
Aku menarik tangannya menuju supermarket membuat raut wajahnya semakin kecewa memanyunkan bibirnya.
"Sayang, kamu serius mengajak kencan di sini?" tanyanya lagi masih meragukanku.
"Memangnya kenapa? Kamu tidak suka?"
"Aku tidak masalah sih, tapi ini terasa aneh saja kencan di supermarket," desisnya sambil menggarukkan kepalanya bingung.
"Aku ingin berbelanja berdua bersamamu seperti layaknya sepasang suami istri. Kita belum pernah melakukan ini sebelumnya."
"Benar juga, ya. Kalau begitu mari kita belanja bersama."
Adrian mengambil salah satu troli belanja di luar supermarket. Sedangkan aku merangkul tangannya sambil ia mendorong troli. Kami berdua menghampiri ke bagian buah-buahan lalu ia membeli berbagai macam buah. Ternyata tidak hanya aku saja yang menyukai buah-buahan, tapi ia juga menyukainya. Selama aku tinggal di apartemennya, aku tidak pernah melihat isi kulkasnya terdapat buah.
"Aku tidak menyangka kamu suka makan buah-buahan."
"Buah itu kan sehat untuk tubuh kita. Apalagi kita selalu bekerja keras sampai kekurangan nutrisi tubuh jadi harus sering memakan buah."
"Untung saja suamiku suka makan buah-buahan. Kalau seandainya kamu tidak suka, aku akan terus memaksamu sampai kamu menyukainya."
"Kalau kamu memaksaku untuk menyukainya, aku pasti akan langsung menurutimu tanpa dipaksa dengan keras," ucapnya sambil mengelus pipiku.
"Karena kamu sangat menyukai hatiku yang lembut, maka aku selalu memperlakukanmu dengan lembut."
Sejenak Adrian tertawa gemas dan mendongakkan kepalanya tepat di mataku.
"Omong-omong, tadi kamu bilang bahwa kamu tidak pernah melihat buah tersimpan dalam kulkas. Sebenarnya nutrisi tubuhku sudah lebih dari cukup selama ini."
"Apakah karena aku memberimu vitamin setiap hari?"
"Vitamin darimu nutrisinya jauh lebih banyak dibandingkan buah. Sedangan buah itu hanya sebuah pelengkap saja." Adrian menjelaskannya padaku sudah terlihat seperti seorang dokter professional.
"Kamu berlagak seperti dokter tapi penjelasanmu itu tidak ada hubungannya dengan kesehatan." Aku menertawainya sambil menggelengkan kepalaku.
"Justru berhubungan dengan kesehatan tubuhku. Vitamin darimu selain memberiku semangat setiap saat dan kehangatan, kamu juga selalu membuat tubuhku terlihat sehat," lanjutnya menggombalku menyunggingkan senyuman nakalnya.
"Iya juga sih. Sejak aku mendapat vitamin darimu setiap hari, tubuhku selalu sehat dan kuat."
"Karena vitamin istimewa dariku hanya ada satu di dunia ini yaitu aku sendiri."
Lalu kami menghampiri tempat sayur-sayuran. Aku membeli beberapa macam sayur untuk aku memasaknya nanti. Sekarang pekerjaanku bukan hanya kepala detektif, tapi menjadi ibu rumah tangga sehingga aku harus melaksanakan kewajibanku ini dengan sepenuh hatiku demi suami kesayanganku.
"Kamu belanja sayurnya banyak sekali sih," ucapnya dengan tatapan melongok.
"Nanti aku akan memasak makanan yang lezat spesial untukmu."
"Kamu sungguh istri terbaik sepanjang masa."
"Jangan senang dulu! Aku belum selesai bicara nih."
"Memangnya kenapa? Kamu memang istri terbaikku."
"Iya nanti lihat saja. Kalau masakanku terasa tidak enak nanti kamu pasti bilang bahwa aku ini payah dalam hal memasak."
Adrian menepuk jidatnya sambil mencubit pipiku sedikit bertenaga.
"Astaga aku tidak mungkin tega mengatakan hal seperti itu. Walaupun masakanmu terasa biasa saja, aku tetap akan menghargai masakanmu itu. Lagi pula sekarang kamu sudah jago memasak."
"Aku berharap kamu sangat menyukai masakanku nantinya. Karena hari ini adalah hari pertama aku menjalani kehidupan rumah tangga bersamamu, aku akan merayakannya."
"Nanti kita merayakannya puas sampai larut malam."
Setelah selesai belanja dan bayar tagihan di kasir, Adrian membawa semua barang belanjannya sambil menggandeng tanganku sedikit sulit karena barang belanjaannya banyak.
"Adrian, biar aku saja membantumu membawa barang belanjaannya," tawarku sambil menyentuh tas belanjaannya, namun ia melepas sentuhan tanganku.
"Tidak perlu. Biar aku saja yang membawanya, nanti tanganmu sakit," tolaknya santai tersenyum padaku.
"Tapi Adrian--"
Sorot matanya tertuju pada suatu toko kue terletak di dekat supermarket. Adrian menarik tanganku menuju toko kue itu dengan antusias. Di toko kue, ia sibuk memandangi banyak kue yang terpajang di etalase.
"Aku ingin membelikan kue cokelat untukmu. Kamu suka kue yang mana?" tawarnya dengan senyuman manis.
"Kamu tahu juga aku sedang menginginkan kue cokelat," balasku sambil merangkul tangannya manja.
"Istriku sendiri mana mungkin aku tidak tahu. Sudah terukir di wajahmu sejak tadi saat di supermarket."
"Kalau begitu, hmm... aku pilih kue cokelat yang ini saja. Ukurannya paling besar di antara semua jadi kita bisa menikmatinya dengan puas bersama." Aku menunjuk sebuah kue cokelat berukuran besar.
"Baiklah aku akan membelikannya untukmu."
"Mau pesan yang mana, Tuan?" tanya penjaga toko kue itu.
"Saya ingin beli kue cokelat yang ini," jawab Adrian sambil menujuk kue cokelatnya.
"Baiklah akan saya segera bungkuskan. Omong-omong, kalian berdua seperti pengantin baru saja," kata penjaga toko kue itu tersenyum sendiri.
"Iya, kami berdua baru saja menikah kemarin," balas Adrian merangkul bahuku mesra.
"Wah, pantas saja sikap kalian dari tadi manis sekali! Semoga hubungan kalian terus seperti ini!"
"Kami berdua memang sudah biasa selalu bersikap manis," balas Adrian menunduk malu.
Tak lama kemudian penjaga toko kue selesai memasukkan kuenya ke dalam sebuah kotak membungkusnya dengan rapi.
"Ini kuenya sudah saya bungkuskan."
Adrian mengambil ponsel di saku jasnya lalu membayar kuenya dengan itu.
"Terima kasih sudah berkunjung di toko kami," ucap penjaga toko kue itu dengan ramah.
Kami berdua melanjutkan kencan kami lagi mengelilingi pusat perbelanjaannya. Aku mengajaknya mampir sebentar ke suatu photobooth.
"Kita belum pernah berfoto di sini. Walaupun kita sudah sering foto bersama menggunakan ponsel dan juga sudah banyak foto pernikahan kita, tapi rasanya ada sesuatu yang kurang. Aku ingin menciptakan kenangan indah kita lebih banyak lagi," ucapku sambil melakukan pengaturan pengambilan fotonya.
"Kalau begitu mari kita foto bersama lebih banyak. Semakin banyak foto, setiap kenangan yang kita ciptakan akan semakin banyak.
Lalu kamera sudah siap posisi menghitung mundur secara otomatis. Dengan sigap aku merapikan rambutku lalu Adrian memelukku dengan erat dan mencium pipiku sambil menatap kameranya.
Ceklek
Foto pertama berhasil diambil dengan hasil yang terlihat sangat sempurna hingga kami memandangi hasil fotonya terkagum.
"Kamu menciumku tiba-tiba tadi."
"Sebagai penambah manis dalam foto ini."
"Kalau begitu kamu memperlakukanku dengan manis selama pemotretan berlangsung supaya semua hasil fotonya terlihat manis," usulku menyandarkan kepalaku pada pundaknya manja.
Setelah melalukan pengambilan foto sekian kali, aku mengambil hasil fotonya yang tercetak dan memandanginya bersama dengannya.
"Menurutku ini bukan sekedar foto biasa," paparku menatap foto itu dengan tatapan bersinar.
"Ini seperti foto prewedding kita. Tapi bedanya kamu terlihat sangat imut di foto ini," balasnya sambil mencubit pipiku dengan lembut.
"Padahal wajahku biasa saja setiap hari. Lagi pula aku juga imut saat melakukan foto prewedding."
"Terutama pipimu yang memerah ini, semakin imut kelihatannya." Adrian mencubit pipiku sambil melekatkan hidungnya pada hidungku menyunggingkan senyuman nakalnya.
"Sudahlah hentikan! Aku tidak kuat dengan gombalanmu ini," ujarku tersipu malu.
__ADS_1
"Sekarang kita sudah selesai berfoto bersama. Adakah hal lain lagi yang ingin kamu lakukan disini?"
"Aku rindu menonton film horror bersamamu di bioskop."
"Tapi nanti kamu ketakutan seperti waktu itu."
"Tidak masalah, sekarang aku sudah mulai berani," sanggahku dengan percaya diri.
"Ya sudah, kalau kamu sampai ketakutan seperti waktu itu, kamu bisa memelukku dengan erat."
Lalu kami berdua berjalan menuju bioskop. Di tengah jalan, kakiku terasa sakit sekali. Rasanya aku sudah tidak kuat berjalan hingga tubuhku hampir terjatuh ke lantai. Untung saja dengan tangan lincahnya Adrian menahanku cepat.
"Penny! Kamu kenapa?" Adrian menahan tubuhku hampir tumbang ini dengan tatapan cemas.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja kakiku terasa sedikit sakit," jawabku sambil menyentuh sebuah luka lecetan pada kakiku.
Adrian menuntunku duduk di sebuah bangku kosong lalu berjongkok di hadapanku melepaskan sepatu heelsku melihat luka kakiku.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku akan membelikanmu obat sebentar!" ucapnya dengan panik.
Adrian berlari menghampiri sebuah pharmacy membeli obat salep untukku. Tidak lebih dari 10 menit, ia kembali menghampiriku sedang duduk di bangku lalu kembali berjongkok sambil mengoleskan obatnya pada luka di kakiku ini. Setelah itu, ia menempelkan perban pada luka tumitku.
"Kamu ceroboh sekali! Kenapa kamu memakai sepatu heels! Biasanya kalau seorang wanita memakai sepatu ini pasti akan ada luka lecetan di kakinya!" ketusnya mulai mengocehiku dengan cerewet.
"Aku hanya ingin terlihat cantik di matamu saja," balasku bernapas lesuh.
"Tapi biar gimanapun, kamu jangan nekat memakai sepatu ini! Aku tidak suka melihat kamu terluka seperti ini!" celetuknya balik.
Embusan napas lesuh dikeluarkan dari rongga mulutku. Lagi-lagi aku membuatnya cemas, meski aku tidak mengalami bahaya.
"Maaf aku membuatmu khawatir terus."
"Pokoknya lain kali aku tidak akan mengizinkanmu memakai sepatu ini! Kamu bisa menggunakan sepatu lainnya yang membuatmu terasa nyaman."
"Iya deh aku akan menuruti nasihat suami tercintaku ini."
"Sekarang kita tidak bisa melanjutkan kencan kita lagi karena kamu terluka seperti ini."
"Aku merasa bersalah jadinya karena aku merusak momen kencan kita."
Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas dalam pikiran Adrian.
"Aku punya solusi lain. Mari kita pulang sekarang!"
"Kenapa? Aku padahal ingin lebih lama lagi di sini."
"Kita bisa melanjutkannya di apartemenku."
"Apa kamu yakin?"
"Tenang saja, lagi pula kalau kita kencan di sini rasanya sangat tidak nyaman. Aku hanya ingin melakukannya berdua bersamamu saja tanpa kehadiran orang lain."
"Baiklah kalau begitu ayo kita pulang sekarang!"
"Sini biar aku membantumu," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Tapi kamu sudah membawa barang belanjaan banyak."
"Tidak masalah. Kamu lupa bahwa aku ini pria yang kuat," tuturnya dengan nada sombong.
"Kalau aku jalannya agak lamban jangan mengeluh, ya."
Aku bangkit dari bangku itu secara perlahan lalu merangkul tangannya dengan erat. Bahkan saat ini aku berjalan sedikit pincang tapi ia tetap bersabar menungguku terus.
Sontak Adrian mengajakku memasuki sebuah toko sepatu menuntunku menduduki sebuah kursi membuatku bingung sekarang.
"Adrian, kenapa kamu mengajakku ke toko sepatu?" tanyaku bingung menautkan kedua alisku.
Adrian mengambil sebuah sepatu heels terlihat elegan namun tidak terlalu tinggi dan juga didesain dengan tali. Ia berjongkok sambil memakaikan sepatunya untukku seperti seorang pangeran.
"Untung saja aku mahir memilihkan ukuran yang pas untukmu."
"Sepatu ini jauh lebih nyaman dipakai dibandingkan sebelumnya."
"Mulai sekarang, kamu memakai sepatu ini saja setiap berkencan bersamaku. Selain itu sepertinya sepatu ini paling nyaman dipakai walaupun heels."
"Kamu seperti pangeran saja memakaikan sepatu untuk puterinya."
"Karena aku akan selalu menjadi pangeranmu," godanya sambil mengedipkan mata kirinya padaku.
"Terima kasih sudah membelikan sepatu terlihat indah di mataku."
"Ayo, kita pulang sekarang!"
Setibanya di apartemen, Adrian menaruh barang belanjaannya di meja lalu membantuku melepaskan sepatu yang kupakai. Ia mengangkat tubuhku menggendongku menuju sofa.
"Padahal aku bisa berjalan sendiri."
"Kamu tidak boleh banyak bergerak dulu! Nanti lukamu semakin parah!" ujarnya tegas.
"Luka ini kecil. Kamu berlebihan sekali, Sayang."
"Aku tidak peduli luka itu kecil atau tidak. Yang terpenting aku tidak suka melihatmu terluka."
"Aku sangat suka jika melihatmu sangat perhatian padaku seperti ini."
"Aku akan memasak makan siang kita dulu. Tunggu sebentar, ya," ucapnya sambil mengusap kepalaku.
Adrian berjalan menuju dapur lalu memakai celemeknya dan mengeluarkan bahan makanan yang dibeli tadi. Saat ia sedang memasak, aku tidak bisa berdiam diri saja. Aku tidak suka hanya menatapnya saja dari kejauhan. Walaupun kakiku sedikit sakit, aku tetap ingin membantunya memasak. Aku berjalan menghampirinya sambil melingkarkan kedua tanganku pada perutnya dari belakang dan bersandar pada punggungnya dengan manja.
"Penny sayang ...."
"Aku ingin membantumu memasak," rayuku manja.
"Nanti luka kakimu semakin parah. Kamu duduk saja."
"Tapi aku tidak bisa berdiam diri saja. Aku tidak suka kalau melihatmu dari kejauhan saja."
Adrian membalikkan tubuhnya menghadapku mengukir senyuman hangat sambil mengelus kepalaku.
"Baiklah, kalau itu keinginan istriku. Tapi jangan terlalu banyak bergerak, ya."
"Memang kamu suami paling pengertian padaku!"
Lalu sekarang kami berdua bertukar posisi. Aku yang mengaduk supnya, ia memeluk pinggangku dari belakang sambil membantuku mengaduknya juga. Gelak tawa bahagia kami menghiasi suasana romansa saat ini sambil melanjutkan memasaknya.
Setelah selesai semuanya, kami berdua menyantap makanannya bersama. Aku terlebih dahulu mencicipi makanan yang tadi dimasak.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya penasaran.
"Ini terasa sangat sempurna."
"Sudah pasti itu. Siapa dulu yang masak makanannya."
"Kamu yang memasak."
"Bukan aku, tapi kita berdua. Karena kita berdua yang memasaknya jadi rasa makanannya jadi sangat sempurna."
"Jadi bisa disimpulkan kita berdua memasaknya dengan penuh cinta, ya," lanjutku dengan senyuman mengambang.
Ia bangkit dari kursinya kemudian menghampiriku membiarkanku duduk di atas pangkuannya mendekapku hangat.
__ADS_1
"Karena rasa cinta kita berdua begitu besar. Bahkan rasa masakannya tidak terasa hambar atau terlalu asin. Kalau kita melakukannya dengan perasaan cinta, aku jamin rasanya sangat pas pada mulut kita."
"Mulai lagi deh rayuan gombalan manismu yang membuat jantungku berdebar." Aku memutar kedua bola mataku bermalasan.
"Kamu tidak menyukainya?"
"Aku suka, bahkan aku sangat suka dua kali lipat."
Sontak Adrian mengusap bibirku ini yang belepotan tanpa balutan apa pun.
"Kamu pasti sengaja selama ini makannya selalu belepotan supaya bisa menggodaku."
"Tidak! Iih jorok! Kamu cuci tangan deh!"
"Tidak mau karena ini bekas dari bibirmu itu."
"Aku tidak suka suami yang jorok!"
"Iya deh nanti aku cuci tangan setelah selesai makan."
"Ini baru namanya suamiku," ucapku sambil mengelus kepalanya dengan lembut.
"Setelah ini, ayo kita nonton bersama."
"Nonton film horror, ya, sambil mengemil kue cokelat yang tadi kamu belikan untukku."
"Kalau begitu kita cepat habiskan makanannya."
Setelah makan siang, sesuai dengan rencana awal, aku dan Adrian menonton film horror bersama di ruang tamu. Ini pertama kalinya aku menonton bersamanya sambil saling menyuapi kue cokelatnya tanpa rasa takut sama sekali.
"Kamu sudah tidak takut lagi?" tanyanya sambil menyuapiku kue cokelatnya.
"Berkat kamu, sekarang aku sudah tidak takut lagi," balasku sambil menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja.
"Syukurlah sekarang istriku sudah berani."
"Entah kenapa kalau nonton berdua bersamamu di sini terasa sangat nyaman bagiku dibandingkan dengan menonton di bioskop."
"Kalau nonton di bioskop, dunia terasa milik semua orang. Tapi kalau nonton di sini, dunia terasa hanya milik kita berdua saja. Aku lebih suka berdua bersamamu terus tanpa diganggu siapa pun."
"Apalagi saat makan kue cokelat ini bersamamu."
"Kamu manisnya bagaikan kue cokelat."
Tiba-tiba di tengah penayangan filmnya, ada suatu adegan yang sangat menyeramkan membuatku ketakutan hingga menimpa tubuhnya terbaring di atas sofa.
"Tuh kan kamu masih ada sedikit rasa takut," ledeknya menertawaiku puas.
"Aku hanya kaget saja. Hantunya tiba-tiba muncul begitu membuatku hampir pingsan saja," lontarku gelagapan sambil menyentuh pundaknya dengan kedua tanganku.
"Aku biasa saja, tidak kaget sama sekali."
"Sudahlah, aku mau lanjutkan nontonnya lagi."
Aku hendak membenarkan posisi tubuhku lagi dan duduk seperti biasa, tapi Adrian tetap menahanku dalam kondisi menimpanya seperti ini.
"Tetap seperti ini terus saja," ucapnya menyunggingkan senyuman nakal.
"Dasar kamu selalu saja nakal!"
"Kalau di bioskop mana bisa kita seperti ini. Jadi ini keuntungan lainnya nonton film horror di rumah, aku bisa bermesraan denganmu sepuasnya."
"Ayolah sayang, aku mau nonton lagi!" rayuku seperti anak kecil.
Adrian mencium pipiku dan memelukku sambil menepuk punggungku berirama dengan pelan.
"Lima menit lagi ya, aku sudah betah bersamamu dengan posisi ini."
"Hufft dari tadi kita sudah ketinggalan banyak!" ketusku mengerucutkan bibirku.
"Karena sudah terlanjur ketinggalan banyak jadinya kita begini terus saja," balasnya semakin mempererat pelukannya.
"Aku mau kuenya lagi!"
"Baiklah akan kuambilkan untukmu."
Kesempatan deh di saat Adrian melepas pelukannya untuk mengambilkan kuenya untukku, aku dengan sigap duduk dalam posisi sempurna tersenyum cerdas di hadapannya.
"Pintar sekali, ya, Penny!"
"Memang aku dari lahir sudah pintar!" celetukku berlagak sombong.
"Ya sudahlah kita lanjutkan nonton filmnya lagi," balasnya mendesah pasrah.
"Mmm kamu jangan cemberut gitu," rayuku memeluknya manja.
"Aku sengaja cemberut supaya kamu bersedia bermanja padaku sampai filmnya selesai."
"Ish dasar modus! Tapi aku sangat menyukainya."
Kami berdua melanjutkan nonton film horrornya sampai sore hari sambil memakan kue cokelatnya hingga habis. Malam harinya setelah selesai makan malam dan membersihkan diri, aku membaringkan tubuhku di ranjangnya lalu ia juga bergabung denganku dan memelukku erat.
"Sayang, hari ini rasanya sangat menyenangkan ya."
"Aku sungguh merasa hari ini dunia terasa milik kita berdua." Adrian menempelkan hidungnya pada hidungku.
"Omong-omong, kita akan bulan madu di mana? Kita harus menghabiskan waktu cuti kita sebulan ini. Betapa bodohnya aku tidak memikirkan ini dari awal," tanyaku menepuk jidatku.
"Bagaimana kalau kita bulan madu di Santorini? Aku tahu sejak dulu kamu ingin pergi ke sana."
"Tapi itu kejauhan, Sayang. Memang dari dulu aku ingin ke sana tapi harga tiket pesawat pasti mahal dan juga biaya hotel di sana mahal."
"Kalau kamu ingin pergi ke sana, aku tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting kamu bahagia saja sudah cukup bagiku."
"Aku tidak ingin ke sana."
"Kenapa? Apa mungkin karena biayanya mahal?"
"Bukan begitu."
"Atau mau bulan madu di Venice? Kamu juga dari dulu ingin pergi ke sana."
"Tidak mau. Kenapa kamu selalu menawarkan lokasinya di Eropa semua?"
"Karena aku tahu kamu suka bangunan istana kuno yang ada di Eropa."
"Tapi aku tidak ingin pergi ke Eropa. Nanti akan kupikirkan lagi kita akan berbulan madu di mana."
"Aku akan menunggu jawabanmu saja deh. Aku hanya mengikuti keinginanmu saja."
"Daripada memikirkan itu terus, lebih baik aku tidur saja."
"Bagaimana kalau di pulau Jeju atau di Maldives?"
"Ish kamu masih saja memikirkan hal gituan! Dua tempat itu sudah basi buat bulan madu. Aku tidak mau!"
"Atau mau di Canada?"
"Saayaangg!"
"Iya deh aku tidur sekarang. Kamu mau bulan madu di mana saja terserah. Kamu puas, aku juga sangat puas."
__ADS_1
Keesokan paginya, Adrian bangun terlebih dahulu lalu menatap sang pujaan hati masih tertidur lelap. Ia melepas dekapannya dengan pelan lalu mengecup keningnya sambil mengelus kepalanya.