Good Partner

Good Partner
S2 : Part 49 - Play With Victoria


__ADS_3

Aku dan Adrian berdecak kesal pada Hans, rasanya ingin menendang lalu menginjak kakinya dengan kasar supaya kapok. Sementara Hans masih memasang wajah kepolosannya sambil terus bersiul sendiri. Helaan napasku panjang dan memelototinya tajam.


"Dasar kamu selalu melihat orang dari sisi luarnya! Padahal aku dan Adrian juga ingin makan bersama kalian," ketusku melipat kedua tanganku di dada.


"Kan biasanya kalian lebih memilih mengurus urusan kalian sendiri daripada rekan timmu sendiri," elak Hans memelototiku balik.


"Sudahlah, Hans! Kamu tidak usah membentak istriku. Kami berdua juga akan ikut kalian makan bersama tanpa harus ditegur dulu," bentak Adrian sambil merangkul bahuku mesra.


"Ya sudah, kita tinggal tunggu Yohanes saja," kata Hans.


"Ada apa kalian menungguku?"


Yohanes menampakkan dirinya tiba-tiba entah dari mana dengan napas sedikit terengah-rengah.


"Kamu mau ikut dengan kami makan bersama?" ajak Hans.


"Tidak perlu. Aku masih ada urusan dengan istriku. Kalian makan bersama saja tanpa diriku," tolak Yohanes halus.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanyaku ragu.


"Tidak masalah."


"Cih! Padahal juga biasanya menggangguku dan istriku!" hardik Adrian.


"Oh, jadinya kamu ingin aku mengganggu kalian lagi?" Yohanes menyunggingkan senyuman usil.


"Jangan pernah mengganggu kami lagi. Terutama jangan berduaan dengan istriku!" tegas Adrian.


"Iya tenang saja. Kamu sensitif sekali! Sudahlah aku pergi sekarang saja."


"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang saja!" ajak Hans menggenggam tangannya Fina menuju lahan parkir.


"Kami pergi dulu, ya. Hati-hati di jalan, Yohanes," pamitku sopan.


"Hati-hati juga, Penny."


"Ish aku tidak dibilang begitu!" protes Adrian bibirnya mengerucut.


"Iya hati-hati juga Adrian," lontar Yohanes nada terpaksa.


Setibanya di restoran, kami berenam menempati tempat duduk pas jumlahnya untuk kami terletak di tengah restoran. Adrian duduk tepat di sebelahku diam-diam menggenggam tanganku di bawah meja begitu juga aku tidak sengaja tersenyum manis padanya membuat semua anggota timku sangat risih mengamati kami berdua. Terutama pasangan suami istri yang matanya sangat tajam dan peka terhadap tingkah kami yaitu Nathan dan Tania.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Nathan curiga.


"Maksudmu apa, Nathan?" tanya Adrian balik.


"Terutama Penny dari tadi senyum-senyum sendiri," ujar Tania menyipitkan matanya curiga padaku.


"Aku memang setiap saat selalu tersenyum," sahutku berlagak polos.


"Sudahlah kalian berdua kalau mau bermesraan jangan malu-malu deh! Aku tahu kalian dari tadi saling berpegangan tangan di bawah meja," seloroh Hans matanya menunjuk ke bawah.


"Dasar cenayang!" elakku.


"Kalian berisik sekali sih dari tadi! Aku dari tadi ingin menikmati momen kebersamaan kita saja jadi merasa tidak nyaman!" tegur Fina mendengkus kesal.


"Oh iya, benar juga. Kita tidak pernah merayakan kemenangan kita bersama dalam menangani kasus yang berat," ujar Tania.


"Iya ini semua karena salahmu, Adrian! Waktu itu kenapa kamu melamar Penny di hari kemenangan kita menangani kasusnya Josh!" hardik Hans menatap sebal.


"Hei, Hans! Kalau mau bicara mendingan bercermin dulu! Padahal kamu sendiri juga mengajak Fina pacaran waktu itu!" bentak Adrian balik.


Hans bergeming menundukkan kepalanya malu dengan sigap menggenggam tangannya Fina. Sementara aku dari tadi ingin menahan tawaku mengamati tingkahnya yang konyol ini rasanya sudah tidak bisa menahannya lagi sampai wajahku memerah seperti tomat.


"Apa yang lucu, Penny?" tanya Hans bernada kesal.


"Aku tidak menertawaimu. Dari tadi aku tertawa bahagia karena Adrian," jawabku membohonginya.


"Omong-omong, ini juga pertama kalinya kita merayakan kemenangan ketika status kita semua sudah menikah," ucap Tania mengalihkan pembicaraannya.


"Benar juga. Dulu saat pertama kali menangani kasusnya Pak Colin, aku dan kamu mengumumkan pernikahan kita saat itu," sahut Nathan merangkul bahunya Tania.


"Lalu statusnya Penny dan Adrian masih belum pacaran haha," tawa Hans terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


"Hei, kamu juga sama saja! Waktu itu malahan kamu lebih parah dari mereka. Fina belum bergabung dengan tim haha," sergah Nathan menertawai Hans juga.


Aku jadi teringat dengan masa itu. Memang aku sempat mengira Adrian tidak akan pernah mencintaiku dilihat dari tingkahnya yang kaku padaku dan juga selalu membahas mengenai pekerjaan terus tanpa mencemaskanku walaupun terkadang ia juga sebenarnya mencemaskanku secara diam-diam. Bahkan sampai rasanya saat itu, aku sudah menyerah untuk mengharapkannya sungguh mencintaiku. Untung saja Adrian yang menyatakan perasaannya padaku terlebih dahulu sehingga aku tidak perlu mempersiapkan diriku sampai matang.


Secara spontan Adrian mendekapku hangat sambil mengusap kepalaku lembut. Diriku menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja.


"Memang dulu kami belum memiliki hubungan istimewa sama sekali. Tapi aku sudah mencintai Penny sejak dulu dan ingin menikahinya juga saat itu," ungkap Adrian tulus.


Mendengar lontarannya barusan, aku berdecak kagum ingin menangis terharu sekarang. Sedangkan Tania menghembuskan napas kasarnya memutar bola matanya bermalasan.


"Iya karena kamu tidak peka sama sekali, aku jadi repot harus mengurus Penny waktu itu," seloroh Tania.


"Untung saja waktu itu aku belum menjadi teman curhatmu, Penny. Tapi memang pikiranmu juga sangat lamban dan tidak peka!" sergah Fina mulai menyindirku.


"Bahkan Penny waktu itu ingin menangis karena sudah mengira Adrian bahkan menolaknya dulu," ejek Nathan menambah bumbunya.


"Ish kenapa kamu berbicara yang aneh sih! Mana mungkin aku menangis karena masalah kecil!" sungutku bibirku mengerucut.


Mendengar ucapannya Nathan, Adrian menghela napasnya lesuh lalu mencium puncak kepalaku penuh kasih sayang mendalam.


"Maafkan aku, Penny. Seharusnya aku menyatakan perasaanku padamu lebih awal," sesalnya.


"Jangan minta maaf padaku, Adrian. Kamu tidak ada salahnya sama sekali. Malahan aku sangat senang kamu melamarku di saat kemenangan kita yang kedua kali," balasku mengukir senyuman khasku.


Adrian mengambil sumpitnya mengambil sepotong daging panggang lalu memasukkannya ke dalam mulutku.


"Aku mencintaimu, Penny," ungkapnya tulus.


"Aku juga mencintaimu, Adrian," sahutku tersenyum mengambang.


Sementara empat detektif lainnya yang menyaksikan momen kebersamaan kami berdua sampai melongok bingung ingin berkata seperti apa. Tania dan Nathan selalu saja kalau masalah begini nomor satu reaksinya sangat berlebihan.


"Aku seperti sedang menonton drama saja," ejek Nathan.


"Memang kisah cinta kalian sungguh mengharukan," sambung Tania berdecak kagum.


"Kalian berlebihan sekali sih!" sergah Fina pada mereka.


"Tidak apa-apa. Lagi pula kita juga memiliki kisah cinta kita yang lebih romantis daripada mereka," balas Hans merangkul bahunya Fina mesra.


Aku dan Adrian tidak memedulikan mereka sama sekali sibuk menyantap makanan dari tadi. Yang terpenting bagiku sekarang adalah dunia hanya milikku dengannya. Tidak ada yang bisa mengganggu atau memisahkan kami lagi. Pandangan matanya berbinar-binar padaku sambil terus membelai rambutku perlahan.


'Penny, aku tidak peduli dengan orang lain sekarang. Yang hanya ada di pikiranku adalah dirimu saja. Aku menganggap dunia berasa milik kita berdua sekarang,' ucapnya dalam hati.


"Kenapa kalian berdua diam saja dari tadi?" pungkas Hans.


"Kalian seperti sedang berkomunikasi lewat batin kalian deh," lanjut Nathan menyipitkan matanya.


"Aku lelah berbicara panjang lebar bersama kalian. Aku ingin cepat menghabiskan makanannya supaya bisa bertemu dengan putriku," balas Adrian sedikit terburu-buru.


"Oh iya, benar juga aku harus menjemput Erhan pulang juga dari rumah ibuku." Nathan baru tersadar lalu menepuk jidatnya.


"Ayah paling parah melupakan anaknya sendiri," sindir Hans tertawa kecil.


"Bukan lupa. Tapi karena terlalu asyik berbincang dengan kalian jadi ketagihan deh," bantah Nathan.


"Dasar paling pintar cari alasan saja!" hardik Hans.


"Pikun," sindir Fina.


"Ingin kujambak rambut panjangmu, Fina!" hardik Tania mengepalkan tangannya.


Walaupun mereka semua dari tadi sibuk berdebat, aku dan Adrian tetap tidak menghiraukannya karena sibuk menghabiskan makanannya terburu-buru supaya bisa bertemu dengan Victoria secepatnya.


Beberapa saat kemudian, kami berdua selesai menyantap makanannya lalu berpamitan dengan mereka semua terlebih dahulu sebelum mendatangi rumah lamaku menjemput Victoria pulang.


"Aku dan Penny pergi dulu, ya. Kalian kalau mau berdebat sampai suara berserak silakan," pamit Adrian sedikit bergurau.

__ADS_1


"Kami juga tidak ingin berdebat lagi! Lagi pula tidak ada gunanya menghabiskan energi karena masalah konyol saja!" ketus Hans bibirnya mengerucut sambil membenarkan jaketnya.


Tatapan mataku beralih pada Adrian lalu merangkul tangannya mesra di hadapan mereka semua.


"Sayang, ayo kita jemput Victoria sekarang!" ajakku bernada manis.


"Aku tidak sabar bertemu anak kita sekarang."


Kami berdua melangkah keluar dari restoran tersebut meninggalkan mereka semua. Sementara Hans dan Nathan seperti biasa sangat risih mengamati tingkah kemesraan kami sampai menghela napasnya kasar.


"Mereka berdua kalau tidak bermesraan semenit saja mungkin tidak bisa hidup," gurau Nathan menggelengkan kepalanya.


"Mungkin mereka kebanyakan menonton drama romantis jadi begitu. Apalagi dulunya mereka kaku sekali, sekarang berbanding terbalik," sambung Hans mengernyitkan alisnya.


Istri mereka hanya bisa memutar bola matanya bermalasan lalu merangkul tangan pasangannya masing-masing.


"Daripada kalian bergosip terus lebih baik kita juga pergi menjemput anak saja," ajak Fina.


"Benar juga. Sudah lama aku tidak melihat wajah imutnya Keira," sahut Hans.


"Ayo, Nathan!" ajak Tania kepada Nathan penuh bersemangat.


Beberapa menit kemudian, Adrian memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah lamaku. Kami berdua dengan sigap melangkah keluar dari mobilnya langsung membuka pagar rumah. Ketika Adrian baru saja membuka pintu rumahku, sosok Victoria berlari menghampiri kami dari dalam rumah.


"Mama! Papa!" sambutnya girang.


"Victoria!" sahutku dan Adrian serentak langsung memeluknya erat.


"Aku rindu mama dan papa. Aku tunggu terus."


"Papa juga rindu denganmu. Rasanya ada sesuatu yang kurang belakangan ini tanpa kehadiran anakku," tutur Adrian mengusap kepalanya.


"Mama sangat merindukanmu, Putriku. Mama rindu bermain bersamamu setiap hari," ujarku tersenyum bahagia walaupun sebenarnya air mataku ingin mengalir tapi aku menahannya.


Sementara ibu juga menghampiri kami bertiga ikutan berbahagia juga mengamati momen kebersamaan keluarga kecilku.


"Akhirnya kamu bisa bertemu dengan anakmu lagi," sambut Maia tersenyum lega.


"Terima kasih ibu telah merawat anakku dengan baik," sahutku tulus.


"Kalian sebaiknya bermain di ruang tamu saja. Nanti kalian makan malam di sini saja."


"Baiklah, Ibu."


Adrian menggendong Victoria menuju ruang tamu lalu mendudukinya di atas pangkuannya dan juga merangkul bahuku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan bersama keluargaku lengkap.


"Papa," panggil Victoria menatap Adrian berwajah imut.


"Ada apa, Putriku?" sahutnya tersenyum lebar.


"Aku mau dengar dongeng sebelum tidur."


"Tenang saja, Putriku. Mulai nanti malam, papa pasti akan membacakan dongeng khusus untukmu."


"Asyik! Aku sayang papa!"


"Selama tinggal di sini, Victoria selalu menjadi anak yang baik, 'kan. Tidak membuat kakek dan marah?" tanyaku lembut.


"Aku selalu jadi anak yang baik seperti papa dan mama."


"Anak pintar. Untung saja mama dan papa sudah mendidikmu sejak dulu," pujiku mengelus kepalanya.


"Semalam Victoria bisa tidur nyenyak tidak? Soalnya semalam hujan deras," tanya Adrian.


"Aku takut." Victoria bernapas lesuh mencengkeram lengan jas Adrian erat.


"Maafkan papa dan mama tidak bisa menenangkanmu saat ada petir. Tapi kali ini papa akan selalu menemanimu supaya tidak ketakutan lagi." Adrian mempererat pelukannya sambil mengelus kepala Victoria lembut.


"Mulai sekarang mama juga akan selalu menemanimu setiap saat supaya tidak ketakutan lagi," lanjutku lembut sambil mengecup pipi anakku sekilas.


"Asyik aku bisa main sama papa dan mama!" sorak Victoria tertawa bahagia.


Sementara pada saat bersamaan Peter dan Randy baru selesai berbincang di rumah sebelah bergegas menuju ke sini. Langkah kakinya terhenti ketika ingin memasuki ruang tamu mengamati keindahan kebersamaan keluarga kecil. Lalu Maia mengisyaratkan mereka dengan menempelkan jari telunjuknya pada mulutnya untuk tidak mengganggu. Peter dan Randy mengangguk pelan sambil menghampiri Maia.


"Mana mungkin sih aku merusak pemandangan indah seperti ini. Apalagi cucu kita sudah lama tidak bertemu dengan orang tuanya. Aku ingin memberi mereka kebebasan saja," balas Peter tersenyum lebar.


"Anak kita melalui masa sulitnya belakangan ini apalagi tidak bertemu dengan anaknya sendiri," lanjut Randy.


Aku menyadari ada kehadiran ayah dan ayah mertuaku di sini. Aku menolehkan kepalaku ke belakang menyapa mereka ramah.


"Ayah," panggilku tersenyum ramah.


"Maafkan, Ayah. Ayah tidak bermaksud mengganggu momen kebersamaan kalian," sesal Peter.


"Kalian teruskan saja. Ayah sangat bahagia melihat kalian bertiga terus bersama," sambung Randy.


"Tidak apa-apa, Ayah. Lagi pula aku juga merindukan ayah," balasku.


"Kalau begitu bolehkah ayah berbicara dengan Adrian sebentar? Ayah ingin membicarakan sesuatu kepadanya," tanya Peter padaku.


"Ayah berbincang saja dengannya. Aku akan bermain bersama Victoria dulu."


Peter mengajak Adrian berbincang sebentar di ruang makan supaya lebih tenang untuk membicarakannya. Adrian menduduki sebuah kursi tepat berhadapan dengan sang ayah mertua.


"Adrian."


"Iya, Ayah. Ada apa?" sahutnya.


"Apa kepalamu terasa semakin membaik?"


"Sekarang sudah tidak terasa sakit."


"Syukurlah. Ayah sangat mencemaskanmu saat kamu tidak sadarkan diri waktu itu. Kondisimu cukup parah sampai ayah terus mendoakan kepulihanmu supaya bisa melihatmu kembali sehat lagi."


"Terima kasih sudah mendoakanku terus, Ayah. Maafkan aku juga telah membuat ayah mencemaskanku."


"Saat ayah mengantarkan makanan dan juga pakaian untuk Penny di rumah sakit, ayah melihat wajahnya sangat lesuh dan matanya membengkak ketika merawatmu seharian saat kamu tidak sadarkan diri. Dia sangat takut kehilangan satu-satunya pria yang dicintainya. Walaupun dia berlagak kuat di hadapanku, tapi sebenarnya hatinya sangat sedih."


"Penny ..." Adrian menghela napasnya lesuh menunduk bersalah.


"Tapi karena kamu sekarang sudah kembali sehat, ayah tidak usah mencemaskanmu dan Penny lagi. Ayah justru harus berterima kasih padamu lagi karena selalu melindungi Penny dengan baik sampai mengorbankan nyawamu. Kamu memang suami dan ayah yang terbaik, Adrian." Peter beranjak dari kursinya lalu menepuk pundaknya Adrian.


Adrian mengangkat kepalanya dengan senyuman penuh percaya diri.


"Ayah, aku tidak akan pernah membuat Penny menangis selama seharian lagi. Karena hal paling bahagia dalam hidupku walaupun sederhana hanyalah melihatnya selalu bahagia bersamaku."


Usai makan malam, kami bertiga kembali pulang menuju kediaman kami. Victoria tertidur lelap di kursi belakang karena kelelahan bermain selama seharian. Sedangkan aku memandangi kaca jendela sampingku. Beberapa saat kemudian, Adrian memarkirkan mobilnya di basement apartemen. Aku sengaja pejamkan mataku untuk mengistirahatkan mataku sejenak.


Adrian melepas sabuk pengaman lalu mendekatkan tubuhnya padaku sambil melepas sabuk pengaman yang melekat padaku. Sentuhan lembut bibirnya pada puncak kepalaku membuat hatiku berbunga sekarang.


"Penny, kamu tidak usah berpura-pura tidur. Aku tahu kamu tersenyum ceria begini karena aku menciummu."


Akhirnya aku membuka mataku lalu mengalungkan kedua tanganku pada lehernya.


"Tadi ayah membicarakanmu tentang apa?" tanyaku penasaran.


"Bukan sesuatu yang penting."


"Ayolah, Adrian!" rengekku manja.


"Ayah cuma senang melihatku kembali sehat."


"Hanya itu saja? Sepertinya tadi perbincangan kalian cukup lama."


Adrian semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku mengukir senyuman bahagianya.


"Aku sangat mencintaimu, Penny. Mulai sekarang aku akan selalu bermain bersamamu dan Victoria walaupun aku sedang sibuk."


"Adrian ...."


Jarak antara bibirnya pada bibirku kini hanya berbeda tipis. Baru saja Adrian ingin melakukan tautan bibirnya padaku langsung diganggu oleh suara erangan Victoria yang baru saja terbangun dari tidurnya. Adrian menghentikan aksinya menjauhkan wajahnya dariku lalu menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Victoria sudah bangun?" sapa Adrian.


"Papa kenapa tidak membangunkanku?" Mata Victoria masih berat untuk terbuka lebar.


"Papa tidak ingin mengganggumu tidur. Kamu pasti lelah hari ini sampai bisa ketiduran."


"Aku ingin dengar dongeng."


"Baiklah kita turun dari mobil dulu." Adrian mengedipkan mata kirinya padaku.


Hampir saja aksi kami berdua dilihat oleh anak sendiri. Bahkan rasanya jantungku masih berdebar-debar sekarang sampai elus dada. Aku membuka pintu mobil lalu menggendong Victoria menuju kediaman kami.


Usai membersihkan diri, Victoria berlarian memasuki kamarku merangkak di atas ranjang berukuran king size mendatangi Adrian yang sedang menunggunya dari tadi.


Sedangkan aku duduk di kursi meja rias mengeringkan rambutku menggunakan hair dryer. Adrian beranjak dari ranjang menghampiriku lalu mengambil hair dryer dariku.


"Sayang, aku belum selesai."


"Biar aku yang melakukannya saja." Adrian menggerakkan hair dryer perlahan pada rambutku.


"Kamu selalu berbuat gini membuatku ingin semakin manja padamu deh," ucapku manis.


Namun semakin lama pergerakannya semakin menyebalkan. Awalnya berencana mengeringkan rambutku, tiba-tiba ia sengaja mengacak rambutku sampai tidak beraturan dengan tangan usilnya. Gelak tawa nakalnya yang menjengkelkan membuatku geram padanya.


"Saayaang!" pekikku.


"Haha kamu terlihat lucu sekali," tawanya terbahak-bahak.


"Mama lucu." Bahkan anakku sendiri juga menertawaiku.


"Awas, ya, kalian berdua!" Aku menyisir rambutku kembali rapi lalu berlari menghampiri Adrian.


Dengan sigap Adrian menghindariku bergegas menaikki ranjangnya bersama Victoria. Aku tidak menyerah begitu saja juga menduduki ranjangnya menangkap mereka berdua dengan lenganku lebar.


"Ketangkap juga kalian."


"Ampun, Sayang," rayu Adrian manis.


"Tapi mama lucu," lontar Victoria polos.


"Oh, jadi Victoria suka penampilan mama yang tadi." Aku mencubit pipinya lembut.


Victoria meresponsku dengan tertawa puas sambil memegangi perutnya.


"Memang kamu lucu, Sayang." Adrian menjulurkan lidahnya padaku.


"Memang kalian berdua nakal sekali!" Aku memeluk mereka berdua erat sambil berguling di atas ranjang luas ini.


Pada akhirnya kami berdua bermain bersama sampai sepuasnya dengan gelak tawa bahagia yang sudah lama tidak kami lakukan belakangan ini.


Beberapa saat kemudian, kami bertiga kelelahan akibat bermain lalu beristirahat duduk bersandar pada sandaran ranjang.


"Bagaimana rasanya? Menyenangkan, 'kan?" tanya Adrian dengan napas tersengak-sengal.


"Awalnya menjengkelkan tapi sangat menyenangkan bermain bersama kalian," jawabku tersenyum ceria.


"Menyenangkan, Papa."


"Kalau begitu saatnya membacakan dongeng untuk putriku."


Adrian mengambil buku dongengnya tepat di meja sebelah ranjang lalu kembali mendekapku dan Victoria dengan hangat sambil mulai membacakan dongengnya.


Teknik membacanya memang tidak diragukan lagi. Ia seperti sangat menjiwai karakter dalam dongeng sampai Victoria sangat menyukainya. Untung saja cedera kepalanya waktu itu tidak membuatnya lupa dengan tekniknya. Biasanya aku dan Adrian bergilir membacakan dongeng untuk Victoria sesuai dengan perannya. Kalau perannya merupakan seorang wanita seperti putri atau ratu, giliran aku yang memerankannya. Sementara kalau perannya merupakan seorang pangeran atau raja, giliran Adrian yang berperan dalam ceritanya.


"Mama dan papa seperti putri dan pangeran di dongeng."


"Mamamu memang cantik seperti putri di dunia dongeng," lontar Adrian mengelus pipiku lembut.


"Papa juga tampan seperti pangeran," ujarku tersenyum hangat padanya.


"Aku mau dengar ceritanya."


"Oke, mama lanjut baca, ya."


Beberapa menit kemudian, kami berdua selesai membacakan dongeng untuknya diakhiri dengan mengecup pipi mungilnya Victoria bersamaan sebelum tidur.


"Mama, hari libur nanti apa kita bersenang-senang lagi?" tanya Victoria tiba-tiba.


"Nanti mama akan mengajakmu ke tempat yang menyenangkan."


"Asyik!"


"Victoria, kalau ingin pergi ke suatu tempat kasih tahu mama dan papa, ya," ucap Adrian lembut.


"Aku mau main."


"Oke, nanti papa akan kabulkan keinginanmu. Kita akan selalu bersenang-senang di hari libur nanti."


Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Sesuai dengan janji kami sebelumnya, kami akan mengajak Victoria bersenang-senang di hari libur. Salah satunya bermain di arena bermain dalam suatu pusat perbelanjaan elit. Ketika kami ingin berkunjung kesana, tiba-tiba Victoria menghentikan langkah kaki mungilnya.


"Mama, aku mau ke toilet."


"Oke. Mama akan menemanimu," sahutku menggandengnya ingin menuju kamar kecil.


"Kalau begitu aku akan tunggu di sini saja," ujar Adrian.


"Baiklah jangan ke mana-mana, ya." Dengan sigap aku mengantarkan Victoria menuju kamar kecil.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita bertubuh tinggi dan langsing terlihat seperti model professional yang sedang melakukan catwalk kini menghampiri Adrian yang sedang menunggu kedatangan sang pujaan hati dan buah hati di balkon. Wanita cantik tersebut melepas kacamata hitamnya ditaruh dalam sling bagnya mulai tersenyum centil di hadapannya.


"Adrian," panggilnya suaranya sedikit melengking.


Perasaan Adrian sedikit tidak enak ketika mendengar suara seorang wanita yang terdengar centil apalagi bukan suara wanita yang dicintainya atau teman dekatnya. Adrian menolehkan kepalanya ke belakang tersentak ketika menatap sosok wanita tersebut yang ia sudah kenal sejak dulu.


"Valerie." Nada berat yang ia keluarkan dari mulutnya.


"Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya Valerie.


"Kabarku baik-baik saja selama ini," jawabnya datar.


"Kamu masih terlihat tampan seperti dulu. Apa mungkin sampai sekarang kamu masih belum berpacaran dan sibuk terus seperti dulu?" Valerie menyunggingkan senyuman centilnya memainkan jari jemarinya.


"Mengenai itu kamu tidak perlu tahu."


"Berarti kamu masih saja seperti dulu selalu menjadi pria yang kaku padahal kamu merupakan pria sempurna di mata wanita." Valerie mengulurkan tangannya hendak menyeka debu melekat pada bajunya Adrian namun langsung ditepis kasar olehnya.


"Sikapmu masih saja tidak berubah. Kamu masih bersikap genit pada semua pria tampan di matamu!" ketus Adrian menatap sebal.


Tatapan mata Valerie beralih pada sebuah cincin pernikahan yang terpasang pada jari manisnya Adrian. Ia mendesah lesuh mengulas senyumannya.


"Ternyata kamu sudah menikah. Wanita itu pasti sangat beruntung menikah denganmu. Aku penasaran sekali dengan wajah istrimu."


"Yang pasti wajah istriku jauh lebih cantik daripadamu."


Sementara aku baru saja selesai mengurus Victoria di kamar kecil langsung melangkah keluar dari sana. Ketika kami berdua ingin kembali menghampiri Adrian, langkah kakiku berhenti sejenak menatap seorang pria berwajah biasa saja namun tampak tidak asing bagiku. Pria tersebut mendekatiku tersenyum ramah padaku.


"Marcellino." Satu nama terlontar dari mulutku secara spontan.


"Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Penny?" tanya Marcellino.


"Kabarku baik-baik saja," jawabku datar.


"Paman siapa?" tanya Victoria penasaran.


Tatapan mata Marcellino beralih pada Victoria lalu tersenyum hangat padanya.


"Rupanya kamu sudah menikah, Penny. Tidak kusangka ternyata wanita yang kasar sepertimu sudah menjadi wanita yang manis. Aku penasaran dengan wajah suamimu seperti apa sampai transformasimu lumayan drastis."


"Yang pasti wajah suamiku jauh lebih tampan darimu."


"Ya sudah, mari kita lihat siapa yang lebih tampan. Aku juga ingin berkenalan dengannya."

__ADS_1


Aku menggandeng Victoria melanjutkan perjalanan mendatangi Adrian yang diekori oleh Marcellino dari belakang. Sebenarnya kehadirannya saat ini membuatku sedikit tidak nyaman dengannya karena hubungan kami tidak terlalu dekat di masa lalu. Tapi tidak kusangka setelah melewati bertahun-tahun tanpa memiliki nomor kontaknya bisa bertemu dengannya secara kebetulan hari ini.


Langkah kakiku terhenti seketika mengamati sosok wanita lumayan terlihat cantik memakai pakaiannya sedikit seksi dibandingkan diriku memakai pakaian dress elegan namun tidak seksi sedang bersama suamiku sekarang.


__ADS_2