
Kali ini aku tidak akan salah menangkap tersangka. Jika bukan Josh atau Felix pelakunya, pasti pelakunya itu bisa jadi teman dekatnya Felix. Aku serba salah dalam menyelidiki kasus ini, jika aku mendatangi Felix sekali lagi, bisa jadi ia akan menjadi korban selanjutnya yang akan dibunuh. Emma teman dekatnya Maria, dibunuh tepat di saat setelah aku mengunjungi rumahnya. Pelakunya pasti mengikutiku selama ini dari belakang sehingga tahu pergerakanku. Pasti pelakunya bersembunyi di suatu tempat diam-diam. Cepat lambat, pelaku itu pasti akan menampakkan dirinya lalu menangkapku juga sama seperti korban lainnya.
drrt...drrt...
Ponselku berdering tiba-tiba. Aku mengambil ponselku tergeletak di mejaku dan melihat nama penelepon. Tumben sekali Reporter Yulia menghubungiku setelah dua bulan ini sejak kasus Pak Colin berakhir. Aku langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Yulia, ada apa meneleponku?"
"Ada sesuatu penting aku akan sampaikan padamu. Apakah kamu punya waktu luang sekarang?"
"Untuk saat ini sih aku sedang tidak terlalu sibuk. Kita mau bertemu di mana?"
"Ketemu di Kafe dekat kantorku. Aku tidak boleh memperbincangkan hal ini di kantorku."
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang juga. Tunggu aku sebentar!" Aku menutup panggilan telepon itu terburu-buru berlari keluar dari kantorku, lalu memanggil taksi di jalanan.
Setibanya di Kafe tempat pertemuan kami, aku memesan kopi terlebih dahulu agar fokus bekerja. Aku menghampiri Yulia sedang duduk sendirian memandangi tangannya gemetar dengan gugup. Sebenarnya aku sangat penasaran apa yang ingin dibicarakannya sampai terlihat ketakutan.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Yulia."
"Bagaimana kabarmu?"
"Ya begitulah, setiap hari aku kerjaannya fokus dengan kasus kejahatan dan menangkap pelaku kejahatan. Sedangkan kabarmu bagaimana?" tanyaku balik.
Yulia mengangguk santai. "Aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih sudah membujukku dua bulan yang lalu. Kini rasanya bebanku sudah berkurang dan aku hidup tenang seperti biasanya."
"Omong-omong, kamu ingin bertemu denganku ada apa, ya?" tanyaku mulai fokus pada inti pembicaraan.
Raut wajahnya berubah drastis dalam sekejap. "Begini ... tadi saat aku sedang membereskan surat kabar di gudang penyimpanan, aku menemukan artikel sangat aneh."
Aku memajukan kepalaku penuh penasaran. "Artikel apa itu?"
Yulia mengeluarkan surat kabar itu dari tasnya sambil menatap sekeliling Kafe dengan takut dan memberikannya padaku. "Artikel ini ditulis setahun yang lalu, jika dilihat dari tanggal penulisan di surat kabar ini. Ini mengenai dua orang gadis yang menghilang secara misterius tiba-tiba."
Aku membaca surat kabar ini juga bingung. Bahkan aku sebagai seorang polisi tidak pernah mendengar berita orang menghilang. Apakah mungkin dua gadis ini menghilang karena sengaja diculik? "
Yulia menunjuk judul artikel ini. "Bukankah ini terdengar sangat aneh? Kenapa berita ini tidak pernah muncul di segala media?"
"Apa bosmu itu mengetahui ini?"
"CEO Josh tidak pernah mengungkit masalah berita ini selama ini."
Jika dipikir-pikir, kemungkinan besar dua gadis ini juga ada kaitannya dengan kasus ini. Karena semua korban di kasus ini berjenis kelamin wanita. Apakah psikopat itu sengaja menargetkan wanita? saat ini aku hanya bisa memperingatkan Yulia berwaspada supaya ia tidak menjadj korban. "Aku bukan bermaksud menakut-nakutimu, sepertinya artikel ini ada hubungannya dengan kasus yang sedang kuselidiki sekarang."
Raut wajahnya gelisah. Apalagi ia pasti jadi teringat dengan kejadian kasus pembunuhan dua bulan yang lalu membuatnya ketakutan sekarang. "Tapi bukankah metodenya agak sedikit berbeda ya? Aku mendengar dua korban yang ditemukan dalam kasus ini dibunuh dengan cara dicekik dan ditemukan tergeletak. Sedangkan dalam artikel ini, dua gadis ini tidak ditemukan sekali tanpa ada jejak yang tertinggal."
__ADS_1
"Ini hanya persepsiku saja. Karena kedua korban adalah seorang gadis. Pasti ada sesuatu yang aku terlewatkan lagi."
"Tapi karyawan di kantorku tidak bertingkah mencurigakan. Mereka tidak ada alasan yang tersembunyi untuk menyembunyikan berita penting ini."
Aku menghela napas lesu memijit pelipis. "Seandainya saja, artikel ini menyebutkan nama korbannya secara langsung, pasti akan lebih mudah bagiku menemukannya."
"Mungkin kamu harus menanyakan ini kepada bosku secara langsung. Siapa tahu ada sesuatu yang diketahuinya," usulnya.
"Untuk saat ini, sebaiknya kamu harus tetap berwaspada. Aku takut kamu akan menjadi target bagi pembunuhnya untuk saat ini. Mengenai artikel ini, kamu jangan pernah memberitahu kepada siapa pun kecuali aku atau Adrian," bisikku pelan sambil mengamati sekeliling Kafe takut ada seseorang mengikutiku lagi.
Setelah aku selesai berbincang dengan Yulia panjang lebar, ia berpamitan denganku kembali ke kantornya. Untuk surat kabarnya, sementara aku menahannya di tanganku dulu supaya lebih aman. Aku mengambil ponsel di saku jaketku dan menghubungi Josh bertemu denganku.
"Maaf Josh, bisakah kita bertemu sekarang?"
"Boleh saja, kita bertemu di mana?"
"Di Kafe dekat kantormu."
"Baiklah, aku akan tiba di sana dalam beberapa menit." Josh menutup panggilan teleponnya.
Beberapa menit kemudian, Josh melangkahkan kakinya cepat memasuki Kafe lalu menghampiriku dengan napasnya terengah-rengah.
"Maaf, apakah kamu menungguku lama?"
Dengan sigap Josh menempati kursi ditempati Yulia tadi di hadapanku. "Kamu ingin berbicara denganku mengenai apa?"
Aku tidak mengatakan mengenai artikel itu langsung dengannya. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya memercayainya sehingga aku menanyakannya secara tidak rinci supaya ia tidak semakin penasaran.
"Aku mendengar dari salah satu karyawanmu bahwa ada sebuah artikel yang disembunyikan sejak setahun lalu dan tidak pernah diungkapkan di seluruh media," ucapku berbasa basi dengannya terlebih dahulu sebagai pembuka perbincangan kami.
Josh membelalakan mata. "Apa? Artikel yang disembunyikan? Aku tidak tahu selama ini."
"Apa kamu yakin?" tanyaku balik.
Josh mengernyitkan alis. "Iya, tapi kenapa karyawanku bisa melaporkan hal ini kepadamu?"
"Mungkin karyawanmu keliru, bisa juga artikel itu berita hoax jadinya tidak pernah dipublikasikan hingga sekarang." Aku berpura-pura mengatakan ini supaya ia tidak menanyakan artikelnya mendalam.
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba tertarik dengan artikel itu?" tanya Josh semakin penasaran denganku.
"Tidak kok. Aku hanya penasaran saja kenapa berita itu tiba-tiba tidak disebarluaskan di internet. Lagi pula juga tidak ada kaitannya dengan kasus yang sedang kuselidiki sekarang ini. Itu hanya berita mengenai dunia hiburan saja," jawabku berpura-pura tidak tahu sambil menikmati kopi.
Aku kembali fokus membaca surat kabar ini di kantor. Ini sangat mencurigakan bagiku, kenapa artikel ini dikubur begitu saja. Seandainya nama penulis surat kabar ini tertera, aku pasti bisa menanyakannya langsung apa yang disembunyikannya dariku.
Sementara di saat aku sedang terfokus pada artikelnya, tiba-tiba Nathan menghampiriku. "Kamu sedang melihat apa, Penny?"
__ADS_1
Dengan sigap aku menyimpan surat kabar ini di dalam tasku. Aku sengaja tidak ingin memberitahukan anggota timku karena aku juga masih ragu dengan persepsiku tadi. "Aku hanya sedang membaca surat kabar hari ini saja."
"Kamu kuno sekali, Penny. Sama seperti orang tua saja membaca surat kabar di era seperti ini. Kamu bisa membacanya melalui internet sekarang," sindir Nathan menertawaiku puas.
Aku berniat menyimpan rahasia, berujung menerima sindiran. Aku mendengkus kesal mengepalkan tangan kananku. "Ish Nathan, kamu teganya menyamakanku dengan orang tua!"
Nathan menunduk gugup. "Kamu galak sekali. Padahal aku hanya bercanda saja, Penny."
"Nathan, ayo kita pulang sekarang!" ajak Tania merangkul tangan Nathan.
Kebetulan Tania ada di sini. Aku sudah tidak bisa menahan kekesalanku pada Nathan yang menyindirku terus. "Tania, suamimu ini bagaimana sih! Masa menyamakanku dengan orang tua!"
"Oh, jadi kamu meremehkan, Penny," Tania menjewer telinga Nathan, menyunggingkan senyuman usil.
"Aduh sakit, Tania!" keluh Nathan meringis kesakitan sambil menyentuh telinganya.
"Makanya kamu jangan meledek temanmu sendiri seperti itu!"
"Iya deh aku tidak akan meledek kepala detektif kita lagi."
"Ayo kita pulang sekarang! Tubuhku terasa sangat lelah nih."
"Sudah sana cepat kalian pulang!" Aku mengisyaratkan mereka berdua dengan mengibaskan tanganku untuk mengusirnya.
"Kamu sendiri harus segera pulang, Penny. Nanti Adrian menunggumu lama sendiri di luar sana," Tania menepuk pundakku.
"Iya aku baru mau pulang sekarang, lihat nih aku sedang bersiap-siap," ucapku sambil membawa tas kerjaku.
Dengan sigap aku berlari keluar dari kantor menghampiri Adrian yang sedang menungguku di luar sana. "Kamu pasti sudah menungguku lama di sini."
Adrian merangkul pundakku erat. "Mau selama apa pun, aku tetap akan menunggumu di sini menjemputmu pulang,"
Aku memanyunkan bibir memukuli lengannya pelan. "Ish jangan gitu dong! Nanti kalau kamu terserang flu gimana!"
"Kalau terserang flu karena kamu sih, aku tidak mempermasalahkannya sama sekali," balasnya santai mengedipkan matanya.
Aku mengelus pipinya gemas. Berkat gombalannya, semua beban pikiranku lenyap dan aku bisa tertawa juga setelah seharian aku jarang tersenyum. "Dasar nakal, Adrian! Kasihan kamu pasti menungguku sangat lama sampai kakimu terasa pegal."
Adrian mencolek hidungku sekilas. "Kamu sangat berlebihan. Padahal aku hanya menunggumu sekitar lima menit."
"Karena aku sangat perhatian padamu."
"Aku juga selalu perhatian padamu sampai rela menunggumu tidak pernah bosan."
Saat aku sedang memasuki mobilnya Adrian, aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasi kami berdua dari belakang. Saat aku menolehkan kepalaku, tidak ada siapa pun di sana.
__ADS_1