaran.
"Coba kamu tebak!"
"Kamu mengajakku ke akuarium lagi?"
"Bukan."
"Restoran tempat kamu melamarku?"
"Untuk apa aku menutup matamu kalau pernah mengajak ke kedua tempat itu. Coba kamu tebak lagi deh!"
"Ayolah, Sayang! Aku sudah tidak sabaran!" rengekku manja seperti anak kecil.
Adrian menghentikan langkah kakinya lalu menepikan kedua tangannya dari pandanganku.
"Buka matamu, Sayang."
Aku langsung membuka mataku mengamati sekeliling tempat ini. Aku berdecak kagum ketika memandang keindahan taman yang pohonnya dihiasi lampu kelap-kelip serta terdapat air mancur di tengah taman membuat suasananya sangat romantis walaupun jarang sekali orang berkunjung ke sini. Untuk melepas kesenanganku saat ini, aku berlari dengan girang mengelilingi taman ini dengan tersenyum bahagia yang membuat dirinya semakin jatuh cinta padaku. Sedangkan Adrian tertawa bahagia menghampiriku lalu mendekapku hangat.
__ADS_1
"Bagaimana, Sayang? Tempatnya indah, 'kan?" tanyanya.
Aku membalikkan tubuhku menghadapnya dengan sorot mata bahagia.
"Inilah kenapa aku sangat mencintaimu, Adrian. Kamu memang pria paling berbeda dari lainnya. Kamu selalu memberiku kejutan sederhana namun kejutan yang kamu berikan selalu bermakna bagiku. Aku sangat menyukai kejutan ini sampai bingung ingin berkata seperti apa."
"Kebetulan hari ini langitnya tidak berawan jadinya kita bisa melihat bintang bersama sekarang." Adrian mengangkat kepalaku sambil menunjuk dua bintang yang terlihat di langit.
Pandanganku berbinar ketika memandangi beberapa bintang berkelap-kelip di langit membuatku terkagum.
"Jarang sekali mengamati bintang di tempat seperti ini bersama suamiku. Lalu kebetulan juga ada dua bintang yang muncul di langit malam ini."
"Dua bintang itu adalah kamu dan aku yang menyinari keindahan langit malam."
Di saat kami berdua sedang memandangi bintangya, tiba-tiba ada sebuah bintang jatuh entah dari mana asalnya. Mulutku langsung terbuka lebar membentuk huruf 'O' karena ini pertama kalinya aku melihat bintang jatuh dengan pria yang kucintai.
"Ada bintang jatuh! Ayo cepat buat keinginanmu, Adrian!"
Aku langsung memejamkan mataku berdoa untuk keinginan yang ingin kudapatkan selama ini. Aku menginginkan sebuah hadiah yang spesial dan bermakna bagi kami berdua. Begitu juga dengan dirinya yang sedang berdoa untuk keinginannya.
Kami berdua serentak membuka mata lagi saling memandang tersenyum bahagia. Dilihat dari ekspresi wajahnya sekarang, ia pasti meminta keinginan yang sangat spesial juga sepertiku.
"Apa keinginanmu barusan?" Kami berdua saling melemparkan pertanyaan yang sama.
Aku dan Adrian tertawa satu sama lain karena kekompakkan kami barusan tanpa disengaja.
"Kamu duluan, Penny. Aku penasaran dengan keinginanmu."
Aku menghela napasku panjang bersiap mental sebelum memberitahukan keinginanku sangat istimewa.
"Aku ingin memiliki anak yang lucu dan cerdas seperti kita. Sudah sebulan sejak kita menikah namun tidak ada tanda aku sedang mengandung. Memang memiliki anak itu cukup sulit, tapi jika seandainya keinginanku terkabul cepat, sungguh ada keajaiban bagi kita."
"Penny, keinginanmu pasti akan cepat terkabul. Karena keinginanku juga sama denganmu. Aku ingin segera memiliki anak yang nantinya akan menghiasi keluarga kecil kita."
"Aku tidak sabar memiliki anak bersamamu."
"Ulurkan tanganmu, Penny."
Aku menurutinya mengulurkan tangan kananku kemudian ia menuliskan sesuatu pada telapak tanganku.
"Kamu menulis apa, Adrian?" tanyaku penasaran tertawa gemas.
Adrian melekatkan telapak tanganku pada dadaku lalu mempererat pelukannya.
"Aku menuliskan namaku sendiri menandakan bahwa hanya diriku yang mampu menerobos memasuki hatimu."
"Adrian ...."
Adrian mempererat pelukannya pada pinggangku lalu memiringkan wajahnya mendekatiku melakukan ciuman pada bibirku tiba-tiba. Karena sekarang jarang sekali orang berkunjung ke taman ini, tanpa penolakan aku melingkarkan tanganku pada punggungnya dan memejamkan mataku menikmati sentuhan manis, hangat, dan penuh kasih sayang darinya sedikit lama durasinya. Ia melepas tautan bibirnya sebentar untuk memberi jeda sambil membelai rambutku perlahan. Gelak tawa bahagia kami berdua membuatnya ingin melanjutkan aksinya lagi. Adrian melakukan sentuhan bibirnya pada bibirku kali ini tidak memedulikan waktu. Hangat dan manisnya sentuhan darinya membuatku semakin ingin menikmatinya lebih lama lagi sambil terus memainkan bibirku perlahan. Sementara dirinya sambil menikmatinya dengan meraba kepalaku perlahan hingga punggungku.
Setelah cukup puas melakukan aksi ciumannya padaku, ia melepas tautan bibirnya sambil mengusap bibirku merah cerah yang sedikit basah dengan jari jempolnya.
"Udaranya dingin sekali," ujarku melekatkan kedua tanganku di dada.
"Kamu ingin pulang sekarang?"
Aku menggeleng pelan mengajaknya duduk di sebuah bangku taman kosong dekat air mancur. Spontan ia mendekapku hangat membiarkan kepalaku bersandar pada pundaknya lebar.
"Aku masih ingin menikmati keindahan tempat ini, bolehkah? Lagi pula kamu sudah bersusah payah mencarikan tempat ini untukku," tanyaku.
"Boleh asalkan kamu jangan sampai terserang flu karena udara dingin."
"Sekarang aku sudah tidak kedinginan lagi karena ada kamu yang selalu menghangatkan tubuhku."
Semenjak hari itu seiring waktunya berjalan, aku merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhku dalam kurun waktu seminggu. Sudah dua hari berturut-turut aku mengalami mual setiap pagi dan terkadang sampai sepanjang hari. Terutama hari ini, aku merasakan mual di pagi hari hingga membuat Adrian sangat mencemaskanku.
"Sayang, sebaiknya kita pergi ke dokter saja," sarannya sambil merangkul bahuku.
"Aku baik-baik saja. Ini karena aku masuk angin," tolakku halus.
"Bukan dokter umum. Tapi dokter kandungan."
Aku hening sejenak terkejut mendengar lontarannya barusan. Memang aku merasakan ini bukan mual biasa, apalagi belakangan ini aku makan cokelat lebih banyak dari biasanya dan juga sikap manjaku padanya sedikit berlebihan. Namun aku masih sedikit ragu bahwa aku sedang mengandung anakku.
"Tapi kalau bukan karena aku mengandung anak kita gimana?" tanyaku ragu.
"Aku yakin pasti kamu sedang mengandung dilihat dari cara makanmu yang tidak biasanya dan tingkah lakumu aneh belakangan ini. Sayang sekali kita tidak membeli testpacknya."
"Baiklah kalau begitu kita pergi ke rumah sakit sekarang saja. Tapi jangan kecewa ya kalau hasilnya berbeda dari yang kamu harapkan."
Setibanya di rumah sakit, aku langsung melakukan pengecekan dengan beberapa prosedur yang diterapkan. Usai itu, sang dokter kandungan menghampiriku dengan senyuman bahagia.
"Jadi hasilnya bagaimana, Dok?" tanyaku sudah tidak sabaran.
"Selamat Anda sedang mengandung anak Anda!"
Diriku kini ingin menangis terharu atas kebahagiaan yang sedang kualami sekarang. Terutama Adrian yang mendengar kabar gembira ini langsung mendekapku hangat dengan tangisan harunya. Dokter kandungan tersebut ikut bahagia juga memandang kami berdua.
"Anda sangat beruntung memiliki suami yang sangat menyayangi Anda."
"Ya begitulah, kalau saya berhasil mengandung anaknya langsung reaksinya seperti ini hehe."
"Anda harus ingat selalu menjaga istri Anda dengan baik. Jangan pernah membiarkannya kelelahan dan jangan memberinya makanan yang penuh pantang karena sangat memengaruhi kesehatan bayi Anda nanti," pesan dokter tersebut kepada Adrian.
"Baiklah saya mengerti. Terima kasih atas sarannya, Dok," ucap Adrian tersenyum hangat.
"Kalau begitu kami permisi dulu," pamitku sambil merangkul tangannya Adrian.
Di tengah perjalanan, Adrian menggenggam tanganku sambil tersenyum ceria menampilkan gigi putihnya terus. Senyumannya saat ini membuatku tertular olehnya sehingga aku juga ikutan tersenyum sambil terus mengamatinya sekarang. Ia tidak mengendarai mobilnya menuju apartemen kami, namun menuju ke taman waktu itu kami mengamati bintang jatuh.
Setibanya di sana, Adrian menggandeng tanganku sambil mengayunkannya mengelilingi tamannya. Gelak tawa bahagianya ditambah sorot matanya terfokus padaku membuat diriku kini terpaku padanya mengukir senyuman khasku. Adrian menghentikan langkah kakinya tepat di tengah air mancur tamannya lalu menyentuh pundakku.
"Sayang, aku tidak menyangka doa kita waktu itu terkabul secepat gini. Aku kira berdoa pada bintang jatuh itu hanya mitos," ucapnya girang.
"Karena itu adalah doa kita berdua jadinya cepat terkabul."
Tangannya menyentuh perutku lalu mengelusnya pelan.
"Aku tidak sabar menanti malaikat kecil kita. Akhirnya aku akan menjadi seorang ayah."
"Kamu akan menjadi ayah yang selalu berhati lembut, Adrian."
"Penny, mulai sekarang setiap hari aku akan mengantarmu dan menjemputmu pulang kerja walaupun aku sibuk bekerja. Kalau kamu tidak enak badan merasa mual terus, aku akan merawatmu sepanjang hari. Kalau mau makan cokelat yang banyak, aku akan membelikan semua cokelat yang mahal dan enak khusus untukmu. Atau mungkin kamu ingin makan apa pun itu, tinggal beritahu padaku saja," ucapnya memelukku hangat sambil mengusap rambutku.
"Kamu tidak usah berlebihan gitu. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kalau kamu sibuk bekerja, sebaiknya jangan memaksakan dirimu."
"Tidak masalah. Aku lebih mengutamakan kesehatan bayi kita dan juga kamu yang nantinya akan menjadi seorang ibu dari anakku." Adrian mengecup keningku mendalam penuh kasih sayang.
"Memang memiliki suami sepertimu sangat langka di dunia ini. Aku sangat yakin tidak ada satu pun pria yang berusaha keras merawatku sampai merelakan pekerjaan sepertimu demi diriku."
Adrian berjongkok tepat di hadapanku mengecup perutku yang masih belum membuncit lalu mengelusnya lembut.
"Anakku, kamu tidak perlu khawatir. Papa pasti selalu merawat mamamu supaya kamu juga sehat nantinya. Papa berharap kamu akan menjadi anak yang sangat baik hati dan ramah."
"Ish padahal aku baru saja mengandung. Mana mungkin dia bisa mendengarnya!"
"Tidak apa-apa, Sayang. Lebih baik memberikan pesan untuknya lebih awal."
"Jadilah anak yang kuat dan sehat selalu, ya." Aku juga berpesan sambil mengelus perutku.
"Nanti saat kamu sudah melahirkan bayi kita, kita harus merawatnya penuh kasih sayang dan cinta."
"Tentu saja supaya anak kita menjadi anak yang baik dan berhati lembut seperti kita."
*****
__ADS_1
Kembali lagi pada saat aku dan Adrian sedang berbincang di sofa ruang tamu.