Good Partner

Good Partner
S2 : Part 10 - Terlepas Tuduhan


__ADS_3

Adrian mengajakku ke sebuah restoran oriental yang merupakan tempat langganan kami berdua nongkrong di sana. Sebenarnya saat ini aku masih sedikit meragukan Nielsen sebagai tersangka pembunuhannya. Pikiranku sedikit terganggu sejak menginterogasinya tadi karena ia terus saja menyangkalku dengan tegas. Selain itu, antara kedua kasus yang aku selidiki saling berkaitan satu sama lain, kenapa Nielsen tiba-tiba lalai dalam melakukan aksi kejahatannya meninggalkan jejak sidik jarinya pada tubuh para korban? Seorang pelaku kejahatan tidak mungkin lalai meninggalkan jejaknya semudah itu. Selain itu, kenapa Nielsen membakar gedung untuk menghilangkan jejak kejahatannya? Sepertinya aku merasa ada yang sedikit tidak beres mengenai masalah ini.


Tapi untuk saat ini, aku tidak ingin memikirkan pekerjaan dulu yang bisa membuatku sakit kepala seharian. Lebih baik aku melakukan kegiatan yang menyenangkan dan menenangkan pikiranku bersama dengan suami terbaikku. Sambil menyantap makanannya, aku menyentuh tangan kirinya dan melukiskan senyuman ceria pada wajahku.


"Sayang ...." panggilku manis.


"Kamu gemas sekali, Sayang."


"Hari ini rasanya menyenangkan bersamamu seharian penuh."


"Aku juga merasa lega hari ini terus melekat bersamamu. Jadinya aku tidak perlu terlalu mencemaskanmu lagi. Setiap kali aku bekerja di kantorku, aku selalu mencemaskanmu terus sampai terus mengamati jam dinding di ruang kerjaku."


"Ish kamu mencemaskanku malahan lihatnya jam dinding!" ketusku mengerucutkan bibirku.


"Kamu memang tidak peka. Aku mengamati jam dinding karena aku ingin menghabiskan waktu bersamamu di rumah."


"Begitu rupanya." Aku tersenyum manis di hadapannya menunduk malu.


"Tapi besok aku harus kembali bekerja di kantorku tidak masalah, 'kan? Kamu bisa bekerja sendiri lagi, 'kan?" tanyanya mulai cemas.


"Sudah pasti aku bisa kerja sendiri. Lagi pula juga aku kan ditemani semua anggota timku. Aku ini bukan anak kecil lagi!"


"Tapi bagiku kamu masih seperti anak kecil seperti Victoria." Adrian mencubit pipiku lembut.


Mulai lagi suamiku selalu menganggapku seperti anak kecil. Sebenarnya aku sangat penasaran, kenapa ia menganggapku seperti itu sejak dulu. Aku tidak kesal, tapi aku menyukainya. Tapi kalau ia berlebihan, aku pasti kesal. Seperti sekarang.


"Sejak dulu kamu selalu saja menganggapku seperti anak kecil. Memangnya aku ini terlihat bocah dilihat dari sisi mana?" tanyaku agak kesal menaruh sendok di atas piring.


Adrian menyentuh telapak tanganku mengecup punggung tanganku manis.


"Karena tanganmu ini menggemaskan. Lalu ukuran kakimu juga tidak terlalu besar."


"Hanya itu saja kamu menganggapku seperti anak kecil?"


"Yang terakhir itu karena memang kamu ini selalu menggemaskan di depan mataku," ucapnya tersenyum nakal mencubit pipiku terus.


Aku membalasnya dengan mencubit pipinya juga.


"Sedangkan kamu sama saja selalu manja denganku sejak dulu. Kamu juga menggemaskan sepertiku."


"Karena aku selalu merasa nyaman setiap berada di sisim."


Sementara di sisi lain pasangan yang tidak kalah jauh menggemaskan juga sedang menikmati makan malamnya bersama di rumahnya. Namun pasangan yang satu ini tidak seromantis dengan pasangan lainnya dan terus memikirkan kasus yang sedang mereka selidiki saat ini.


"Hans, apakah kamu merasakan ada sesuatu yang aneh pada Nielsen?" tanya Fina berwajah serius.


"Maksudmu itu aneh seperti bahasa tubuhnya saat diinterogasi Penny tadi?" tanya Hans balik.


"Bukan itu juga sih. Kamu coba perhatikan deh saat kita menangkap Nielsen tadi di depan rumahnya. Dia seperti tidak tahu apa-apa mengenai tas yang ada di tempat sampah depan rumahnya," lanjut Fina bertopang dagu.


"Bisa juga dia berpura-pura seperti orang bodoh supaya kita mengasihaninya."


"Menurutku bukan. Aku merasa seperti bukan dia pelakunya. Aku bisa melihat raut wajahnya saat itu bukan sandiwara. Tatapannya kosong saat melihat tas itu."


"Benar juga sih maksud perkataanmu itu."


"Bisa juga Nielsen bukan pelakunya. Tapi dia dijebak oleh pelaku sesungguhnya supaya polisi tidak mencari pelakunya lebih dalam lagi dan hanya berfokus pada Nielsen. Sasaran pelampiasannya adalah Nielsen karena dia merupakan teman terdekatnya Angelina dan Gracia. Lalu kebetulan juga Nielsen mengikuti kelas tambahan pada gedung itu, jadinya dia menggunakan kesempatan itu menjebaknya," terang Fina terus berspekulasi sambil mengacak-acak rambutnya.


Mendengar penjelasan panjang lebar dari istrinya, Hans berdecak kagum hingga mulutnya menganga.


"Wah, pemikiranmu memang mantap sekali, Fina! Kamu bahkan lebih cerdas dari Penny sepertinya!"


"Sebenarnya aku yang berpikir cepat saja. Penny dan Adrian selalu saja lamban!"


"Hufft padahal kamu sendiri dulu menyukai Adrian sampai tidak peduli denganku terus!" gerutu Hans memalingkan matanya.


"Kalau itu sih sebaiknya kamu tidak usah pikirkan lagi. Memang sifatnya Adrian dan aku berbeda jauh. Aku ini kan orangnya tipe tidak sabaran sedangkan Adrian orangnya selalu sabar dan mengatasi masalah secara perlahan, makanya cocok banget sama Penny."


"Untung saja aku orangnya cukup sabar menghadapimu selama ini."


"Oh, jadi selama ini kamu terpaksa menjalani hubungan bersamaku!"


"Bukan begitu Fina."


"Padahal kamu sendiri juga sama denganku tidak sabaran dan selalu saja berdebat dengan Nathan dan Adrian!"


"Makanya tidak heran kalau kita berdua memang sudah cocok sejak dulu." Hans mengangkat kepalanya mulai berlagak pamer.


Keesokan harinya, aku melanjutkan penyelidikanku lagi mengenai kasus pembakaran gedung. Nielsen hanya bisa duduk tertegun di dalam sel sementara yang hampa. Aku memasuki ruang kerjaku dan melemaskan tubuhku bersandar pada sandaran kursi sebelum melakukan aktivitasku lagi.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Tania membuka pintu ruangan ini memanggilku dari kejauhan.


"Penny, coba kamu keluar deh sekarang!" panggil Tania terburu-buru.


"Memangnya ada apa, Tania?" tanyaku sedikit geram karena ia telah merusak suasanaku.


"Ada seorang pengacara yang ingin membela Nielsen datang berkunjung."


"Aduh kenapa sih dia harus datang tiba-tiba begini di pagi hari!" keluhku sambil membenarkan rambutku sedikit kusut.


Aku mengikuti Tania menghampiri pengacara tersebut yang sedang menunggu di depan sel sementara. Pengacara tersebut menoleh ke belakang menatapku tersenyum ramah.


"Apa kamu, Kepala Detektif Penny?" tanyanya sopan.


"Iya benar itu aku."


"Perkenalkan aku Pengacara Leonard Philip dari firma hukum L&C, senang berkenalan denganmu," ucap pengacara Leonard mengulurkan tangan kanannya memberikan kartu namanya padaku.


"Senang berkenalan denganmu juga, Pengacara Leonard," balasku berjabat tangan dengannya.


"Sedangkan detektif cantik ini namanya siapa?" tanya pengacara Leonard menunjuk Tania.


"Namaku Tania Yolanda. Senang berkenalan denganmu juga," balas Tania berjabat tangan dengan Leonard.


"Omong-omong, sedang apa kamu berkunjung ke sini pagi-pagi sekali?" tanyaku berbasa basi.


"Aku mendengar bahwa kamu menangkap seorang pelajar SMA kemarin sebagai tersangka utama dalam kasus pembakaran gedung itu."


"Iya memang benar."


"Pelajar SMA itu bukanlah pelakunya," terang pengacara Leonard beraut wajah serius.


Suasana kembali tegang. Aku mulai berpikir serius dan penasaran dengan spekulasi pengacara Leonard terlihat percaya diri.


"Bagaimana kamu bisa yakin bahwa Nielsen bukanlah pelakunya? Apa kamu memiliki buktinya?" tanyaku melipat kedua tanganku.


"Kalau begitu sebaiknya kita membicarakan ini bersama Nielsen di ruang interogasi."


Tania mengambil kunci sel sementara membukakannya untuk Nielsen sekaligus menuntunnya memasuki ruang interogasi. Pengacara Leonard menarik kursi yang bersandar pada sudut ruangan menaruhnya tepat di sebelah Nielsen. Sementara Nielsen wajahnya masih terlihat sangat kusut dan juga rambutnya sangat berantakan membuatnya tidak berani mengangkat kepalanya terang-terangan.


"Sepertinya semalam kamu tidak tertidur nyenyak," ucapku berbasa basi sedikit menyindirnya.


"Tenang saja nanti malam juga kamu bisa kembali tidur dengan nyenyak lagi," ucap pengacara Leonard santai.


"Kamu terlihat santai sekali. Apa mungkin kamu memiliki bukti yang akurat membuktikan bahwa Nielsen tidak bersalah sama sekali?"


"Menurutmu sendiri, apakah mungkin seorang pelajar SMA mampu melakukan hal kejam begitu?" tanya pengacara Leonard balik.


"Bisa juga. Karena manusia zaman sekarang semuanya terlihat menyeramkan."


"Tapi menurutmu apa mungkin Nielsen mampu melakukan dua aksi kejahatannya sekaligus pada saat itu juga? Membunuh empat korban sekaligus dan juga membakar gedung. Menurutku itu sangatlah mustahil."


"Tidak mustahil, kalau Nielsen memiliki kaki tangan saat melakukan aksi pembakaran itu," jawabku agak ragu karena sebenarnya aku juga sedikit meragukan Nielsen adalah pelakunya.


"Benarkah begitu menurutmu?"


"Lalu kenapa bisa ada jejak sidik jarinya Nielsen pada tubuh korban?"


"Bisa juga hasil autopsinya salah."


"Sepanjang sejarah hasil autopsi dari pihak forensik tidak pernah salah," bantahku halus.


"Bisa juga sebenarnya ada dibalik cerita yang mungkin kamu belum ketahui. Nielsen ingin berusaha menolong pelakunya atau dia sempat berkontak fisik dengan para korban. Apalagi korban satu sekolah dengannya pasti setidaknya ada kontak fisik."


Tatapan mataku beralih pada Nielsen. Aku mendongakkan kepalaku tepat di hadapannya. Bisa juga hal ini yang masih disembunyikannya.


"Apa mungkin saat aku menginterogasimu kemarin siang, kamu berbohong padaku bahwa kamu berusaha melarikan diri dari ledakan gedung?" tanyaku mulai fokus padanya.


Nielsen tidak ingin membuka suaranya dan terus memalingkan matanya dariku. Aku memukuli mejanya dengan kuat untuk menyadarkan lamunannya dari tadi.


"Nielsen! Cepat jawabku dengan jujur! Sebenarnya apa yang telah terjadi!" bentakku sudah tidak bisa menahan kesabaranku lagi.


"Kalau aku menceritakannya kepadamu lagi, apakah kamu akan memercayaiku kali ini?" tanya Nielsen balik.


"Nielsen, sekarang bukan waktunya untuk membohongiku. Tapi kamu harus mengatakan kejujuran padaku. Kalau kamu tidak berkata jujur padaku, hidupmu akan berakhir di balik jeruji besi. Masa depanmu masih panjang, kamu tidak mungkin selamanya hidup sebagai penjahat!" bujukku tegas.


"Baiklah aku akan mengatakan sejujurnya padamu asalkan kamu jangan pernah menuduhku lagi!"


"Kalau begitu coba kamu jelaskan padaku. Kenapa sidik jarimu bisa ada di tubuh korban pembakaran gedung sedangkan sidik jarimu tidak teridentifikasi pada tubuh kedua temanmu itu?" selidikku kembali fokus pada interogasinya.

__ADS_1


"Sebenarnya itu ...."


*****


Dua puluh menit sebelum ledakan terjadi...


Nielsen lari terburu-buru mendatangi gedung kelas tambahan. Ia memasuki gedung tersebut lalu menaikki tangganya menuju lantai dua. Saat Nielsen tiba tepat di depan ruang kelasnya, ia mendengar suara jeritan salah satu siswi sedang ditikam oleh sang pembunuh.


"AAHHH TOLONG AKU!!" pekik siswi tersebut menjerit.


Nielsen bergidik ngeri mengamati aksi kejam itu hingga membuat tangannya gemetar. Nielsen melepas genggamannya pada gagang pintu ruang kelasnya lalu menyandarkan tubuhnya lemas pada tembok. Ketika Nielsen sudah mulai sedikit tenang, ia kembali mengintip pembunuh misterius tersebut yang sedang menuangkan cairan bensin pada seisi ruang kelas tersebut. Lalu pembunuh itu menyalakan korek apinya dan membuangnya di sembarang tempat. Nielsen dengan sigap lari bersembunyi di balik tembok sambil menggigit jarinya menatap pelakunya barusan keluar dari ruangan itu. Ia sangat ketakutan sampai hampir saja cegukan tertangkap basah oleh pelakunya.


Saat pelakunya sudah tidak lagi menampakkan dirinya, Nielsen bergegas memasuki ruang kelas yang sudah mulai ludes terbakar. Pandangannya sudah mulai kabur dan kesulitan bernapas. Ia menghampiri satu per satu temannya yang sudah tidak sadarkan dirinya bermaksud untuk menyelamatkan mereka semua keluar dari gedung tersebut.


"Hei sadarlah! Kamu harus pergi dari sini sekarang!" Nielsen berusaha menyadarkan salah satu teman sekolahnya namun tidak ada respon sama sekali.


Lalu Nielsen menghampiri teman lainnya satu per satu namun sama saja tidak ada satu pun dari mereka meresponnya. Karena api sudah mulai membara maka ia memutuskan untuk menyelamatkan dirinya dari sana. Saat ia sedang ingin menuruni tangganya tiba-tiba terjadi sebuah ledakan dari ruangan tersebut.


BAMM


Nielsen dengan sigap melompati banyak anak tangga itu hingga tubuhnya terjatuh terguling di lantai satu kemudian bergegas berlari meninggalkan gedung tersebut.


*****


Kembali lagi di saat aku sedang menginterogasi Nielsen di ruang interogasi. Aku mengulas senyuman hangat pada Nielsen.


"Seharusnya kamu berkata jujur padaku sebelumnya," ucapku lembut.


"Kalau seandainya aku berkata jujur padamu berarti aku menjadi seorang saksi dalam kasus ini. Biasanya sering terjadi di film kalau ada seorang saksi mata yang menyaksikan kejadiannya, maka dia akan jadi sasaran target pembunuhan selanjutnya. Aku tidak ingin mati terbunuh begitu saja."


"Tapi kalau kamu membohongiku, kamu juga sama saja berujung mengakhiri hidupmu membusuk di balik jeruji besi. Bagiku itu sama saja seperti seolah-olah kamu dibunuh pembunuhnya. Untuk apa kamu hidup tapi memiliki catatan kriminal dalam hidupmu. Apalagi usiamu saat ini masih sangat muda dan perjalananmu masih sangat panjang," tegasku menasihatinya dengan baik.


"Benar kata, Detektif Penny. Lebih baik kamu mengungkapkan kebenaran daripada menyembunyikannya," sambung pengacara Leonard.


Tok..tok..tok..


Fina memasuki ruang interogasinya lalu menyerahkan bukti hasil sidik jari pada tas para korban. Aku mengamati hasil tes sidik jarinya dan kembali bernapas lega lalu memperlihatkannya kepada Nielsen.


"Kamu dibebaskan sekarang. Hasil tes sidik jari pada tas korban menunjukkan bahwa sidik jarimu tidak tertera sama sekali," ucapku tersenyum tipis.


"Tuh sudah aku katakan padamu bahwa Nielsen tidak bersalah sama sekali," balas pengacara Leonard berlagak sombong.


"Tapi ini aneh sekali. Kenapa tas korban bisa ditemukan di tempat sampah depan rumahmu? Apa mungkin pelakunya mengetahui alamat rumahmu?" tanyaku mengernyitkan alisku.


"Aku juga sebenarnya tidak tahu sama sekali kenapa bisa ada tas mereka semua tiba-tiba."


"Sebaiknya mulai sekarang kamu berhati-hati saja. Jangan pernah berkeliaran dengan temanmu sampai larut malam. Kita tidak akan pernah tahu pelakunya akan melakukan kejahatan apa lagi," saranku.


"Iya aku mengerti."


"Tapi selama ini kamu tidak merasa ada seseorang menyimpan dendam terhadapmu, 'kan? Misalnya seperti teman sekolahmu?"


"Tidak ada. Selama ini aku berhubungan baik dengan mereka semua."


"Baguslah, tapi biar gimanapun kamu tetap harus selalu berwaspada setiap saat. Jangan bertindak gegabah!"


"Kalau begitu sekarang bolehkah aku kembali ke sekolahku?"


"Tenang saja. Sekarang kamu bukan lagi tersangka utama dalam kasus pembunuhan ini." Aku melepas borgol pada tangannya.


"Kalau begitu aku permisi dulu, ya. Nanti bu guru mencemaskan keadaanku," pamit Nielsen menundukkan kepalanya hormat meninggalkan ruang interogasi.


Pengacara Leonard juga beranjak dari kursinya lalu menyunggingkan senyuman liciknya padaku.


"Sepertinya kamu salah menangkap pelaku kejahatannya, Detektif Penny," ucap pengacara Leonard mengangkat alisnya sedikit menyindirku.


"Aku bukan salah menangkap pelakunya. Tapi lebih cenderung saksi dijebak oleh pelaku sesungguhnya sebagai tersangka pembunuhan."


"Pokoknya kamu sebagai kepala detektif jangan bertindak sok jagoan deh! Kamu tidak boleh sembarangan menangkap orang tanpa mencari bukti lebih mendalam lagi."


"Sedangkan kamu kenapa bisa berperan sebagai pengacaranya Nielsen? Padahal paman dan tantenya tidak mengetahui kejadian ini."


"Itu karena ada seseorang yang aku kenal melaporkan padaku bahwa ada seorang kepala detektif wanita bertindak gegabah salah menangkap pelaku kejahatannya," ketus pengacara Leonard semakin berlagak sombong.


"Jangan pernah kau berpikir bahwa karena kamu merupakan pengacara dari firma hukum lumayan terkenal di kota ini bisa bertindak seenaknya!"


"Untung saja aku mendatangimu untuk melepas seorang pelajar yang tidak bersalah sama sekali. Kalau sampai dia sudah diserahkan ke kantor kejaksaan lalu jaksa yang bertanggung jawab terhadap kasus ini salah menuntutnya akibat kecerobohanmu, aku penasaran jaksa itu akan diperlakukan seperti apa oleh kepala jaksa," sergah pengacara Leonard tersenyum sinis.


Aku bingung ingin berkata seperti apa kepadanya. Kalau seandainya aku salah menangkap pelakunya, Adrian juga pasti akan terkena dampaknya karenaku.

__ADS_1


"Aku ada urusan penting yang harus diselesaikan. Aku permisi dulu, semoga berhasil menangkap pelaku yang sesungguhnya, Detektif Penny," pamitnya menatapku tajam.


__ADS_2