
Mataku terbelalak mengamati sosok orang yang ditemui Pak John, sekaligus pembunuh sebenarnya adalah Pak Colin. Aku masih tidak memercayai semua ini dan lanjut menyaksikannya lagi.
Tiba-tiba Pak Colin melempar sebuah tas besar berisi banyak uang pada Pak John. "Apakah jumlahnya masih kurang banyak?"
Pak John tersenyum sinis langsung ingin mengambil tas itu.
Dengan sigap Pak Colin menahan Pak John mengambil tasnya langsung. "Ada satu syarat jika Anda ingin mendapatkan jumlah lebih banyak."
"Syarat apa pun akan saya laksanakan dengan baik."
"Anda harus menghilangkan jejak kejadian pembunuhan yang terjadi selama ini tanpa ada kesalahan sedikit pun. Jika bawahan Anda terus mengincarnya, bunuh mereka saat itu juga," titah Pak Colin dengan kejam.
Aku tersentak kaget seperti terkena sambaran ketika mendengar perkataan Pak Colin barusan. Aku tidak menyangka ia sangat kejam dan bersikap munafik di hadapan kami semua. Dengan sigap aku mengambil ponselku memotret setiap pergerakan mereka sebagai bukti saat penangkapan nanti.
"Baiklah, akan saya jalankan tanpa sedikit kesalahan," sahut Pak John sambil mengambil tas bergegas meninggalkan Pak Colin.
Aku juga harus bergegas pergi dari sini untuk memberitahu hal ini kepada teman-temanku. Aku berlari menuju tempat pengintaianku dan memasuki mobil lagi. Kebetulan sekali mereka semua sudah kembali, maka dari itu, aku langsung menekan tombol starter mobilnya mengendarai mobil menuju suatu Kafe.
"Kamu kenapa, Penny?" tanya Nathan bingung.
"Nanti akan aku ceritakan semuanya pada kalian. Tania, tolong hubungi Adrian untuk bertemu di Kafe sekarang juga!" pintaku pada Tania.
"Baiklah," sahut Tania sambil mengambil ponselnya.
Setibanya di Kafe, aku langsung memesan kopi kesukaanku lalu duduk di sebelah Adrian mulai membicarakan masalah penting ini pada semua temanku.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Penny?" tanya Tania sangat penasaran mengerutkan dahinya.
"Kalian semua jangan terkejut ya, terutama kamu, Adrian," tegasku memperingatkan mereka sambil menatap Adrian.
"Iya, cepat katakan!" seloroh Tania sudah tidak bisa bersabar sambil mengetuk meja.
"Tadi aku melihat Pak John menemui Pak Colin. Pelaku sebenarnya dibalik kejadian semua ini adalah Pak Colin," lontarku berwajah serius.
"APA?!" pekik Nathan sangat keras hingga seluruh pengunjung Kafe memelototinya.
Dengan cepat Tania membungkam mulut Nathan dengan telapak tangannya.
"Ssstt! Sudah kubilang jangan teriak!" bisikku pelan.
"Maaf aku hanya terkejut. Lanjutkan pembicarannya, Penny," sesal Nathan menunduk malu.
"Tapi bagaimana bisa? Bukankah selama ini dia bersikap baik di hadapan kita?" Adrian masih sulit memercayai semua ini hingga wajahnya mulai memucat.
Aku memperlihatkan foto selama pengintaianku pada mereka. "Pak Colin memberikan sebuah tas berisi banyak uang. Dia sengaja menyuap Pak John supaya menghilangkan jejak dengan mudah."
Saat mereka melihat foto itu, mereka sangat terkejut dan bingung ingin berkata apa.
Adrian menelan saliva gugup. "Jangan-jangan kejadian ada penyusup yang menerobos restoran waktu itu ...."
"Itu dilakukan Pak Colin sengaja. Supaya kita sangat memercayainya dan dia bisa mengetahui pergerakan kita," sahutku menghembuskan napas kasar.
Ekspresi Adrian semakin tidak enak dilihat. Tangannya terkepal kuat seperti ingin menonjok langsung. "Beraninya dia menipu kita semua!"
"Penny, powerbank waktu itu jangan-jangan disadap Pak Colin, bukan Pak John," tukas Tania curiga.
__ADS_1
"Tania benar. Karena powerbank itu didapat dari undian acara pembukaan restoran milik Pak Colin," sambung Nathan menyetujui pendapat Tania.
"Berarti saat acara pembukaan restoran itu sudah direncanakan sejak awal," sambung Tania.
"Ini terlihat sempurna rencananya," balasku semakin fokus.
"Rencana apa yang terlihat sempurna?" Suara Pak Colin tiba-tiba terdengar di tengah perbincangan serius kami.
Aku tersentak kaget hingga jantungku hampir lepas. Mudah-mudahan Pak Colin tidak mendengarkan pembicaraan kami dari tadi. Terpaksa aku harus berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Rencana pelaku. Saat ini saya sedang mendiskusikan sama teman saya apa rencana pelaku sebenarnya," ucapku tersenyum paksa padahal sebenarnya aku sangat ketakutan sekarang.
"Omong-omong, Bapak sedang apa di sini?" tanya Adrian mengalihkan pembicaraannya, melihat tanganku terus gemetar di bawah meja.
"Saya mampir sebentar di sini untuk membeli kopi. Saya melihat kalian ada di sini jadi saya menyapa kalian dulu," sahut Pak Colin santai.
"Begitu rupanya," balas Tania datar.
"Saya permisi dulu," pamit Pak Colin sambil meninggalkan kami.
Saat Pak Colin tidak menampakkan diri lagi di sini, aku bernapas lega hingga tubuhku lemas sekarang. Adrian menyadari tingkahku sekarang spontan menyentuh pundakku.
"Penny ...."
Aku tersenyum tipis berusaha menahan rasa takut. "Aku baik-baik saja, Adrian. Tadi aku ketakutan saja."
Tiba-tiba aku jadi teringat dengan metode yang pernah diajarkan Adrian saat aku sedang ketakutan. Aku mempraktikannya langsung di hadapannya sekarang untuk menenangkan diriku.
Adrian tertawa gemas juga melakukan hal yang sama sepertiku. "Kamu sungguh melakukannya lagi, Penny."
"Hanya metodemu yang mampu menenangkanku, Adrian," balasku lembut.
"Sebaiknya kita jangan membicarakan hal ini di tempat seperti ini. Dia bisa muncul secara tiba-tiba kapan pun dan di mana pun."
"Bagaimana kalau kita membicarakannya di kediamanku saja?" ajak Adrian menatapku.
Mataku terbelalak. Ini pertama kalinya aku diajak ke rumah seorang pria, apalagi dengan nada bicara santai. "Kamu tidak masalah kalau aku sering mengunjungi kediamanmu?"
"Tidak masalah. Lagi pula kediamanku satu-satunya tempat paling aman untuk saat ini."
Tanpa berpikir panjang, tentu saja aku langsung menyetujuinya. "Baiklah. Kalau begitu Nathan dan Tania tolong cari hal lain mencurigakan yang dimiliki Pak John di kantor. Aku akan mengunjungi kediaman Adrian untuk mendiskusikan ini lebih lanjut."
"Baiklah, Penny. Ayo Nathan, kita harus ke kantor sekarang!" Tania dan Nathan meninggalkan Kafe.
Di kediaman Adrian, aku merasa sangat canggung karena ini pertama kalinya aku mengunjungi kediaman pria. Apalagi tempat ini sangat rapi dan terawat bahkan buku-buku dan berkas-berkas kasus tersusun rapi di rak buku, tidak seperti rumahku yang berantakan. Aku berdecak kagum mengamati sekeliling tempat ini tidak menyangka ia tinggal di apartemen elit seperti ini. Membuatku termotivasi ingin rajin merapikan rumahku.
"Kamu tidak perlu gugup, Penny. Anggap saja ini seperti rumahmu sendiri," kata Adrian santai.
"Tapi aku baru pertama kali mengunjungi tempat tinggal pria jadi rasanya sedikit aneh sih," sahutku menunduk malu.
Mendengar perkataanku barusan, Adrian langsung tersenyum bahagia padaku. "Benarkah? Ini pertama kalinya bagimu?"
"Iya, memangnya kenapa?"
Adrian sedikit memalingkan mata sambil menuntunku menuju ruang kerja. "Tidak apa-apa. Ayo masuk ke ruang kerjaku!"
__ADS_1
Di dalam ruang kerjanya yang cukup luas, terdapat banyak foto kasus yang ia selidiki selama ini. Namun, ruang kerjanya tetap terlihat rapi bagiku dibandingkan kamarku sendiri.
Adrian menunduk malu sambil merapikan berkas kasus yang sedikit berserakan di mejanya. "Maaf kalau ruangan ini agak berantakan. Soalnya aku jarang merapikannya lagi karena terlalu sibuk belakangan ini."
"Tidak apa-apa. Rumahku justru lebih berantakan daripada kediamanmu," balasku merendah.
"Tunggu sebentar ya. Aku buatkan kopi untukmu."
Aku menggeleng cepat. "Kamu tidak perlu membuatkan kopi untukku."
"Kamu adalah tamu jadi aku harus melayanimu dengan baik."
Adrian meninggalkanku sendiri di ruang kerjanya ingin membuatkan kopi untukku. Aku tidak ingin sendirian dalam ruangan ini, maka dari itu, aku mengikutinya ke counter pantry.
Aku menduduki sebuah kursi kosong memandanginya sedang membuatkan kopi untukku dengan mesin espressonya. Seumur hidupku, ini pertama kali aku mengamati orang terdekatku bisa membuat kopi bukan menggunakan kopi instan tapi memakai bahan biji kopi asli.
Tidak sampai sepuluh menit, ia membawa secangkir kopi buatannya untukku menaruhnya di meja makan. "Ini untukmu, Penny."
"Terima kasih, Adrian."
Aku mencicipi kopi buatannya dan rasanya sangat pas tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit. "Mmm rasanya enak sekali."
"Syukurlah kalau kamu menyukainya."
"Ternyata kamu bisa melakukan apa saja, ya. Aku tidak menyangka kamu bisa jadi barista juga," pujiku mengacungkan jempol padanya.
"Sebenarnya aku hanya iseng belajar mempraktikannya sewaktu dulu. Lalu, pada akhirnya aku jadi bisa membuat kopi tidak memakai bahan kopi instan. Lagi pula aku tidak suka memakai apa pun berbahan instan."
"Sepertinya aku harus belajar darimu suatu hari nanti kalau kasus ini sudah selesai."
Sorot mata Adrian tertuju pada jam dinding didekatnya, menyadari ia menyita waktu banyak berbincang hal tidak berkaitan dengan kasus. "Omong-omong, sekarang kita kembali ke ruang kerja melanjutkan pembicaraan kita tadi siang supaya kasus ini cepat terselesaikan."
Di ruang kerja, aku menduduki kursi di sebelahnya melanjutkan diskusi mengenai penyelidikan kasus.
"Pak Colin sudah merencanakan ini sejak awal sehingga rencananya terlihat sempurna saat ini tanpa sedikit kesalahan," ujarku mulai fokus pada penyelidikannya sambil menikmati kopi.
"Ray sudah kerja sama dengan Pak Colin sejak lama. Dia mencari korban pelampiasannya untuk memancingmu," lanjut Adrian sambil memutar pulpennya.
"Lalu, dia sengaja menyuruh pelayannya untuk memberikan nomor undian itu supaya aku bisa mendapatkan powerbank," sambungku berpikir sambil mengetuk meja.
"Kemudian selama setahun ini, dia menyadapmu, lalu menjebakmu hingga kariermu hampir hancur."
"Pak Colin, Pak John, Ray, dan Darren mereka saling bekerja sama lalu rencananya sangat sempurna. Dia sengaja bekerja sama dengan pihak kepolisian dengan memberikan suap. Lalu dia bekerja sama dengan Darren karena dia berpikir bahwa aku sudah tidak membutuhkan Darren jadi dia menyuruh melakukan hal semacam itu," ujarku beranjak dari kursi menggambar skemanya di papan.
"Selain itu, dia mempekerjakan Darren agar dia lebih mudah mengetahui kebiasaan sehari-harimu."
Aku terdiam sejenak sambil bertopang dagu. "Tapi aku masih bingung maksud Ray mengenai bunga Magnolia bersayap itu."
"Kasus ayahku tidak ada kaitannya dengan itu juga."
"Pokoknya kita harus selidiki ini terus hingga teka-tekinya terpecahkan."
Aku dan Adrian mulai mencari tahu lagi dengan melihat berkas kasus hingga larut malam. Mataku mulai sulit dibuka hingga aku terus menguap.
Mengamatiku seperti ini, Adrian berinisiatif menutup berkas kasusnya dan jempolnya menyentuh kelopak mataku sejenak. "Penny, kamu beristirahat dulu saja."
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku masih sanggup bekerja," tolakku sambil mengucek mataku.
Semakin lama aku tidak bisa menahan kantukku hingga mataku perlahan terpejam dan tanpa kusadari kepalaku bersandar pada pundaknya.