
Pria misterius itu memasuki ruangan pribadinya dan membanting semua barang yang terletak di atas sebuah meja panjang. Ia mengambil selembar foto pengintaiannya yang isinya adalah semua detektif dan jaksa yang bertugas menyelidiki kasus ini. Dengan penuh rasa kesal, pria misterius mengucek foto tersebut dan membuangnya ke lantai.
"Semua orang yang berusaha menjatuhkanku tidak akan kubiarkan hidup dengan tenang! Aku pasti akan menghabisi mereka satu per satu akibat mengacaukan rencanaku!"
Kepalanya tiba-tiba terasa sakit dan pandangannya sedikit kabur. Pria misterius tersebut memegang kepalanya meringis kesakitan hingga tubuhnya terjatuh lemas di atas lantai.
Saat cahaya matahari mulai bersinar di pagi hari, aku sudah siap untuk melanjutkan penyelidikan kasusnya lagi. Aku mengambil karet rambutku mengikat rambutku kencang sambil memasuki ruang kerja timku. Mengenai insiden yang dialami Yohanes semalam, aku mengadakan rapat darurat lagi.
"Fina dan Hans, apa kalian sudah mengambil rekaman CCTV di apartemennya Yohanes?" tanyaku mulai fokus bekerja.
"Sudah nih. Untung saja kamera CCTV kali ini tidak dirusak olehnya lagi jadinya kita bisa melakukan pelacakan pelakunya lebih mudah," jawab Fina.
"Kalau begitu coba kamu putar rekaman CCTV nya sekarang," pintaku kepada Fina.
Fina langsung menurutiku mencolok USB ke dalam laptopnya dan membuka folder video rekamannya. Fina memutar rekaman CCTV memperlihatkannya kepadaku. Sekitar pukul 7 malam, tidak ada tanda-tanda kehadiran pelaku di basement apartemen. Aku terus mengamati rekaman CCTV hingga mataku terfokus pada layar laptopnya Fina selama 10 menit.
Ketika rekaman CCTV menunjukkan waktu menjelang Yohanes melaporkannya kepada Adrian, sosok pelaku mulai menampakkan dirinya di basement itu dan bersembunyi di balik tembok sampai Yohanes tiba di basement tersebut. Dilihat dari rekaman CCTV ini, wajah pelaku tidak terlihat dengan jelas karena wajahnya ditutupi oleh masker dan memakai topi. Benar menurut pernyataan kesaksian Nielsen dan juga ibu tua waktu itu yang mengamati pelakunya sedang membuang tas para korban ke tempat sampah depan rumahnya Nielsen. Ciri-ciri penampakan pelaku pembunuhannya adalah seorang pria bertubuh tinggi. Tapi anehnya itu, sepertinya aku tidak pernah melihat postur tubuh pria yang mirip dengan pelaku tersebut. Sejak bertahun-tahun bekerja di kantor polisi ini, tidak ada seorang pria pun yang memiliki postur tubuh seperti ini. Tapi kenapa pelakunya bisa mengetahui pergerakanku selama ini? Setiap kali aku berkunjung ke suatu tempat, pasti aku merasa pelaku ini mengintaiku secara diam-diam.
Tapi menurutku sepertinya kali ini pelakunya atau kaki tangannya bukan berasal dari kantor polisi ini. Tidak mungkin Inspektur Danny bekerja sama dengan pelakunya karena selama ini aku sudah mengenali karakternya yang tegas dan disiplin, tidak seperti Inspektur William yang dulu mudah terpengaruh dengan pemberian suap oleh Josh. Selain itu, walaupun aku merasa Inspektur Danny karakternya sedikit menyebalkan karena tidak boleh melakukan kegiatan bermesraan di kantor, tapi sebenarnya ia merupakan orang yang sangat baik bagiku dan sangat mendukungku untuk memecahkan kasus ini.
Cuma sejujurnya aku masih sangat bingung dan tidak mengerti maksud dari semua ini. Pelakunya kali ini menargetkan Yohanes sebagai sasaran pembunuhannya. Apa benar pelakunya sengaja menjadikan Yohanes sebagai pelampiasannya untuk memancing amarahku dan Adrian? Kalau seandainya pelakunya mengetahui alamat apartemennya Yohanes, informasi yang ia dapatkan dari siapa?
Aku tertegun dan terus menggarukkan kepalaku hingga rambutku sedikit berantakan hingga membuat semua anggota timku mengamatiku bingung.
"Kamu kenapa, Penny?" tanya Fina.
"Tidak apa-apa. Jangan menganggapku seperti orang tidak waras. Sebaiknya kita lanjutkan menyaksikan rekaman CCTV ini," jawabku tersenyum simpul.
Fina memutar video rekaman CCTV lagi lalu aku kembali melanjutkan menyaksikan videonya lagi dengan fokus. Ketika video tersebut menunjukkan detik-detik terakhir Yohanes diserang oleh pelakunya, sosok dirinya sedang memarkirkan mobilnya di basement terekam jelas di kameranya. Lalu saat ia keluar dari mobilnya, sosok pelaku melangkahkan kakinya cepat menghampiri Yohanes dan mengayunkan tongkat besinya mengarah padanya. Yohanes menoleh ke belakang dan dengan sigap menghindari hantaman tersebut langsung berlari memasuki mobilnya lagi menyelamatkan dirinya. Pria misterius tersebut berlari memasuki mobilnya lalu mengendarai mobilnya kebut mengejar Yohanes.
"Stop!" pekikku memerintahkan Fina untuk memberhentikan video rekamannya.
Dengan sigap Fina memberhentikan video rekaman CCTV.
"Coba kamu perbesar layarnya!" pintaku lagi.
Fina memperbesar layarnya dan aku langsung fokus mengamati plat nomor mobil pelakunya.
"Coba kalian lacak plat mobil pelakunya!" pintaku kepada semua anggota timku.
"Baik, Penny!" sahut semuanya serentak.
"Omong-omong, aku merasa seperti ada yang janggal sejak semalam," ujar Fina memiringkan kepalanya.
"Sesuatu yang janggal seperti apa?" tanya Hans.
"Pelakunya kok bisa tahu alamat tempat tinggalnya Yohanes? Lalu kenapa kemarin dia tidak membunuhnya langsung selagi ada kesempatan? Sedangkan para pelajar SMA itu dia langsung membunuhnya dengan kejam," kata Fina bertopang dagu.
"Nah itu yang aku bingung juga sejak semalam. Memang pemikiran kita sama Fina. Sejak semalam sampai sekarang, aku merasa pelakunya kali ini mengincar Yohanes untuk memperingatkanku dan Adrian. Semalam juga Adrian sudah mengira pelakunya pasti begitu."
"Sepertinya mulai sekarang kita harus tetap berwaspada. Pelakunya tidak akan berdiam diri saja," tegas Nathan.
"Aku yakin sekali pelakunya akan menargetkan tim kita suatu hari nanti supaya aku menyerah melakukan pencarian terhadapnya."
Sementara di sisi lain, Adrian juga sedang menyaksikan rekaman CCTV di ruang pengendalian kantornya. Ia melihat rekaman di saat Yohanes bersiap-siap memasuki mobilnya di basement. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan di kantor ini sebelum terjadi insiden tersebut. Tidak ada jejak kehadiran pelaku di sana.
'Ini aneh sekali. Kenapa pelakunya bisa tahu jam pulang kerja Yohanes? Apa mungkin di kantor ini ada kaki tangan pelaku?' gumamnya dalam batinnya.
__ADS_1
Adrian memerintahkan petugas keamanan kantor untuk memutar rekaman CCTV sepanjang hari kemarin. Dari pagi sampai malam, tidak ada orang yang mencurigakan memasuki kantornya secara diam-diam. Saat ini Adrian sedikit berasumsi bahwa ada kaki tangannya pelaku di kantornya saat ini. Dilihat dari pelaku mengetahui alamat tempat tinggalnya Yohanes dan juga jam pulang kerjanya, pasti ada orang dalam yang melaporkannya langsung.
Adrian bergegas mengunjungi Yohanes lagi di rumah sakit. Setibanya di sana, Adrian memasuki sebuah kamar yang dijaga ketat oleh dua petugas kepolisian di luar kamarnya. Adrian memperlihatkan name tag langsung dipersilakan masuk oleh petugas kepolisian tersebut.
Adrian merasa dirinya saat ini merupakan perusak suasana karena mengganggu momen kebersamaan Yohanes bersama istrinya. Adrian sengaja berdeham sambil menduduki sebuah kursi kosong terletak di sebelah tempat tidurnya Yohanes.
"Maaf kalau aku mengganggu suasana kebersamaan kalian berdua," ujarnya sopan.
"Tidak apa-apa. Kamu lebih baik mengunjungiku daripada aku tidak memiliki teman untuk diajak ngobrol," balas Yohanes tersenyum lebar.
"Oh, jadi kamu menganggapku ini apa! Kamu lebih memilih temanmu daripada istrimu!" bentak istrinya Yohanes memukuli lengan Yohanes.
"Hufft! Mungkin kalau Penny tidak mungkin merawatku kasat begini!" Yohanes mendengkus kesal melipat kedua tangannya.
"Sepertinya mulutmu itu harus aku sobek supaya tidak mengungkit istriku terus!" hardik Adrian menatap tajam.
"Sobek saja, Adrian! Biar dia kapok tidak membicarakan wanita lain di hadapan istrinya sendiri!" seloroh istrinya Yohanes menyetujuinya.
"Ampuni aku! Aku tidak akan berani mengincar Penny lagi." Yohanes memohon ampun menunjukkan wajah yang patut dikasihani pada Adrian.
"Iya deh aku mengampunimu."
"Omong-omong, tumben kamu mengunjungi tiba-tiba. Memangnya ada apa lagi?" tanya Yohanes mengalihkan pembicaraannya.
"Jadi begini, mulai sekarang sepertinya kita harus tetap selalu berwaspada. Apalagi semalam kamu mengalami insiden yang tidak terduga secara tiba-tiba. Aku takut kamu mungkin akan diincar oleh pelakunya lagi. Pelakunya pasti akan selalu memantaumu secara diam-diam tanpa sepengetahuanmu," pesan Adrian memperingatinya serius.
"Tapi aku merasa selama ini semuanya baik-baik saja padaku. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan di sekelilingku."
"Memang kelihatannya seperti tidak terjadi apa pun di sekeliling kita. Namun kita jangan terlalu menganggap remeh. Apalagi kalau seandainya ada suatu informasi yang penting mengenai kasus ini, sebaiknya kamu laporkan padaku secara diam-diam."
"Memangnya kenapa? Jangan bilang kau ...." Ucapan Yohanes terputus dan memelototi Adrian.
"Tapi sebenarnya siapa yang selama ini bekerja sama dengan pelakunya? Sepertinya semua orang yang bekerja di kantor kita terlihat baik-baik saja deh."
"Kalau begitu apakah Yohanes akan terus menghadapi bahaya?" tanya istrinya Yohanes mulai gelisah.
"Tidak hanya Yohanes yang bisa dijadikan sasaran pembunuhnya. Tapi aku, istriku, dan semua anggota timnya bisa dijadikan targetnya suatu hari nanti."
Yohanes yang tadinya duduk tegap kini kembali lesuh menyandarkan kepalanya di atas bantal.
"Ini tidak mungkin. Aku tidak mau mengalami kejadian mematikan itu lagi!" celetuk Yohanes mulai panik.
"Maka dari itu, kalian berdua kalau seandainya merasa seperti ada seseorang yang mengikuti kalian dari belakang, sebaiknya langsung laporkan kepadaku!"
"Iya tenang saja. Aku pasti akan melaporkannya padamu demi nyawaku selamat."
"Aku jadi takut mati nih. Padahal aku belum sempat mengandung anakku." Istrinya Yohanes bernapas lesuh menggenggam tangannya Yohanes.
"Kamu tidak usah takut. Aku yakin Adrian dan yang lainnya pasti akan menangkap pelakunya secepatnya." Yohanes merangkul bahu istrinya mengelusnya lembut.
Kembali lagi pada aku dan semua anggota timku sedang melakukan pelacakan terhadap plat mobil pembunuh tersebut. Sudah sekitar setengah jam, tidak ada data plat nomor mobil tersebut tercatat selama ini.
"Apa mungkin salah satu dari kalian menemukan plat nomor mobilnya?" tanyaku kepada seluruh anggota timku.
"Aku sudah terus mencarinya sampai mataku perih tapi tidak ada satu pun data mengenai plat nomor ini," jawab Nathan sambil mengucek kedua matanya.
"Iya sama aku juga. Bahkan rasanya sekarang aku ingin tidur saja." Hans beranjak dari kursinya menghampiri Fina lalu menyandarkan tubuhnya lemas pada punggungnya Fina.
__ADS_1
"Sudahlah kalau kamu mau modus lebih baik ngomong langsung saja daripada diam-diam melakukannya!" celetuk Nathan iri.
"Hei, Nathan! Kalau kamu iri mendingan langsung ngomong saja!"
"Sudahlah kalian tidak usah berdebat lagi! Kepalaku sudah sakit, mataku sudah perih dan ditambah kalian berdebat membuat kepalaku semakin terasa sakit!" keluh Fina memukuli mejanya kasar.
Tumben sekali Fina yang marah, biasanya aku. Untung ada seseorang yang mewakili perasaanku sekarang.
"Sabar ya, Fina. Inilah nasib memiliki suami yang norak dan suka beradu mulut duluan," sindirku tertawa terkekeh.
"Kamu tidak usah sombong, Penny! Aku tahu kamu memiliki suami yang sempurna dan sikapnya selalu sabar," ketus Fina menatap menyeringai.
"Padahal Nathan juga orangnya sabar. Karena suamimu saja yang selalu mengajak ribut duluan jadinya sikap sabarnya sudah memudar," ucap Tania merangkul tangannya Nathan.
"Kalau dia orangnya sabar pasti tidak akan melawan Hans! Berarti dia bukan sepenuhnya orang yang penyabar!" celetuk Fina menghampiri Tania.
"Haha kalau aku sih hanya bisa melihat perdebatan kalian saja dari sini. Aku tidak akan ikut campur urusan kalian berempat lagi," ucapku santai memainkan kursiku berputar-putar.
"Ish seharusnya waktu itu aku merebut Adrian darimu, ya!" sungut Fina sedikit bergurau.
"Fina! Kalau kamu ungkit masalah itu lagi, aku akan merobek mulutmu sekarang juga!" ancamku memperagakkan merobek mulutnya.
"Omong-omong, sekarang jadinya kita harus gimana? Plat nomor mobil pelaku tidak ditemukan sama sekali," tanya Nathan kembali fokus bekerja.
"Karena data plat nomor mobilnya tidak ditemukan di mana pun, berarti plat nomor tersebut merupakan plat nomor palsu. Pelakunya pasti sengaja menukar plat nomornya dulu sebelum melakukan aksinya supaya tidak tertangkap pada kamera CCTV," jawabku berkacak pinggang.
"Aish kalau begini kita mana bisa menangkap pelakunya!" ketus Hans membanting tumpukan berkas kasusnya di atas meja.
"Kalau itu sih kita harus bersabar saja," ucap Nathan santai.
"Mau santai gimana? Pelakunya sudah membunuh banyak orang dan semalam menargetkan Yohanes sebagai sasaran pembunuhannya! Hidupku mungkin tidak akan tenang sampai kasus ini selesai!" celoteh Hans mengacak-acak rambutnya seperti orang tidak waras.
"Sekarang bukan waktunya memikirkan itu! Kita harus fokus menyelidiki kejadian di panti asuhan lebih mendalam lagi. Apalagi aku merasa kematian Zack masih ada kejanggalan," tegasku.
"Ya ampun, Penny! Lagi-lagi kamu mengungkit orang yang sudah meninggal. Kalau kamu terus mengungkitnya nanti kamu dihantui sepanjang hari," celetuk Hans bermalasan.
"Sebenarnya saat aku membaca laporan kecelakaannya apalagi mengenai wajahnya Zack dan walinya yang sudah hancur saat ditemukan polisi. Aku sangat yakin dari situ pasti ada kejanggalan." Aku mulai berpikir keras hingga dahiku berkerut.
"Jadinya maksudmu itu bisa juga mayat yang ditemukan oleh polisi waktu itu bukan mayatnya Zack?" tanya Tania semakin penasaran.
"Iya benar sekali. Karena biasanya setiap kali ada insiden kecelakaan, itulah saat yang tepat untuk menukar tubuh korban."
"Tapi siapa yang menukar tubuhnya Zack waktu itu? Tidak mungkin orang tua kandungnya atau Bu Marcelia," tanya Nathan mengernyitkan alisnya.
"Yang pasti kita masih belum tahu sampai saat ini siapa sebenarnya yang sukarela membantu Zack bertukar posisi dengan orang lain," jawabku.
"Jadi bisa disimpulkan selama ini Zack masih berkeliaran hidup sehat di dunia ini dan membunuh para pelajar SMA?" tanya Hans mempertegasnya.
"Bisa dikatakan begitu. Cuma kita tidak akan pernah tahu. Identitas apa yang dia pakai untuk penyamarannya yang sempurna," jawabku tersenyum cerdas.
Siang harinya, aku merapikan rambutku dan juga memakai bedakku lagi menutupi wajahku yang berminyak di kamar kecil. Rencananya hari ini aku ingin mengajak semua anggota timku makan siang bersama di restoran dekat kantor ini. Sudah lama sekali kita tidak pernah berkumpul makan siang bersama. Apalagi kasus ini membuat waktu luang kami terasa singkat untuk menghabiskan waktu bersama.
Usai membuat wajahku kembali terlihat segar lagi, aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar kecilnya lalu bertemu pengacara Leonard yang sedang berdiri di depan ruang kerja timku.
"Pengacara Leonard, sedang apa kamu di sini?" sapaku.
"Aku ingin mengajakmu makan siang bersama," jawabnya tersenyum ramah.
__ADS_1
"Tapi kenapa tiba-tiba kamu melakukan ini?"
"Karena aku ingin meminta maaf padamu."