
Aku memasuki kediaman Adrian dengan lemas menatap sekeliling bagaikan suatu ruang yang hampa. Aku sangat tidak terbiasa, aku sangat merindukannya sampai rasanya aku ingin membunuh Josh sekarang juga.
Sepanjang malam, aku tidak bisa tidur nyenyak karena takut akan kehilangannya di mataku. Seharusnya sekarang aku sedang merayakan malam natal bersamanya, bukan menghadapi kejadian yang tidak diinginkan. Karena ini malam natal, semoga doaku dikabulkan. Aku hanya bisa berdoa saat aku menemukannya nanti, ia masih dalam kondisi hidup.
Air mataku mulai mengalir lagi hingga membuat bantalku basah. Aku mengusap air mataku dengan bajuku berusaha untuk menenangkan diriku hingga aku tertidur.
Tiba-tiba aku berada di suatu tempat bersama Adrian. Aku merasakan kehangatannya saat ini walaupun tidak nyata. Aku dan Adrian saling bergandengan tangan berjalan bersama di taman.
Adrian mengajakku duduk di sebuah bangku taman kosong, lalu aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya. "Adrian, aku ingin kita tetap bersama terus."
Adrian mengelus pipiku lambat laun. "Setiap bersamamu aku selalu bahagia, bahkan aku ingin berkencan denganmu setiap hari meski hari kerja."
Aku menggenggam tangannya erat. "Jangan pernah meninggalkan aku sendirian dalam situasi apa pun. Aku takut kehilanganmu. Kamu harus berjanji denganku."
"Kalau sampai aku meninggalkanmu sendirian saat situasi genting, aku pasti akan kembali padamu. Karena kamu adalah milikku selamanya."
"Kalian tidak boleh bersama!!" pekik Josh tiba-tiba menarik tanganku paksa.
Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya tapi tenaganya sangat kuat. "Lepaskan aku, Josh!"
Adrian membantuku melepaskan genggaman tangannya dan menarik tanganku melarikan diri. "Ayo Penny, kita harus pergi dari sini!"
"BERANINYA KAMU MENINGGALKANKU, PENNY! AKAN KUHABISI KAMU SEKARANG JUGA!" teriak Josh mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya lalu mengarahkannya padaku.
Dengan sigap Adrian memelukku erat lalu pisau itu tertusuk di tubuhnya. Darahnya mulai mengalir deras hingga membuatnya terjatuh.
"ADRIAN! BERTAHANLAH ADRIAN!" pekikku menjerit ketakutan hingga tangisanku pecah sambil menyentuh tubuhnya yang terkena tusukan untuk menahan darahnya.
Dengan tatapan sendu, Adrian menyentuh pipiku dengan lemas tersenyum tipis padaku. "Penny ... aku harap ... kamu bisa menemukan ... kebahagiaanmu ... tanpa aku. Aku menyayangimu, Penny."
Matanya terpejam dan tangannya terjatuh lemas. Aku memeriksa kondisi tubuhnya tapi sudah tidak ada tanda kehidupan lagi. Ia meninggal tepat di mataku membuat aku sangat syok dan tidak berdaya.
"JANGAN TINGGALKAN AKU, ADRIAN! Pembohong! Tadi kamu sendiri bilang tidak akan meninggalkan aku sendirian! Aku tidak bisa hidup tanpamu, Adrian!" Aku menangis dengan keras sambil memeluk tubuhnya dilumuri darah.
Aku bangun dari mimpi buruk yang kualami. Air mata dari mimpi itu masih membekas di wajahku membuatku semakin takut akan kehilangannya seperti di mimpi itu.
Aku beranjak dari ranjang dengan lemas lalu mencuci wajahku di kamar mandi sambil bercermin. Wajahku sangat kusut akibat menangis sepanjang malam. Aku membayangkan Adrian melihat raut wajahku sekarang pasti ia akan menceramahiku dan membujukku penuh kesabaran sampai aku berhenti menangis. Selain itu ketika aku bermimpi buruk, biasanya ia memelukku sampai aku tenang. Demi dirinya, aku harus tetap kuat dan terus mencarinya sampai ketemu. Aku harus menemukannya hari ini juga.
Aku membuka kulkas dan mengambil sebotol susu lalu menuangkan di gelas. Di saat seperti ini, aku tidak berselera makan sampai aku harus menemukannya dalam kondisi hidup.
Aku dan rekan timku berpencar berkeliling di seluruh rumah itu untuk mencari suatu ruang rahasia. Aku sendiri bertugas mencarinya di lantai paling atas yaitu kamarnya dan juga ruang pribadi lainnya. Sudah kucari di setiap ruangan dan juga sudut tembok tapi tidak ditemukan sebuah tombol rahasia.
Aku bergabung lagi dengan anggota tim lainnya. "Apakah kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan?"
"Sudah kucari setiap sudut ruangan tapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan," jawab Fina.
"Sama aku juga seperti itu," tambah Tania lesu.
"Sebenarnya Josh menyembunyikan Adrian di mana sih!" Aku sudah tidak tahan lagi dengan emosiku sambil mengacak rambutku.
"Penny, kamu tenang dulu dan pikirkan lagi baik-baik!" usul Fina tegas.
"Sekarang aku tidak bisa berpikir jernih. Aku ingin cari udara segar dulu di taman."
Aku berjalan menuju halaman belakang menghirup udara segar sambil menatap anjing yang kulihat waktu itu sedang menggonggong.
Guk..guk..
Aku teringat momen di saat Adrian memberitahu Josh bahwa aku sangat takut anjing dengan penuh percaya diri seperti ia sangat mengenaliku sejak dulu, walaupun aku baru bertemu dengannya setahun lalu. Sebenarnya aku pernah menceritakan aku trauma terhadap anjing saat hubunganku dengannya masih sahabat. Tidak kusangka ia masih ingat sampai sekarang.
__ADS_1
Guk..guk
Tapi ini aneh, kenapa anjingnya selalu menggonggong seperti ada sesuatu. Cara menggonggongnya itu bukan seperti meminta makanan dari majikannya. Lagi pula kalau anjing ini tidak diberi makan, pasti anjing ini tidak akan menggonggong dengan semangat.
Semakin dilihat lama, aku jadi teringat. Waktu itu di saat acara ulang tahunnya, aku melihat anjing ini sibuk menggonggong terus dan berlarian di sekitar pot bunga itu. Ini sangat aneh, kenapa seekor anjing sangat terobsesi dengan pot bunga itu? Josh tidak diketahui keberadaannya sejak kemarin, tapi anjing ini masih terlihat semangat walaupun tidak diberi makan. Lalu kumpulan pot bunga ini, seperti ada sesuatu di dalamnya. Sudah kuduga, Josh pasti masih ada di dalam rumahnya.
Aku bergegas memanggil teman-temanku untuk menghampiriku.
"Ada apa, Penny?" tanya Nathan.
"Aku mencurigai ada sesuatu di balik tumpukan pot bunga ini." Aku menunjuk pot bunga di sebelahku.
Nathan mengernyitkan alis. "Bagaimana kamu tahu ?"
"Bukankah sangat aneh melihat seekor anjing yang terus berjaga di depan pot bunga ini? Lalu kalau Josh tidak memberinya makan, pasti anjing ini tidak akan menggonggong dengan semangat."
Fina menanggapi ideku sampai wajahnya serius. "Benar juga, ayo kita harus singkirkan pot ini sekarang juga!"
Kami menyingkirkan pot bunga itu dengan cepat. Ternyata dugaanku benar. Ada sebuah pintu rahasia di balik pot bunga itu.
Fina mengambil ponselnya menghubungi polisi di luar ruang rahasia.
Aku menggunakan senter ponsel untuk menelusuri lorong dan akhirnya sampai juga di ujung lorong, menemukan sebuah pintu lagi yang dijaga ketat dengan kode akses. Aku jadi teringat Hans pandai dalam bidang ini.
Aku memijit pelipiskh mulai sakit. "Aish ada kode akses! Kalau begini bagaimana bisa masuknya!"
"Karena tidak ada Hans yang bisa membuka kode itu, maka aku yang akan mendobrak pintu ini," tawar Nathan sukarela berusaha mendobrak pintu sekuat tenaganya.
"Apakah kamu yakin bisa melakukannya?" tanya Tania ragu.
Nathan berlagak angkuh. "Tenang saja, tenagaku cukup kuat melakukan hal kecil ini,"
Bruk...bruk..bruk..
"ADRIAN!!" teriakku menjerit sambil berlari menghampirinya.
Lalu temanku yang lainnya juga mengikutiku dan mengepung Josh beserta asisten pribadinya. Aku melepas ikatan tali dengan tanganku yang lincah sambil memeluknya erat. Adrian menatapku dengan senyuman tipis sambil menyentuh pipiku.
Aku menatap lukanya cukup parah dengan tangisan tersedu-sedu, bagaikan aku yang disiksa membuatku sulit bernapas. "Adrian, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu bisa terluka parah seperti ini?"
"Aku bahagia ... bisa melihatmu lagi, Penny," sahutnya lemas.
"BAGAIMANA KALIAN BISA MENEMUKAN TEMPAT INI?!" teriak Josh geram.
"Sebaiknya kamu menyerah saja, Josh! Hidupmu sudah berakhir sampai sini!" ketus Nathan sambil menonjok Josh kasar.
PLAKKK
"Beraninya kamu menyentuh bosku seperti itu!" Asisten pribadinya Josh menyerang Nathan dan menghajarnya sampai terjatuh ke lantai.
"AARGGHH!"
"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU MENGHAJAR SUAMIKU!" pekik Tania mengepalkan tangannya menonjok asisten pribadi itu.
"RASAKAN INI KEPARAT!" pekik Nathan menghajar asisten pribadi itu lagi.
BRUGGHHH
Kedua temanku dan asisten Josh saling baku hantam. Meski Tania dan Nathan lumayan pandai bela diri, tapi aku tidak tega melihat mereka juga terluka. Meski di mataku, dua rekan timku sekarang terlihat unggul.
__ADS_1
Tetap saja aku tidak bisa menahan amarahku, menodongkan pistol pada kepala Josh. "SUDAH CUKUP JOSH, HENTIKAN PERBUATANMU SEKARANG JUGA!!"
Josh tersenyum psikopat. "Kamu tidak akan bisa mengalahkan aku, Penny. Menyerahlah dan kamu harus jadi istriku! Kalau kamu menikah denganku, akan kulepaskan pacar kesayanganmu!"
"Jangan dengarkan dia, Penny! Dia sudah tidak waras!" tukas Adrian.
Aku menoleh ke belakang menatap kekasihku dengan tatapan percaya diri. "Adrian, tenang saja aku akan selalu menjadi milikmu."
"Penny ...."
Kepalaku kembali menghadap psikopat di hadapanku. Tentunya aku harus memberi jawabanku sangat lantang. "Aku tidak akan pernah menikahi pria tidak waras sepertimu, Josh!"
"KENAPA SEMUA WANITA SAMA SAJA! KENAPA MEREKA TIDAK PUNYA PERASAAN PADAKU!" pekik Josh melempar semua barang tergeletak di meja.
"KARENA KAMU TIDAK WARAS! TIDAK ADA SATU PUN WANITA YANG INGIN BERSAMA PRIA TIDAK WARAS SEPERTIMU!"
"Sekarang kamu berani mengatakan hal keji itu padaku, Penny! Kenapa kamu tidak punya hati nurani sama sekali!"
"Kamu yang tidak punya hati nurani, Josh! Dengan kejamnya kamu membunuh semua wanita yang pernah menolakmu di masa lalu! Hanya karena masalah kecil seperti itu kamu melakukan hal kejam terhadap orang tidak bersalah. Kamu sungguh tidak waras sama sekali!" ketus Adrian.
"MEREKA SAJA YANG TIDAK MEMAHAMI PERASAANKU SAMA SEKALI!"
"KAMU YANG TIDAK BISA MEMAHAMI PERASAAN! KAMU TIDAK BISA MERASAKAN BAGAIMANA PERASAAN CINTA SESEORANG!"
"Suka-suka aku jika ingin berjatuh cinta. Jatuh cinta itu tidak berdosa sama sekali. Kalau cinta itu tidak berbalas maka itu adalah sebuah dosa. Dua wanita di sana dan juga Maria, aku membunuh mereka semua begitu saja karena mereka berdosa padaku. Tidak ada salahnya."
"DASAR BEDEBAH GILA!" Dengan tenaganya masih tersisa, Adrian menghajarnya hingga membuat Josh terjatuh ke lantai.
Setelah melakukan aksinya, kepala Adrian kembali pusing pandangannya masih kabur akibat di bawah pengaruh obat suntikan sambil memegangi kepalanya.
Aku menahan tubuhnya hampir terjatuh. "Adrian, kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu mencemaskanku."
Josh secara perlahan bangkit sambil mengambil tongkat besinya mengayunkan tongkat itu pada Adrian. Tanpa berpikir panjang, aku memeluk Adrian erat menghalangi pukulannya.
"AAAHHH!" Aku menjerit kesakitan hingga air mataku berlinang.
Mata Adrian terbelalak mengamatiku kesakitan. "Penny! Kenapa kamu melindungiku?"
"Aku tidak ingin melihatmu terluka lebih parah lagi."
"DASAR PSIKOPAT GILA! BERANINYA KAMU MEMUKULI KEKASIHKU!"
Adrian melayangkan tendangannya pada Josh hingga terjatuh.
Sementara Josh menyeka darah pada wajahnya tersenyum licik pada kami. "Sebenarnya mudah jika kalian semua ingin hidup, cukup serahkan Penny kepadaku sekarang juga!"
"Aku tidak akan menyerahkan Penny kepada orang tidak waras sepertimu! Penny akan selalu menjadi milikku!"
"Penny tidak pantas bersamamu! Aku bisa membahagiakannya dalam segala cara! Aku memiliki banyak harta dan kekuasaan, tidak seperti dirimu!"
"DASAR KEPARAT GILA! PENNY TIDAK AKAN PERNAH BAHAGIA JIKA BERSAMAMU! ADANYA KAMU MEMBUATNYA MENDERITA!" ketus Adrian mengumpat dengan lantang lalu meninju wajahnya Josh.
PUKK
"RASAKAN INI!" Josh membalasnya dengan menghajar tubuh Adrian yang sudah tidak berdaya hingga tumbang ke lantai.
BRUGGHHHH
__ADS_1
Emosiku semakin stabil. Dengan cepat aku melindungi Adrian sebelum Josh melukainya lagi. "HENTIKAN AKSI KEGILAANMU, JOSH!"
Josh mengambil pistolku yang terjatuh di lantai dan mengarahkannya kepadaku dan Adrian.