
Aku dan Adrian berangkat ke gedung pengadilan tinggi. Sesuai dengan permintaannya, hari ini aku berpenampilan lebih rapi dari biasanya memakai pakaian formal bernuansa sedikit elegan dan juga merias wajahku lebih bersinar dari biasanya.
Mataku sedikit gatal melihat pemandangan di hadapanku tidak enak lihat. "Tunggu sebentar, Adrian. Dasimu sedikit miring."
Adrian memajukan kepalanya mendekatiku, aku merapikan dasinya dengan tatapan fokus. Tangan kirinya menyentuh pipiku lembut membuat pipiku merah merona.
"Sekarang sudah rapi! Kamu terlihat keren!"
"Doakan aku memenangkan persidangan ini," ucapnya membelai rambutku.
Aku memberinya sebuah kecupan manis mendarat pada pipinya untuk memberinya vitamin penyemangat. "Ini vitamin dariku supaya kamu memenangkan persidangan ini."
Adrian mengecup pipiku sekilas. "Terima kasih, Penny. Vitamin dariku selalu hanya untukmu."
"Aku selalu suka vitaminmu."
Adrian mengulurkan tangan kanan. "Ayo kita masuk sekarang!"
Di dalam ruang sidang, aku bertemu dengan anggota timku ingin menyaksikan persidangannya juga. Aku sangat lega melihat Hans sudah pulih kembali dan tersenyum ceria di hadapan Fina. Aku memilih duduk tepat di sebelah kanannya Fina sambil menunggu persidangan itu dimulai.
"Aku senang melihatmu sehat, Hans," sapaku tersenyum lebar menatapnya.
Hans menggeserkan tubuh mendekati Fina. "Ini semua berkat Fina yang terus merawatku."
"Aku hanya merawatnya seperti biasa," sanggah Fina tersipu malu tidak berani menatap Hans.
Tak lama kemudian, Josh dan pengacaranya duduk di depan sana. Sedangkan Adrian muncul di balik ruangan dengan memakai jubah jaksanya sehingga penampilannya terlihat gagah di mataku sambil membawa berkasnya lalu menaruh di meja.
Adrian menatapku dari kejauhan sambil mengedipkan mata kanan untukku. Lalu aku juga membalasnya dengan mengedipkan mataku sebagai isyarat untuk mendoakannya menang dalam persidangan ini.
Para hakim yang memimpin persidangan baru tiba di tempatnya lalu semua pengunjung di ruangan berdiri tegak untuk memberikan penghormatan terlebih dahulu.
"Jaksa Penuntut, silakan dimulai pernyataannya."
"Tanggal 5 Desember 2021, ditemukan mayat wanita yang telah terkonfirmasi identitasnya bernama Maria Yunita dibunuh oleh terdakwa dengan cara dicekik hingga korban kesulitan bernapas dan tewas. Untuk menghilangkan jejak pembunuhan itu, terdakwa membuang tubuh korban ke dasar sungai," ucap Adrian memulai pernyataan awal.
"Apakah ada bukti?" tanya salah satu hakim.
"Yang Mulia, saya akan memanggil saksi bernama Rina Dahlia untuk menyampaikan kesaksiannya."
"Silakan."
Bu Rina berjalan menduduki kursi saksi dan menyampaikan sumpah kesaksian terlebih dahulu.
"Saksi, tolong Anda jelaskan bagaimana kronologi kejadian saat malam itu!" pinta Adrian tegas.
"Malam itu, saya sedang berjalan mencari udara segar lalu tiba-tiba saya melihat pria itu bertengkar hebat dengan seorang gadis berebutan kamera."
"Apakah Anda yakin bahwa pria di depan sana adalah pelakunya?"
"Saya yakin."
"Keberatan Yang Mulia! Pernyataan saksi tidak bisa diterima karena saksi mengalami rabun senja!" protes pengacara.
"Walaupun pernyataan saksi kurang akurat, tapi saya memiliki bukti akurat membuktikan perbuatan jahat terdakwa!" elak Adrian.
"Saya memiliki bukti rekaman CCTV menunjukkan alibi terdakwa!" Pengacara itu memutar rekaman CCTV palsu.
Aku dan semua anggota timku terlihat santai mendengar pernyataan dari pengacara karena kami memiliki rekaman CCTV asli.
"Ini adalah terdakwa pada saat malam kejadian itu," ucap pengacara.
"Keberatan Yang Mulia! Pengacara memutar rekaman CCTV palsu yang dibuat terdakwa sebelum tertangkap!" Adrian memutar rekaman CCTV yang asli dan memperlihatkannya kepada semua orang.
Sementara para pengunjung terlihat sangat terkejut menyaksikan rekaman CCTV asli.
"Kalian bisa lihat rekaman CCTV ini terlihat sama. Tapi ada satu perbedaan yang menunjukkan itu rekaman palsu." Adrian menunjuk arah jarum panjang dalam video dan juga beberapa titik pencahayaan video terlihat berbeda.
Para pengunjung menatapnya kebingungan. "Apa itu? Kenapa bisa arah jarum jamnya berbeda?"
"Ini adalah rekaman palsu yang direkayasa terdakwa. Jadinya rekaman ini sengaja direkam ulang di waktu berbeda sehingga terlihat juga kualitas video yang satu sedikit buram," ujar Adrian.
Ketua hakim beralih pada pengacara. "Pembela, apakah Anda punya pernyataan lain?"
"Terdakwa tidak terbukti membunuh Emma Watson malam itu!"
__ADS_1
"Keberatan Yang Mulia! Saya memiliki bukti bahwa terdakwa membunuh Emma Watson," bantah Adrian memperlihatkan sepasang antingnya Emma.
"Terdakwa membunuh korban lalu menyimpan anting ini sebagai cenderamatanya," tambahnya.
"Keberatan Yang Mulia! Jaksa penuntut hanya menyampaikan spekulasinya saja tanpa membuktikan dengan rekaman CCTV!" tolak pengacara itu.
"Walaupun saya tidak memiliki rekaman CCTV, tapi motif pembunuhannya sama dengan apa yang diperbuatnya terhadap Maria Yunita dan juga percobaan pembunuhan terhadap Reporter Yulia Emerald," ujar Adrian dengan percaya diri.
"Yang Mulia, saya akan memanggil Reporter Yulia Emerald untuk menyampaikan kesaksiannya pada saat hampir terbunuh terdakwa," lanjutnya lagi memohon pada hakim.
"Silakan."
Yulia berjalan perlahan menuju kursi saksi. Setibanya di sana, ia menyampaikan sumpahnya terlebih dahulu.
"Saksi, tolong jelaskan apa yang dilakukan terdakwa terhadap Anda waktu itu!" pinta Adrian tegas.
"Waktu itu, saya sedang berjalan menuju rumah saya lalu terdakwa mengejar saya. Bahkan saat saya tertangkap basah dmdi rumah saya, terdakwa menekankan saya mengenai artikel berita itu yang saya terbitkan di seluruh media. Lalu terdakwa dengan penuh emosi mencekik leher saya dengan kuat bermaksud membunuh saya tapi sudah keburu pihak kepolisian menghampiri rumah saya."
Adrian menunjuk Josh. "Apakah Anda yakin bahwa yang sedang duduk di depan sana adalah pelakunya?"
"Iya saya sangat yakin, suaranya itu terdengar sama."
"Sekian dari saya," ucap Adrian menunduk hormat.
"Keberatan Yang Mulia! Saksi tidak melihat wajah pelaku dengan jelas dan juga saksi hanya mendengar melalui suara. Tidak ada bukti yang akurat membuktikan terdakwa mencekiknya malam itu!" elak pengacara itu lagi.
"Saya bersumpah bahwa terdakwa merupakan pelaku yang berusaha membunuh saya! Bukan hanya dari suaranya saja, tapi dari postur tubuh dan juga motif pembunuhannya jelas sekali ingin membunuh saya untuk menghilangkan jejak kejahatannya!" kata Reporter Yulia dengan lantang.
"Tapi Yang Mulia!"
"Jaksa penuntut, apakah ada pernyataan yang bisa Anda sampaikan lagi?" tanya hakim itu.
"Terdakwa selain melakukan pembunuhan yang kejam dan juga melakukan penyekapan korban di rumah pribadinya, terdakwa juga melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap kepala detektif yang menyelidiki kasus ini!" tutur Adrian.
Semua pengunjung heboh membicarakan Josh dari belakang seketika mendengar perkataan Adrian.
"Yang Mulia, tindakan itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini!" tolak pengacara itu lagi.
"Yang Mulia, saya akan memanggil kepala detektif Penny Patterson untuk menyampaikan kesaksiannya mengenai kejadian itu."
"Silakan."
"Kepala Detektif Penny, tolong sampaikan kesaksian Anda mengenai perbuatan terdakwa malam itu!" pinta Adrian menatapku dengan raut wajah profesional.
"Malam itu, sebenarnya saya diberi pesan nomor tidak dikenal untuk bertemu dengannya di hotel. Terdakwa mengirimkan pesan seolah-olah sebagai saksi dalam kasus pembunuhan ini. Akan tetapi, saat saya tiba di kamar hotel, terdakwa menyerang saya tiba-tiba melakukan tindakan tidak pantas."
"Saya memiliki bukti rekaman CCTV untuk membuktikan perbuatan keji terdakwa terhadap saksi malam itu." Adrian memutar rekaman CCTV imemperlihatkannya kepada semua orang di sana.
"Tapi tetap saja ini tidak ada hubungannya dengan kasus ini!" ketus pengacara itu mulai geram.
"Terdakwa memiliki penyakit gangguan jiwa yaitu Erotomania."
Semua orang di dalam sana sangat terkejut dan semakin heboh setelah mendengarkan pernyataan Adrian dan mengamati video rekaman CCTV di koridor hotel memperlihatkan adegan Josh melarikan diri.
"Apakah Anda punya buktinya?" tanya hakim itu.
"Ini adalah catatan rekam medis terdakwa berkonsultasi dengan mendiang Dokter Emily," jawab Adrian memperlihatkan catatan medis itu melalui sebuah layar sehingga semua orang dapat melihatnya.
Persidangan itu berlangsung dengan lancar tanpa ada kendala hingga pengacara itu kebingungan ingin menyampaikan pembelaannya lagi. Semua bukti yang didapatkan oaku adalah bukti yang akurat untuk membuktikan perbuatan jahat Josh, termasuk juga para saksi. Selama menyaksikan persidangan itu, aku hanya bisa berdoa untuk Adrian supaya ia bisa memenangkan persidangan ini.
Setelah hampir tiga jam persidangan berlangsung, ketua hakim yang memimpin persidangan ini, menutup persidangannya.
"Terdakwa Josh Wilson, melakukan tindakan kejahatan yang sangat kejam yaitu melakukan penyekapan Dahlia Martha dan juga Wenny Lim di rumahnya terdakwa. Selain itu terdakwa juga melakukan pembunuhan terhadap Maria Yunita dan juga Emma Watson. Terdakwa melakukan percobaan pembunuhan terhadap Reporter Yulia dan juga Jaksa Adrian Christopher. Lalu yang terakhir terdakwa juga melakukan percobaan pelecehan seksual kepada Kepala Detektif Penny Patterson. Oleh karena itu, sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya, terdakwa dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati."
Tok..tok..tok..
Petugas kepolisian membawa Josh keluar dari ruang persidangan itu. Suasana ruang sidang sangat ricuh menggosipkan Josh dan beberapa reporter di dalam ruangan sedang meliput artikel di internet.
"Tidak hanya saya yang tidak waras, kalian semua juga sama!" pekik Josh tidak waras.
Para pengunjung di sana tidak memedulikannya malahan menertawakannya. Banyak reporter yang ingin mewawancaraiku mengenai kasusnya Josh. Aku memberikan pernyataannya dan menyebar luaskan tindakan kotornya di seluruh media.
Sekarang semua sudah berakhir damai. Saatnya aku merayakan kemenanganku bersama pria yang kucintai. Di luar gedung pengadilan tinggi, sambil menunggu Adrian keluar dari gedung, aku berbincang sebentar dengan anggota timku.
"Sekarang semuanya berakhir. Mari kita berpesta!" sorak Nathan sambil memeluk kami semua.
__ADS_1
"Sepertinya hari ini aku tidak bisa makan malam dengan kalian."
"Kenapa? Apa kamu punya urusan penting, Penny?" tanya Nathan penasaran.
"Aku ingin merayakan kemenanganku bersama Adrian sekalian merayakan malam tahun baru."
Tania menyipitkan matanya dengan sengaja menyenggol lenganku. "Pantesan hari ini penampilanmu sangat berbeda Penny."
"Semoga makan malam kalian berjalan lancar," tutur Fina tulus.
"Maaf ya aku tidak bisa makan malam bersama kalian."
Hans menepuk lenganku. "Tidak masalah. Kamu rayakan dengannya saja,"
"Di saat malam tahun baru begini, memang yang terbaik adalah merayakannya dengan orang yang kita cintai," papar Fina sambil menatap Hans malu.
"Kamu mau makan malam bersamaku?" ajak Hans tersenyum pada Fina.
"Boleh juga. Ayo kita makan malam bersama!" jawab Fina semangat.
Nathan merangkul pundak Tania. "Kalau begitu aku akan makan malam dengan istri tercintaku saja."
"Benar juga, sudah lama kita tidak dinner romantis gara-gara kasus ini." Tania menjawabnya dengan nada manis.
Setelah mereka semua berpamitan dan meninggalkanku sendirian di sini, tak lama kemudian, Adrian berlari menghampiriku dan memelukku dengan erat.
"Kita berhasil, Penny!"
"Aku tahu kamu pasti bisa memenangkannya. Aku sangat bangga padamu, Adrian," balasku sambil melingkarkan kedua tanganku pada lehernya.
"Ini berkat kamu juga yang telah membantuku selama ini."
"Hasil jerih payah kita selama ini tidak terbuang sia-sia."
"Ayo kita pergi merayakannya sekarang!" ajaknya sambil merangkul bahuku mesra berjalan menuju mobilnya.
Di sisi lain, Fina sedang makan malam bersama Hans di restoran barbeque tempat langganannya Hans.
"Hans, tumben kamu mengajakku makan malam bersama," ucap Fina gugup.
"Karena aku ingin merayakannya dengan wanita yang kusukai selama ini," balas Hans santai sambil menyantap daging panggangnya.
Fina langsung mematung setelah mendengar lamaran mengejutkan, meski lamaran sebagai kekasih.
"Kamu barusan berkata apa?" tanya Fina semakin gugup hingga pipinya memerah.
"Kamu satu-satunya wanita yang kusukai. Maukah kamu jadi kekasihku, Fina?" Hans menghentikan santapannya lalu menyentuh tangannya Fina.
Fina tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya mengisyaratkan bahwa ia menyetujuinya. Lalu Hans beranjak dari kursinya dan menghampiri Fina memeluknya dengan hangat.
"Terima kasih telah bersedia menjadi kekasihku, Fina."
"Tentu saja, karena aku sangat menyukaimu, Hans," ucap Fina menangis terharu.
"Nih makan yang banyak supaya kamu harus selalu kuat." Hans dari tadi sibuk memberikan dagingnya kepada Fina.
Fina tidak mau kalah dengan Hans, ia memberikan dagingnya banyak. "Iih kamu juga harus makan biar tidak sakit lagi."
Untuk merayakan kemenangan kami berdua dan juga malam tahun baru, Adrian mengajakku dinner romantis di suatu restoran berlatar outdoor. Selain itu, restoran ini memiliki gaya romantis yang dihiasi banyak lampu-lampu kecil bergantungan. Adrian memesan banyak menu makanan dan juga satu botol wine untuknya. Tidak biasanya ia mengajakku ke restoran seperti ini, membuatku semakin penasaran tujuannya sebenarnya apa.
Adrian menampakkan senyuman ceria. "Kamu suka tempatnya?"
Aku terkagum mengamati sekeliling restoran.
"Tumben sekali kamu mengajakku ke tempat seperti ini. Pasti makanan di sini sangat mahal."
"Aku sebenarnya mencari tempat ini dari jauh-jauh hari untuk mencari suasana yang tepat menikmati kembang api bersamamu."
Adrian menuangkan segelas wine untukku. "Khusus hari ini, demi merayakan kemenangan kita, mari kita minum wine ini sepuasnya."
Aku menunduk lesu, meski hari ini hari kemenangan, entah kenapa hatiku sangat gelisah, karena bisa dikatakan aku tidak akan tinggal bersamanya lagi. "Ini juga hari terakhir kita tinggal bersama. Karena kasusnya sudah selesai, aku harus pulang ke rumahku."
Raut wajahnya jadi gelisah sambil mengangkat gelasnya. "Mari kita bersulang!"
Aku ingin membalasnya mengangkat gelasku tapi ia mundur dan menaruh gelasnya di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa, Adrian?"
"Kamu harus menjawab pertanyaanku dulu. Kalau kamu setuju denganku baru kita bersulang."