
Aku dan Adrian melangkah keluar dari taksi sambil menatap banyak reporter sedang berdiri di depan gedung pengadilan. Kami berdua saling berpegangan tangan melangkah memasuki gedung bersama, menerobos para reporter mengabaikan pertanyaan dari mereka.
Kami memasuki ruang sidang dan menduduki kursi pengunjung.
Pandangan Adrian berbinar mengamatiku. "Ini pertama kalinya aku menyaksikan persidangan langsung bersama sahabatku sendiri."
Entah aku yang tidak peka atau tidak, tapi jika namanya memasuki ruang sidang itu sudah biasa bagiku karena aku sudah beberapa kali menginjak kakiku di ruangan ini selama lima tahun bekerja. "Menurutku biasa saja apalagi beberapa kali aku menyaksikannya bersama rekan timku."
"Aku juga beberapa kali menyaksikan persidangan bersama rekanku kalau aku tidak menangani kasus. Tapi aku merasa sedikit berbeda kalau berdua bersamamu, Penny."
Mendengar perkataannya barusan, aku jadi teringat adegan selama tiga minggu merawatnya, setiap hari ia memperlakukan aku sedikit berbeda dari biasanya. Namun tetap saja aku menganggapnya sebagai sahabatku karena ia juga menganggapku sebagai sahabatnya.
Senyuman girang terukir pada wajahnya membuatku spontan tersenyum bahagia apalagi kami duduk berdekatan seperti ini. "Sebenarnya aku juga merasa sedikit berbeda kalau menyaksikan persidangan bersamamu,"
Di tengah perbincangan kami, Pak Colin memasuki ruang sidang yang dijaga ketat dua petugas kepolisian. Ia menduduki kursi tersangka menundukkan kepalanya lesu berpenampilan memakai seragam tahanan. Tak lama kemudian, para hakim memasuki ruang sidang lalu semua pengunjung berdiri dengan hormat untuk memberikan penghormatan kepada para hakim.
Saat persidangan baru saja dimulai, Adrian mendekatkan wajahnya pada telingaku. "Aku harap Jaksa Yohanes bisa memenangkan persidangan ini."
Aku bertopang dagu menatap sosok jaksa Yohanes berpenampilan menawan tidak kalah dengan Adrian. "Dilihat dari raut wajahnya yang serius sepertinya dia bisa memenangkan persidangan."
"Dia sebenarnya tipe orang santai. Walaupun usianya lebih tua dariku, aku selalu berbicara informal dengannya karena dia teman dekatku di kantor."
Adrian menggenggam tangan kiriku memasanh raut wajah percaya diri. "Tenang saja dia bisa diandalkan sepenuhnya. Meski terkadang dia sangat menyebalkan!"
Dua jam persidangan berlangsung, akhirnya sidang pertama telah usai dengan lancar.
Sebelum menaiki taksi, aku menahan Adrian sejenak menyentuh tangannya. "Kita harus mengajukan sidang ulang kasus ayahmu."
Dahi Adrian mengernyit. "Tapi, apa mungkin kepala hakim akan menerima pengajuan sidang ulang?"
"Kita memiliki bukti yang sangat kuat bahwa ayahmu tidak bersalah. Lagi pula bukti ini juga akan menambah catatan kriminal dan hukuman Pak Colin."
"Baiklah, kita akan mengajukan sidang ulangnya secepat mungkin. Tapi aku tidak terlalu yakin sepenuhnya diterima karena kasus ayahku sudah terlalu lama."
Melihat raut wajahnya masih lesu, aku menyentuh pundaknya dengan kedua tanganku memasang ekspresi wajah ceria. "Aku yakin pasti bisa, percayalah padaku."
Akhirnya Adrian kembali tersenyum dan semangatnya mulai membara. "Baiklah, aku akan mencari pengacara yang andal untuk membela ayahku."
"Selain itu, aku juga ingin meminta ayahku bersaksi di pengadilan."
"Aku mengunjungi firma hukum dulu. Sampai bertemu, Penny," pamitnya sambil mengelus kepalaku sekilas.
Aku kembali ke kantor polisi untuk kembali bekerja. Di depan kantor polisi, aku disambut meriah teman-temanku.
"Selamat, Penny!" sorak Nathan bertepuk tangan meriah.
"Aku sangat bangga padamu, Penny," puji Hans mengacungkan jempolnya.
"Sini aku peluk kamu." Tania memelukku erat membuat napasku tersengal-sengal.
Aku langsung melepas pelukanku. "Aduh sidang kedua saja belum mulai! Kalian sudah berlebihan seperti ini."
"Yang penting Pak Colin sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi," ujar Hans bernapas lega.
"Omong-omong, kamu tidak mengunjungi ayahmu, Penny?" tanya Tania mengalihkan pembicaraannya tiba-tiba.
Benar juga! Bahkan aku hampir lupa mengunjungi ayah karena kelamaan bepergian.
"Sebaiknya kamu mengunjunginya saja sekarang. Kamu sudah bepergian lama begini pasti ayahmu sangat mencemaskanmu," usul Nathan bersikap bijak.
"Tapi pekerjaan di sini--"
"Tenang saja biar kami yang mengurusnya. Sebaiknya kamu pergi saja sekarang." Hans mengibaskan tangannya seperti mengusirku.
Daripada mendengar ocehan mereka membuat telingaku gatal, terpaksa aku menuruti mereka. Lagi pula aku juga merindukan ayah dan ibu. "Baiklah, aku akan pergi sekarang."
Setibanya di rumah sakit, aku berjalan cepat memasuki kamar ayah.
__ADS_1
Untuk melampiaskan kerinduanku sekaligus merayakan kemenanganku, aku memeluk ayah erat. "Aku merindukan, Ayah."
"Ayah juga sangat merindukanmu, Penny," balas ayah mengelus kepalaku.
Ibu memanyunkan bibir. "Oh, jadi kamu tidak merindukan ibu."
Aku tertawa terkekeh langsung memeluk ibu. "Aku juga merindukan, Ibu."
drrt...drrt...
Ponselku berbunyi, aku langsung mengangkat panggilan telepon dari Adrian.
"Penny, akhirnya kepala hakim menyetujui sidang ulang kasus ayahku." Suara Adrian terdengar sangat bahagia lewat telepon.
"Syukurlah, pasti Pak Colin akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Nanti aku akan menemui Reporter Yulia untuk menjadi saksi juga."
"Bagus. Dengan begini Pak Colin tidak akan bisa lepas. Kalau begitu aku tutup teleponnya dulu ya." Adrian langsung mematikan teleponnya.
Aku memasukkan ponselku ke dalam saku mantelku. Mendengar kabar baik ini, aku juga ingin memberitahukan langsung pada ayah. Ayah pasti sangat bahagia mendengarnya.
"Ayah, aku boleh meminta bantuan ayah untuk terakhir kalinya?"
"Boleh saja. Apa pun untuk putriku," jawab ayah dengan antusias.
"Maukah ayah menjadi saksi dalam persidangan ulang paman Randy? Tadi Adrian meneleponku bahwa pengajuan sidang ulang ayahnya itu telah disetujui kepala hakim."
Ayah mengangguk cepat. "Tentu saja ayah ingin bersaksi. Lagi pula, sekarang kondisi tubuh ayah sudah membaik. Ayah justru harus bersaksi supaya Colin mendapatkan hukumannya sesuai dengan perbuatan jahatnya."
"Terima kasih, Ayah! Ayah memang yang terbaik!" sorakku memeluk ayah erat.
"Sidang kedua Colin kapan diadakan?" tanya ayah.
"Lima hari lagi. Aku mau pergi ke suatu tempat menemui Reporter Yulia."
Aku mengendarai mobilku menuju stasiun TV BYZ untuk menemui Reporter Yulia.
Setibanya di Kafe tempat waktu itu kami berbincang, aku memesan kopi dan mulai berbincang dengannya.
"Maaf aku mengganggumu lagi. Aku ingin meminta bantuanmu lagi."
"Bantuan apa?" tanya Reporter Yulia mulai penasaran.
Sejenak aku menyesap kopi. "Saya ingin kamu bersaksi dalam persidangan terakhir Pak Colin dan Pak John. Lalu saya ingin memintamu merilis artikel mengenai ayahku masih hidup. Jika kamu bekerja sama dengan saya, kamu tidak perlu takut."
Tangan kanan Reporter Yulia sedikit gemetar menggenggam gelas kopi. "Tapi jika saya merilis berita bahwa ayahmu masih hidup, reputasi pekerjaan saya akan hancur."
"Lebih baik kamu bersaksi di pengadilan lalu kamu tidak perlu dikurung di balik jeruji besi atau kamu hanya berdiam saja lalu pada akhirnya kamu ditangkap juga?" Aku sengaja membuat kedua pilihan yang sulit sehingga membuatnya bingung sekarang.
Helaan napas lesu dihembuskan dari mulutnya sambil memikirkan kedua pilihan yang kuberi padanya barusan. Ia terus memikirkan hingga dahinya berkerut sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Tidak membutuhkan waktu lama, senyuman cerdas terukir pada wajahnya. "Baiklah, saya akan merilis artikelnya dan bersaksi di pengadilan nanti."
"Terima kasih atas kerja samanya," balasku tersenyum ramah sambil menunduk berkali-kali.
"Senang bekerja sama denganmu juga, Penny. Lain kali kita berbincang bahasa informal saja."
Lima hari kemudian, akhirnya tibalah sidang kedua Pak Colin yaitu sidang untuk terakhir kalinya. Kali ini tidak hanya aku dan Adrian saja yang menyaksikan persidangan ini. Namun, kedua orang tuaku, Tania, dan Nathan juga ikut menyaksikannya. Para hakim memasuki ruang sidang dan memulai persidangannya.
"Yang Mulia, saya akan memanggil salah satu saksi yang membuktikan kejahatan Tuan Colin. Saksi tersebut merupakan sahabat terdekat Tuan Colin yang dinyatakan menghilang 15 tahun yang lalu di Gangnam, Korea Selatan," tutur Yohanes.
"Silakan," balas salah satu hakim.
Aku mendorong kursi roda ayah mengantarkannya menuju meja saksi. Semua orang sangat terkejut saat melihat ayah masih hidup dan kondisinya semakin membaik karena aku memilih dokter terbaik menyembuhkan penyakit ayah.
"Saksi, tolong ucapkan sumpah pernyataan saksi terlebih dahulu,"
Ayah mengangkat tangan kanan. "Saya Peter Patterson bersumpah menyatakan bahwa pernyataan yang saya berikan merupakan pernyataan yang sebenarnya sesuai dengan kenyataan dan tidak mengubah fakta dari kenyataan tersebut."
__ADS_1
Setelah mengucapkan sumpah saksi, ayah menceritakan semua kejadian yang sebenarnya hingga menghebohkan seluruh orang di ruangan itu.
Pak Colin terlihat geram menatap tajam pada ayah, lalu beranjak dari kursi ingin mencekiknya. "AWAS KAMU, PETER! AKAN KUBUNUH KAMU SEKARANG JUGA!!"
"TERDAKWA HARAP TENANG, INI DI RUANG SIDANG! PETUGAS TOLONG TENANGKAN TERDAKWA!!" pinta ketua hakim sambil mengetuk palunya berulang kali.
"Yang Mulia, saya akan memanggil satu saksi lagi yang membuktikan kejahatan Tuan Colin dan Kepala Detektif John," ujar Yohanes memohon pada hakim.
"Silakan."
Reporter Yulia menduduki meja saksi dan menyatakan sumpah pernyataannya. Setelah itu, ia mengungkapkan kejahatan Pak John yang menyuruhnya menyembunyikan ayah secara diam-diam dan juga mengungkap Pak Colin menyuruhnya merilis artikel hilangnya ayah saat 15 tahun yang lalu.
Setelah dua jam berlangsung persidangan, akhirnya ini merupakan hasil akhir dari persidangan ini.
"Terdakwa Colin Barretz memerintahkan pihak ketiga melakukan pembunuhan yang sangat kejam, melakukan penyuapan terhadap pihak kepolisian, memanipulasi laporan keuangan, menyembunyikan bukti kejahatan, dan mengurung saksi mata di rumah sakit terpencil hingga menyiksanya. Maka menurut keputusan hakim, terdakwa dinyatakan bersalah dan divonis hukuman mati." Ketua hakim mengetuk palunya tiga kali untuk mengesahkan hukumannya.
tok...tok...tok...
"Terdakwa Kepala Detektif John Lannez menerima suap dari Colin Barretz untuk melakukan kejahatan dan berusaha menutupi kasus hingga membunuh Tuan Gerry yang merupakan petugas sipir penjara. Maka dari itu, atas kejahatannya John Lannez jabatannya sebagai kepala detektif akan dicabut dan divonis hukuman penjara selama 30 tahun," ujar hakim itu lagi sambil mengetuk palunya tiga kali.
tok..tok..tok..
Sekarang semua sudah kembali seperti semula. Tidak ada kejahatan lain lagi yang akan membuat kota ini menjadi hancur. Aku melihat Pak John dan Pak Colin dikawal petugas polisi untuk dibawa ke rutan. Akhirnya hidupku sudah bisa kembali normal. Tapi sebelum itu, aku harus menghadiri persidangan ulang paman Randy.
Tiga jam kemudian, akhirnya dilaksanakan persidangan ulang paman Randy. Kini paman Randy berhasil mengembalikan nama baiknya seperti semula.
"Terdakwa akan dicabut hukumannya dan dinyatakan tidak bersalah," ungkap hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali.
tok..tok..tok..
Aku melihat ekspresi wajah Adrian yang terlihat sangat lega dan bahagia melihat ayahnya akhirnya dibebaskan. Lalu paman Randy menatapku dengan senyuman ramah dan menundukkan kepalanya padaku menandakan bahwa ia sangat berterima kasih kepadaku.
Setelah keluar dari gedung persidangan, semua temanku bersorak ria seperti dibebaskan dari penjara.
"Akhirnya hidupku bisa tenang lagi," ucap Nathan bernapas lega.
"Aku bisa bangun siang lagi nih," sorakku melompat heboh.
"Iya, terakhir kali saat kamu tertidur di tempatku, kamu tidurnya pulas sekali," ejek Adrian tertawa terkekeh.
Aku mengernyitkan alisku sambil berkacak pinggang. "Hmm masa sih?"
"Kamu tertidur pulas karena kamu bekerja terlalu kelelahan."
"Iya sih sejak menyelidiki kasus ini, aku kurang beristirahat."
Adrian mengukir senyuman bahagianya padaku, lengan kekarnya mendekapku dengan hangat. "Penny, terima kasih sudah menolong ayahku. Aku sangat bahagia dan bangga memiliki sahabat sepertimu."
Aku melingkarkan lenganku pada punggungnya manja. "Adrian, kamu juga banyak membantuku dan melindungiku terus saat menyelidiki kasus ini. Aku juga sangat bahagia bersahabat denganmu,"
Di tengah suasana kebahagiaan kami, salah satu dari temanku sengaja berdeham merusak suasananya sekarang.
"Ehem...ehem..."
Dengan sigap aku dan Adrian melepas pelukannya bersikap normal lagi di hadapan mereka semua. Sedangkan Tania menertawai kami sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalian sudah selesai?" ledek Tania.
"Sudahlah biarkan saja, Tania. Sebaiknya kita jangan mengganggu mereka," sambung Nathan juga menertawaiku.
"Kalian membicarakan apa sih?" tanyaku bingung memiringkan kepalaku.
Hans tersenyum sinis. "Nanti kamu juga akan tahu sendiri, Penny."
"Nah karena tugas kita sudah selesai dan misi kita berhasil, bagaimana kalau kita merayakannya dan makan bersama di restoran barbeque?" ajak Tania.
"Wah boleh tuh, sudah lama tidak makan di sana!" seruku girang.
__ADS_1
Nathan menepuk lengan Tania sekilas. "Tumben kamu yang mengajak ke sana."
"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepada kalian," kata Tania dengan tatapan serius.