
Setibanya di tempat pertemuan yang diperintahkan Gerry sebelumnya melalui telepon, aku menelusuri area bangunan terbengkalai ini perlahan sambil mengamati sekelilingku menunjukkan keberanianku. Namun aku tidak merasakan kehadiran seseorang pernah mengunjungi area ini.
Di saat aku sedang mencari keberadaan Gerry, terdapat bercak darah melekat di tanah. Selain itu bercak darah terlihat seperti baru saja terjadi suatu insiden. Tanpa berpikir panjang aku memberanikan diri mengikuti jejak darah itu lalu aku menemukan sebuah jasad yang tergeletak di lantai di suatu ruangan.
Dengan penuh rasa penasaran, aku semakin memberanikan diriku mendekati jasad itu untuk memeriksa kondisinya. Aku tersentak kaget hingga mataku terbelalak dan mulutku terbuka lebar ketika mengamati jasad itu adalah Gerry. Spontan aku menjauhi jasad itu melangkahkan kakiku mundur dengan lemas. Aku bergidik ngeri merinding ketakutan bingung apa yang telah terjadi sebenarnya hingga Gerry dibunuh dengan kejam seperti ini.
Tak lama kemudian, sekumpulan polisi mengepung area ini.
"Detektif Penny?" tanya salah satu petugas kepolisian menghampiriku dengan tatapan kejam.
"Iya?"
Petugas polisi itu tiba-tiba memborgol tanganku. "Anda ditangkap atas kejadian pembunuhan Gerry. Anda berhak menyewa pengacara untuk membela Anda."
Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku merupakan pelakunya sedangkan aku yang menemukan jasadnya? Langkah kakiku sedikit menjauhi petugas polisi itu.
"Apa maksudnya? Saya ditangkap?"
"Kami sudah mendapatkan bukti bahwa Anda merupakan pelaku melakukan pembunuhan ini. Sebaiknya Anda cepat serahkan diri sebelum saya membawa Anda dengan paksa!"
"TIDAK! BUKAN SAYA PELAKUNYA!" teriakku menjerit.
Aku mengepalkan kedua tanganku mulai menghajar para petugas polisi itu. Secara terpaksa aku harus melawan mereka supaya aku bisa melarikan diri dari sini. Aku menghindari para petugas polisi itu dengan gerak tubuhku lincah berlari keluar dari area ini.
"CEPAT TANGKAP DIA!" titah petugas polisi itu kepada anak buahnya.
Aku terus berlari keluar dari bangunan ini, lalu memasuki mobilku dan menginjakkan pedal gas mendalam. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan penuh untuk menghindari kumpulan polisi. Namun, aku masih tetap dikejar malahan semakin banyak mobil polisi yang mengejarku.
Di tengah jalan sambil mencari tempat bersembunyi, aku mengendarai mobilku sambil terus membunyikan klakson supaya mobil di depan memberiku jalan. Namun karena ini keadaan darurat, aku menambahkan kecepatan mobilku lagi berpindah jalur terus hingga membuat pengemudi lain membunyikan klakson mobilnya.
Tin..Tin..Tin..
Suara klakson mobil lain sangat berisik hingga membuat konsentrasiku menjadi pudar. Bahkan tanpa sengaja aku hampir menabrak mobil orang lain. Untung saja tidak tabrak sehingga hukumanku tidak akan bertambah. Aduh, sekarang aku mau ke mana pun pasti ditemukan polisi.
Tak lama kemudian, aku menemukan sebuah gang kecil yang hanya bermuat satu mobil saja. Dengan sigap aku melajukan mobilku melewati gang kecil itu sebelum polisi berhasil menangkapku. Saat aku melewati gang itu, aku menemukan sebuah rumah kecil kosong bisa dijadikan tempat persembunyianku sementara. Aku bergegas memasuki rumah itu tanpa membawa apa pun.
drrt..drrt..
Ponselku berbunyi tiba-tiba. Kebetulan sekali Tania yang meneleponku sehingga aku bisa meminta bantuannya.
"Penny, apa yang terjadi? Aku dengar kamu sedang dikejar polisi?" Suara Tania terdengar cemas lewat telepon.
"Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang pasti aku dijebak. Pelaku sesungguhnya sengaja menjebakku sebelum aku menangkapnya. Tadinya aku ditelepon nomor tidak dikenal dan katanya dia adalah Gerry, jadi aku langsung ke sana. Saat aku tiba di sana, Gerry sudah tewas di tempat," jawabku menjelaskan semuanya pada Tania sedikit panik sambil menggarukkan kepalaku.
"Tapi kenapa pelakunya bisa mengetahui nomor ponselmu?"
"Nah itu dia, kenapa pelakunya tahu nomor ponselku. Sepertinya ada semacam alat penyadap atau ada penyusup."
__ADS_1
"Ini mengerikan sekali."
"Intinya kamu sekarang dengarkan aku baik-baik. Setelah kamu menutup telepon ini, kamu harus segera hapus riwayat panggilan telepon ini. Lalu aku akan berikan alamat tempat persembunyianku jadi tolong beri tahu yang lain tentang keberadaanku. Kalau kamu mau mengunjungiku tolong bawakan makanan untukku."
"Ish kamu masih bisa memikirkan makanan saja di situasi ini. Baiklah, aku akan beri tahu Nathan dan Adrian mengenai keberadaanmu sekarang. Tenang aku tidak akan beri tahu ibumu dulu."
"Bolehkah aku meminjam powerbank milikmu? Aku lupa mengisi daya powerbank tadi."
"Iya nanti akan aku bawakan untukmu."
Dua jam kemudian, setelah aku menunggu lama akhirnya mereka semua datang juga menghampiriku menemaniku di sini. Terutama Tania sedikit kusut karena aku merepotkannya meminta banyak permintaan tadi.
"Ini aku bawakan makanan dan powerbank," kata Tania sambil menaruh makanan dan powerbank di sebuah meja.
"Sekarang kamu harus bagaimana? Seluruh akses jalan diawasi secara ketat para polisi," tanya Nathan sangat mencemaskanku.
Aku menghela napas lesu. "Sekarang hanya kalian yang bisa kuandalkan untuk mengungkapkan kebenaran."
"Aku punya firasat ada orang di kantormu yang bersekongkol dengan pelakunya lagi," kata Adrian mengernyitkan alisnya sambil bertopang dagu.
"Iya. Jadinya pelaku bersekongkol dengan orang dalam lagi agar bisa mendapatkan nomor ponselmu dan menjebakmu sekarang," lanjut Nathan berpikiran sama seperti Adrian.
Dahi Tania berkerut. "Tapi siapa pelakunya?"
"Aku mencurigai Pak John yang bersekongkol dengan pelakunya selama ini," jawabku dengan tatapan curiga.
Bola mata Tania terbelalak. "Kenapa pelakunya Pak John? Dia itu kepala detektif."
Semuanya bergeming, jika dipikirkan lama memang terdengar masuk akal juga.
Terutama Adrian menanggapi penjelasanku sambil memanggut-manggut. "Pelaku bisa menelepon polisi untuk menangkapmu. Pasti dia memiliki hubungan dekat dengan polisi."
"Lalu, bisa juga dia memanipulasi buktinya," sambung Tania berpikir keras sambil bermondar-mandir.
"Maka dari itu, sekarang aku meminta bantuan kepada kalian." Senyuman cerdas kembali terukir pada wajahku.
"Kami semua siap membantumu setiap saat, Penny," tawar Nathan berdiri tegak.
"Saat kalian semua bertemu dengan polisi dan kalian ditanya apakah kalian bertemu denganku, kalian harus berpura-pura tidak mengetahui keberadaanku sekarang. Lalu Adrian, tolong kamu minta rekaman CCTV di tempat parkir rutan an di koridor rutan saat kita mengunjungi ayahmu untuk mendukung alibiku," pintaku menatap Adrian.
"Baiklah, Penny. Aku akan meminta rekaman CCTV dan sekalian juga membutuhkan saksi yaitu salah satu sipir yang berjaga waktu itu untuk mendukung alibimu," patuh Adrian tersenyum hangat padaku.
"Nathan, tolong kamu awasi pergerakan Pak John secara diam-diam. Jangan sampai ketahuan olehnya!" perintahku kepada Nathan.
"Siap, Penny!" patuh Nathan hormat.
"Lalu yang terakhir untukmu Tania. Saat Pak John sedang tidak berada di kantor, kamu cari barang atau catatan yang mencurigakan di seluruh mejanya. Tapi jangan sampai ketahuan semua orang di kantor!" perintahku kepada Tania.
__ADS_1
"Tenang saja, Penny. Aku ahlinya dalam hal ini. Serahkan saja semua padaku," sahut Tania sambil menepuk pundakku.
"Sekarang kalian semua boleh meninggalkanku dan selamat bekerja. Aku mau makan dulu supaya kuat nanti," kataku bersemangat sambil membuka bungkusan makanan.
"Iya, Penny. Selamat makan, makan sampai kenyang tuh," ejek Tania lalu meninggalkanku cepat.
Semua orang meninggalkanku di sini kecuali Adrian yang masih menetap, memberikan sebuah paper bag untukku.
"Ini untukmu, Penny."
"Apa ini?" tanyaku bingung sambil membuka paper bag.
"Aku bawakan topi, masker, dan jaket untukmu. Saat kamu kembali ke kantor polisi nanti, kamu tidak mungkin menampakkan wajahmu secara terang-terangan di hadapan semua orang."
Senyumanku pasti tidak karuan lagi setiap kali mendapatkan perlakuan istimewa dari sahabatku. Adrian masih sangat memedulikanku meski di situasi genting begini. "Terima kasih ya, aku jadi tertolong berkatmu nih."
"Aku yakin kamu pasti bisa menghadapinya, Penny. Kamu tidak akan kalah begitu saja. Detektif wanita yang cerdas dan kuat sepertimu pasti akan selalu menang." Adrian menyentuh pundakku dengan kedua tangannya menatapku penuh percaya diri untuk menyemangatiku.
Pujiannya barusan langsung membangkitkan semangatku bertarung. Apalagi gaya bicaranya membuat jantungku berdebar kencang. Mendengar kalimat motivasi darinya sudah sangat menghiburku.
"Padahal aku hanya detektif biasa sama seperti lainnya. Kamu sendiri juga lebih cerdas daripada aku."
"Aku masih harus banyak belajar juga," balasnya merendah dan tersenyum malu.
"Terima kasih telah mendukungku terus, Adrian. Berkatmu aku menjadi semangat untuk besok."
Adrian tertawa kecil, tangannya menyentuh punggung tanganku. "Penny, apakah kamu tahu kenapa aku memercayaimu bahwa mustahil kamu pelakunya?"
"Apa itu? Jangan membuatku penasaran," sahutku tersenyum mengambang.
"Karena wanita berhati lembut sepertimu tidak mungkin melakukan hal kejam. Kamu mampu mengendalikan emosimu dengan baik walaupun pembunuhnya melakukan perbuatan jahat terhadapmu atau kerabatmu," ungkap Adrian dengan tatapan mendalam.
Sebenarnya aku ingin menegurnya karena semakin lama pujiannya terdengar berlebihan. Namun, aku sangat menyukainya karena Adrian satu-satunya orang yang memujiku berlebihan begini.
"Kalau itu sih memang sudah sepantasnya aku menjadi detektif profesional tidak terbawa suasana."
"Pokoknya aku selalu mendukungmu dan memercayaimu, Penny. Aku akan selalu mendoakanmu sepanjang hari ini supaya besok rencana kita berjalan dengan lancar. Lalu kamu bisa terbebas dari tuduhan, kita bisa makan bersama lagi."
"Adrian ...."
Adrian menepuk pundakku. "Aku pergi dulu, ya. Kamu harus mengisi energimu untuk besok supaya kuat,"
"Baiklah. Sampai jumpa besok, hati-hati di jalan, ya," balasku melambaikan tangan padanya.
Keesokan pagi, mereka semua kembali mengunjungiku lagi dengan semangat. Sedangkan penampilanku sudah terlihat sempurna mengenakan pakaian pemberian dari Adrian.
"Aku sudah mengambil rekaman CCTV dan mengajak sipir yang bertugas waktu itu menjadi saksi," ujar Adrian.
__ADS_1
"Kamu sudah siap, Penny?" tanya Tania antusias menatapku.
"Aku sangat siap sekarang!" jawabku sangat bersemangat.