Good Partner

Good Partner
Part 60 - I Need You


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, paramedis memasang alat ventilator untuk Yulia. Aku, Nathan, dan Tania bergegas keluar dari rumah itu lalu mengikuti mobil ambulans dengan menaikki mobilnya Nathan menuju rumah sakit terdekat.


Sekitar membutuhkan waktu 15 menit perjalanan menuju rumah sakit, akhirnya kami tiba juga di sana. Para dokter yang bertugas di sana mengambil berbagai peralatan medisnya dan memeriksa kondisi tubuh Yulia sangat kritis.


Aku menghampiri salah satu dokter sambil menatap wajah Yulia sangat pucat seperti mayat. "Bagaimana dengan kondisinya, Dok?"


"Sepertinya ada luka dalam di rongga lehernya. Kemungkinan besar pasien tidak akan bisa berbicara untuk sementara. Untung saja, pasien tidak dicekik sampai rongga leher dan ligamennya rusak."


"Kapan dia akan tersadar?"


"Saya tidak bisa memperkirakan waktu tersadarnya kapan. Yang pasti karena pasien dicekik lumayan lama, pasien harus mengandalkan alat ventilator supaya pasien bisa bernapas dengan baik."


"Selamatkan nyawanya. Dia adalah seorang saksi yang sangat penting dalam kejadian ini."


"Akan saya usahakan dengan terbaik untuk menyelamatkannya."


"Terima kasih, Dok."


Aku menoleh ke belakang, kembali menghampiri Tania dan Nathan sedang duduk di ruang tunggu.


"Bagaimana dengan kondisinya?" tanya Nathan penasaran.


"Untungnya kita datang tepat waktu jadinya tidak ada kerusakan parah dalam rongga lehernya."


Tania mengelus dada. "Syukurlah, aku sedikit lega mendengarnya."


"Tapi ...."


"Tapi apa lagi, Penny?" tanya Tania.


"Untuk sementara dia kemungkinan belum bisa berbicara. Jadinya kita tidak bisa menanyainya sampai dia bisa berbicara," bisikku dengan wajah lesu.


Nathan mengepalkan tangannya geram. "Aish benar-benar dasar keparat pengen kubunuh dia sekarang juga!"


Tania menepuk-nepuk pundak Nathan. "Sudahlah, Nathan. Kamu emosi sekarang juga tidak ada gunanya. Lagi pula kita harus bersabar terus sampai dia tersadar juga."


"Kenapa si Fina di situasi seperti ini tidak muncul sih? Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan!" ketus Nathan mendengkus kesal.


Sedangkan di sisi lain, Fina sibuk memasakkan makanan untuk Hans. Usai memasak, ia membawa masakannya ke dalam kamarnya Hans.


"Kamu tidak pulang?" sambut Hans sambil berusaha duduk dengan pelan.


Fina memalingkan mata malu. "Kamu masih tidak enak badan, jadinya aku memasak makanan untukmu."


Sejenak Hans tertawa kecil, setengah hatinya juga penasaran dengan tingkah Fina entah kenapa bisa berubah drastis. "Kenapa kamu bersikap baik padaku seperti ini?"


Fina langsung meletakkan mangkuk di atas meja. "Karena ... kamu rekan terdekatku di kantor. Jangan salah paham jika aku berbuat baik seperti ini."


"Tenang saja. Sekarang perutku sudah mulai membaik. Lagi pula kamu harus kembali bekerja lagi," ucap Hans berlagak kuat mengangkat kepalanya.


"Kamu yakin bisa sendiri? Tadi di kantor saja kamu bersikap seperti anak kecil."


"Tenang saja. Sudahlah kamu pergi saja." Hans mengibaskan tangan kanannya mengisyaratkan Fina bergegas pergi.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang."


Fina mengambil tas dan jaketnya yang ada di sofa ruang tamu lalu keluar dari rumahnya Hans. Ponselnya bergetar terus dari tadi membuatnya penasaran. Ia membuka ponselnya melihat ada lima panggilan tak terjawab dari Nathan. Lalu ia menekan kontak Nathan menghubunginya kembali.

__ADS_1


"Halo Nathan, kenapa kamu meneleponku terus?"


"Kamu ini ke mana saja sih! Sekarang situasi sangat genting. Kamu harus pergi ke rumah sakit sekarang juga!"


"Baik, aku akan ke sana sekarang."


Beberapa menit kemudian, Fina berlari menuju bangsal umum dan menghampiri kami semua dengan napas terengah-rengah.


"Kamu ini dari mana saja? Bukankah kamu hanya mengantar Hans pulang ke rumahnya?" omelku berkacak pinggang.


"Tadi aku merawatnya dulu," jawab Fina datar.


Nathan menggeleng ledek. "Oh, jadi kamu sibuk mementingkan merawat Hans daripada pekerjaan, ya."


"Kamu sendiri tadi tidak lihat Hans perutnya sangat sakit saat di kantor tadi. Temanmu itu sedang kesulitan kamu harus menolongnya!" celetuk Fina memelototi Nathan dengan tajam.


"Sekarang kita mulai fokus pada pekerjaan lagi," ucapku menatap serius.


Situasi kembali tegang. Tatapan Fina kembali serius padaku. "Bagaimana dengan Reporter Yulia? Apakah kita akan terus mengandalkan polisi yang berjaga di luar kamarnya?"


Aku berjakan mondar-mandir. "Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Kita harus berjaga di kamar dengan bergilir. Kita tidak tahu suatu saat nanti pembunuh itu akan berusaha membunuh Yulia lagi. Terutama dalam memperhatikan dokter yang mengecek kondisi tubuh Yulia secara rutin. Pokoknya kita harus selalu waspada."


"Kalau begitu, aku akan menjaganya malam ini. Besok pagi giliran Fina yang berjaga," kata Nathan.


"Lalu besok siang giliran aku yang berjaga dan sore harinya Penny yang berjaga," tambah Tania mengusulkan ide.


"Apakah kamu tidak keberatan Fina jika berjaga di pagi hari?" tanyaku kepadanya.


"Tidak masalah, aku malah lebih memilih berjaga di sini daripada di kantor yang udaranya sumpek," jawab Fina dengan nada sombong.


"Ya sudah kalau begitu sekarang saatnya kamu bertugas, Nathan," ucapku sambil menepuk pundaknya.


"Adrian, kamu ada di mana?"


"Maaf Penny. Malam ini aku tidak bisa menjemputmu pulang."


"Kamu pasti sibuk sampai bekerja lembur. Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu."


"Tunggu sebentar, Penny!"


"Ada apa, Adrian?"


"Aku harus menjemputmu sekarang."


"Tidak perlu. Aku tidak ingin mengganggumu. Sebaiknya kamu fokus pada pekerjaanmu saja."


"Tapi Penny--"


"Tenang saja, aku bisa pulang sendiri naik taksi."


"Maafkan aku Penny."


"Tidak apa-apa, Adrian. Aku tutup teleponnya dulu ya."


Dengan sigap aku menutup panggilan telepon supaya tidak mengganggunya. Karena hari ini Adrian pulang larut malam jadinya aku pulang naik taksi.


Setibanya di apartemen, aku berjalan memasuki kamarku dan membaringkan tubuhku di ranjang. Aku tidak terbiasa dengan hampanya di tempat ini. Biasanya jam segini, Adrian sudah pulang dan sibuk berbincang denganku. Baru malam ini saja tanpa ada kehadirannya, aku sangat merindukannya walaupun tadi pagi aku sudah menatap wajahnya.

__ADS_1


Terdengar suara gemuruh yang membuatku kaget dan hujan guyur deras. Aku memposisikan tubuhku duduk sambil menatap jendela sambil menopang kepalaku pada kedua lututku. Suasana saat ini bagaikan seperti sang istri menunggu suaminya berkunjung pulang ke rumahnya. Giliran aku sedang menghadapi masalah yang rumit ini, ia tidak berkunjung datang sama sekali. Padahal aku membutuhkan seorang teman bahkan lebih dari sekadar teman untuk mendengarkan isi hatiku saat ini. Selain itu aku sangat membutuhkan pundaknya yang lebar itu untuk menyandarkan kepalaku yang berat ini.


Lihat saja nanti besok, aku akan membalas perbuatannya akibat tega menelantarkanku seperti ini. Ia harus diberi pelajaran sesekali. Aku menunggunya pulang hingga aku tertidur pulas karena tubuhku sangat lelah.


Tidak terasa sudah pagi, aku beranjak dari ranjang mengganti pakaianku sekaligus merapikan diriku. Lalu berjalan keluar dari kamarku melihatnya sedang sibuk memainkan ponselnya di sofa ruang tamu.


"Kamu sedang apa?" sapaku masih mengantuk.


"Aku sedang sibuk melihat artikel berita pagi ini sambil menunggumu."


"Begitu rupanya."


Adrian mendatangiku, menyentuh pundakku dengan tatapan bersalah. "Maaf semalam aku pulang larut malam. Kamu pasti sangat kesepian kemarin."


Aku menggeleng menampakkan senyuman paksa. "Tidak apa-apa. Lagi pula kamu harus selesaikan pekerjaanmu dulu."


"Tenang saja, sekarang masalahnya sudah beres."


"Aku mau bersiap-siap berangkat ke kantor. Hari ini aku berangkat sendiri saja, kamu tidak usah repot-repot mengantarku terus."


"Apa kamu masih marah karena kemarin kamu pulang sendiri? Kamu tidak ingin sarapan dulu?"


Aku melepas sentuhan tangannya perlahan. "Bukan karena itu. Aku memang ingin berangkat sendiri saja. Lagi pula aku harus buru-buru ke kantor."


"Tapi kamu tetap harus sarapan, Penny. Nanti kamu bisa sakit."


Aku langsung menurutinya melangkah menuju meja makan lalu menikmati nasi omeletnya dengan melahap bersamanya. Tidak membutuhkan waktu lama aku menghabiskan sarapannya.


Sebelum pergi, aku berpamitan dengannya dulu. "Aku berangkat dulu ya."


Adrian mendekapku dengan hangat sambil mengelus kepalaku lembut. "Aku memberikan vitaminku supaya kamu bersemangat bekerja. Apalagi kamu berangkat kerja sendiri lagi, aku mencemaskanmu, Penny."


"Kamu tidak perlu mencemaskanku. Aku bisa berangkat sendiri, tenang saja tidak ada yang akan berani menyakitiku lagi."


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu." Adrian melepas pelukan hangat lalu mengecup pipiku lembut.


Aku memasuki ke kantor sambil menyapa para anggota kepolisian yang berpapasan denganku. Kali ini Fina yang bertugas menjaga Yulia di rumah sakit sehingga ia tidak bisa hadir di kantor pagi-pagi begini.


"Penny, kamu dipanggil Inspektur William," ucap Danny menghampiriku.


Aku langsung menurutinya dan berjalan menuju ruang Inspektur William. Seperti biasa sebelum memasuki ruangannya, aku mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuklah!" pekik Inspektur William dari dalam.


Aku memasuki ruangannya dan duduk di sofa di dekatnya. "Ada apa kamu memanggilku lagi?"


"Artikel berita yang menjadi topik pembicaraan masyarakat, apakah itu adalah perbuatanmu?" tanya Inspektur William dengan tatapan elang.


"Iya, itu aku yang melakukannya," jawabku dengan percaya diri.


"Kenapa?"


"Kita bisa dengan mudah menangkap pelakunya menggunakan umpan itu. Aku sangat yakin kasus yang sedang kuselidiki saat ini ada kaitannya dengan kasus yang ada di artikel berita itu."


"Bagaimana kamu bisa berasumsi seperti itu?"


Dahiku mengernyit. "Tiba-tiba berita itu terkubur selama setahun. Bukankah ini sangat aneh? Lagi pula aku sangat yakin detektif yang bertugas saat itu kerja sama dengan pelaku sebenarnya."

__ADS_1


"Itu kasusnya sudah sangat lama. Sebaiknya kamu jangan fokus pada kasus itu. Asumsimu sangat tidak masuk akal. Bahkan kasus yang sedang kamu selidiki saat ini saja belum beres."


"Jadi, kamu ingin aku menutup kasus itu begitu saja?"


__ADS_2