Good Partner

Good Partner
S2 : Part 13 - Diremehkan


__ADS_3

Sementara di sisi lain, Adrian sibuk mengamati laporan berkas kasus yang sedang diselidikinya saat ini bersama dengan anggota tim investigator lainnya. Lalu tiba-tiba ada seorang pemuda berpenampilan rapi yang memasuki ruangannya merupakan teman dekatnya. Pemuda tersebut yaitu Jaksa Yohanes yang pernah menuntut hukuman atas perkara kasusnya Pak Colin sewaktu dulu.


"Kamu mau ngapain ke sini, Yohanes?" tanya Adrian sambil sibuk melihat berkas kasusnya.


"Aku hanya iseng saja. Aku tidak sedang menangani kasus apa pun jadinya aku bermaksud memantaumu sekarang," jawab Yohanes santai.


"Iya aku tahu kamu sekarang memiliki waktu luang yang sangat banyak sampai kamu bisa tiduran di ruang kerjamu sendiri!"


"Aneh rasanya kalau aku tidak menyelidiki sebuah kasus. Biasanya di antara salah satu kita berdua, aku pasti yang biasanya mendapat kasus berat semua. Apalagi kasus penyuapan atau kasus korupsi petinggi perusahaan, itu sudah seperti makanan camilanku sehari-hari."


Adrian memutar bola matanya bermalasan menaruh laporan kasusnya dengan kasar di atas mejanya.


"Begitu saja kamu sudah berlagak pamer! Padahal kasus yang aku hadapi selama ini lebih berat rasanya dibandingkan kasus yang kamu hadapi selama kamu bekerja di sini!" hardiknya mulai kesal.


"Iya juga sih. Kamu sudah menyelidiki kasus pembunuhan tiga kali. Sedangkan aku sepertinya tidak pernah deh."


"Sebenarnya kamu pernah sewaktu dulu mengambil alih kasus pembunuhan pertama yang aku selidiki beberapa tahun yang lalu. Tapi aku yang banyak berkorban, sedangkan kamu hanya santai di ruang persidangan saja!" gerutu Adrian memalingkan matanya.


"Setidaknya berkat kasus itu kamu bisa bertemu dengan istrimu yang cantik lalu menikah dengannya dan memiliki anak yang imut." Yohanes memicingkan matanya tertawa kecil.


"Iya juga sih. Untung saja bukan kamu yang menyelidiki kasusnya sepenuhnya."


"Mungkin kalau seandainya aku yang menyelidiki kasusnya waktu itu, aku bakal menikah dengan istrimu sekarang," gurau Yohanes tertawa sampai sakit perut.


Adrian menajamkan tatapannya mulai mengepalkan tangan kanannya. Setiap kali rekannya mengungkit hal ada kaitannya dengan sang istri, tentu saja ia akan marah tanpa segan.


"Keluar dari ruanganku sekarang!" tegasnya mengusir Yohanes.


"Ish baru saja aku mengunjungimu. Sekarang kamu malahan mengusirku!"


"Daripada kamu menggangguku terus dari tadi!"


Yohanes mengambil salah satu foto yang diletakkan di atas meja kerjanya Adrian dan tatapannya terfokus pada Victoria.


"Anakmu memang cantik sekali," pujinya.


"Sudah pasti. Wajah cantik istriku mewarisi ke anakku!" seloroh Adrian berlagak sombong.


"Seharusnya aku yang menikah dengan istrimu, ya, supaya bisa memiliki anak cantik begini." Yohanes menyunggingkan senyuman nakal membuat Adrian semakin kesal padanya.


"Sudahlah kamu jangan menggangguku lagi! Aku dari tadi sibuk fokus bekerja. Selain itu, jangan mengungkit istri dan anakku lagi!" tegas Adrian mendorong Yohanes menuju pintu ruangannya.


Tiba-tiba salah satu anggota tim investigatornya memasuki ruang kerja pribadinya Adrian tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Yohanes tersentak kaget.


"Ah, kamu buatku kaget saja! Ini karena kamu masih baru saja jadi tidak ada tata krama sama sekali!" omel Yohanes sambil mengelus dadanya.


"Sudahlah Yohanes, jangan bersikap galak di hadapannya."


"Tapi dia bekerja di kantor ini seharusnya memiliki tata krama terhadap atasannya!"


"Maaf lain kali aku akan mengetuk pintu terlebih dahulu," sesal anggota investigator tersebut menunduk bersalah.


"Tidak apa-apa, Carlos," balas Adrian tersenyum ramah.


"Kamu terlalu lembut di depan semua orang makanya pada bertindak seenaknya padamu!" hardik Yohanes melonggarkan ikatan dasinya.


"Karena aku ini orangnya selalu sabar makanya istriku sangat mencintaiku," kata Adrian tersenyum cerdas.


Tatapan Yohanes beralih pada Carlos lagi.


"Omong-omong, kamu ke sini mau apa?" tanyanya berbasa basi.


"Adrian dipanggil kepala jaksa Henry ke ruangannya sekarang."


"Aish lagi-lagi kepala jaksa baru itu sok panggil kita! Aku jadi teringat waktu itu aku pernah ditegur olehnya habis-habisan!" keluh Yohanes.


"Aku yang dipanggil kenapa malahan kamu yang mengeluh? Ada-ada saja kamu!"


"Aku hanya bermaksud memperingatkanmu supaya kamu siap mental saja," ujar Yohanes menepuk-nepuk pundaknya Adrian.


Adrian bergegas meninggalkan ruang kerjanya menuju ruang kerja kepala jaksa Henry. Sambil melakukan perjalanan menuju ke sana, Adrian membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan dan juga dasinya agak miring. Sebelum memasuki ruangannya, Adrian mengetuk pintunya terlebih dahulu.


tok...tok...tok...


"Masuklah!" pekik kepala jaksa Henry dari dalam.


Adrian memasuki ruangannya dan menundukkan kepalanya hormat di hadapan kepala jaksa berwajah dingin tersebut. Lalu ia menduduki sebuah sofa kosong yang berada di dekat kepala jaksa tersebut.


"Ada apa kamu memanggilku tiba-tiba?" tanya Adrian sedikit gugup.


"Apa kamu kehilangan akal sehatmu, Jaksa Adrian?" tanya kepala jaksa Henry meninggikan nada bicaranya.


Tubuh Adrian terasa kaku tiba-tiba mendengar bentakan itu.

__ADS_1


"Maksud kepala jaksa Henry apa, ya?" tanya Adrian memasang raut wajah polosnya.


"Inilah kenapa aku dari dulu tidak suka dengan karaktermu yang penyabar!"


"Memangnya apa salahnya dengan karakterku?"


"Gara-gara kamu tidak menangani kasus ini dengan baik, kamu hampir saja menangkap warga sipil yang tidak bersalah sama sekali! Apa kamu tidak berpikir dengan matang dulu sebelum menangkapnya?" gerutu kepala jaksa Henry menunjuk kepalanya sendiri.


"Maaf kalau soal itu aku sungguh tidak tahu."


"Bagaimana kamu tidak tahu mengenai permasalahannya! Kamu adalah seorang jaksa jadinya harus menangani sebuah kasus dengan matang. Apalagi kasus yang sedang kamu selidiki saat ini bukanlah kasus biasa!" bentak kepala jaksa Henry meremehkan Adrian hingga membuatnya sedikit tertekan.


"Lain kali aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku tidak akan bertindak gegabah lagi," sesal Adrian menundukkan kepalanya lemas.


"Terutama kamu harus memperingatkan kepala detektif yang bertugas menangani kasus ini juga. Karena tindakan gegabahnya juga, kita hampir saja mendapat masalah lebih rumit!"


Mendengar perkataan yang dilontarkan kepala jaksa Henry, bola matanya Adrian mulai memerah dan mengepalkan kedua tangannya. Apalagi barusan menyinggung soal sang istri.


"Kepala detektif Penny tidak sengaja bertindak gegabah!" ketusnya menatap tajam seperti silet.


"Dia itu seorang kepala detektif harusnya juga tidak seenaknya bertindak gegabah begini. Dasar kepala detektif yang tidak kompeten!"


"Kamu jaga ucapanmu itu, Kepala jaksa Henry!"


"Kepala detektif itu hampir saja merusak citra nama baik kejaksaan. Untung saja ada seorang pengacara yang mendatanginya lebih dulu sebelum masalah ini lebih rumit."


"Jadi kesimpulannya kamu lebih memilih menyalahkan kinerja kami berdua demi menjaga reputasi nama baik kejaksaan?" Adrian mulai meluapkan amarahnya rasanya ingin menonjok kepala jaksa Henry dengan puas.


"Sudah pastilah. Kalau bawahanku kinerjanya buruk, maka aku sebagai kepala jaksa harus menegur kalian semua!"


Adrian beranjak dari sofanya menghentakkan kakinya kasar dan menggenggam gagang pintu keluarnya.


"Aku belum selesai bicara, Jaksa Adrian!"


Adrian menoleh ke belakang memasang raut wajah penuh percaya diri.


"Terserah kamu ingin meremehkan kami berdua. Yang pasti aku akan membuktikan kepadamu bahwa kami akan menangkap pelakunya secepatnya!" celetuk Adrian menatap menyeringai.


"Mari kita lihat apakah kalian berdua bertindak gegabah lagi!"


"Tenang saja. Kali ini pasti kami akan menangkap pelakunya yang sebenarnya. Jadinya kamu cukup duduk diam dari sini sambil mengemil camilan. Kamu hanya bisa duduk tenang begini di saat taruhan nyawa kami berdua itu sangat besar."


"Kamu!"


Adrian menarik gagang pintunya dan menutup pintu ruangan itu kasar. Di luar ruangan, Yohanes telah menunggunya dari tadi.


"Kamu pasti diomeli habis-habisan oleh kepala jaksa Henry, 'kan."


"Iya karena permasalahan salah menangkap tersangka saja," desah Adrian lesuh.


"Yang sabar, ya, Adrian. Memang kepala jaksa Henry sudah biasa membentak semua jaksa di kantor ini. Apalagi aku selalu ditegur olehnya setiap kali aku menyelidiki sebuah kasus." Yohanes menunjukkan rasa empatinya dengan merangkul pundaknya Adrian sambil kembali menuju ruang kerjanya lagi.


"Cuma aku tidak menerima tegurannya kali ini. Beraninya dia meremehkan istriku!"


"Wah, sungguh keterlaluan, Kepala jaksa Henry! Padahal dia baru saja menjabat sebagai kepala jaksa dua tahun dan sudah bertindak seenaknya meremehkan orang!"


"Lihat saja nanti. Aku dan Penny akan membuktikan kepadanya bahwa kami pasti akan menangkap pelaku sesungguhnya secepatnya!"


Sementara aku dan Tania saat ini sedang menuju panti asuhan Violet Oprhanage yang terletak di daerah terpinggir. Tania memarkirkan mobilnya lalu aku bergegas menuruni mobilnya memasuki bangunan tersebut.


Aku menghampiri salah satu petugas kebersihan di sana untuk menanyakan ruang pemilik dari panti asuhan itu.


"Permisi saya mau nanya. Ruang kerja pemilik panti asuhan ini ada di mana, ya?" tanyaku sopan.


"Anda tinggal jalan lurus sampai mentok lalu ada satu ruangan di sana," jawab petugas kebersihan tersebut menunjuk satu ruangan yang terletak di pojokan.


"Baiklah, terima kasih," ucapku.


Aku dan Tania berjalan melewati lorong itu lalu tiba juga di depan ruangan tersebut. Aku mengetuk pintunya terlebih dahulu secara pelan.


Tok...tok...tok...


"Masuklah!" pekik pemilik panti asuhan tersebut.


Aku dan Tania memasuki ruangan itu secara bersamaan lalu menduduki sebuah sofa kosong memuat dua orang.


"Maaf boleh minta waktu Anda sebentar?"


"Anda siapa, ya?" tanya pemilik panti asuhan itu.


"Saya kepala detektif Penny yang menangani kasus pembunuhan anak-anak SMA yang terjadi belakangan ini," ucapku sopan mengulurkan tanganku.


"Senang berkenalan dengan Anda, Detektif Penny. Saya Marcelia, pemilik panti asuhan Violet Orphanage," balasnya berjabat tangan denganku tersenyum ramah.

__ADS_1


"Boleh minta waktu Anda sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada Anda."


"Boleh saja."


"Baiklah kalau begitu saya akan memulainya sekarang. Sewaktu Angelina, Gracia, dan Nielsen tinggal di panti asuhan ini apakah mereka memiliki hubungan yang sangat dekat?" tanyaku mulai fokus pada penyelidikannya.


"Selama ini sih mereka terlihat akrab saja sebelum mereka semua tinggal berpisah."


"Lalu Angelina dan Gracia, mereka berdua memutuskan untuk keluar dari panti asuhan ini secara sukarela? Tanpa ancaman dari siapa pun?"


"Iya benar."


"Tak lama kemudian, Nielsen diadopsi oleh sepasang suami istri, apakah benar?"


"Iya."


"Apa mungkin saat mereka bertiga meninggalkan panti asuhan ini ada sesuatu yang terlihat mencurigakan? Misalnya seperti ada seseorang yang memantaunya selama ini diam-diam atau ada orang asing sering mengunjungi mereka saat masih tinggal di sini?" selidik Tania sangat penasaran hingga melontarkan banyak pertanyaan.


"Tidak juga sih. Omong-omong, kenapa kalian menanyakan hal ini, ya? Kasus yang sedang kalian selidiki tidak ada hubungannya dengan masa lalu mereka bertiga," tanya Marcelia bingung.


"Menurut saya, pembunuhnya pasti ada hubungannya dengan panti asuhan ini. Dilihat dari motif pembunuhannya yang target sasarannya selalu saja anak panti asuhan. Apalagi semua korban pembunuhan pernah tinggal di panti asuhan ini. Barangkali mungkin ada sesuatu yang terlihat mencurigakan di sini, mungkin Anda bisa melaporkannya kepada kami," jelasku panjang lebar.


"Sebenarnya sih dulu sempat ada kejadian yang aneh di sini."


"Kejadian apa itu?" tanyaku.


Marcelia mengambil sebuah album foto yang diletakkan di lemari penyimpanannya lalu memperlihatkan sebuah foto kepada kami.


"Apakah ini foto kebersamaan Angelina, Gracia, dan Nielsen?" tanya Tania.


"Iya ini foto lama mereka sewaktu masih kecil."


Aku tertegun mengamati seorang anak laki-laki yang terlihat sudah memasuki usia remajanya berdiri di tengah.


"Anak ini siapa, ya?" tanyaku sambil menunjuk anak yang tertera pada foto tersebut.


"Anak ini bernama Zack, dulu dia sangat akrab dengan Angelina, Gracia, dan Nielsen. Bahkan dia sering memanjakan mereka bertiga dan sudah menganggapnya sebagai saudara kandung sendiri."


"Lalu kenapa Anda menunjukkan foto ini kepada saya? Apakah telah terjadi sesuatu kepada mereka?" tanyaku mengerutkan dahiku.


"Saat Zack diadopsi oleh seorang pria tua yang kaya raya, dia seperti tidak ingin meninggalkan panti asuhan ini. Padahal anak-anak lainnya sangat ingin diadopsi oleh orang kaya."


"Apa mungkin Zack ingin tetap tinggal bersama Angelina, Gracia, dan Nielsen?" tanya Tania.


"Bisa dikatakan begitu. Apalagi saat Zack dijemput oleh orang tua barunya, mereka bertiga seperti tidak rela melepas kepergian Zack."


"Apa mungkin Zack belakangan ini sering mengunjungi panti asuhan ini?" selidikku.


"Zack sudah meninggal," desah Marcelia lesuh.


"Dia meninggalnya kapan?" tanya Tania.


"Tak lama setelah dia meninggalkan panti asuhan, dia mengalami kecelakaan mobil."


"Begitu rupanya."


"Apa mungkin Anda tahu alamat tempat tinggal walinya sekarang?" selidikku lagi.


"Waktu itu walinya juga mengalami kecelakaan dengan Zack. Jadinya saya sudah tidak tahu dengan informasi baru lagi."


"Baiklah saya mengerti. Terima kasih atas waktunya dan informasi yang telah Anda berikan membantu penyelidikan kami," ucapku tersenyum ramah.


"Saya berharap kalian bisa menangkap pelaku yang membunuh tiga anak itu secepatnya. Karena saya sudah menganggap mereka bertiga sebagai anak saya sendiri."


"Tenang saja. Serahkan saja semuanya pada kami. Kami pasti akan menangkap pelakunya secepatnya," tuturku.


"Kalau begitu kami permisi dulu," pamit Tania menggandeng tanganku keluar dari ruangan tersebut.


Ketika aku dan Tania berada di lahan parkir sedang ingin memasuki mobilnya Tania, aku merasa seperti ada seseorang lagi yang mengawasiku secara diam-diam. Aku mengamati sekelilingku namun anehnya tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang.


"Ada apa, Penny?" tanya Tania terheran.


"Aku merasa seperti ada seseorang sedang mengintaiku diam-diam," jawabku dengan tatapan curiga.


"Tapi aku dari tadi lihat tidak ada siapa pun di sini deh," balas Tania juga mengamati sekelilingnya.


"Mungkin aku belakangan ini bekerja terlalu lelah jadi berhalusinasi terus," ucapku menyentuh kepalaku.


"Makanya Penny, lain kali kalau bekerja mendingan jangan terlalu berlebihan deh! Kebiasaan dari dulu selalu saja kamu bekerja terlalu berat sampai pernah jatuh sakit!"


"Iya tante Tania yang cerewet seperti ibuku. Aku juga rasanya ingin beristirahat dulu di kantor." Aku merangkul bahunya Tania tersenyum lebar.


"Ya sudah, sebaiknya kita kembali ke kantor sekarang!"

__ADS_1


Setibanya di kantor polisi, aku terus duduk tertegun memikirkan apa yang dikatakan oleh Marcelia tadi. Aku merasa seperti ada yang janggal dengan Zack. Apalagi hubungan Zack dengan tiga pelajar SMA tersebut sangat dekat. Tapi mana mungkin Zack merupakan pelaku pembunuhan para pelajar SMA tersebut. Lagi pula juga Zack sudah lama meninggal dunia akibat mengalami kecelakaan bersama walinya jadinya tidak mungkin dialah pelakunya.


__ADS_2