
Pengacara Leonard baru saja selesai membersihkan dirinya dan mengambil sebotol champagne beserta gelas kacanya di lemari penyimpanan pantry. Ia membuka tutup botolnya dan menuangkan sedikit dulu. Ketika ia ingin menikmati minuman champagne, kepalanya tiba-tiba terasa sakit hingga pandangannya sedikit kabur. Gelas kaca yang digenggamnya hampir terjatuh ke lantai karena tangannya tidak ada tenaga untuk menahannya. Pria muda tersebut dengan sigap menaruh gelas kacanya di atas counter pantry bergegas membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Semakin lama, kepalanya semakin terasa aneh hingga rasanya hampir tidak sadarkan dirinya. Pengacara Leonard terus merutukki dirinya sendiri dan berguling-guling di atas sofa ruang tamunya.
"Aduh, jangan begini lagi! Aku sudah tidak tahan lagi rasanya!"
Pria muda tersebut hampir kehilangan kesadarannya. Kondisi kepalanya saat ini terasa seperti ada sebuah bom yang mengganjal di dalam sana. Ia terus mengeluh kesakitan hingga pada akhirnya tidak sadarkan diri.
Sedangkan aku yang dari tadi sudah memasuki di dunia mimpi merasa seperti ada seseorang yang mengganggu tidurku. Aku terbangun akibat suaranya Adrian yang terus memanggilku secara halus. Tapi kalau didengar lama, ia bukan sedang memanggilku melainkan sedang mengalami mimpi buruk.
"Penny ... jangan tinggalkan aku."
"Penny ...."
Adrian terus menyebutkan namaku berulang kali seperti telah terjadi sesuatu padaku di dalam mimpi buruknya sambil mencengkeram selimutnya erat. Aku dengan sigap menggoyangkan lengan tangannya untuk membangunkannya.
"Adrian! Adrian sadarlah!"
Adrian masih belum sadar dari mimpinya lalu secara terpaksa aku memukuli pipinya sedikit bertenaga hingga membuatnya terbangun.
"Penny!" Wajahnya Adrian sangat pucat dan keringat dingin terus mengalir di sepanjang lehernya.
"Aku ada di sini, Adrian."
Adrian menoleh ke arahku menampakkan air matanya membanjiri pipinya sambil menyentuh pipiku dengan tangannya sedikit gemetar.
"Penny, ternyata kamu ada di sini rupanya." Suaranya terdengar gemetar dan ketakutan seperti sedang berada di rumah hantu.
"Adrian, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu tidak perlu takut lagi, sekarang aku akan menemanimu terus." Aku mengukir senyuman khasku yang bisa membuatnya kembali tersenyum bahagia.
Dengan tangan lincahnya, Adrian menyentuh pelipisku dengan kedua tangannya lalu mengecup bibirku manis sekilas. Aksinya barusan membuatku agak terkejut apalagi ia melakukannya di saat tengah malam begini dan dirinya yang baru mengalami mimpi buruk. Tapi bagiku hal kecil ini tidak masalah sama sekali asalkan diriku mampu menghilangkan rasa takutnya sekarang.
"Adrian, sekarang kamu tidak usah memikirkan hal yang aneh mengenaiku. Yang terpenting sekarang kamu hanya memikirkan momen bahagia selama ini kita lalui bersama. Aku yakin sekali kamu pasti akan mengalami mimpi indah lagi bersamaku."
"Aku takut sekali, Penny. Di dalam mimpiku barusan, kamu dibunuh secara kejam di hadapan mataku." Adrian bergidik ngeri sambil memelukku dengan erat hingga aku sedikit kesulitan bernapas.
"Itu tidak mungkin terjadi. Sudahlah kamu tidak usah memikirkan mimpi aneh lagi. Kamu baru saja mencicipi sesuatu yang manis dariku." Aku mengelus kepalanya untuk menenangkannya.
Senyuman bahagia akhirnya terlukis pada wajahnya Adrian. Ia terus memandangku dengan tatapan berbinar. Ia sangat bahagia setelah menerima vitamin dariku.
"Kamu manis seperti cokelat, Penny," godanya.
"Itu karena memang aku suka makan cokelat sejak dulu."
"Aku juga suka makan cokelat sama sepertimu. Makanya aku dan kamu memang selalu cocok."
Aku semakin melekatkan tubuhku pada tubuhnya dengan manja memasang raut wajah anak kecil ingin merayu orang tuanya untuk dibelikan sesuatu.
"Stok cokelatku habis. Belikan aku cokelat yang banyak lagi, Adrian," rayuku manis.
"Aku juga sudah kehabisan stok cokelat di kantor. Nanti kalau ada waktu, aku akan membelikan cokelat yang enak dan banyak untukmu," balasnya mengelus pipiku lembut.
"Aku akan ambilkan handuk kecil untuk mengelap keringat dinginmu." Aku melepas pelukannya beranjak dari ranjang.
Namun Adrian menarik tanganku hingga tubuhku kembali terbaring dalam pelukannya. Kali ini ia sungguh memelukku erat seperti tidak ingin melepaskanku begitu saja.
"Tidak perlu. Aku cukup memelukmu saja sudah puas sekali."
"Baiklah sebaiknya kita lanjutkan tidurnya lagi. Kita harus isi energi supaya besok bersemangat bekerjanya."
"Aku masih ingin cokelat manis darimu." Adrian mencium bibirku sekilas sambil mengusap kepalaku.
Aku juga mencium bibirnya lagi dalam durasi beberapa detik sebagai pengantar mimpi indah.
"Ini ekstra cokelat untukmu. Semoga kamu bermimpi indah kali ini."
Keesokan harinya, aku kembali bekerja seperti biasa di kantor dengan penuh semangat sambil menyapa ramah setiap berpapasan dengan anggota kepolisian lainnya. Aku membuka pintu ruang kerja timku mengamati rambutnya Nathan yang tidak beraturan seperti tidak disisir seharian dan wajahnya Tania sangat kusut kantung matanya besar seperti tidak tidur nyenyak semalam.
"Kalian berdua kenapa kusut begini sih?" tanyaku basa basi.
"Tebakanku pasti masalah anak," tukas Hans menebaknya langsung.
"Iya nih. Semalam Erhan terus merengek ingin bersama kami. Bahkan saat kami ingin kembali ke apartemen, dia terus saja mencegah kami pulang," balas Tania menguap bermalasan.
"Ternyata Erhan memang manja sekali, ya. Sama seperti ayahnya merengek terus," sindir Hans santai.
__ADS_1
"Mau aku sobek mulutmu supaya bisa disaring kalau bicara?" Tatapan matanya Nathan terfokus pada Hans dari kejauhan seperti ingin menerkamnya.
"Biasanya kata pepatah itu buah tidak jatuh jauh dari pohonnya," lanjut Fina menambah bumbu pembicaraannya.
"Dasar pasangan suami istri yang selalu komporin orang!" hardik Tania mengerucutkan bibirnya.
"Padahal Keira sendiri juga manja padamu, Hans!" ketus Nathan.
"Kalau Keira pasti anak baik. Dia selalu menurutiku dan Fina selama ini. Tidak seperti Erhan anak laki-laki yang manja dan lebih parah dari sikap anak perempuan," sindir Fina memicingkan matanya.
"Diam kamu, Fina! Kamu tidak usah menjelek-jelekkan anakku terus!" bentak Tania menghampiri Fina dan memukuli meja kerjanya kasar.
Sudah waktunya aku harus meneriakki mereka semua sebelum ditegur Danny lagi.
"Sudahlah kalian tidak usah berdebat karena masalah anak lagi! Buat apa sih memamerkan kelebihan anak!" sergahku berdiri tepat di antara mereka semua.
"Lebih baik kamu tidak usah ikut campur, Penny! Kami semua tahu kalau anakmu yang paling cerdas di antara semuanya sama sepertimu dan Adrian!" bentak Hans dekat telingaku.
"Omong-omong brosmu cantik sekali, Penny. Kamu beli brosnya di mana?" tanya Fina mengalihkan pembicaraannya, tatapan matanya terfokus pada brosku yang terpasang pada blazerku.
"Bukan aku yang beli. Tapi Adrian yang membelikannya untukku."
"Memang Adrian sungguh pria yang sangat romantis, membelikan apa pun untukmu," lontar Fina menyenggol lenganku sengaja.
Kring...kring...
Suara telepon kantor bunyi nyaring. Aku bergegas menghampiri meja kerjaku mengangkat teleponnya.
"Selamat pagi, dengan kepala detektif Penny ada yang bisa saya bantu?"
"Ditemukan seorang pria paruh baya tidak sadarkan dirinya di pinggir sungai."
"Baiklah, saya dan anggota tim akan ke sana sekarang!"
Aku menutup teleponnya kembali dan menghampiri seluruh anggota timku berkerumunan di tengah ruangan.
"Ini gawat! Pembunuh itu melakukan aksi kejahatannya lagi!" ucapku panik.
"Kalau begitu kita ke sana sekarang juga!" ajak Hans.
Aku dan seluruh anggota timku bergegas melangkah keluar dari ruang kerja timku menuju tempat parkir. Aku menaikki mobilnya Hans menuju TKP.
"Bukankah dia Pak Xavier?" tanya Nathan sangat gugup.
"Bagaimana bisa pelakunya membunuh Pak Xavier begitu saja?" Tania melontarkan pertanyaannya sambil mengamati mayatnya bergidik ngeri sendiri.
"Lebih cenderung bagaimana bisa pelakunya mengetahui Pak Xavier merupakan seorang saksi mata satu-satunya dalam kasus pembakaran gedung itu," tambah Fina dengan tatapan serius hingga dahinya berkerut.
"Iya benar perkataan Fina barusan. Bagaimana bisa pelakunya mengetahui pergerakan kita persis? Seperti ada seseorang yang melaporkannya secara diam-diam," balasku bertopang dagu.
"Tapi walaupun kamu sudah mencurigai itu sejak awal, aku merasa seperti tidak ada seseorang yang terlihat mencurigakan deh," kata Hans.
"Ini aneh saja. Kenapa informasi rahasia kita bisa bocor sampai ke pelakunya? Lalu selama ini saat kita mendiskusikan mengenai masalah penyelidikan selalu di dalam ruang kerja kita atau di ruang interogasi. Kalau sampai terdengar sampai orang lain sepertinya sedikit mustahil," ucap Tania mengernyitkan alisnya.
"Soal itu kita harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang. Sepertinya pelakunya tidak akan membiarkan seluruh saksi mata hidup dengan tenang," usulku.
Sebenarnya aku jadi teringat dengan mimpi buruk yang dialami Adrian semalam. Apalagi aku dibunuh habis-habisan oleh pembunuhnya hingga aku tidak bernyawa lagi di depan matanya. Apa mungkin mimpi yang dialaminya itu adalah sebuah peringatan untuk kami berdua supaya lebih berhati-hati lagi? Aku tertegun selama beberapa menit membuat Fina bingung menatapku lalu melambaikan tangannya di depan mataku.
"Penny?" panggil Fina.
"Oh maaf, Fina. Aku kelelahan jadi begini deh," sahutku baru tersadar dari lamunanku.
"Tidak seperti biasanya kamu melamun sampai begini. Apa mungkin kamu takut, Penny?" tanya Hans.
"Untuk apa aku takut! Aku ini seorang detektif mana boleh takut menghadapi masalah seperti ini. Tugasku itu harus menangkap pembunuh yang menyebabkan kekacauan di kota ini," celotehku berlagak sombong.
"Iya benar kata Penny. Daripada kita takut lebih baik kita menangani kasus ini dengan baik dan menangkap pelakunya secepatnya."
Aku kembali fokus mengamati mayatnya Pak Xavier lagi. Kondisi tubuh mayatnya kali ini berbeda dari para korban sebelumnya. Sepertinya pelakunya mengubah taktik pembunuhannya supaya terlihat seperti orang lain yang meniru aksi pembunuhan ini. Apalagi luka yang ada di lehernya bukan seperti dicekik menggunakan tangan kosongnya. Ada sebuah bekas luka membentuk lingkaran berwarna merah mengelilingi lehernya. Kali ini pelakunya mencekiknya dengan menggunakan sebuah tali untuk mengendalikan Pak Xavier supaya menurutinya. Lalu mungkin karena terjadi sedikit perlawanan dari Pak Xavier, pelakunya mungkin mengikat lehernya dengan tali. Bukan pelakunya mencekik lehernya terlebih dahulu. Berarti bisa disimpulkan kali ini pelakunya melakukan pola pembunuhannya terbalik.
"Jadi kita harus mulai dari mana dulu, Penny?" tanya Nathan.
"Pertama, kita harus mengecek rekaman CCTV di sekitar sungai dulu. Barangkali pelakunya mungkin melakukan aksi pembunuhannya di sini," jawab Hans.
"Sepertinya pelakunya tidak melakukan pembunuhannya di sini. Lagi pula jarak antara rumahnya Pak Xavier dan sungai ini lumayan jauh. Untuk apa Pak Xavier jauh-jauh datang kemari hanya untuk menghirup udara segar," terangku mengangkat alisku.
__ADS_1
"Benar kata Penny. Selain itu dari tadi aku mengamati sekitar TKP, tidak ada tanda-tanda perkelahian di sini. Area sini terlihat bersih dan tidak ada bercak darah di mana pun kecuali di sekitar tubuh korban," lanjut Fina.
"Bagaimana kalau kita sebaiknya mengunjungi tempat kerjanya Pak Xavier dulu? Siapa tahu rekan kerjanya mengetahui sesuatu tentangnya sebelum insiden ini terjadi," usul Fina cerdas.
"Memang teman terbaikku ini paling cerdas deh!" pujiku mengacungkan jempolku pada Tania.
"Ya sudah kita mengunjungi ke sana sekarang!" ajak Fina.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, Hans dan Nathan memarkirkan mobilnya masing-masing di lahan parkir pabrik tempat kerjanya Pak Xavier. Aku dan anggota timku memasuki pabrik tersebut lalu menghampiri seorang pekerja buruh pabrik yang sedang bersantai sendirian di tangga. Tatapannya penuh kegelisahan, tebakanku pasti orang ini merupakan teman dekatnya Pak Xavier.
"Maaf boleh minta waktu Anda sebentar?" tanyaku sopan.
"Anda siapa, ya?" tanya buruh pabrik tersebut."
"Kami adalah tim detektif yang menangani kasus pembunuhan Pak Xavier yang terjadi semalam," ucapku ramah.
"Apakah mungkin semalam Pak Xavier bertingkah tidak seperti biasanya?" tanya Fina langsung pada inti pembicaraannya.
"Yang pasti sejak Xavier menjadi saksi mata dalam kasus pembakaran gedung itu, setiap harinya dia merasa seperti dihantui oleh pembunuhnya," ucap buruh pabrik.
"Dihantui maksudnya gimana, ya? Apa mungkin Pak Xavier diikuti secara diam-diam oleh pelakunya?" tanyaku semakin penasaran.
"Sepertinya begitu. Apalagi sekarang setiap pulang kerja kami selalu mampir ke minimarket bersama untuk minum bir melepas kelelahan."
"Semalam sebelum insiden itu terjadi, apakah Anda merasa ada seseorang yang mengikuti kalian dari belakang?" tanya Fina lagi.
"Iya sih. Jadi begini ...."
*****
Sebelum insiden pembunuhan Pak Xavier...
Pak Xavier dan temannya sedang minum bir bersama di minimarket daerah tempat tinggalnya. Mereka minum tiga botol kaleng birnya hingga kepalanya sedikit pusing.
"Aduh mulai lagi di sini terjadi gempa!" Pak Xavier mengeluh kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Malahan bagiku ini seperti sedang ada angin topan yang akan mengangkat minimarketnya," balas temannya Pak Xavier berbicara tidak karuan.
"Angin topan dari mana! Di sini tidak ada angin sama sekali! Ini sama seperti saat aku melihat kejadian ledakan gedung itu!"
"Tapi karena kamu melihat kejadian itu sekarang kamu dihantui terus."
"Iya nih. Aku merasa seperti dihantui oleh pembunuhnya atau para korban yang meninggal di dalam gedung itu." Pak Xavier semakin mabuk hingga kepalanya hampir terpentok mengenai mejanya.
"Sudah sepertinya kamu sudah mabuk berat. Sebaiknya kita bergegas pulang sekarang!" ajak temannya Pak Xavier.
"Bekerja lagi dan lagi tapi mendapat upahnya sama saja!"
Pak Xavier dan temannya melangkah keluar dari minimarket tersebut lalu mereka berpisah pulang ke rumah masing-masing dengan arah yang berlawanan. Ketika Pak Xavier hampir tiba di rumahnya, tiba-tiba mulutnya dibungkam oleh pembunuhnya dari belakang dengan menggunakan obat bius hingga tidak sadarkan diri. Sementara temannya Pak Xavier mendengar seperti ada aksi perlawanan dari kejauhan langsung menoleh ke arah belakang.
"Mungkin memang aku sudah kebanyakan minum jadinya mulai berhalusinasi yang aneh-aneh," gumamnya sambil melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya.
*****
Kembali lagi di saat aku dan anggota timku sedang menginterogasi temannya Pak Xavier.
"Jadinya Anda tidak melihat kejadian itu secara langsung tapi mendengar seperti ada seseorang yang sedang berkelahi?" tanyaku.
"Karena kondisi jalanan sangat sepi jadi suaranya bergema dan terdengar di telinga saya dengan jelas walaupun dalam kondisi mabuk."
"Begitu rupanya."
"Baiklah terima kasih atas waktunya, Pak. Informasi yang Anda berikan sangat bermanfaat untuk proses penyelidikan kami," ucap Fina tersenyum ramah.
Sementara di sisi lain, Adrian mengunjungi rumah sakit lagi untuk menjenguk Yohanes yang masih dirawat inap di sana. Ketika Adrian mendorong pintu kamarnya, Yohanes sedang memakai kemeja kerjanya.
"Yohanes, bukankah kamu tidak boleh keluar dari rumah sakit dulu?" tanya Adrian.
"Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga bosan kalau berdiam di sini terus. Sebaiknya aku membantumu bekerja saja."
"Tapi nanti kamu diincar oleh pelakunya lagi. Barusan Penny bilang kepadaku bahwa ada saksi mata dalam kasus pembakaran gedung baru saja tewas dibunuh semalam."
"Apa? Bagaimana pelakunya tahu kalau dia adalah saksi matanya?"
"Mungkin sejak pertemuan pelaku dengan saksi mata itu, pelakunya memantaunya terus secara diam-diam selama ini." Adrian mengangkat alisnya bertopang dagu.
__ADS_1
"Iih aku jadi ngeri kalau sampai terjadi sesuatu padaku lagi." Yohanes bergidik ngeri hingga tubuhnya merinding.
"Pasti ada seseorang di kantor polisi atau di kantor kita yang melaporkannya langsung kepada pelakunya mengenai saksi mata tersebut."