
Sementara di sisi lain, pengacara Leonard sedang berada di dalam ruang rahasianya berjalan mondar mandir sambil mengamati benda hasil curiannya yang tidak berharga. Ia mengambil salah satu fotonya Angelina dan mengelus selembar kertas foto tersebut perlahan.
"Aku jadi merindukan kalian bertiga. Rasanya ingin kembali ke masa lalu saat kita selalu bersama ke mana pun kita pergi."
Namun penyakit pada kepalanya mulai kambuh lagi. Kepalanya terasa sangat sakit tidak seperti biasanya begini. Ia terus meruntukki dirinya sendiri hingga menyenggol kotak pajangan transparan yang digunakan untuk menaruh semua benda milik Angelina terjatuh ke lantai semua hingga berserakan.
"Sial! Kenapa di saat begini dia malahan ingin keluar? Gara-gara ulahnya, aku jadi harus membereskan semua barang ini lagi!" umpatnya sambil membereskan semua barangnya Angelina dikembalikan ke tempat semula.
Pengacara Leonard menutup kotak transparan itu rapat lalu kembali duduk bersandar lemas pada tembok. Kepalanya masih terasa sangat sakit namun ia tetap keras kepala tidak ingin meminum obat yang diberikan dokter Jesslyn. Akan tetapi, saat ini ia merasa seperti ada sesuatu dalam tubuhnya yang terus mengganggunya. Tiba-tiba dirinya berubah menjadi sosok orang yang berbeda dari sebelumnya. Mimik wajahnya yang tadinya terlihat kejam kini alisnya turun dan timbullah kegelisahan yang terlukis pada wajahnya saat ini. Berbeda sekali dengan sebelumnya alisnya selalu terangkat dan juga tersenyum seperti seorang psikopat.
"Dia pasti berbuat ulah lagi! Lihat saja nanti! Aku tidak akan membiarkannya menguasai tubuhku seenaknya!"
Pengacara Leonard bergegas melangkah keluar dari ruang rahasianya lalu mengambil obat khususnya di laci meja samping ranjang langsung meminumnya. Setelah itu, ia membaringkan tubuhnya lemas di atas ranjangnya merenungkan apa yang dialaminya selama ini sambil mengamati tangannya yang sudah ternodai banyak darah manusia membuat dirinya semakin bersalah dan ingin rasanya membunuh dirinya sekarang. Penyakit langka yang dialaminya selama ini bukanlah merupakan keinginannya. Ia sebenarnya ingin melenyapkan penyakitnya sepenuhnya dari tubuhnya sehingga ia bisa hidup bebas seperti orang normal lainnya. Apalagi dirinya merupakan seorang pengacara yang bekerja di firma hukum ternama melakukan aksi yang tidak patut dilakukan, cepat lambat pasti akan tertangkap basah juga oleh pihak kepolisian.
"Apa mungkin sebaiknya aku menyerahkan diriku saja, ya? Tapi kalau seandainya aku menyerahkan diriku, dia pasti tidak akan membiarkanku lemah begitu saja," gumam pengacara Leonard bingung pada dirinya sendiri.
Pengacara Leonard berusaha memejamkan matanya untuk tertidur lelap namun penyakit langka yang dialaminya selama ini membuatnya mengidap insomnia juga. Hampir setiap malam ia tidak bisa tidur nyenyak dan terus memikirkan kejahatan yang diperbuatnya sejak enam bulan yang lalu. Ia beranjak dari ranjangnya kemudian menuruni anak tangganya satu per satu mengamati sekeliling rumahnya penuh ketakutan. Rumahnya yang terlihat lumayan mewah sebenarnya sudah ternodai akibat perbuatan jahat yang dilakukannya di dalam rumah ini. Pertama kali ia membunuh Angelina di tempat ini hingga darahnya tercecer ke mana-mana. Lalu kedua kalinya ia membunuh Gracia juga di tempat ini tanpa segan-segan. Selama enam bulan terakhir ini, ia juga sudah cukup lelah untuk menutupi kejahatan yang diperbuatnya. Bahkan rasanya sekarang tempat tinggalnya angker untuk ditempati. Di sisi lainnya yaitu dirinya sekarang, ia tidak akan melakukan perbuatan kejam itu walaupun dua teman dekatnya sudah melupakannya.
Pengacara Leonard sebenarnya ingin mendatangi Angelina dan Gracia untuk meminta maaf sedalam-dalamnya atas perbuatannya. Namun ia tidak ingin bertebal muka menampakkan dirinya tiba-tiba di saat dirinya sudah melakukan perbuatan keji pada mereka.
Rasa takut yang dialaminya terus saat ini membuat dirinya ingin menghubungi seseorang yang sangat dekat baginya. Tapi ia tidak mungkin menghubungi dokter Jesslyn untuk menemaninya sepanjang malam di rumahnya. Bahkan terakhir kali saat ia sedang melakukan sesi terapi dengannya, ia sudah berpesan untuk jangan pernah mendatanginya lagi kalau penyakitnya sudah tingkat parah.
Setelah merenungkan dirinya beberapa menit, pengacara Leonard memutuskan kembali ke kamarnya berusaha untuk memejamkan matanya lagi.
Sementara di sisi lainnya, tiba-tiba aku berada di suatu tempat yang sangat nyaman bagiku bersama keluarga kecilku. Saat ini aku sedang berada di taman yang dipenuhi berbagai macam bunga sambil menggandeng tangan anakku.
"Mama, apa aku terlihat cantik seperti bunga?" tanya Victoria.
"Tentu saja. Bahkan Victoria lebih cantik dari bunga," jawabku mengelus kepalanya lembut.
"Bagi papa pokoknya mama dan Victoria selalu terlihat cantik," ucap Adrian mengecup pipiku dan Victoria.
"Kamu bisa saja berkata seperti itu," sahutku tersipu malu.
"Papa! Aku mau makan pancake! Aku lapar!" rengek Victoria manja.
"Oke, Victoria. Sekarang papa akan mengantarmu menuju toko pancake, ya." Adrian menggendong Victoria dan juga merangkul bahuku mesra.
"Kalau mama tidak mau ke toko pancake."
"Memangnya kenapa, Sayang? Kamu tidak suka pancake, ya?"
"Bukan begitu. Aku maunya masuk ke dalam pikiranmu saja, Sayang," godaku tersenyum nakal.
"Kamu bisa saja berpikir begitu, Sayang! Tidak apa-apa yang terpenting aku semakin mencintaimu." Adrian semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku bersiap-siap ingin memberikan kecupan manis padaku.
Namun aku menjauhkan wajahku darinya lalu membungkam mulutnya dengan jari telunjukku untuk mencegah aksi nakalnya.
"Sayang, kamu harus selalu ingat. Anak kita ini cerdas nanti kalau sampai dia melihat kita melakukannya gimana?"
"Melakukan apa, Mama?" tanya Victoria penasaran berkedip matanya.
"Bukan apa-apa, Victoria. Papa hanya ingin melakukan iseng saja sama mama." Aku memasang raut wajah polosku pada Victoria supaya ia tidak mencurigainya.
"Papa ingin men--" Ucapan Adrian terputus langsung dipotong olehku.
"Sudahlah daripada kita berlama-lama di sini lebih baik kita berangkat saja ke sana," potongku.
Ketika kami bertiga ingin memasuki mobil, tiba-tiba sosok pengacara Leonard menampakkan dirinya di sini sambil membawa sebuah pisau kecil yang ada di tangannya. Langkah kakinya semakin cepat menghampiri kami, lalu aku dan Victoria teriak menjerit di hadapannya.
"PENNY! VICTORIA! AKU AKAN LINDUNGI KALIAN!"
Pisau yang diayunkan oleh pengacara Leonard mendarat pada dadanya Adrian hingga darahnya mengalir deras dari dalam tubuhnya. Tubuhnya ambruk ke tanah lalu menatapku dan Victoria sendu.
"ADRIAN!" teriakku menjerit ketakutan.
"PAPA!" teriak Victoria.
Aku dan Victoria berjongkok lemas tepat di sebelahnya sambil menahan aliran darah yang terus mengalir dari dalam tubuhnya. Sekarang rasanya aku ingin membunuh pengacara Leonard habis-habisan karena tega membunuh suamiku tepat di depan mataku dan Victoria. Aku menangis seperti orang gila hingga rambutku tidak beraturan.
"PENNY!"
Suara itu terdengar sangat tidak asing bagiku. Aku mendengar suaranya yang sangat lantang langsung membangunkan diriku dari mimpi buruk ini. Aku tersadar dari dunia mimpi membuka kedua mataku lalu menoleh ke arahnya yang sedang terbaring dalam kondisi sehat.
__ADS_1
"Penny, apa kamu mengalami mimpi buruk? Keringatmu terus mengalir dari tadi." Adrian menyeka keringatku dengan lengan piyamanya dan mengusap air mataku yang terus mengalir pada pipiku.
Aku tidak meresponnya sama sekali hanya bisa menyentuh pipinya yang lembut dengan tatapan sendu dalam kondisi tanganku gemetar. Syukurlah aku masih bisa merasakan tubuhnya dan melihat senyuman bahagianya.
"Adrian, kamu masih sehat rupanya. Aku sangat bersyukur bisa melihatmu dalam kondisi sehat begini." Tangisanku terisak-isak terus membanjiri pipiku.
"Penny, aku akan selalu hidup sehat terus. Kamu tidak usah terlalu mencemaskanku. Biar aku saja yang akan terus melindungimu dengan tanganku sendiri. Kamu tidak perlu menangis lagi di hadapanku." Adrian memelukku hangat sambil mengelus punggung tanganku untuk menenangkan pikiranku yang sedang kacau sekarang.
"Aku takut sekali, Adrian. Aku takut terjadi sesuatu padamu suatu hari nanti." Suaraku gemetar sambil menggigit bibirku bawah.
"Itu tidak akan kubiarkan terjadi. Tenang saja aku akan selalu terlihat sehat di depan matamu," ucapnya percaya diri sambil mengusap kepalaku.
Helaan napasku panjang barusan membuat diriku kembali tenang dan tidak lagi menangis berkat dirinya yang mampu berhasil menenangkanku di saat aku sedang gelisah. Aku tidak ingin melanjutkan perbincangan mencekam lagi.
"Tapi Adrian, sebelum kejadian buruk itu muncul dalam mimpiku, kamu bersikap nakal padaku!" ketusku mengalihkan perbincangan menegangkan.
"Memangnya aku melakukan apa padamu?" tanyanya bingung.
"Ada deh rahasia!" Aku menjulurkan lidahku.
"Ish kasih tahu dong, Penny! Apa yang aku lakukan padamu di mimpimu?" rengek Adrian seperti anak kecil terus menggoyangkan tanganku.
"Sudahlah lupakan saja. Aku menarik perkataanku barusan." Aku membalikkan tubuhku menghindari tatapan matanya sambil menarik selimutnya hingga menutupi leherku.
Tapi Adrian membalikkan tubuhku paksa menghadapnya lagi dan menahan kepalaku supaya tidak bisa menghindarinya.
"Ayolah, Penny! Apa yang telah aku perbuat padamu?" rengeknya lagi semakin manja.
"Tidak mau!" tolakku langsung.
Aku memasukkan tubuhku ke dalam selimut namun Adrian membuka selimutnya lebar dengan senyuman nakal.
"Penny, kalau kamu terus menghindariku, maka aku akan beri hukuman padamu lagi!" ancamnya membuatku agak gugup sekarang.
"Aduh kenapa sih kamu suka memberiku hukuman terus!" keluhku memanyunkan bibirku.
Adrian mendekatkan wajahnya menuju wajahku lalu menempelkan hidungnya pada hidungku dengan senyuman godaan.
"Ish selalu saja pilihannya dua itu! Apa tidak ada yang lain lagi?"
"Tidak ada. Karena hanya dua itu yang bisa membuat hatiku terasa puas."
"Hufft! Tega amat!" Aku menghembuskan napasku kasar memalingkan mata darinya.
"Karena kamu tidak memberitahuku apa yang aku perbuat dalam mimpimu dan juga kamu tidak memilih salah satu pilihan hukumannya, maka aku yang akan bertindak sekarang!"
Adrian semakin mendekatkan wajahnya dan kondisi saat ini jarak antara bibirku dengan bibirnya berbeda sangat tipis. Jantungku semakin berdebar-debar sampai aku mencengkeram piyamaku sendiri hingga kusut. Lalu aku lebih pilih menyerah akhirnya membuka suaraku sebelum ia mendaratkan ciumannya.
"Kamu hampir menciumku di depan Victoria."
"Masa sih aku berbuat nekat begitu di depan anak?"
"Kalau tidak percaya ya sudah lupakan saja dan sekarang lanjutkan tidur lagi!" Aku menarik selimutnya lagi membungkus tubuhku hangat.
"Walaupun aku sebenarnya ingin melakukan itu padamu tapi bukan berarti aku melakukannya di depan anak kita. Ada-ada saja aku ini di dalam mimpimu," celotehnya menggelengkan kepalanya.
"Iya untung saja itu hanya di dunia mimpiku tapi sepertinya aku meragukanmu sekarang. Aku merasa sepertinya kamu akan berbuat begitu di hadapan Victoria suatu hari nanti deh."
"Ish kamu sembarangan nuduhku saja! Padahal kamu sendiri juga sering melakukannya padaku di dalam mimpiku!"
"Masa sih?"
"Hampir setiap malam aku bisa merasakan kehangatan dan manisnya bibirmu sampai aku tidak ingin terbangun dari mimpiku." Senyuman mengambang terlukis pada wajahnya.
"Memang kamu modus sejak dulu, Adrian!"
"Bukan aku yang modus, tapi kamu yang selalu berbuat gitu padaku di mimpiku!"
"Justru terbalik!"
"Kamu saja yang tidak tahu sama sekali, Penny!"
"Sudahlah aku malas berdebat denganmu karena masalah kecil saja! Mendingan aku tidur saja daripada melihat wajahmu!"
__ADS_1
"Oh, jadi begitu kamu malas lihat wajah tampanku! Ya sudah aku juga tidak mau melihatmu sekarang!"
Adrian mendengkus kesal membalikkan tubuhnya menghadap di sisi lain menghindariku. Sedangkan aku juga berdecak sebal malas lihat wajahnya juga. Apalagi ia terus menuduhku bahwa aku selalu modus terhadapnya. Justru kenyataannya ia yang suka mencari kesempatan.
Baru saja aku memejamkan kedua mataku ingin memasuki dunia mimpiku lagi, Adrian mencium puncak kepalaku penuh kasih sayang lalu mendekapku hangat.
"Semoga dengan kecupanku barusan, kamu bisa bermimpi indah lagi, Penny."
Aku membenamkan kepalaku manja pada tubuhnya mempererat dekapannya.
"Mmm sudah pasti, Adrian. Karena kamu adalah obat untukku bermimpi indah terus. Biarkan aku melihat wajahmu sekarang."
"Bukankah kamu tadi bilang malas melihat wajahku?"
"Itu aku hanya bercanda. Mustahil aku malas melihat wajahmu."
Adrian melekatkan hidungnya pada hidungku sambil menggeseknya perlahan membuatku tertawa kecil karena geli. Aku membalasnya dengan saling menggesek hidung juga. Ia kembali menyeka keringatku lagi yang masih melekat pada dahiku.
"Kamu masih keringat dingin."
"Tadi sih iya, sekarang sudah tidak lagi."
"Kamu tidur saja. Biar aku yang mengelap keringatmu sampai bersih."
Aku menahan tangannya lalu kulekatkan tangannya pada pipiku.
"Tidak perlu mengelap keringatku. Sebaiknya kamu tidur juga supaya besok bisa bekerja dengan semangat."
Sementara di sisi lain, walaupun hari masih gelap, Fina tidak bisa tidur dengan nyenyak karena masih memikirkan identitasnya pengacara Leonard yang sebenarnya. Ia beranjak dari ranjangnya diam-diam supaya tidak membangunkan Hans lalu menutupi pintu kamarnya perlahan. Fina melangkah menuju ruang tamunya mengambil berkas laporan kasusnya yang masih berserakan di atas meja ruang tamunya.
Ia mengambil selembar laporan mengenai data pribadinya pengacara Leonard. Tatapan matanya terus berfokus pada laporannya bagaikan burung hantu yang suka beraktivitas di malam hari.
'Aku merasa data pribadinya seperti dimanipulasi sengaja supaya tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui identitasnya. Apalagi dalam datanya dibilang kedua orang tuanya sudah meninggal sejak lama, aku yakin pengacara Leonard adalah Zack yang masih hidup berkeliaran selama ini. Lalu mengenai penyakit gangguan jiwa yang dialaminya selama ini dia sengaja menyembunyikan faktanya supaya dia masih bisa bekerja di firma hukum L&C,' gumamnya dalam batinnya.
Sementara Hans juga ikutan terbangun karena ingin ke kamar kecil menemukan sosok istrinya yang sedang sibuk fokus mengamati berkas laporan kasusnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Fina?" tanya Hans penasaran menghampirinya lalu duduk tepat di sebelahnya.
"Aku hanya melihat berkas kasusnya saja."
"Lihat berkas malam-malam begini. Sudahlah kamu sebaiknya tidur lagi saja. Besok kita akan lanjutkan lagi penyelidikannya di kantor."
"Aku hanya merasa masih ada yang mengganjal pada pikiranku saja. Sepertinya data pribadinya pengacara Leonard yang selama ini diketahui oleh semua orang sepertinya palsu."
"Fina, ini sudah tengah malam. Kamu harus beristirahat yang cukup supaya tidak sakit!" tegas Hans mengambil berkasnya dari genggaman tangan Fina lalu memasukkannya ke dalam laci meja.
"Ish kenapa kamu mengambilnya?"
"Supaya kamu bisa tidur lagi bersamaku."
"Lalu kamu sendiri kenapa bangun malam-malam begini?"
"Karena aku ingin buang air sekarang," jawab Hans langsung bergegas memasuki kamar mandinya.
"Dasar Hans! Mau buang air tapi masih bisa sempatnya menyuruhku tidur dulu!" ketus Fina menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, Hans keluar dari kamar mandi lalu menatap Fina heran masih berada di ruang tamu.
"Kenapa kamu masih belum tidur juga? Mau aku seretmu paksa ke dalam kamar?" omel Hans berkacak pinggang.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri tanpa bantuanmu!" celetuk Fina menghentakkan kakinya kasar memasuki kamarnya lagi.
"Harus aku ancam baru dia takut tuh. Memang Fina itu kelemahannya kalau diancam oleh suami sendiri langsung dia patuh."
Tiba-tiba Fina membuka pintu kamarnya lalu mendongakkan kepalanya menatap Hans.
"Aku mendengar perkataanmu barusan. Kalau mau membicarakanku, sebaiknya jangan di belakangku!" ketus Fina.
Keesokan harinya, usai melakukan sarapan dan membersihkan diriku, aku dan Adrian berangkat kerja ke kantor lagi. Di tengah perjalanan menuju kantor polisi, tiba-tiba muncul penampakan mobilnya pengacara Leonard di tengah jalan. Namun ia melajukan mobilnya bukan menuju gedung firma hukum L&C. Ia melaju ke arah yang berlawanan membuat Adrian penasaran dengannya.
"Penny, sepertinya ada yang tidak beres dengan pengacara Leonard. Dia tidak mengendarai mobilnya menuju kantornya."
"Sebaiknya kita ikuti dia saja sekarang dari belakang."
__ADS_1