
Aku memasuki ruang interogasi sambil membawa semua barang bukti untuk menginterogasi Josh. Pada saat bersamaan Nathan menuntun Josh memasuki ruang interogasi. Nathan meninggalkan kami sendiri di sini. Sekarang situasi mulai tegang, aku menatapnya dengan tatapan tajam rasanya aku ingin membunuhnya akibat apa yang diperbuatnya terhadapku dan Adrian.
Aku memainkan pulpenku. "Kita tidak perlu membuang waktu, mari kita mulai interogasinya."
"Bagaimana dengan keadaan Dahlia dan Wenny?" tanya Josh dengan polos.
Sikapnya terlihat tidak berdosa sama sekali membuatku tidak bisa menahan amarahku. Aku membanting tumpukan berkas kasus dengan kasar. "Dasar kamu tidak punya hati nurani sama sekali saat melihat dua orang tidak bersalah itu terbaring koma akibat keegoisanmu! Kamu masih dengan beraninya menanyakan keadaannya!"
"Ya sudah, kalau begitu cepat langsung interogasi aku. Katanya kamu tidak ingin membuang waktumu."
"Kenapa kamu membunuh Maria dan Emma?"
"Aku tidak akan menjelaskan kejadian itu dua kali. Kamu bisa tanyakan langsung pada pacarmu. Mulutku sudah lelah menjelaskan kejadian itu!"
Aku melipat kedua tangan di dada. "Kamu berani membunuh kedua sahabat itu tapi kamu tidak berani membunuh Dahlia dan juga Wenny. Kenapa kamu hendak menolong mereka berdua? Sebenarnya aku masih penasaran dengan hal itu sampai sekarang."
"Karena kedua sahabat itu tidak bisa menutup mereka dan nyaris menghancurkan rencanaku! Sedangkan Dahlia dan Wenny itu merupakan cinta pertamaku jadinya aku tidak tega membunuhnya sampai mati."
Aku menunjuk semua barang korban di meja, memikirkan permainan kata meniru gaya interogasi Fina. "Lalu kenapa kamu menyimpan barang-barang ini di kotak khusus? Kamu menyimpan barang ini bagaikan cenderamata. Padahal kamu ini sangat kaya, buat apa mengambil barang murahan seperti ini."
"Itu sebagai kenangan saja."
"Maksudnya kenangan? Kamu terobsesi dengan semua barang wanita."
"Aku tidak bisa menyimpan jasad tubuh mereka seperti Dahlia dan Wenny di rumah. Sebagai gantinya, aku menyimpan barang mereka."
Aku tertawa remeh sambil menyandarkan punggungku bermalasan pada sandaran kursi. "Ini aneh sekali, kenapa kamu berkata jujur tiba-tiba? Saat aku menginterogasimu sebelumnya, kamu selalu menyangkal perbuatanmu hingga membuatku ditegur Inspekturku."
Tok..tok..tok..
Inspektur William memasuki ruang interogasi lalu berdiri tepat di sebelahku sambil menatap Josh dengan sinis. Ia meletakkan semua benda yang disuap Josh termasuk tumpukan uang tunai.
"Ini barang bukti dia pernah memberiku suap untuk menutupi kasus setahun yang lalu," ucap Inspektur William.
"Terima kasih telah memberiku semua barang buktinya. Aku harap dengan barang-barang ini, hukumannya akan semakin bertambah. Selain aksi pembunuhan dan percobaan pembunuhan, ditambah lagi dengan aksi penyuapan." Aku memelototi Josh tanpa segan.
Inspektur William berjalan mendekati Josh dan mendekatkan kepalanya pada telinganya Josh.
"Sebaiknya Anda menyerah saja, Anda sudah tidak akan bisa lepas dengan mudah." Inspektur William menyampaikan perkataan itu sambil menepuk pundaknya Josh lalu meninggalkan ruang interogasi.
"Kamu lihat sendiri. Bahkan Inspektur William yang pernah bersekongkol denganmu tidak akan pernah memihakmu lagi. Kamu harus mempersiapkan mentalmu di persidangan nanti."
"Tenang saja, aku akan menyewa pengacara yang hebat dan akan memenangkan persidangan itu."
"Aku yakin Adrian pasti akan memenangkan persidangannya. Kita lihat saja nanti!"
Josh bersikap tidak waras menggeser meja kasar. "Awas kamu, Penny! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
"Aku juga tidak akan memaafkanmu dengan mudah setelah apa yang telah kamu perbuat pada Adrian."
"Beraninya kamu!!"
"Interogasinya sampai di sini saja. Sepertinya tidak ada hal lain yang perlu kamu sampaikan padaku."
Aku memanggil petugas polisi untuk mengantarkan Josh ke kantor kejaksaan. Kini tugasku sudah selesai sampai di sini saja. Aku berjalan keluar dari ruang interogasi lalu teman-temanku menyambutku dengan meriah.
"Selamat, Penny! Akhirnya tugas kita selesai juga!" sorak Nathan kegirangan.
"Kamu berlebihan sekali. Persidangannya bahkan belum dimulai, kita belum tahu hasil akhir persidangannya gimana nanti," jawabku merendah.
Tania merangkul pundakku. "Yang pasti sekarang kita sudah bebas, tidak ada seseorang yang akan berani membunuh kita lagi."
"Lalu aku bisa berkencan dengan Adrian sepuasnya," tambahku berjingkak-jingkak.
Nathan memutar bola mata. "Mulai lagi deh kalian bermesraan setiap saat."
Sementara Fina dari tadi tidak membuka suara hanya bisa tersenyum padaku.
Aku mendekatinya. "Bagaimana dengan Hans?"
"Kondisinya sudah semakin membaik, besok dia sudah bisa pulang ke rumahnya," balasnya tersenyum lega.
Bicara soal Hans, aku teringat Adrian sendirian di rumah sakit. "Oh ya, aku harus mengunjungi Adrian sekarang di rumah sakit!"
Fina menepuk pundakku. "Sebaiknya kamu mengunjunginya. Dia pasti sekarang kesepian dan sedang menunggumu."
"Urusan kantor akan kami tangani. Kamu pergi sekarang saja," tambah Tania mengibaskan tangannya mengusirku.
Sebelum mengunjungi rumah sakit, aku mampir sebentar ke suatu restoran beli makanan untukku dan Adrian. Setelah itu, aku melanjutkan perjalananku menuju rumah sakit.
__ADS_1
Aku memasuki kamar VIP lalu berlari menghampirinya sambil meletakkan satu kantong plastik di meja samping ranjang.
"Kamu lama sekali sih!" omelnya mengerucutkan bibir.
"Aku habis dari restoran beli makanan untukmu! Ya sudah kalau kamu mengoceh terus, makanannya untukku semua!" ketusku sambil mengancamnya.
"Aku tidak akan protes lagi. Omong-omong, interogasinya apakah berjalan lancar?"
Aku menampakkan senyuman lega. "Akhirnya dia mengakui semua kejahatannya. Tapi dia tetap percaya diri bahwa pengacara yang disewanya nanti akan memenangkan persidangan itu."
"Kalau seandainya aku gagal memenangkan persidangan itu gimana?" tanya Adrian tiba-tiba membuatku gugup.
Aku ingin menyentil dahinya menyadarkan kecemasannya. Padahal selama ini ia selalu tampil percaya diri saat memakai jubah jaksa. Entah apa yang merasukinya sekarang.
Aku memasang tatapan percaya diri menggenggam tangannya. "Kamu sudah pasti akan memenangkan persidangan itu. Kita berdua sudah susah payah menyelidiki kasus ini bersama, pasti kamu akan memenangkannya. Aku percaya."
"Tiga hari lagi, saat aku sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, mari kita menggeledah kantornya Josh bersama. Sebelum itu, aku harus mengajukan surat penggeledahan paksa."
"Sekalian juga, aku harus menghubungi para saksi terlebih dahulu untuk memastikan bisa menyampaikan kesaksiannya di persidangan nanti."
"Mudah-mudahan, para saksi itu bisa hadir di persidangan nanti."
Aku memasang raut wajah lesu, membayangkan selama penyelidikan, aku berbuat banyak kesalahan terutama saat menangkap Josh pertama kali. "Aku masih merasa bersalah dengan Bu Rina karena kejadian sebelumnya, seharusnya aku memercayainya saja dan sudah menangkap Josh dari dulu."
"Aku yakin Bu Rina akan bersaksi nanti. Dia bukan tipe orang pendendam."
"Kamu tahu dari mana?"
Adrian menunjuk-nunjuk pelipisnya. "Dari instingku."
"Ish, belum tentu instingmu itu benar!"
"Kalau Reporter Yulia, apakah dia sudah mulai bisa berbicara?"
"Aku dengar dari Tania, katanya dia sudah bisa berbicara walaupun tidak bisa berbicara seperti orang normal."
"Syukurlah, kalau begitu sekarang kita sudah bisa tenang."
"Sebelum itu, isi energi dulu." Aku membuka bungkusan makanan dan mengambil sesendok bubur lalu menyuapinya.
"Memang tidak salah aku memilihmu sebagai kekasihku," ucapnya sambil menatapku dengan senyuman manis.
"Tidak. Sudahlah jangan hanya aku yang makan, kamu juga harus makan."
Adrian menyunggingkan senyuman usil merebut sendoknya dari genggaman tanganku lalu mengambil sesendok bubur memasukkan ke dalam mulutku.
Aku mendengkus kesal sambil mengunyah lembut. "Adrian! Kenapa sekarang posisi kita jadi terbalik!"
"Bodoh amat! Pokoknya aku juga ingin menyuapimu."
Tiga hari kemudian, aku dan Adrian beserta anggota kepolisian lainnya mengunjungi stasiun TV BYZ untuk menggeledah satu gedung. Para pegawai di sana heboh mengamati dokumen perusahaan semuanya telah disita pihak kejaksaan. Berita penggeledahan stasiun TV ini sampai menggemparkan satu kota. Bahkan sekarang telah menjadi topik pembicaraan hangat di seluruh media.
Setelah selesai melakukan penggeledahan, aku dan Adrian mengunjungi rumah sakit menjenguk Yulia.
"Bagaimana dengan keadaanmu sekarang?" tanyaku ramah.
"Sudah mulai membaik ... hanya saja ... aku tidak bisa berbicara ... dengan suara keras," sahut Yulia sedikit terbata-bata.
"Tidak apa-apa. Tapi apakah kamu bisa bersaksi di persidangan besok?"
"Aku ... harus menyampaikan ... kesaksianku besok setelah apa yang diperbuatnya waktu itu. Lagi pula hari ini aku sudah ... diperbolehkan pulang."
"Terima kasih telah rela bersaksi di persidangan saat kondisimu masih belum pulih total," ucap Adrian tulus.
"Tidak masalah. Yang terpenting ... pembunuh itu harus dihukum ... berat."
Setelah mengunjungi Yulia, aku dan Adrian mengunjungi suatu Kafe di mana aku meminta Bu Rina bertemu denganku.
Tanganku mulai gemetar, takut Bu Rina akan membentakku karena masih menyimpan dendam waktu itu. "Bagaimana kabar Anda?"
"Saya sehat saja."
Aku menundukkan kepala. "Maaf waktu itu harusnya saya memercayai Anda dan menangkap pelakunya langsung."
"Tidak apa-apa. Lagi pula saya sudah tua dan mata saya rabun begini jadinya tidak ada satu pun orang yang akan memercayai saya."
"Saya ingin Anda bersaksi di persidangan besok. Apakah Anda bisa menghadiri persidangannya?"
"Tapi bagaimana jika mereka semua tidak memercayai kesaksian saya?"
__ADS_1
"Tenang saja, kita juga memiliki bukti yang akurat untuk membuktikan perbuatan jahatnya."
"Baiklah, saya akan menyampaikan kesaksian saya besok."
Sepanjang hari, kerjaanku dan Adrian hanya memastikan para saksi bisa menghadiri persidangan besok.
Malam harinya, setelah aku membersihkan diri, Adrian memanggilku berbincang dengannya sebentar di ruang tamu.
Aku duduk bersebelahan dengannya di sofa. "Ada apa memanggilku, Adrian?"
Adrian mengelus punggungnya. "Tubuhku masih sakit."
"Biar aku oleskan obat untukmu lagi." Aku beranjak dari sofa untuk mengambil obat tapi Adrian menarik tanganku membuatku terjatuh di atas pangkuannya.
Adrian menyunggingkan senyuman usil memelukku erat sambil membelai rambutku lembut. "Kamu di sini menemaniku saja membuat tubuhku semakin membaik."
"Tapi lukamu itu harus diobati supaya cepat sembuh."
"Aku tadi bermaksud membohongimu supaya kamu tidak tidur dulu."
Aku tertawa usil. "Dasar nakal!"
Tangan kanannya membelai rambutku. "Penny, entah kenapa sekarang aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat."
"Sekarang yang terpenting tubuhmu harus pulih total dulu. Persidangannya akan berlangsung tiga hari lagi."
Adrian menghela napas lesu. "Karena kondisi tubuhku seperti ini, aku tidak bisa mengajakmu."
"Tidak masalah. Aku melihatmu sehat saja sudah sangat bersyukur."
Adrian mencium pipiku. "Aku juga bersyukur melihatmu bisa kembali tersenyum ceria."
Sehari sebelum persidangan, aku memasak spaghetti untuk makan malam. Setelah matang, aku menghidangkannya di meja makan. Sedangkan raut wajahnya terlihat sangat gelisah, membuatku mulai mencemaskannya.
"Adrian, kamu kenapa? Kamu tidak suka makanannya?"
"Bukan begitu. Aku masih sangat gugup menghadapi persidangan besok."
"Kenapa gugup? Aku sangat yakin kamu pasti akan memenangkan persidangan."
Adrian memanyunkan bibir. "Bagaimana jika aku sungguh gagal? Josh pasti menyewa seorang pengacara terbaik di kota ini."
Lagi-lagi Adrian tidak percaya diri. Tentunya aku sebagai kekasihnya harus memberi vitamin ekstra untuknya. Aku harus mengembalikan rasa percaya dirinya seperti semula.
"Tidak mungkin. Kamu merupakan salah satu jaksa terbaik di mataku. Demi persidangan besok, aku sampai berdoa terus sepanjang hari ini."
Kepalanya terangkat mulai percaya diri. "Benarkah?"
"Sudah pasti! Aku akan selalu mendukungmu, Adrian! Jangan pernah takut gagal! Jangan pedulikan pengacara itu terbaik atau tidak. Kamu selalu yang terbaik!"
Akhirnya senyuman girang kembali terukir pada wajah tampannya. "Aku sangat terharu ketika kamu selalu mendukungku terus dari belakang. Tenang saja, aku pasti tidak akan pernah mengecewakanmu. Persidangan besok aku pasti akan memenangkannya demi hasil kerja keras kita berdua selama ini."
"Sekarang ayo kita makan! Nanti kalau makanannya dingin jadi tidak enak."
"Kamu tahu saja aku sangat menyukai spaghetti," ucapnya tersenyum bahagia sambil mencicipinya.
Aku memajukan kepalaku penuh penasaran, melihat ekspresi wajahnya menampakkan senyuman ceria. "Bagaimana? Apakah terasa enak?"
"Rasanya sangat enak. Aku jadi semakin bersemangat untuk besok."
Sejenak Adrian meletakkan sendok dan sumpit di piring. "Kebetulan sekali tanggal persidangan itu di saat malam tahun baru. Bagaimana kalau kita merayakan kemenangan kita dan juga tahun baru bersama? Ini pertama kalinya aku merayakan tahun baru dengan wanita yang kucintai."
"Tapi bagaimana dengan makan malam tim?"
"Tenang saja, itu bisa dilakukan di lain waktu. Yang terpenting aku ingin merayakannya berdua denganmu."
Aku mengangguk bersemangat. "Baiklah, nanti aku akan beritahu kepada anggota timku."
"Oh ya, kalau bisa kamu memakai pakaian yang bagus, ya."
Dahiku mengernyit sejenak. "Memangnya kenapa? Bukankah kita merayakannya seperti biasa?"
"Aku tidak ingin penampilanmu terlihat biasa. Hari itu adalah hari yang sangat spesial untuk kita berdua."
Entah kenapa aku merasa ada sesuatu istimewa akan terjadi besok. Aku jadi tidak sabar menantikannya. Aku hanya bisa menampakkan senyuman anggun. "Baiklah, aku akan memilih pakaian bagus untuk kencan kita nanti."
Adrian beranjak dari kursinya menghampiriku lalu membiarkanku duduk di atas pangkuannya sambil bermanja denganku. "Aku ingin bermanja denganmu sekarang, bolehkah aku melakukannya?"
Aku mencubit pipinya lembut "Boleh, tapi kamu juga harus menghabiskan spaghetti buatanku. Aku susah payah masak demi pacar kesayanganku."
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa berkencan denganmu lagi setelah sekian lama. Akan kupastikan kencan besok adalah salah satu momen terindah dalam hidupmu."