
Usai membersihkan diriku karena masih ada waktu banyak sebelum berangkat ke kantor, aku duduk bersilang di sofa ruang tamu sambil menyalakan TV sekalian menunggu Adrian selesai membersihkan dirinya. Aku menyaksikan sebuah berita terkini yang disiarkan secara langsung.
"Berita terkini, sekitar pukul 10 malam ada sebuah gedung bertingkat dua mengalami ledakan dahsyat. Sebanyak 10 unit mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan untuk memadamkan api yang terus berkobaran. Setelah dua jam proses pemadaman, api berhasil dipadamkan oleh para petugas pemadam kebakaran. Saat ini pihak kepolisian akan menyelidiki penyebab ledakan ini secara mendalam."
Aku menggigit bibirku dan menelan salivaku berat lalu langsung memasuki kamarku menghampiri Adrian yang sedang memakai jam tangannya.
"Sayang, cepat kamu ke sini deh!" panggilku panik menarik tangannya.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu panik begitu?"
"Kamu harus melihat berita sekarang juga!"
Aku menarik tangannya menuju ruang tamu kembali melanjutkan menyaksikan beritanya.
"Sayang, menurutmu apa ini terdengar sangat aneh? Kenapa bisa tiba-tiba ada kejadian begini?" tanya Adrian mengernyitkan alisnya sambil mengikat dasinya.
"Nah itu maksudku. Sepertinya ada sesuatu yang janggal mengenai ledakan itu."
Aku memutar bola mataku bermalasan. Selalu saja suamiku mengikat dasi terlihat berantakan. Entah disengaja atau tidak, hanya ia yang tahu.
"Omong-omong, kamu selalu saja mengikat dasimu berantakan!" Aku membantunya mengikat dasinya.
"Hufft! Padahal aku sudah mengikat dasiku rapi. Kamu saja yang sengaja merapikan dasiku mencari kesempatan, 'kan!"
"Tidak. Memang dasimu ini tadi miring," sangkalku memalingkan mataku darinya.
Adrian mendekatkan wajahnya menuju wajahku, tatapan matanya terfokus pada bibirku baru dipoles lipstik. Ia semakin mendekatkan wajahnya hingga membuat jantungku semakin berdebar, lalu menyeka bibirku dengan jari jempolnya.
"Kamu sendiri memakai lipstik sampai belepotan begitu," godanya tersenyum nakal.
"Perasaan tadi itu aku sudah memakainya dengan benar."
"Kalau perlu kamu bercermin sendiri di kamar."
"Ish aku jadi malu deh! Ya sudah, aku bersihkan bibirku dulu." Aku beranjak dari sofa malahan tanganku ditarik oleh Adrian hingga aku terjatuh dalam pangkuannya.
"Tidak perlu. Aku lebih suka kamu seperti ini saja."
"Ish nanti adanya semua anggota timku memperhatikan lipstikku!" gerutuku mencebik kesal.
"Daripada kamu memakai ulang lipstiknya lebih baik kita bergegas ke TKP saja."
"Ya sudah deh, lebih baik kita pergi ke TKP sekarang," balasku memanyunkan bibirku.
Sesampainya di TKP, aku dan Adrian mengeluarkan name tag melewati batas police line. Kami berdua menelusuri seluruh area gedung yang sudah rongsokan ini dan masih ada sisa kabut asap sehingga aku agak sulit melihatnya. Aku menaikki tangga menuju lantai dua lalu menghampiri sebuah ruangan yang berisi beberapa mayat yang sudah tidak terbentuk lagi. Aku bergidik ngeri sambil berjongkok tepat di samping mayat untuk mengidentifikasinya. Selain aku dan Adrian yang ada di dalam ruangan itu, anggota timku juga memasuki ruangan kemudian bergabung denganku. Raut wajah Hans menjadi memucat ketika melihat ada empat mayat yang tergeletak di ruangan ini dalam kondisi tubuh mayat tersebut sangat hancur akibat terbakar.
"Kamu kenapa, Hans?" tanya Fina.
"Aku hanya sedikit mual saja melihat mayat," jawab Hans menutup mulutnya untuk menahan rasa mualnya.
Nathan dan Adrian tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya Hans yang sangat berlebihan. Apalagi Hans merupakan seorang detektif, masa iya ketika melihat mayat rasanya ingin pingsan.
"Kamu ini payah sekali, Hans! Masa lihat mayat bisa membuatmu mual," sindir Adrian.
"Benar kata Adrian. Kamu ini seorang detektif pria masa takut sama mayat sih!" lanjut Nathan menyindir Hans.
"Aku bukan takut mayat. Kalau aku takut kenapa selama ini aku masih bisa melihat mayat!" sangkal Hans.
"Lalu kenapa sekarang kamu lihat mayat seperti lihat setan gentayangan di siang bolong?" elak Adrian tersenyum sinis.
"Coba saja kamu lihat mayatnya tuh! Seluruh tubuh mayatnya sudah hancur terbakar apalagi ini ada empat mayat tergeletak di dalam satu ruangan," seloroh Hans bersembunyi di belakang Fina.
"Dasar penakut! Aku saja biasa saja melihat mayatnya!" ketus Nathan semakin menertawainya.
"Memang tuh dasar Hans berlebihan sekali sih jadi orang seperti baru pertama kali melihat mayat saja," ejek Adrian.
"Makanya Hans, lain kali jadi orang jangan terlalu sombong di hadapan kami semua. Padahal kamu sendiri sebenarnya lemah," sindir Nathan lagi menambahkan bumbunya.
Dasar para lelaki tukang sindir! Kepalaku semakin sakit gara-gara ulah mereka sangat keterlaluan! Apalagi di tempat seperti ini masih bisa bertengkar.
"Sudahlah hentikan kalian tidak usah bertengkar lagi!" bentakku melerai mereka bertiga.
"Kamu diam saja, Penny!" celetuk Fina memelototiku.
"Hei, Fina! Kenapa kamu malahan membentak istriku!" tegur Adrian.
"Kamu sendiri Adrian, kenapa menyindir suamiku?" tanya Fina balik.
"Aku tidak menyindir. Lagi pula aku ngomong sesuai kenyataan. Kalau tidak percaya tanya saja sama Nathan," elak Adrian menyenggol lengan tangannya Nathan.
__ADS_1
"Iya memang benar perkataan Adrian. Suamimu yang bertingkah berlebihan di hadapanmu, Fina!" celetuk Nathan merangkul bahunya Adrian.
"Sudahlah kalian semua diam jangan bertengkar di sini!"
Aku meluapkan seluruh emosiku meneriakki mereka sampai situasi kembali hening.
"Kalian ini gimana sih! Masa saling bertengkar di TKP!" bentakku lagi.
"Maaf, Penny. Aku tidak bermaksud mengajak ribut di sini," sesal Adrian menggenggam tanganku menunduk lesuh.
"Kalau aku pasti memaafkanmu, Adrian," balasku tersenyum manis di hadapannya.
"Dasar pilih kasih, Penny! Lihat saja nanti akan aku balas perbuatanmu itu!" ketus Hans.
"Aku tidak akan membiarkanmu membuat Penny setiap hari bawaannya emosi terus!" hardik Adrian menjitak kepala Hans.
"Sudahlah sebaiknya kita lanjutkan penyelidikannya saja. Memangnya kalian ingin berlama-lama di sini?" tanyaku kepada para lelaki yang sibuk berdebat dari tadi.
"Tidak mau! Aku ingin cepat keluar dari sini!" elak Hans.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita kembali fokus bekerja!" tegasku melanjutkan memeriksa mayatnya.
Kondisi tubuh mayatnya sama seperti tubuhnya Angelina dan Gracia yang memiliki bekas tusukan pada bagian perutnya. Aku mengecek kondisi seluruh mayat dalam ruangan ini kondisinya sama saja.
"Pelakunya sama seperti pelaku yang membunuh Angelina dan Gracia," ucapku mengerutkan dahiku.
"Sudah pasti itu. Pola pembunuhannya terlihat sama saja dilihat dari bekas lukanya," lanjut Hans masih merasa jijik pada mayatnya.
"Selain itu, para murid yang tewas di ruangan ini satu sekolah dengan Angelina dan Gracia," lanjut Tania.
"Namun anehnya, kenapa pelaku setiap selesai melakukan aksi pembunuhannya selalu saja menyimpan name tag dari semua korban yang dibunuhnya?" tanyaku bertopang daguku.
"Menurutku sih kemungkinan kasus ini mirip seperti kasusnya Josh," jawab Adrian mulai berspekulasi.
"Maksudmu pelakunya dan Josh memiliki kesamaan dalam motif pembunuhannya?" tanyaku balik.
"Dilihat dari pola pembunuhannya, pelaku mungkin menyimpan name tag korban sebagai cinderamatanya. Sama seperti halnya dengan Josh menyimpan benda berharga milik korban sebagai cinderamatanya. Menurutku sih pelaku ini juga memiliki gangguan jiwa seperti Josh," terang Adrian panjang lebar.
"Hmm bisa jadi sih itu," balas Hans.
Adrian menatap sekeliling ruangan itu sambil terus mengenduskan napasnya.
"Berarti pelaku membakar tempat ini bertujuan untuk menghilangkan jejak pembunuhannya. Karena dia sudah terlanjur melakukan aksi pembunuhannya di sini, dia membakar tempat ini," ujarku melanjutkan pemikirannya.
"Tapi kenapa pelaku ingin membunuh para siswa di gedung akademi ini? Belum tentu korban yang ada di sini semuanya berkaitan erat dengan Angelina maupun Gracia," tanya Hans bingung.
"Maka dari itu, kenapa sejak kemarin aku mencurigai bu guru berwajah dingin itu sebagai pelaku pembunuhannya," balas Fina tersenyum cerdas.
"Lagi-lagi kamu membahas itu! Sudah kubilang jangan melihatnya dari sisi penampilan dulu!" tegasku.
"Fina, sebaiknya kita jangan bertindak gegabah terlebih dahulu! Kalau seandainya kita salah menangkap pelakunya nanti pelaku sesungguhnya akan bertindak lebih parah lagi dari sebelumnya," tegur Adrian mempertegasnya.
"Hufft! Ya sudah deh aku mendengar perkataan kalian berdua saja!" sergah Fina mengerucutkan bibirnya.
"Seluruh gedung ini sudah dihancurkan oleh pelakunya sampai ludes terbakar. Bahkan ada beberapa ruangan sudah tertimbun parah," paparku menatap sekelilingku sambil melangkahkan kakiku keluar dari ruangan itu.
Aku melanjutkan menelusuri seluruh area gedung tersebut yang hangus terbakar untuk memeriksa barang yang tertinggal bisa dijadikan bukti. Dilihat dari seluruh ruangan yang ada di gedung tersebut, sepertinya pelaku menargetkan para siswa sebagai korban pembunuhannya. Yang ada di benak pikiranku sekarang, sebenarnya kenapa pelaku ingin membunuh siswa lainnya yang tidak ada kaitannya dengan Angelina dan Gracia? Apa mungkin para korban yang ada di ruang kelas tersebut ada hubungan dekat dengan mereka berdua?
Tiba-tiba ada sebuah ide cemerlang terlintas dalam pikiranku. Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi untuk mencari tas sekolah para siswa tersebut? Aku kembali memasuki ruang kelas tersebut memanggil Adrian.
"Adrian, coba ikut aku deh!" panggilku.
"Ada apa, Penny?" Adrian mengikutiku dari belakang.
Aku berlari menuruni tangga yang sudah sedikit tidak berdaya dan tanpa sengaja aku salah melangkahkan kakiku hingga hampir terjatuh.
"AAHH!"
"Penny!" Adrian dengan sigap menangkap tubuhku melingkarkan tangannya pada punggungku.
Aku menunduk malu karena bertindak ceroboh tepat di hadapan suamiku sendiri. Apalagi seorang detektif yang hampir jatuh dari tangga akibat kecerobohannya.
"Penny, apa kamu baik-baik saja?" tanya Adrian cemas.
"Tidak apa-apa, Adrian. Terima kasih sudah menolongku."
"Aduh Penny, kamu ini membuatku takut saja tadi!" keluhnya mengelus dadanya.
"Maaf, Adrian. Aku tadi ceroboh salah melangkahkan kakiku."
__ADS_1
"Sini biar aku menggandengmu saja supaya tidak hampir terjatuh lagi."
Adrian menggandeng tanganku erat menuruni satu per satu anak tangganya kemudian menghampiri salah satu petugas forensik yang sibuk bertugas menyisir area lantai satu.
"Maaf saya mau nanya," ucapku sopan.
"Ada apa?" sahut petugas tim forensik tersebut.
"Apa mungkin kalian menemukan tas sekolah para korban?" tanyaku.
"Tadi sudah saya mencari semua barang bukti di lantai dua dan tidak ada satu pun bukti yang tertinggal," jawab tim forensik tersebut.
"Bahkan buku catatan sekolah atau alat tulisnya juga?" tanya Adrian.
"Saat kami semua tiba di sini, tidak ada satu pun barang yang tertinggal di sini. Barang yang tertinggal hanya barang tidak penting saja."
"Begitu rupanya," sahutku lesuh.
Aku dan Adrian meninggalkan petugas tim forensik tersebut lalu semua anggota timku menghampiri kami berdua di lantai satu. Aku mengisyaratkan mereka semua untuk mengikutiku ke dalam satu ruangan kosong.
"Ada apa, Penny?" tanya Fina.
"Sepertinya kita harus mengecek rekaman CCTV di jalan raya sekarang juga. Pelaku sangat cerdas tidak meninggalkan satu pun bukti di sini. Kita tidak akan pernah tahu sebenarnya apa yang diincar oleh pelaku hingga mengambil semua tas sekolah anak-anak," paparku mengernyitkan alisku.
"Benar juga sih. Padahal tas anak sekolah tidak ada barang berharganya sama sekali. Kenapa pelaku mengambil tas sekolah? Tidak mungkin anak-anak zaman sekarang membawa perhiasan emas dalam tasnya," lanjut Tania.
"Selain itu, kalau seandainya pelaku mengincar uang, pasti dia hanya mengambil dompet mereka semua saja atau hanya mengambil uang dan ponselnya. Sedangkan ini pelaku mengambil semua barangnya," kata Nathan bertopang dagunya.
"Ada sesuatu yang tidak beres sepertinya di sini," ujar Fina.
"Kalau begitu kita cek kamera CCTV jalanan sekarang saja!" ajak Adrian.
Kami semua mengunjungi sebuah pos keamanan di sekitar lingkungan tersebut untuk mengecek rekaman CCTV saat kejadian ledakan berlangsung. Adrian memerintah petugas keamanan tersebut untuk memutar rekamannya satu jam sebelum terjadinya ledakan.
Tatapan mataku mulai berfokus pada rekaman CCTV tersebut untuk memantau siapa pelaku di balik kejadian semua ini. Anehnya selama satu jam sebelum kejadian, tidak ada seorang pun yang bertindak mencurigakan di luar gedung tersebut.
"Ini aneh sekali. Kenapa tidak ada seorang pun yang memasuki gedung itu?" tanya Hans.
"Bisa juga orang tersebut memasuki gedungnya saat detik-detik terakhir dia ingin membunuh semua siswa di sana," jawab Fina terus berfokus pada rekaman CCTV.
"Apa mungkin pelakunya itu adalah orang dalam dari gedung tersebut?" tanya Hans lagi.
"Ish kamu ini pemikirannya aneh-aneh saja! Mana mungkin orang dalam rela membakar gedungnya sendiri!" celetuk Nathan memukul lengan tangannya Hans.
"Sudahlah kalian tidak usah berisik! Lebih baik kita terus pantau saja!" tegur Adrian.
Aku kembali menekan tombol putar lagi untuk melanjutkan pemantauannya. Sekitar 20 menit sebelum ledakan itu terjadi, ada seseorang sedang berjalan memasuki gedung tersebut.
"Tunggu sebentar!" ucapku.
"Ada apa, Penny?" tanya Hans.
"Fina, coba kamu lihat baik-baik deh! Kenapa Nielsen memasuki gedung?"
Fina menyipitkan matanya terfokus pada Nielsen yang sedang memasuki gedung tersebut.
"Benar juga. Kenapa dia memasuki gedung saat larut malam? Kalau seandainya dia ingin mengikuti kelas tambahannya, kenapa dia datang terlambat sekali?" Fina melontarkan banyak pertanyaan dengan tatapan curiga.
"Ini aneh sekali. Sedang apa Nielsen berkunjung ke sana saat larut malam? Lalu kenapa saat tadi kita di gedung tidak ada mayatnya?" Aku mulai mencurigai perbuatannya Nielsen sambil bertopang dagu.
"Pelakunya tidak mungkin petugas kebersihan di sana. Tadi juga ditemukan mayatnya di sana," ujar Tania.
Aku menekan tombol pemutaran rekaman CCTV lagi. Selama 20 menit terakhir itu, tidak ada seorang pun yang memasuki gedung. Kemudian dalam layar lebar itu, tak lama kemudian gedung tersebut mengalami ledakan yang dahsyat. Lalu saat ledakan, Nielsen melangkahkan kakinya keluar dari gedung itu.
"Pelakunya adalah Nielsen. Ini merupakan bukti yang akurat untuk membuktikan dialah pelakunya," tukas Fina berlagak cerdas.
"Tapi kamu sendiri tidak melihat Nielsen tidak membawa barang apa pun kecuali tasnya?" tanyaku terheran.
"Bisa juga dia memiliki kaki tangan dalam gedung tersebut. Selain itu, untuk apa orang dewasa mengincar tas anak sekolah? Tidak salah lagi pelakunya pasti dia."
"Lalu untuk apa Nielsen membunuh kedua temannya sendiri?" tanyaku lagi berkacak pinggang.
"Hmm mungkin saat dia bercerita kepada kita waktu itu, dia menipu kita semua. Kamu sendiri tidak bisa membaca bahasa tubuhnya kemarin. Raut wajahnya dipenuhi kegelisahan saat kita sedang menginterogasinya. Selain itu juga yang punya alamat email wali kelasnya pasti dia sendiri," jelas Fina.
"Tapi aku masih ragu deh, Fina. Sepertinya tidak mungkin Nielsen adalah pelakunya," balas Adrian.
"Aku juga sependapat dengan Adrian. Mungkin bisa juga Nielsen bukanlah pelakunya tapi melainkan seorang saksi pada kejadian ini," ucapku tersenyum cerdas.
"Mungkin kita harus memanggilnya untuk melakukan interogasi dengannya lagi," balas Tania.
__ADS_1
"Kalau begitu kita memanggilnya sebagai seorang saksi. Bukan sebagai pelaku pembunuhannya," paparku dengan tatapan serius.