Good Partner

Good Partner
Part 83 - Special Surprise


__ADS_3

Tiga hari kemudian...


Aku bangun seperti biasa tanpa dibangunkan ibu ataupun alarmku karena kebiasaan burukku sudah hilang berkat Adrian. Setelah selesai bersiap-siap termasuk merias wajahku, aku keluar dari kamarku menuju ruang makan. Aku melihat sebuah kalender yang tergantung pada dinding dan sepertinya hari ini hari yang tidak asing bagiku.


Seperti biasa, ibu menyiapkan sarapan untukku yaitu nasi omelet. Saat mencicipi masakan buatan ibu, membuatku sangat merindukan nasi omelet yang dibuat Adrian setiap pagi sebelum aku berangkat kerja.


Setelah sarapan, aku mengambil kunci mobilku dan berangkat ke kantor seperti biasa. Saat aku keluar dari rumahku, Adrian juga keluar dari rumahnya menghampiriku menyambutku dengan pelukan hangatnya. Karena sudah tidak ada kasus aneh lagi, maka ia tinggal di rumahnya sekaligus ia tidak bisa tinggal di apartemennya sendirian tanpa kehadiranku.


"Pagi tunanganku, kamu tahu hari ini hari apa?" sapanya sambil mengusap rambutku.


"Hari ini hari jumat," balasku polos.


"Aku juga tahu hari ini hari jumat. Tapi ada yang spesial lagi hari ini." Adrian menyunggingkan senyumannya sambil memajukan kepalanya mendekat pada wajahku.


"Apa itu?" Aku bingung dengan maksud perkataannya sambil menggarukkan kepalaku.


Adrian berdiri mematung langsung melepas pelukannya bernapas lesuh.


"Kamu sungguh melupakannya?" tanyanya.


"Memang hari ini tidak ada apa-apa."


"Kamu memang tega! Sebentar lagi kamu akan jadi istriku tapi sama sekali tidak tahu hari ini hari apa!" ketusnya menyentil dahiku.


"Aduh sakit, Adrian!"


"Kamu membuatku sangat kecewa!"


Sikapnya semakin keterlaluan. Pagi-pagi sudah mengajak ribut denganku, rasnaya aku ingin membentaknya tanpa segan.


"Apaan sih, Adrian! Pagi-pagi begini sudah ngajak bertengkar saja!" protesku memelototinya tajam.


"Aku tidak ingin bertengkar denganmu! Kamu saja yang pikun akibat kebanyakan menyelidiki kasus sampai lupa dengan hal penting ini!"


"Apa kamu bilang? Aku pikun? Kamu sangat kekanak-kanakan!"


"Memang kamu pikun seperti nenek tua saja! Sejak kapan calon istriku jadi pikun begini!"


Batas kesabaranku hampir habis. Terpaksa aku harus pergi daripada darahku semakin mendidih akibat mendengar sindirannya.


"Oh, jadi sekarang kamu berani menyindirku! Baiklah lihat saja nanti! Aku mau berangkat kerja dulu, malas bertengkar denganmu membuang waktuku saja!" ketusku sangat geram sambil berjalan menuju mobilku.


"Tunggu! Aku belum selesai bicara!" pekiknya sambil menarik tanganku kuat.


"Lepaskan! Aku malas bicara denganmu!"


"Aku kasih kesempatan sekali lagi, apakah kamu sungguh lupa dengan hal penting itu?"


Aku mendengkus kesal lalu menatapnya dengan tatapan tajam.


"Cukup, Adrian! Aku sungguh tidak ingat sama sekali!" ketusku menepis tangannya pelan.


"Baiklah, kalau kamu tidak mengingatnya. Kamu sungguh membuatku sakit hati." Kedua matanya mulai memerah.


"Aku pergi dulu, sampai bertemu, Adrian."


Aku memasuki mobilku menekan tombol starter mobil berangkat ke kantor.


Sedangkan Adrian, di tengah perjalanan menuju kantornya ia mengambek sambil memukuli setirannya. Ia ingin menangis tapi tidak bisa karena nanti rekan kerjanya akan melihatnya heran jika penampilannya seperti itu.


Sepanjang hari, Adrian terus meneleponku tapi aku tidak menjawabnya sama sekali. Ini hukuman akibat ia membuatku kesal di pagi hari. Ponselku berdering sekitar lebih dari sepuluh kali hingga membuat anggota timku merasa terganggu.


"Aduh Penny, ponselmu dari tadi bunyi terus membuatku jadi tidak nyaman!" keluh Tania menghembuskan napasnya kasar.


"Memangnya itu panggilan telepon dari siapa sih? Apakah dari seorang penipu?" tanya Fina menatap ponselku dengan curiga.


"Bukan," jawabku datar.


"Lalu siapa? Tidak biasanya kamu mengabaikan panggilan telepon seperti ini," tanya Fina lagi semakin penasaran.


"Itu dari Adrian," balasku mendengkus kesal.


"Kenapa kamu tidak mengangkatnya? Apakah kalian bertengkar?" tanya Nathan terheran mengernyitkan alisnya.


"Dia sudah membuatku emosi saja pagi-pagi! Sikapnya kekanak-kanakan sekali!"


"Makanya kalian berdua harus melihatku dan Fina selalu akur setiap saat," ujar Hans dengan sombong merangkul bahu Fina.


"Aku dan istriku lebih mesra daripadamu dan Fina," elak Nathan merangkul bahu Tania.


"Aduh Hans, jangan membuatku malu seperti ini!" keluh Fina tersipu malu.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku akan membuktikan bahwa kita berdua ini pasangan yang paling mesra di antara kita semua," ucap Hans tersenyum manis pada Fina.


Kepalaku semakin sakit mendengar perdebatan mereka hanya masalah kemesraan. Tentu saja aku juga tidak ingin kalah dari mereka, sekaligus melerai perdebatan ini.


"Kalian sudah jangan berdebat dengan masalah kecil seperti itu! Sudah jelas aku dan Adrian yang paling mesra!" protesku sambil menggebrak mejaku dengan keras.


"Kalau kalian berdua paling mesra, kenapa kalian berdua bertengkar hari ini?" Hans menatapku heran.


"Sebenarnya hari ini aku tidak bermaksud membuatnya kesal. Aku hanya sedikit mempermainkannya saja," jawabku lesuh.


"Kenapa kamu berbuat seperti itu?" tanya Fina bingung sambil berkacak pinggang.


"Hari ini hari ulang tahunnya. Aku sebenarnya ingin membuat kejutan untuknya. Tapi dia malah ngambek seperti anak kecil."


"Astaga, kamu ingin memberi kejutan sampai segitunya, Penny! Sudah pasti Adrian sangat kecewa denganmu!" hardik Tania menggelengkan kepalanya.


Mendengar perkataan Tania, tubuhku terasa seperti terkena sengatan listrik. Aku menelan salivaku berat mulai timbul sedikit rasa takut pada diriku.


"Aku sangat menyesal dengan perbuatanku tadi. Bagaimana jika dia sungguh membenciku?"


"Adrian tidak akan membencimu. Dia sangat mencintaimu bahkan dia tadi meneleponmu berulang kali," ujar Fina percaya diri menepuk pundakku.


"Tapi kalau dia meneleponku untuk mengajak bertengkar denganku gimana." Kepalaku menunduk lesuh sambil aku memainkan kuku jariku.


"Tenang itu tidak akan terjadi," kata Tania.


"Baiklah, aku akan menerima hukuman apa pun darinya. Sudah jam segini aku harus mampir ke suatu tempat," ucapku terburu-buru mengambil barang-barangku.


"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Nathan.


"Ada deh," jawabku tersenyum cerdas.


Sore harinya, Adrian mengemas barangnya bersiap-siap pulang ke rumahnya. Ia menatap ponselnya dengan pasrah dan memasukkannya ke dalam saku jasnya. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba ponselnya berdering.


Kring...kring...


"Halo ayah, kenapa ayah meneleponku?"


"Dada ... ayah sakit ... sekali. Ayah ... sesak bernapas."


"Apa? Tunggu sebentar, Ayah! Aku sedang ke sana sekarang!"


Adrian dengan panik menutup teleponnya dan menambah kecepatan laju mobilnya.


Setibanya di rumahnya, ia berlari memasuki rumahnya dengan panik mencari ayahnya dalam kondisi gelap gulita.


"Ayah? Ayah di mana? Kenapa gelap sekali di sini?"


Tiba-tiba ada sebuah cahaya lilin yang menerangi seisi rumahnya gelap gulita itu. Aku berjalan mendekatinya sambil membawakan sebuah kue blackforest.


"Happy birthday to you."

__ADS_1


"Happy birthday to you."


"Happy birthday to my dear Adrian."


"Happy birthday to you."


"Selamat ulang tahun, Adrian," ucapku tersenyum bahagia padanya.


"Penny ... kenapa kamu bisa di sini? Ayah bagaimana?" tanyanya menatapku bingung.


"Ayah di sini," sahut Randy sambil menyalakan seluruh lampu di rumahnya.


Reaksi Adrian berubah drastis. Kedua matanya dari tatapan sendu menjadi tatapan haru. Ia memelukku dengan hangat sambil mengelus punggungku.


"Aku kira kamu melupakan hari ulang tahunku, Penny. Aku sampai takut kalau kamu sungguh melupakan hari spesial ini," ucapnya dengan tangisan haru.


"Kamu sangat bodoh! Mana mungkin aku melupakan hari ulang tahun calon suamiku!"


"Maaf ya, kalau tadi pagi aku membuatmu kesal."


"Sudah tidak usah dipikirkan lagi. Sebaiknya kamu cepat tiup lilinnya. Tanganku sudah pegal nih dari tadi."


"Baiklah, aku akan berdoa dulu."


Adrian memejamkan matanya dengan sejenak lalu membuka matanya dan meniup lilinnya. Ia mengambil kue pada genggaman tanganku sambil mencium pipiku sekilas.


"Penny, aku sangat menyayangimu."


"Aku juga menyayangimu, Adrian."


"Kalian sudah selesai?" panggil Randy.


"Sudah ayah."


"Ayo kita makan malam bersama!" ajak Randy.


Di ruang makan, ada ayah dan juga ibuku yang sedang menunggu di sana. Adrian semakin memperlihatkan senyuman cerianya karena disambut mertuanya dengan hangat.


"Paman dan tante juga ada di sini," sapa Adrian tersenyum ramah.


"Tentu saja. Kami berdua tidak akan melewatkan ulang tahun calon menantuku," sahut ayah dengan semangat.


"Maaf ya, kalau putriku membuatmu repot," ucap ibu menunduk bersalah.


"Tidak apa-apa. Aku bahagia jika dikasih kejutan spesial ini darinya," balasnya sambil menatapku dengan pandangan berbinar.


"Perasaan tadi kamu mengambek!" protesku memanyunkan bibirku.


"Yang tadi itu lupakan saja," balasnya mengedipkan mata kirinya padaku.


"Yang terpenting aku suka melihatmu tersenyum ceria padaku."


Sejenak Adrian menatap sang ayah dengan sebal, karena perbincangan telepon tadi yang membuatnya sempat panik.


"Omong-omong, kenapa ayah berbohong kepadaku tadi? Aku sampai panik tadi!" protesnya.


"Maafkan ayah. Ayah tidak bermaksud membohongimu. Tapi ini permintaan dari Penny."


*****


Sehari yang lalu...


Aku mengunjungi rumahnya Adrian di saat ia tidak sedang berada di rumahnya. Aku bertemu dengan paman Randy untuk mendiskusikan sesuatu yang penting.


"Paman, aku boleh meminta bantuanmu?" tanyaku lembut.


"Tentu saja boleh, kamu akan menjadi menantuku segera. Sudah pasti apa yang kamu inginkan akan paman kabulkan," jawab Randy dengan antusias.


"Aku ingin besok paman membohongi Adrian bahwa paman sedang sakit parah."


"Besok malam, aku ingin memberinya kejutan spesial di hari ulang tahunnya. Kalau aku yang menyuruhnya datang, nanti kejutan itu akan terlihat biasa saja."


"Kamu sangat mencintainya sampai berbuat seperti ini. Paman tidak salah memilihmu menjadi menantu terbaik yang selalu membahagiakan putraku."


"Aku sangat mencintainya, bahkan aku ingin selalu bermanja di sisinya. Dia adalah salah satu harta paling berharga bagiku."


Paman Randy duduk di sebelahku dan menyentuh tanganku.


"Terima kasih telah mencintai putraku. Paman akan memercayakan Adrian kepadamu."


*****


Kembali lagi pada saat paman Randy menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Adrian. Setelah mendengar itu, Adrian menatapku dengan senyuman hangat lalu memelukku erat.


"Kamu memang yang terbaik, Penny!" serunya terkagum.


"Aku punya hadiah untukmu." Aku mengambil sebuah kotak hadiah dan memberikannya.


"Apa isinya?"


"Buka saja."


Adrian membuka kotak hadiah itu secara perlahan dan menatap isi kotaknya terharu.


"Kamu suka hadiahnya?"


"Aku sangat suka. Tali pinggangnya dan dasinya terlihat keren!"


"Tali pinggangnya ada ukiran inisial namamu di sana." Aku memperlihatkannya sebuah ukiran huruf 'A'.


"Terima kasih Penny, ini hadiah ulang tahunku yang terbaik di antara semua."


"Bagaimana kalau kamu coba dasinya dulu di kamarmu?" tawar Randy.


"Aku akan mencobanya sekarang. Ayo Penny, ikut denganku!" ajaknya sambil menggandeng tanganku menuju kamarnya.


Di kamarnya, ia membuka lilitan dasi pada lehernya dan mengalungkan dasi pemberianku barusan.


"Penny, tolong bantu aku ikat dasinya!" pintanya manja.


"Dasar manja!"


"Kamu nakal, Penny!"


Aku menghampirinya lalu membantunya mengikat dasi itu. Saat ini aku merasa seperti membantu suamiku mengikat dasinya di pagi hari sebelum bekerja.


"Sudah selesai!"


"Bagaimana dengan penampilanku?" tanyanya berlagak keren.


"Kamu semakin tampan," jawabku dengan senyuman manis.


Adrian memeluk pinggangku dengan erat dan mendekatkan wajahnya menuju wajahku dengan senyuman godaan.


"Hari ini kamu juga cantik sekali dengan memakai dress ini," pujinya sambil mengelus pipiku.


"Sudah pasti hari ini aku berpenampilan spesial karena hari ini hari ulang tahunmu."


Lalu ia mengambil sebuah kartu ucapan dariku dan membacanya dalam hati.


"Happy birthday to my future husband


Semoga kamu selalu panjang umur dan juga menjadi suami yang selalu setia padaku. Selain itu aku ingin kamu tetap menjadi malaikat pelindungku dan pengawal pribadiku terkeren sepanjang masa. Aku mencintaimu, Adrian.

__ADS_1


- Love your fiance."


Ia meraih tanganku dan melekatkan tanganku yang terpasang cincin lamarannya pada dadanya.


"Aku sudah tidak sabar dengan pernikahan kita nanti," ucapnya sambil mengelus tanganku itu.


"Aku juga tidak sabar ingin tinggal bersamamu."


"Sebenarnya aku ingin memberimu hadiah kecil tapi bermakna bagimu. Aku ingin memberikan sebuah cintaku besar terhadapmu."


Secara perlahan Adrian semakin mendekatkan bibirnya menuju bibirku hingga membuat jantungku berdebar dengan kencang. Aku sudah bersiap-siap memejamkan mataku untuk menikmati momen ini sambil mempererat pelukannya.


Ceklek


Tiba-tiba paman Randy memasuki kamar Adrian tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ciuman itu belum sempat terjadi lalu Adrian dengan sigap menghentikan aksinya dan melepas pelukannya.


"Uhuk ... uhuk ... ayah ini bagaimana sih! Harusnya ayah mengetuk pintu terlebih dahulu!" keluh Adrian sangat kecewa.


"Ayah hanya ingin melihat penampilanmu saja. Lagi pula kenapa kamu sampai mengoceh seperti ini. Apakah terjadi sesuatu di antara kalian berdua?"


"T-idak kok, Paman. Aku hanya membantu Adrian mengikat dasinya," jawabku dengan sedikit gugup.


"Ayah merusak suasana saja!" gerutu Adrian mengerucutkan bibirnya.


"Kalau tidak terjadi sesuatu, kenapa kamu masih memarahi ayah?" Paman Randy melontarkan pertanyaannya bingung sambil berkacak pinggang.


"Tadi itu--"


"Itu Adrian memang terkadang berlebihan! Harap maklum, Paman." Aku langsung memotong pembicaraannya sebelum mengatakan hal aneh pada ayahnya sambil menutup mulutnya.


"Wah, putraku terlihat semakin gagah!" puji Randy terkagum sambil menepuk pundak Adrian.


"Aku memang gagah seperti ini setiap hari, benarkah, Penny?" Adrian menatapku sambil mengedipkan mata kirinya.


"Kamu selalu terlihat tampan dan gagah setiap saat," jawabku dengan manis.


"Ayo kita lanjutkan makan malamnya lagi!" ajak Randy melangkah keluar dari kamar.


Ketika aku ingin mengikuti paman Randy dari belakang, Adrian menahan tanganku dulu.


"Kenapa kamu berkata seperti itu di hadapan ayahku?" tanyanya sedikit kecewa.


"Kita tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya."


"Aish seharusnya tadi aku mengunci pintunya dulu!" gerutunya menggarukkan kepalanya kesal.


"Sudahlah perutku lapar sekarang! Ayo kita makan bersama!"


Kami berdua melanjutkan makan malamnya lagi. Adrian mengambil sebuah pisau memotong sepotong kue lalu memberikannya kepadaku.


"Potongan pertama untuk calon istriku yang spesial ini." Ia memotong kuenya menjadi lebih kecil dan memasukkannya ke mulutku.


"Terima kasih, Adrian," ucapku dengan senyuman manis.


"Lalu untuk ayah mana? Kenapa kamu lebih memilih Penny daripada ayah?" protes Randy sedikit bergurau.


"Iya deh, potongan kedua untuk ayah." Adrian memotong kuenya lagi dan memberikannya kepada ayahnya.


"Dasar pilih kasih!" ketus Randy cemberut.


Lalu Adrian memotong kuenya untuk kedua calon mertua.


"Terima kasih ya, Adrian," ucap Peter.


"Memang calon menantu yang terbaik!" seru Maia terkagum.


"Tante bisa saja berkata seperti itu," balas Adrian merendah sambil menyuapi kue untukku.


"Omong-omong putraku, kenapa potongan kue untuk tunanganmu jauh lebih besar daripada kami?" protes Randy lagi mengernyitkan alisnya.


"Ini karena potongan kuenya sangat spesial untuknya. Menandakan bahwa cintaku sangat besar terhadapnya."


Pipiku semakin merah merona mendengar gombalannya terang-terangan di hadapan orang tua kami.


"Sudah sekarang lanjutkan makan malamnya lagi," ujar Adrian lanjut menyuapiku makanan lainnya.


Usai menyantap makan malamnya, Adrian masih menahanku tetap bersantai di rumahnya menuntunku menduduki sofa ruang tamunya mendekapku hangat.


"Penny, aku sungguh harus berterima kasih padamu karena ini pertama kalinya kamu memberiku kejutan terbesar dalam hidupku."


"Jadinya kamu sungguh tidak membenciku karena aku membuatmu kesal tadi pagi dan meminta ayahmu bersandiwara di hadapanmu?"


"Aku tidak kesal padamu, tapi aku semakin mencintaimu, Penny," ucapnya tersenyum bahagia sambil mencium pipiku.


"Syukurlah kalau kamu sangat menyukainya. Aku bahkan memikirkan kejutan ini memerlukan waktu beberapa hari," balasku tersenyum lega padanya.


"Aku sungguh terharu, aku tidak akan melupakan momen kejutan spesial darimu."


"Maka dari itu, kamu jangan membentakku lagi, ya. Aku bahkan memikirkan ide ini sampai memerlukan waktu beberapa hari," tuturku lembut sambil menyentuh pipinya.


"Kali ini aku tidak akan membentakmu. Lagi pula kasihan dahimu disentilku tadi, pasti sampai sekarang masih sakit."


"Tidak sakit. Tadi pagi aku hanya bercanda denganmu."


Adrian mendaratkan kecupan manisnya pada dahiku dengan lembut hingga senyumanku semakin mengambang sekarang.


"Sekarang pasti kamu tidak merasa sakit lagi. Maafkan aku telah membuatmu kesakitan."


"Mmm kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Yang terpenting kamu barusan memperlakukanku manis."


Di tengah perbincangan hangat kami, ayah dan ibu menghampiriku.


"Penny, ayah dan ibu akan pulang ke rumah sekarang," ucap Peter.


"Baiklah aku akan pulang sekarang," balasku memanyunkan bibirku sambil menatap Adrian.


"Aku akan mengantarkanmu."


Adrian menggandeng tanganku menuntunku pulang ke rumahku. Saat kedua orang tuaku sudah memasuki rumahku, Adrian menghentikan langkah kakinya sejenak melingkarkan kedua tangannya pada perutku dari belakang. Aku bisa merasakan kehangatannya yang membuatku semakin nyaman di dekatnya.


"Jangan pulang dulu. Aku masih ingin bersamamu," ucapnya sambil mencium pipiku.


"Aku juga ingin bersamamu terus. Tapi ini sudah larut malam."


"Kita hanya tetangga sebelah saja. Setidaknya kita menghabiskan waktu beberapa menit saja seperti ini."


"Oh iya aku lupa memberitahumu, makan malam barusan itu aku yang memasak semuanya."


"Benarkah? Pantesan rasanya sangat lezat."


"Omong-omong, apakah kamu sungguh menyukai hadiahnya? Maaf aku tidak bisa memberimu hadiah yang mahal."


"Kamu sudah pernah memberiku hadiah yang mahal," ucapnya sambil memperlihatkan jam tangan dipakainya yaitu pemberian dariku sewaktu aku beli di Korea Selatan dulu.


"Hanya itu mahal. Lain kali aku akan memberikan hadiah yang lebih bagus lagi."


"Aku tidak membutuhkan hadiah yang mahal. Kamu adalah hadiah termahal bagiku. Satu-satunya harta yang paling berharga dan langka bagiku di dunia ini," ucapnya sambil membelai rambutku lembut.


"Kamu juga harta yang paling berharga bagiku, Adrian. Nanti saat aku ulang tahun, aku hanya ingin kamu selalu berada di sisiku saja."


"Kamu tahu tidak, tadi aku meminta permohonan apa."


"Apa itu? Aku penasaran nih."

__ADS_1


"Aku berharap kita berdua akan selalu saling mencintai seperti ini selamanya," ucapnya sambil mencium keningku.


__ADS_2