
Usai makan malam, sambil melemaskan tubuhku yang sudah pegal-pegal, aku membaringkan tubuhku di atas sofa sambil memainkan ponselku. Sementara Adrian baru saja selesai mencuci piringnya menghampiriku lalu membiarkanku tidur di atas pangkuannya. Aku menaruh ponselku di atas meja dan membenamkan kepalaku pada tubuhnya dengan manja.
"Kalau mau tidur, kamu tidur di atas pangkuanku saja. Aku jamin kamu tidak akan sakit kepala lagi," ucapnya mengecup dahiku.
"Memang kamu ini obat terbaikku di saat aku sakit kepala."
"Pikiranmu sangat kacau pasti karena masalah foto korban dan juga benda lainnya, 'kan?"
"Iya nih."
"Sudahlah. Lagi pula ini sudah malam. Sebaiknya kamu pikirkan lagi besok." Adrian mengelus kepalaku lembut.
Sekarang aku tidak ingin memikirkan masalah kasus dulu. Lebih baik aku terfokus dengan vitamin penyemangatku saja yang membuatku semakin ingin bermanja dengannya.
"Kalau begitu aku pinjam pahamu sebagai bantalku, ya."
"Padahal aku ingin mandi sih. Tidak apa-apa deh. Sebentar lagi saja baru aku mandi."
Aku berinisiatif duduk seperti orang normal lagi namun Adrian mencegahku dan menidurkanku kembali di atas pangkuannya.
"Sayang, ini sudah malam sebaiknya kamu mandi saja!"
"Tidak mau! Kalau seandainya aku mandi jadinya waktuku menjadi berkurang untuk bersamamu!" tolaknya langsung.
"Ish kamu bisa saja berpikir seperti itu! Memang dasar anak nakal!"
"Tunggu sebentar! Lebih baik begini saja lebih enak lihatnya."
Adrian ikut bergabung denganku membaringkan tubuhnya di sofa dan mendekapku hangat.
"Sayang, aku jadi teringat sewaktu dulu saat aku baru bertemu denganmu."
"Memangnya ada apa denganku dulu?"
"Saat sedang menyelidiki kasus walaupun sudah malam atau saat berpapasan bertemu denganmu di mana pun, kamu selalu saja membicarakan pekerjaan. Aku sampai merasa sedikit kesal padamu waktu itu karena kamu selalu saja membahas pekerjaan denganku dan tidak ada bahan pembicaraan lainnya," celotehku memanyunkan bibirku.
"Habisnya aku bingung ingin berbicara denganmu seperti apa. Karena wajahmu terlalu cantik jadinya setiap kali bertemu denganmu selalu saja sikapku jadi canggung."
Gombalannya terkesan manis. Namun, setengah pikiranku juga ia tetap menyebalkan.
"Kamu memang menyebalkan, Adrian!" ketusku membalikkan tubuhku menghindarinya.
Adrian membalikkan tubuhku menghadapnya lagi lalu menempelkan hidungnya pada hidungku dengan senyuman godaan.
"Kalau sekarang aku gimana? Apa masih terlihat menyebalkan?"
"Hmm kalau itu sih ...."
"Jawab aku, Penny!" desaknya menyentuh pundakku.
"Sekarang kamu menggemaskan dan perhatian padaku. Bahkan walaupun sekarang kita sedang menghadapi kasus yang rumit, kamu membiarkanku tiduran bersamamu. Beda jauh dengan dulu kamu tidak perhatian padaku sama sekali walaupun sikapmu mulai berubah menjadi perhatian padaku seiring berjalannya waktu." Aku menyentuh pipinya dengan kedua tanganku.
"Lagi pula membahas pekerjaan selama seharian penuh juga tidak menyenangkan sama sekali. Lebih baik kita tidur sekarang saja. Kalau seandainya ada seseorang yang menghubungi kita, mari kita abaikan saja, yuk!"
"Ish kalau kamu mau tidur sebaiknya kita tidur di kamar saja!"
Adrian menjulurkan lidahnya padaku dan mengulum senyuman nakalnya.
"Tidak mau!"
"Terserah padamu deh. Yang pasti jangan mengganggu tidurku juga."
drrt...drrt...
Ponsel salah satu dari kami berdua bergetar di atas meja. Rasanya ingin aku banting ponselnya dan membuangnya ke tempat sampah supaya tidak ada seorang pun mengganggu momen berharga kami. Namun ponsel tersebut terus bergetar hingga membuatku beranjak dari tidurku. Ternyata ponsel yang dari tadi terus mengganggu kami adalah ponselnya Adrian.
"Ponselmu dari tadi bergetar rasanya ingin aku buang deh!" ketusku mengerucutkan bibirku.
"Aduh siapa sih yang mengganggu kemesraan kita dari tadi! Kalau seandainya nomor tidak dikenal, aku bakal menolak panggilannya sampai dia kapok!" keluh Adrian bermalasan mengambil ponselnya.
Adrian menggeser layar ponselnya mengangkat panggilan teleponnya dari salah satu tim investigatornya.
"Ada apa sih kamu meneleponku malam-malam begini?" gerutu Adrian.
"Ini gawat, Adrian! Nielsen ditemukan tewas di rumahnya!"
"Apa? Dia ditemukan kapan?"
"Sekitar beberapa menit yang lalu. Sebaiknya kamu bergegas ke rumahnya."
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang juga."
__ADS_1
Adrian mematikan panggilan teleponnya bergegas memakai jas kerjanya lagi.
"Ada apa, Adrian?" tanyaku kebingungan.
"Nielsen ditemukan tewas di rumahnya. Kita harus pergi ke sana sekarang juga!"
"Apa?" Aku memakai blazerku lagi dan memasukkan ponselku ke dalam sakuku.
Adrian memarkirkan mobilnya tepat di depan rumahnya Nielsen lalu kami berdua langsung memasuki rumah itu sambil memperlihatkan name tag kami.
Situasi rumah ini sangat berantakan. Pasti Nielsen sempat berkelahi dengan pelakunya tadi sebelum pelakunya berhasil membunuhnya kejam. Aku dan Adrian berjongkok tepat di sebelah tubuhnya Nielsen dan mulai mengecek kondisi fisik tubuhnya. Pola pembunuhannya sama persis dengan kejadian pembunuhan yang telah terjadi sebelumnya. Lehernya memiliki luka memar yang cukup parah dan juga bekas tusukkan pada perutnya parah. Namun kali ini luka tusukan itu sedikit berbeda dari sebelumnya. Pembunuhnya menikam Nielsen sedikit terburu-buru hingga tusukannya terlihat tidak beraturan dari biasanya.
"Dilihat dari luka tusukannya sepertinya pelaku sempat panik saat menikamnya," papar Adrian mulai serius.
"Iya sebelum itu mereka sempat berkelahi terlebih dahulu. Wajahnya Nielsen terluka cukup parah."
"Tadinya aku sempat berpikir pelakunya itu memiliki gangguan jiwa seperti penyakit yang dialami Josh. Karena dilihat dari korban sebelumnya adalah wanita. Sedangkan kali ini pelaku membunuh Nielsen tanpa segan-segan."
"Sepertinya pelaku kali ini juga mengidap gangguan jiwa tidak bisa dianggap remeh."
Adrian mengelilingi seisi rumah ini untuk mengecek kondisi barang berharga yang disimpan dalam rumah ini. Ia membuka satu per satu laci penyimpanan di setiap ruangan namun tidak ada benda berharga yang diambil oleh pembunuh. Bahkan perhiasan yang dimiliki tantenya Nielsen masih tersimpan dalam kotak perhiasannya. Hanya saja fotonya Nielsen, ponselnya, name tag seragam sekolahnya, dan kartu pelajarnya tidak ditemukan sama sekali.
"Penny, sepertinya pelaku itu memang benar memiliki gangguan jiwa. Pelaku membunuh para korban secara habis-habisan untuk mengambil tanda pengenal para korban."
"Tapi aku masih bingung sampai sekarang. Sebenarnya apa tujuannya pelaku menyimpan semua tanda pengenal korban? Apa untungnya? Kalau seandainya dia memiliki dendam yang terpendam sejak dulu, pasti dia tidak akan mengambil foto korban karena bisa menghantuinya sepanjang hari," sambungku berpikir serius hingga dahiku berkerut.
"Kalau itu sih aku juga tidak tahu maksud dari pelaku bersusah payah melakukan aksi pembunuhan ini demi mendapatkan barang yang berhubungan dengan identitasnya korban. Yang pasti menurutku, orang ini sama saja tidak waras seperti Josh."
"Omong-omong, paman dan bibinya Nielsen ada di mana, ya?" tanyaku sambil mengamati sekelilingku.
"Kata salah satu petugas kepolisian, mereka berdua diamankan terlebih dahulu di pos keamanan."
"Mungkin sebaiknya kita harus menghampiri mereka sekarang. Siapa tahu mereka mengetahui sesuatu dari kejadian ini."
Aku dan Adrian mengunjungi pos keamanannya menghampiri tantenya Nielsen yang raut wajahnya sangat ketakutan hingga tangannya terus gemetar.
"Permisi apakah Anda adalah tantenya Nielsen?" tanyaku sopan.
Ia tidak menjawabku sama sekali dan meresponku menganggukkan kepalanya.
"Maaf kalau boleh tahu apa yang telah terjadi sebenarnya pada Nielsen?" selidikku.
"Yang pasti selama ini Nielsen sudah diawasi oleh pelaku tanpa sepengetahuan kalian. Apalagi Nielsen dijebak oleh pelakunya sebagai tersangka utama dalam kasus ini," balas Adrian.
"Aku tahu itu. Nielsen sudah menceritakannya kepada kami tadi pagi. Katanya dia baru saja dibebaskan karena terbukti tidak bersalah," ujar pamannya Nielsen.
"Apa mungkin Nielsen mengatakan sesuatu lainnya selain itu?" selidik Adrian.
"Tidak ada lagi sih. Setelah itu dia bergegas berangkat sekolah. Saat itu merupakan pertemuan terakhir kami dengannya," jawab pamannya Nielsen.
"Saya jadi merasa bersalah karena tidak merawatnya dengan baik. Kalau seandainya saya selalu memperhatikannya, pasti dia tidak akan berakhir hidupnya seperti ini," tangis tantenya Nielsen terisak-isak.
"Ini sepenuhnya bukan salah Anda. Tapi pelakunya sudah tidak lagi waras. Urusan penangkapan pelakunya serahkan saja pada kami," ujarku menunjukkan rasa empatiku menepuk-nepuk pundaknya untuk menenangkannya.
Tantenya Nielsen menyentuh kedua tanganku menatapku dengan penuh keyakinan.
"Saya akan mengandalkan sepenuhnya kepada Anda. Saya berharap Anda bisa menangkap pelakunya secepatnya."
"Omong-omong, apa mungkin Nielsen sejak kecil tinggal bersama kalian?" tanya Adrian.
"Tidak sih. Kami mengadopsinya sejak usianya memasuki usia remaja," jawab tantenya Nielsen.
"Nielsen sewaktu kecil tinggal di panti asuhan," lanjut pamannya Nielsen.
"Jadinya selama ini dia tidak tinggal bersama orang tuanya?" tanyaku semakin penasaran.
"Tidak sih."
Ini terdengar sangat tidak asing bagiku. Seingat aku waktu itu Nielsen pernah mengatakan bahwa Angelina dan Gracia juga tumbuh bersama di panti asuhan. Apa mungkin Nielsen sempat tinggal satu panti asuhan dengan Angelina dan Gracia selama ini sebelum berpencar? Aku merasa ada yang tidak beres dengan ini.
"Kalau boleh tahu, nama panti asuhannya apa, ya?" selidikku lagi.
"Violet Orphanage," jawab tantenya Nielsen.
"Omong-omong, kenapa Anda tiba-tiba ingin tahu panti asuhannya?" tanya pamannya Nielsen balik.
"Oh, kalau itu sih Nielsen pernah mengungkit bahwa dia memiliki dua teman yang merupakan anak yatim piatu. Siapa tahu mereka pernah bertemu sebelumnya selama ini sampai hubungan mereka bertiga akrab sekali," ucapku berbasa basi.
"Saya saja bahkan sampai tidak tahu kalau Nielsen ternyata memiliki dua teman wanita yang selama ini selalu menemaninya setiap saat. Memang kami ini telah gagal membesarkannya dengan baik," erang pamannya Nielsen.
"Tidak usah menyalahkan diri Anda sendiri. Yang terpenting sekarang Anda tetap harus berwaspada dan selalu menghubungi saya jika ada sesuatu yang mencurigakan," pesanku sambil memberikan kartu namaku pada tantenya Nielsen.
__ADS_1
"Kalau begitu kami akan mengandalkan sepenuhnya, Detektif Penny," ucap tantenya Nielsen memohon padaku.
Di saat aku dan Adrian meninggalkan area TKP, aku merasa seperti ada seseorang yang mengawasi kami dari kejauhan. Aku mengamati di sekelilingku namun tidak ada seorang pun yang terlihat mencurigakan di sana. Mungkin aku kelelahan akibat mengurus kasus ini jadinya mulai berhalusinasi yang aneh. Pelakunya tidak mungkin menampakkan dirinya di sini karena dijaga ketat oleh petugas kepolisian lainnya.
Aku dan Adrian kembali ke kediaman kami dan melanjutkan penyelidikan kasusnya. Aku memberikan pesan singkat kepada Fina untuk mencari tahu biodatanya Angelina dan Gracia secara lengkap mengenai keberadaan panti asuhan tempat mereka tinggali. Kepalaku terasa sakit lagi hingga rasanya tidak kuat untuk membaca berkas kasusnya lagi. Namun aku tetap memaksanya supaya kasus ini cepat selesai terselesaikan. Tapi Adrian merebut berkas kasusnya dari tanganku begitu saja.
"Sayang, sebaiknya kamu tidur dulu saja. Besok kamu bisa lanjutkan lagi," sarannya sambil memegang kepalaku.
"Tidak apa-apa," jawabku berlagak kuat.
"Kalau kamu sampai bekerja terlalu kelelahan nanti kamu bisa sakit!" tegas Adrian.
"Sayang ...."
"Sudahlah lagi pula ini juga sudah tengah malam. Aku juga sudah ngantuk mendingan kita tidur saja sekarang!"
"Ish di saat begini kamu masih bisa berpikir tidur saja!"
Keesokan harinya, aku kembali fokus bekerja dengan anggota timku. Aku mengadakan rapat lagi mengenai kejadian pembunuhan semalam yang dialami Nielsen.
"Fina, apa kamu telah mencari apa yang aku minta semalam?" tanyaku berwajah serius.
"Iya kamu memintaku mencarinya di saat aku mau tidur! Kamu ini menggangguku saja!" ketus Fina mengerucutkan bibirnya.
"Hehe maaf, Fina. Aku tidak bermaksud mengganggu ketenanganmu di malam hari."
"Ah, padahal tadi dia barusan mencari datanya. Aku melihatnya dengan mataku sendiri!" protes Nathan mengernyitkan alisnya.
"Itu karena Fina sudah lelah semalam jadinya dia lebih mencari datanya hari ini," balas Hans membela Fina.
"Sudahlah kalian tidak usah ribut lagi! Jadinya apa yang kamu dapatkan, Fina?"
"Angelina dan Gracia sejak kecil tinggal di panti asuhan Violet Orphanage. Mereka berdua memutuskan untuk keluar dari panti asuhan tersebut saat mulai memasuki usia remaja."
"Memangnya kenapa kamu tiba-tiba meminta Fina mencari data ini?" tanya Hans mulai penasaran.
"Berarti Angelina, Gracia, dan Nielsen pernah tumbuh bersama dalam satu panti asuhan."
"Bukankah Nielsen selama ini tinggal bersama dengan paman dan bibinya?" tanya Nathan bingung.
"Jadinya selama ini paman dan bibinya mengadopsi Nielsen dari panti asuhan sejak memasuki usia remajanya. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan masa lalu mereka. Pasti pelakunya juga ada kaitannya dengan panti asuhan tersebut," pikirku mulai berspekulasi.
"Tapi yang aku bingungnya. Pelakunya juga mengincar anak-anak yang ada di dalam gedung kelas tambahan. Padahal mereka semua bukan anak yatim piatu." Tania mengerutkan dahinya bertopang dagu.
"Pelaku bisa juga mengincar gedung itu memiliki dua kemungkinan. Pertama untuk mengalihkan pihak kepolisian menyelidiki kasus ledakan gedung itu dengan menjebak Nielsen sebagai tersangka utamanya. Yang kedua mungkin karena ...." Ucapanku terputus dan hening sejenak.
"Karena apa, Penny? Kamu jangan membuat kami penasaran deh!" Fina sudah tidak sabaran memotong ucapanku.
"Ish padahal aku belum selesai bicara tapi kamu main potong saja!"
"Hehe maaf silakan dilanjutkan, Penny."
"Karena ... tidak tahu!" tawaku terbahak-bahak.
"Penny! Kamu benar-benar sudah membuatku penasaran saja!" celetuk Hans.
"Dasar, Penny! Kirain apaan ternyata kamu hanya sengaja mempermainkan kami semua!" bentak Fina memukuli lengan tanganku.
"Habisnya aku juga tidak tahu kenapa pelakunya mau mencuri identitas semua korban yang dibunuhnya. Kalau kasus dulu kan jelas banget karena memiliki maksud dan tujuan tertentu. Sedangkan kali ini tidak jelas sama sekali. Pelaku mengincar kartu identitas korban sebagai cinderamatanya tapi apa hubungannya dengan kasus ledakan gedung. Padahal tidak ada kaitan dengannya."
"Pelakunya sungguh kejam membunuh anak-anak yang tidak berdosa sama sekali!" Tania sangat geram hingga memukuli meja kerjanya dengan kuat.
"Maka dari itu, karena motif pembunuhan pelaku kali ini tidak jelas, jadinya kita harus selalu berwaspada dan jangan bertindak gegabah lagi. Aku sudah kapok menangkap seorang saksi yang aku anggap sebagai tersangka utama dalam kasus pembunuhan ini."
"Iya aku tahu itu, Penny. Kemarin kamu dipanggil sama Danny ke ruangannya karena kamu diomeli olehnya, 'kan," kata Fina.
"Dia tidak memarahiku." Aku mengangkat bahuku memasang raut wajah polosku.
"Hah? Masa sih? Tumben dia tidak cerewet." Hans menyipitkan matanya melipat kedua tangannya.
"Ish kamu jangan bilang dia cerewet dong!" sungutku.
"Terus kemarin dia ngapain memanggilmu?" tanya Nathan semakin penasaran.
"Dia hanya menasihatiku saja supaya selalu berhati-hati. Begitu saja."
"Untung saja kamu tidak diomeli habis-habisan." Tania menghela napasnya lega mengelus dadanya.
"Maka dari itu, sekarang kita tinggal fokus pada kasus ini sampai tuntas."
"Jadinya sekarang kita harus gimana, Penny?" tanya Nathan.
__ADS_1