
Alarmku berbunyi menandakan sudah pukul 6 pagi. Aku beranjak dari tempat tidur dan memasak nasi omelet untukku sendiri.
Usai sarapan, aku bersiap-siap berangkat ke bandara. Saat aku sedang ingin menaiki taksi yang akan mengantarku ke bandara, tiba-tiba ibu menghampiriku.
"Tunggu, Penny! Ini obat herbal untukmu. Ibu cemas kamu masuk angin dan terserang flu. Maka dari itu, ibu memberikanmu ini," ucap ibu sambil memasukkan obat-obatan ke dalam tasku.
Aku memeluk ibu erat. "Terima kasih, Bu. Saat aku sedang tidak berada di rumah, ibu harus tetap berwaspada dan selalu mengunci pintu rumah. Jika ada paket tapi tidak ada nama pengirimnya, jangan pernah mengambil paket itu."
Ibu melepas pelukan. "Iya, tenang saja. Sebaiknya kamu pergi sekarang. Nanti kamu ketinggalan pesawat."
Aku berpamitan dengan ibu sambil memasukkan koperku ke dalam bagasi taksi. Sebelum memasuki mobil, aku melambaikan tanganku mengulum senyuman ramah.
Satu jam kemudian, aku melangkah memasuki bandara sambil menarik koperku mengurus berbagai prosedur dulu. Ketika aku sedang duduk sendirian di ruang tunggu, sontak Nathan dan Tania berlari menghampiriku.
"Aku akan merindukanmu, Penny. Kamu harus jaga dirimu baik-baik di sana," pesan Tania memasang wajah sedih.
"Kamu harus ingat membawakan oleh-oleh untuk kami, ya. Kalau bisa belikan aku kimchi, bulgogi atau semacamnya," gurau Nathan tertawa jahil.
Tania berdecak kesal memukuli punggung Nathan. "Ish kamu memang menyebalkan! Di saat begini kamu masih bisa memikirkan hal gituan!"
Aku tertawa kikuk menepuk pundak mereka sekilas. "Tenang saja. Nanti akan kubawakan oleh-oleh untuk kalian."
"Omomg-omong, sudah jam segini kenapa Adrian belum datang juga, ya?" tanya Nathan sambil mengamati jam tangan dan sekelilingnya.
"Kemarin dia berkata bahwa dia tidak bisa mendatangiku sekarang. Dia harus kerja."
"Begitu rupanya," sahut Nathan datar.
"Lagi pula sebentar lagi aku harus memasuki pesawat, ini sudah waktunya. Aku pergi dulu, ya. Jaga diri kalian baik-baik," pamitku untuk terakhir kali sebelum berpisah sambil melambaikan tangan pada mereka.
Aku menarik koperku menuju escalator meninggalkan Nathan dan Tania. Sebenarnya aku sangat merindukan teman-temanku, bahkan aku ingin mereka ikut denganku juga. Langkah kakiku sebenarnya sedikit berat meninggalkan mereka. Namun demi ayah, aku harus meninggalkan mereka untuk sementara waktu.
"Penny!"
Suara teriakan Adrian terdengar lantang dari kejauhan membuat langkah kakiku terhenti sejenak. Aku menolehkan kepalaku ke belakang memandanginya sedang berlari menghampiriku.
Lengan kekarnya langsung melingkar pada tubuhku erat membuat bola mataku terbelalak. Sungguh kejutan bagiku, padahal kemarin ia terlihat lesu karena tidak bisa mendatangiku di bandara. "Adrian ...."
"Syukurlah aku masih sempat mendatangimu sekarang."
"Aku mengira kamu sedang sibuk dengan pekerjaan. Kenapa kamu rela mendatangiku di saat kamu sibuk?"
Pipinya sedikit memerah malu. "Aku hanya ingin bertemu denganmu. Jika sahabatku ingin bepergian jauh, aku harus menemuinya."
Aku berusaha tidak terbawa perasaan. Bisa juga selama ini Adrian juga memperlakukan rekan kerjanya seperti ini. "Terima kasih sudah rela datang hanya ingin bertemu denganku."
"Penny, kamu harus selalu jaga dirimu baik-baik di sana tanpa kehadiranku."
"Tenang saja, Adrian. Aku mahir dalam berkelahi. Pasti aku akan kembali ke sini dalam kondisi selamat."
__ADS_1
"Aku pasti akan merindukanmu, Penny."
Mendengar perkataannya barusan membuatku bermekaran mendengarnya. Bahkan saat Nathan dan Tania mengucapkan perkataan itu, aku merasa ada sedikit perbedaan.
Tentunya, aku juga berpikiran sama seperti Adrian. "Aku juga akan merindukanmu, Adrian."
Adrian melepas pelukannya kini merelakan kepergianku. "Sebaiknya kamu pergi sekarang, Penny. Sampai bertemu nanti."
"Aku pergi sekarang. Sampai bertemu nanti, Adrian," pamitku sambil melambaikan tanganku lalu menarik koperku menuruni escalator.
Sedangkan Adrian mendesah lesu sambil menghampiri Nathan dan Tania sebenarnya masih berada di sini dari tadi.
"Ternyata kamu datang juga rupanya, Adrian," ucap Nathan menepuk pundak Adrian.
"Tentu saja aku pasti datang sebelum berpisah dengannya."
"Memang Penny sangat bersyukur memiliki sahabat setia sepertimu Adrian. Bahkan aku dan Nathan juga senang berteman denganmu."
"Omong-omong, setelah ini kalian kembali ke kantor?" tanya Adrian pada Nathan dan Tania.
Setelah dua jam penerbangan, akhirnya aku tiba di International Incheon Airport. Aku berjalan keluar dari bandara dan memanggil taksi untuk mengantarku ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan, aku membuka jendela taksi menghirup udara segar. Udara di sini tidak jauh beda dengan kota asalku. Aku melihat banyak daun berwarna merah kecokelatan yang berguguran di jalan.
Semakin dalam menelurusi daerah terpencil, semakin jarang orang yang melewati daerah ini. Pada akhirnya aku tiba juga di rumah sakit ini. Wujud rumah sakit ini dilihat dari luar kelihatannya bagus, namun sayangnya rumah sakit ini dibangun di daerah terpencil seperti ini sehingga jarang orang berkunjung ke sini.
Aku memasuki rumah sakit segera mencari kamar ayahku. Aku berjalan mengelilingi seluruh rumah sakit menelusuri area bangsal umum tapi tidak ada nama ayahku tertera di sana. Ini aneh sekali. Apakah Reporter Yulia membohongiku waktu itu? Tapi aku masih tidak menyerah dan tetap mencari di seluruh lantai rumah sakit ini.
Kemudian, aku membuka pintu kamar itu dan berjalan perlahan memasuki kamar. Akhirnya setelah sekian lamanya, aku bisa melihat ayahku lagi. Aku melihat ayahku yang sedang termenung dengan tatapan kosong melihat jendela kamar. Aku bingung gimana caranya untuk menyapanya. Ia pasti sangat terkejut melihat putrinya yang mengunjunginya secara tiba-tiba setelah sekian lama.
"Ayah?" Kata pertama yang kuucapkan kepada ayah setelah sekian lamanya.
Ayah menoleh ke belakang perlahan dan sangat terkejut berdecak kagum ketika memandangiku berdiri di ambang pintu. "Penny? Apakah kamu benar Penny putriku?"
Aku menangis terisak, berlari menghampiri ayah lalu memeluknya. "Iya ini aku, Penny. Aku sangat merindukan ayah."
"Ayah juga sangat merindukanmu, Penny. Ayah tidak menyangka kamu sudah tumbuh dewasa seperti ini," sahut ayah menangis terharu juga.
Aku melepas pelukan sejenak sambil membersihkan air mataku dan mengamati wajah ayah sangat pucat. "Tapi ayah kenapa bisa ada di rumah sakit ini? Apakah ayah sakit?"
"Bagaimana kabar ibumu? Apakah dia sekarang dalam kondisi sehat?" tanya ayah mengalihkan pembicaraan.
"Ibu masih sehat sampai sekarang. Ayah tidak perlu mencemaskannya."
Ayah menghembuskan napas lesu. "Ibumu pasti mengira ayah sudah meninggal selama ini."
Aku menarik kursi kosong meletakkannya di sebelah ranjang sambil membuka bungkusan makanannya. "Ayah jangan bersedih. Nanti aku akan mengabari ibu bahwa ayah masih hidup. Oh iya, aku membawakan makanan untuk ayah. Tadi sebelum aku memasuki kamar ayah, aku mampir sebentar beli makanan di lantai bawah."
"Omong-omong, sekarang kamu bekerja sebagai apa?" tanya ayah mulai penasaran.
__ADS_1
"Aku bekerja sebagai detektif untuk mengabulkan keinginan ayah waktu itu," jawabku sambil menyuapi makanan untuk ayah.
"Kamu sekarang bekerja sebagai detektif? Ayah sangat bangga padamu, Penny."
"Akhirnya aku bisa mendengar pujian ayah setelah sekian lama."
"Apakah kamu sudah berpacaran dengan seseorang?"
Mendengar pertanyaan itu, aku kembali lesu. Aku cemas ayah akan sedih mendengarku belum berpacaran dengan siapa pun, melihat usiaku hampir mencapai kepala tiga. Apalagi hubunganku dengan Adrian masih sebatas sahabat dan pastinya Adrian tidak tertarik denganku.
"Aku masih belum berpacaran dengan siapa pun karena terlalu sibuk dengan pekerjaan."
Dahi ayah berkerut. "Ini aneh sekali. Padahal putri ayah terlihat cantik dan juga jenius tapi kenapa tidak ada pria yang menyukaimu."
Daripada aku terus mendengar ocehan ayah hanya soal hubungan asmara, lebih baik aku melakukan hal lain mengalihkan pikiran ayah. "Aku ambilkan kain untuk membersihkan tangan ayah."
Malam harinya, aku menginap di rumah sakit untuk menjaga ayah. Pokoknya aku harus melindungi ayah dari bahaya.
Aku berjalan menuju sofa lalu membaringkan tubuhku yang sudah kelelahan. "Aku tidur dulu, Ayah. Selamat malam."
"Penny, ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan padamu," kata ayah dengan serius.
"Sesuatu apa?" Aku beranjak dari sofa lalu menduduki kursi di sebelah ranjang ayah.
"Tadi siang kamu bertanya kepada ayah kenapa ayah bisa di rumah sakit, 'kan."
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku mulai penasaran.
"Ayah sebenarnya tidak sakit apa pun. Lima belas tahun yang lalu, saat berita menghilangnya ayah, kejadian sebenarnya ayah ditangkap dan dikurung di rumah sakit ini. Ayah berusaha kabur dari rumah sakit ini tapi selalu tidak bisa. Dokter yang merawat ayah waktu itu memberikan suntikan infus yang melumpuhkan tubuh ayah sehingga ayah susah bergerak hingga sekarang." Ayah menjelaskan semuanya padaku dengan rinci.
Air mataku mulai membasahi kelopak mataku saat mendengar kisah sesungguhnya. Teganya Pak Colin menyiksa ayah selama belasan tahun ini padahal ayah tidak berbuat salah.
"Pak Colin, aku ingin menangkap dan membunuhnya sekarang juga!" ketusku sambil mengepalkan tangan kananku.
Ayah memasang wajah memelas menggeleng ketakutan. "Kamu jangan pernah bermacam-macam dengan orang itu. Kalau kamu ikut campur, nanti kamu akan berakhir seperti ayah."
"Kenapa orang itu menyembunyikan ayah di tempat seperti ini? Ayah memang melakukan kesalahan apa? Bukankah ayah dan Pak Colin merupakan sahabat terdekat?"
"Sebenarnya ayah dan Randy ingin mengungkapkan kebenaran dibalik penggelapan dana perusahaan milik Colin. Akan tetapi, Colin tidak ingin mengakuinya dan marah besar terhadap ayah karena ayah yang memulainya duluan. Jadinya ayah dikurung olehnya sehingga ayah tidak bisa berbuat apa pun lagi. Tapi beberapa tahun kemudian, ayah mendengar Randy ditangkap karena tuduhan penggelapan dana. Pasti Randy dijebak oleh Colin supaya Randy juga tidak bisa berbuat apa pun seperti ayah sekarang," sambung ayah menjelaskan kejadian sebenarnya padaku lagi.
Jadi begitu kronologinya. Aku jadi semakin bersemangat ingin menangkap Pak Colin karena sudah menyiksa ayah dan paman Randy.
Aku tersenyum percaya diri menggenggam tangan ayah. "Ayah tenang saja. Semuanya serahkan padaku. Aku akan menangkap Pak Colin secepatnya. Aku adalah detektif. Maka dari itu, aku harus menjalankan pekerjaanku dengan sepenuh hatiku."
"Sudahlah lebih baik kamu tidur dulu. Kamu pasti sangat kelelahan hari ini."
Aku mengikuti saran ayah dan kembali membaringkan tubuhku di sofa lalu tertidur lelap akibat kelelahan.
Keesokan paginya, aku bangun dan langsung berpamitan dengan ayah untuk membeli sarapan sebentar.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian setelah aku membeli sarapan, aku kembali ke kamar ayah. Ketika aku memasuki kamarnya, aku langsung panik mengetahui ayah menghilang.