Good Partner

Good Partner
Part 77 - Motif Pembunuhan


__ADS_3

Sambil menunggu Adrian menjemputku, aku merapikan rambutku dan juga merias wajahku. Walaupun ia ingin aku berpenampilan biasa saja, aku tetap ingin memperlihatkan penampilan terbaikku di hadapannya.


Tiba-tiba saat aku menggunakan lipstik merahku, dadaku terasa sakit, lipstikku jadi tercoret belepotan sekitar bibirku. Ini aneh sekali, biasanya aku tidak pernah merasakan nyeri seperti ini. Rasanya seperti ada seseorang yang menusukku diam-diam. Entah kenapa aku ingin menangis sekarang seperti ada seseorang yang kusayangi terluka. Mungkin itu halusinasiku saja akibat belakangan ini aku bekerja sampai kelelahan. Sebentar lagi pasti rasa nyeri itu akan hilang begitu saja. Aku melepas ikatan rambutku lalu duduk di sofa menunggunya pulang.


Sekitar hampir 15 menit berjalan, Adrian tidak berkunjung pulang. Padahal ia mengatakan akan tiba di sini sebentar lagi. Aku mengambil ponselku untuk menghubunginya tapi panggilannya tidak terjawab. Aku mencoba menghubunginya sebanyak tiga kali tapi ia tetap tidak mengangkat telepon. Firasatku mulai tidak enak mengenai ini. Secara terpaksa aku berangkat sendiri ke sana dengan mengendarai mobilku sendiri.


Setibanya di basement, sambil berjalan menuju mobilku, aku mencoba menghubunginya lagi.


drrr...drrt...


Terdengar suara nada dering telepon tidak asing bagiku. Aku berjalan mendekati asal suara itu, menemukan sebuah ponsel serta tas kerja tergeletak di lantai. Dengan sigap aku mengambil ponsel itu menatap fotoku bersama Adrian saat berkencan terpasang pada wallpaper ponselnya. Jangan bilang rasa nyeri dadaku tadi menandakan pacarku sedang dalam bahaya.


Tubuhku terjatuh lemas, air mataku mulai mengalir dari kelopak mataku. Pasti Josh yang telah menculik Adrian dan membawanya ke suatu tempat.


Aku mendatangi ruang pengendalian melihat rekaman CCTV yang ada di basement. Aku melihat aksi pelaku yang menutupi seluruh wajahnya menyuntik semacam cairan obat pada leher Adrian dari belakang. Aku menatapnya dengan syok membuat tubuhku terjatuh lemas ke lantai. Aku mengambil ponselku dalam kondisi tanganku gemetar memanggil anggota timku.


Setengah jam kemudian, mereka semua menghampiriku kecuali Hans yang masih dirawat di rumah sakit. Tania dan Fina memelukku untuk menenangkanku. Sedangkan Nathan sibuk memantau kamera CCTV itu.


"Penny, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tania pelan.


Aku menangis tersedu-sedu menyandarkan kepalaku pada bahu Tania. "Josh menculik Adrian. Tadi Adrian ingin mengajakku makan malam romantis dan memintaku menunggunya. Aku sudah menunggunya beberapa menit sampai dadaku terasa nyeri. Ini semua salahku, seharusnya aku tetap bersamanya terus."


"Ini bukan salahmu, Penny. Ini semua karena bedebah gila itu! Dia sudah keterlaluan memperlakukan Adrian dan Hans seperti ini!" ketus Fina mengepalkan tangan.


"Aku sangat takut sekarang. Bagaimana jika terjadi sesuatu sangat buruk padanya? Aku takut kehilangannya dan tidak bisa bertemu dengannya lagi."


"Sekarang kamu harus kuatkan dirimu mencarinya sampai ketemu. Kami semua akan membantumu mencarinya. Mungkin kita bisa mengecek CCTV di sepanjang jalan melihat ke mana pelaku itu membawa Adrian," usul Fina sambil mengelus punggungku.


"Benar juga, kita harus periksa rekaman CCTV itu." Aku mulai bersemangat kembali dan bangkit secara perlahan dibantu Fina dan Tania.


Aku dan anggota timku bergegas memasuki ruang pengendalian CCTV jalan, lalu meminta salah satu petugas untuk memutar rekaman kejadiannya. Tapi kamera CCTV sepanjang jalan telah dirusak pelaku sebelum melakukan aksinya.


Aku mengacak-acak rambutku kesal. "SIAL! KALAU BEGINI BAGAIMANA BISA MENEMUKANNYA!"


"Mungkin kita bisa mencari seluruh kota ini. Terutama di daerah terpencil dan juga gudang kosong terbengkalai," usul Nathan.


"Sebaiknya kita saling berpencar mencarinya sekarang," balas Fina.


Sedangkan di dalam rumah megah, asisten pribadinya Josh sedang menghancurkan tombol rahasia gudang anggurnya. Lalu ia memasuki ruang rahasia menghampiri Adrian yang seluruh tubuhnya diikat dengan tali tambang. Sedangkan Josh sedang sibuk mengurus menyuntikkan dua gadis yang sedang koma.


Adrian membuka matanya perlahan, menatap sekeliling dalam pandangan kabur akibat di bawah pengaruh obat suntikan.


"Aku ... di mana?"


Josh menghampiri Adrian, membawa sebuah tongkat besi yang panjang. Ia mengambil sebuah kursi kosong dan menariknya tepat di hadapan Adrian.


"Kamu sudah bangun rupanya," ucap Josh tersenyum licik.


"Lepaskan aku sekarang juga!"


Josh menodongkan tongkat besi di dekat punggung Adrian. "Jangan harap aku akan melepaskanmu setelah apa yang kamu perbuat kemarin! Kamu menghancurkan rencanaku!"


"Aku tidak akan pernah membiarkan Penny menjadi milikmu, Dasar psikopat gila!!" ketus Adrian mengumpat dengan lantang.


"RASAKAN INI!!" Josh memukul punggung Adrian dengan tongkat besinya hingga ada bercam darah mulai timbul pada punggung Adrian.


BRUGHHHH


Adrian mengeluh kesakitan, rasanya tangannya ingin meraih punggungnya, tapi usahanya sia-sia.

__ADS_1


"Ini balasan akibat kamu merusak rencanaku!!"


"Kita lihat saja siapa yang akan menang! Aku akan mengungkapkan semua perbuatan jahatmu sejak setahun yang lalu di pengadilan nanti!"


Josh menarik rambutnya Adrian kasar dengan senyuman psikopat. "Para polisi dan juga pacar kesayanganmu itu tidak akan bisa menemukan tempat ini! Sebaiknya kamu menyerah saja dan membusuk bersama dua gadis itu di tempat ini!"


"Aku lebih memilih membusuk di sini daripada kamu menyakiti Penny dan menodai tubuhnya!"


"Rasakan ini lagi!!" Josh memukuli Adrian lagi dengan tongkat besi berkali-kali hingga membuat wajahnya Adrian dilumuri darah dan juga seluruh tubuhnya.


BRUKK


Pukulan itu terhenti sejenak.


Adrian membiarkan darah mengalir dari mulutnya sejenak, masih berlagak angkuh menatap Josh. "Kenapa berhenti? Pukul aku lagi saja sampai aku mati."


Josh membuang tongkat besi ke lantai. "Aku tidak akan membunuhmu dengan kekerasan. Aku sengaja memukulmu hanya untuk menakuti saja. Lagi pula aku tidak punya alasan membunuhmu."


"Kalau begitu kenapa kamu membunuh Maria dan Emma? Lalu dua gadis yang terbaring koma di sana, kamu pasti membuat mereka seperti itu, 'kan?"


"Karena kamu sudah tidak berguna lagi, maka aku akan menceritakan kejadian yang sesungguhnya."


*****


10 November 2020


Di saat Josh sedang membeli buket bunga untuk diberikan kepada seorang gadis yang disukainya. Ia meminta gadis itu menemuinya di sebuah Kafe. Setibanya di sana, gadis itu sudah menunggu Josh sambil minum kopi.


"Dahlia, aku sangat mencintaimu. Terimalah buket bunga ini dariku dan menikahlah denganku," ucap Josh langsung.


"Maaf aku tidak ingin menikahimu," balas Dahlia tanpa berpikir panjang.


"Kenapa begitu?" tanya Josh meninggikan nada bicaranya.


"Tapi aku sangat mencintaimu, Dahlia. Cintaku sangat tulus padamu."


"Maaf aku tidak bisa berlama-lama di sini, ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Mari kita akhiri hubungan di sini saja, selamat tinggal." Dahlia berpamitan dengan Josh sambil memakai tas sling bag meninggalkan Josh.


Malam harinya di saat Dahlia sedang berjalan kaki menuju rumahnya, tiba-tiba ia ditusuk suntikan hingga membuatnya terjatuh pingsan. Josh menyeret tubuh Dahlia yang sudah tidak berdaya menuju ruang rahasianya dan diberi cairan suntikan lagi membuatnya terbaring koma sampai sekarang.


Keesokan harinya, Josh hendak melamar gadis lainnya dan memintanya bertemu di Kafe yang sama lagi.


"Wenny, aku sangat mencintaimu. Terimalah buket bunga ini dan menikahlah denganku," ucap Josh melamarnya dengan baik.


"Maaf, selama ini aku tidak mencintaimu sesungguhnya. Aku anggap kamu adalah temanku."


"Tapi aku lihat kamu memperlakukanku baik seperti pacar sesungguhnya."


"Pokoknya aku tidak akan menerima lamaranmu, Josh. Sebaiknya kamu menyerah saja, selamat tinggal." Wenny pergi meninggalkan Josh sama seperti Dahlia.


Josh sangat kesal membuang buket bunga itu ke dalam tong sampah. Sama seperti perlakuannya dengan Dahlia, malam harinya ia mengikuti Wenny dari belakang lalu menusuknya dengan suntikan membuatnya koma.


*****


Kembali lagi di saat Josh sedang bercerita kejadian yang sebenarnya pada Adrian. Josh menceritakan insiden itu dengan senyuman psikopat membuat Adrian semakin geram.


"Dasar psikopat gila! Karena hal itu saja sampai membuat mereka berdua koma!" umpat Adrian mendengkus kesal.


"YANG GILA ITU MEREKA BERDUA, BUKAN AKU! MEREKA MENOLAK LAMARANKU PADAHAL AKU SANGAT MENCINTAI MEREKA!" pekik Josh membludak emosinya.

__ADS_1


"CINTA ITU TIDAK BISA DIPAKSAKAN! KAMU YANG TIDAK MENGERTI SAMA SEKALI!"


"Dahlia, Wenny, Maria, aku sangat menyukai mereka semua dan mereka menolakku!"


Sedangkan Adrian masih penasaran dengan masalah Maria dan Josh. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan interogasinya meski keadaan genting.


Adrian menunjuk beberapa kotak berisi semua barang korban. "Sebenarnya apa hubunganmu dengan Maria? Apalagi Emma, teman baiknya Maria? Kenapa kamu mengambil barangnya dan menyimpan barangnya di dalam kotak itu?"


"Kamu pasti selama ini penasaran kenapa aku menunjuk Maria sebagai klienku? Maria itu, aku anggap kekasihku yang sebenarnya tapi karena perlakuannya yang tidak sopan membuatku marah!"


*****


5 Desember 2021 pukul 23.00


Saat Josh sedang berjalan bergandengan tangan dengan Maria di jembatan sungai. Tiba-tiba Maria melepaskan gandengan tangan dan menatap Josh dengan ketakutan.


Maria mengeluarkan kameranya dari tasnya dan memperlihatkan kepada Josh mengenai aksinya kepada Dahlia dan Wenny.


"Bagaimana kamu bisa memiliki foto itu?" tanya Josh dengan gugup.


"Aku tidak sengaja memotretnya saat aku sedang mencoba kameraku saat itu. Ternyata kamu sungguh kejam."


"Itu karena mereka yang menolak lamaranku!" celetuk Josh mulai kesal.


"Kenapa sampai berbuat seperti itu karena hal sepele? Kalau aku jadi mereka tidak akan menerima lamaran pria kejam sepertimu!"


"Apa kamu bilang? Beraninya mengatakan itu tepat di hadapanku!"


"Aku akan melaporkanmu ke kantor polisi sekarang juga dan menyerahkan kameraku ini! Sebaiknya kamu menyerah saja!" Maria berjalan meninggalkan Josh begitu saja, lalu Josh menahan tangannya dengan kuat sambil merebut kameranya.


"Berikan padaku!"


"Tidak akan kubiarkan kamu memilikinya!" Maria membela dirinya lalu menampar Josh dengan keras.


PLAKK


"Beraninya kamu menamparku, Dasar wanita ******!" Josh sudah tidak bisa mengontrol emosinya, mencekik lehernya Maria.


"Lepaskan aku!!"


"Matilah sekarang juga!" Josh mencekiknya dengan keras hingga membuat napas Maria terengah-rengah lalu secara perlahan Maria tewas.


Josh menyadari perlakuannya lalu melepaskan cengkeramannya gemetaran. Ia mengambil kameranya Maria dan membuang tubuhnya Maria ke sungai.


*****


Kembali lagi di saat perbincangan Josh dengan Adrian.


"TEGANYA KAMU MEMBUNUHNYA!" pekik Adrian sangat geram.


"Ini akibat perbuatan mereka yang menolak lamaranku. Lihat saja nanti! Aku akan membuat Penny menjadi istriku secepatnya."


"TIDAK AKAN KUBIARKAN PENNY MENIKAHIMU!!"


Aku dan anggota timku sedang menuju sebuah pergudangan kosong merupakan tempat dulu aku pernah disekap di sana. Kami sudah melakukan pencarian di semua tempat terbengkalai termasuk gang kecil tapi tidak menemukan keberadaan Josh sama sekali. Satu-satunya tempat persembunyiannya itu adalah di rumahnya sendiri.


"Penny, ini sudah larut malam. Bagaimana kalau kita mencarinya lagi besok pagi?" usul Nathan terlihat kelelahan.


"Sebaiknya kita lanjutkan besok saja. Dalam kondisi gelap seperti ini, kita agak sulit mencarinya," ujar Tania melanjutkan pembicaraan Nathan.

__ADS_1


Aku menghela napas pasrah. "Baiklah, kalau itu keinginan kalian. Besok pagi kita akan melanjutkan pencariannya lagi."


Fina menepuk pundakku. "Tenang saja, Penny. Josh tidak akan membunuh Adrian begitu saja."


__ADS_2