
Aku dan Fina menunggu Bu Margareth keluar dari ruangan itu sudah sekitar 15 menit. Firasatku mengatakan bahwa Bu Margareth kemungkinan selingkuh dari suaminya. Ia tidak mungkin mengunjungi Dokter Reyhan karena sedang tidak enak badan. Dilihat dari tingkahnya saat memasuki ruangan itu, seperti sudah mengenal sejak lama dan sudah dekat hubungannya.
"Fina, aku boleh minta tolong tidak?" tanyaku dengan baik.
"Sudah pasti aku akan membantumu dong," balasnya antusias memukuli lenganku pelan.
"Kamu pandai bersandiwara?"
"Bisa. Aku ini kan ratunya drama," ujarnya berlagak sombong mengangkat kepalanya.
"Kalau begitu nanti ...."
Aku berbisik padanya menyusun skenarionya terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan itu. Semoga saja rencana ini berjalan dengan lancar.
"Maafkan aku, Fina. Kalau aku jadikan kamu sebagai umpannya," sesalku menunduk bersalah.
"Iya, aku mengerti. Serahkan saja semua padaku," tuturnya menepuk pundakku dengan tatapan percaya diri.
Tak lama kemudian, Bu Margareth keluar dari ruangan itu tersenyum sendiri dan berjalan dengan anggun seperti model. Sesuai dengan rencana yang tadi kami susun, kami berdua memasuki ruangan Dokter Reyhan bersama. Aku mengetuk pintunya terlebih dahulu lalu memasuki ruangannya bersama Fina.
"Kalian siapa?" tanya Dokter Reyhan dengan tatapan polos.
"Oh jadi Anda Dokter Reyhan yang sangat populer di internet," jawab Fina mulai bersandiwara.
"Tidak. Saya biasa saja," balas Dokter Reyhan tersenyum tipis.
"Ayolah jangan malu-malu gitu dong! Saya penggemar berat Anda," rayu Fina centil.
"Saya tidak menyangka punya penggemar berat. Omong-omong Anda ke sini untuk apa?"
"Jadi begini ... belakangan ini pencernaan saya kurang lancar itu karena apa, ya? Apakah saya keracunan makanan?" Fina melontarkan pertantaannya sambil menggarukkan kepala.
"Bukan keracunan makanan tapi hal lain."
"Seperti apa?" tanyanya lagi sambil mengedipkan matanya terus.
Sedangkan aku sibuk menatap layar ponselnya Dokter Reyhan yang tergeletak di atas meja kerjanya. Untung saja ia biarkan ponselnya terbuka jadinya aku bisa memindahkan datanya ke USBku. Aku mengisyaratkan Fina untuk memulai aksinya dengan mencolek punggungnya pelan.
Kemudian Fina dengan sengaja menumpahkan kopi yang ada di tangannya mengenai kemeja Dokter Reyhan.
"Maaf ... bagaimana nih. Saya tidak sengaja menumpahkan kopinya mengenai kemeja Anda," ujar Fina mengeluarkan selembar tisu dari saku jaketnya dan mengusap tumpahan kopi itu dengan pelan.
"Saya tidak apa-apa. Lagi pula ini tidak seberapa," balas Dokter Reyhan dengan ramah.
"Tidak bisa begitu dong. Saya sebagai pasien harus bertanggung jawab terhadap dokternya. Sini biar saya bersihkan kemeja Anda." Fina terus membersihkan kemeja itu dan menatap Dokter Reyhan dengan tatapan genit.
Sedangkan aku sibuk membuat salinan data yang ada di ponselnya Dokter Reyhan ke USBku. Data salinan itu berupa foto-foto bukti perselingkuhannya Bu Margareth. Untung saja Fina sangat pandai bersandiwara jadinya ia bisa mengulur waktu lebih lama. Proses pembuatan salinan data sudah melebihi 50 persen. Sebentar lagi pasti akan selesai.
"Omong-omong, Anda lumayan cantik juga, ya," ucap Dokter Reyhan genit.
"Masa sih? Padahal saya hanya wanita biasa saja," balas Fina tersipu malu sambil menyelipkan helaian rambut ke belakang telinganya.
"Karena Anda cantik begini, akan saya maafkan perbuatan Anda barusan." Dokter Reyhan mengedipkan salah satu matanya membuat Fina semakin berdebar-debar.
"Benarkah? Padahal saya membuat kemeja Anda kotor begitu," lanjut Fina memanyunkan bibirnya.
"Tidak masalah. Saya bisa pulang dulu mengganti pakaian saya."
Sekarang proses pembuatan salinan datanya mencapai 99 persen dan akhirnya tuntas juga setelah sekian lamamya hingga aku bisa bernapas lega. Sebelum semakin parah keadaannya, aku mencolek punggungnya Fina lagi untuk menghentikan aksi anehnya.
"Baiklah kalau begitu Anda lebih baik pulang dulu saja. Nanti keburu Anda harus melayani pasien lagi," saran Fina
"Tapi saya belum memeriksa kondisi tubuh Anda."
"Tidak apa-apa. Kita bisa melakukannya di lain waktu. Lagi pula saya baru teringat ada urusan penting tiba-tiba jadi saya harus pergi sekarang."
Fina menarik tanganku bergegas meninggalkan ruangan itu berlari menuju lobby rumah sakit. Setibanya di sana, Fina langsung menghampiri sofa kosong untuk menarik napas panjang terlebih dahulu untuk menenangkan dirinya yang sedikit gugup sebenarnya. Sedangkan aku menertawainya mengingat tingkahnya tadi bersama Dokter Reyhan.
"Kenapa kamu menertawaiku? Apa ada yang lucu?"
"Seandainya Hans tahu kamu tadi bertingkah genit gitu di depan pria lain, aku penasaran bagaimana reaksinya," tawaku terkekeh sambil menggelengkan kepalaku.
"Kamu jangan pernah memberitahu Hans mengenai tingkahku tadi. Sampai kamu sungguh melaporkan padanya, aku tidak akan mengampunimu begitu saja!" tuturnya menatapku seperti ingin menerkamku saja.
"Iya tenang saja. Aku tidak akan melaporkan kepadanya."
Kring...kring...
Ponselnya Fina berbunyi. Panjang umur Hans, tidak sampai lima menit kami membicarakannya.
__ADS_1
"Halo, Hans."
"Fina, sepertinya aku menemukan sesuatu yang penting di rekaman CCTV apartemennya Fiona."
"Benarkah? Kalau begitu aku dan Penny akan ke kantor sekarang juga." Fina mengakhiri pembicaraannya lalu menutup panggilan teleponnya.
"Ada apa, Fina?" tanyaku penasaran.
"Hans menemukan sesuatu di rekaman CCTV apartemennya Fiona. Kita harus kembali ke kantor sekarang."
Aku dan Fina bergegas menuju tempat parkir kembali ke kantor lagi. Setibanya di kantor, aku dan Fina langsung menghampiri Hans yang sedang memantau rekaman CCTV di layar monitornya.
"Kamu menemukan apa?" tanya Fina ikut menyaksikan rekaman CCTV sambil menempel pada Hans.
"Tadi aku mampir lagi ke apartemen itu untuk meminta rekaman CCTVnya lagi. Kebetulan kamera CCTV yang ada di lift tidak rusak jadinya kita bisa memantaunya. Lalu setelah aku pantau terus rekamannya, ada seorang gadis yang sedang menaikki lift menuju lantai 10 sekitar pukul 11 kurang. Sedangkan Fiona ditemukan tidak sadarkan diri di tangga darurat lantai 10. Kemungkinan gadis itu adalah saksi dari kejadian ini yang sebenarnya."
"Bagus, kalau begitu kita ke sana sekarang mencari gadis itu."
"Naik mobilku saja! Biar aku yang menyetir!" ajak Hans mengambil kunci mobilnya.
Kami bergegas menaikki mobilnya Hans menuju apartemennya Fiona. Setibanya di sana, kami menunggu kehadiran gadis itu tepat di lobby apartemen itu. Kami menanyakan kepada masing-masing penghuni apartemen itu. Tapi tidak semua penghuni di sana mengenali gadis itu. Sekitar 10 menit kami menunggu di lobby apartemen, cara ini tidak berhasil sama sekali. Kami beristirahat sebentar duduk di bangku tamannya sambil memijit kakiku yang pegal-pegal. Hari sudah semakin sore tapi masih belum ada tanda kehadiran gadis itu.
drrt...drrt...
Ponselku bergetar lagi. Aku langsung mengambil ponselku dan mengangkat panggilan teleponnya dari vitamin penyemangatku.
"Kamu sedang apa?"
"Aku sedang bekerja. Saat ini aku sedang ingin menemui saksi."
"Jangan pulang terlalu malam, ya, aku ingin melihat wajahmu sebelum aku tidur."
"Hmm kalau itu sih aku tidak bisa janji."
"Kenapa begitu? Jangan bilang hari ini kamu bakal kerja lembur."
"Mudah-mudahan sih hari ini aku bisa pulang lebih awal. Tubuhku pegal-pegal sekarang. Aku ingin tubuhku dipijit olehmu."
"Baiklah aku akan menunggumu pulang supaya bisa memijit tubuhmu. Aku tidak akan mengganggumu kerja deh. Lagi pula sebentar lagi aku akan menjemput Victoria pulang. Selalu semangat, Sayang, aku akan selalu mendukungmu dari belakang."
"Aku jadi semakin semangat bekerja, terima kasih vitamin penyemangatku. Aku menyayangimu."
"Aku tutup teleponnya, ya. Aku pasti akan menunggumu pulang." Adrian mengakhiri pembicaraannya lalu menutup teleponnya.
Sementara itu di saat aku sedang termenung, ada seorang gadis yang sedang memasuki lobby apartemen. Aku langsung menghampiri gadis itu untuk memastikan bahwa ia adalah sosok gadis yang ada di rekaman CCTV.
"Permisi, boleh minta waktunya sebentar?" tanyaku dengan baik.
"Kamu siapa?" tanya gadis itu balik dengan gugup.
"Aku Detektif Penny yang menyelidiki kasus seorang gadis terjatuh di tangga darurat."
"Oh, jadi kamu detektif yang menangani kasus temanku. Namaku Vilia, senang berkenalan denganmu," balasnya sambil berjabat tangan denganku.
"Apa mungkin kamu melihat temanmu itu terjatuh di tangga darurat?" selidikku mulai fokus pada penyelidikan.
"Sebenarnya waktu itu, aku pulang dari warnet dan ingin memasuki kediamanku. Saat aku memasukkan kode akses kediamanku, pacarku meneleponku tiba-tiba. Tapi karena orang tuaku melarang untuk berpacaran jadinya aku memutuskan untuk menelepon di atap supaya tidak ketahuan. Saat aku sedang menaikki tangga darurat, tiba-tiba aku mendengar suara Fiona sedang menangis. Aku bermaksud untuk menghampirinya tapi ia jatuh dari tangga."
"Dia jatuh begitu saja? Apa mungkin saat dia menangis mengatakan sesuatu?"
"Aku tidak begitu yakin. Yang pasti aku mendengar dia mengatakan bahwa ibunya selingkuh," balas Vilia memikirkannya hingga dahinya berkerut.
"Tapi kalau kamu berada di TKP waktu itu, kenapa kamu tidak segera melaporkan kepada polisi?"
"Aku ketakutan. Aku takut Fiona meninggal tepat di depan mataku. Maka dari itu, aku bermaksud memanggil petugas keamanan untuk menolongnya. Ketika aku kembali ke sana, ternyata sudah ada ibu tua yang sedang menghubungi ambulans."
"Tapi seharusnya kamu segera menghubungi kami. Situasi semakin rumit kalau kamu membungkam mulutmu terus."
"Maafkan aku."
"Ya sudah deh. Tidak apa-apa yang terpenting sekarang kami memiliki bukti yang kuat dari pernyataan kesaksianmu. Terima kasih atas kerja samanya."
"Sama-sama. Aku permisi dulu, ya. Orang tuaku sudah menungguku dari tadi," pamit Vilia menunduk hormat lalu meninggalkanku.
Setelah itu, kami kembali lagi ke kantor. Karena hari sudah mulai malam jadinya semua anggota timku memutuskan untuk pulang beristirahat. Sedangkan aku tidak bisa berdiam diri saja. Aku melajukan mobilku menuju rumah sakit untuk bertemu langsung dengan Bu Margareth. Hal seperti ini tidak bisa kubiarkan. Karena perselingkuhannya, Fiona jadi mengalami musibah ini.
Setibanya di sana, aku melangkahkan kakiku dengan cepat menuju kamarnya Fiona dan membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku langsung menghampiri Bu Margareth yang sedang merawat anaknya dan menatapnya dengan tajam.
"Ada apa, Detektif Penny? Kenapa Anda berkunjung malam-malam begini?" tanya Bu Margareth dengan nada polosnya.
__ADS_1
"Beraninya Anda berselingkuh dari suami Anda! Akibat perselingkuhan Anda, Fiona berakhir seperti ini!" ketusku sangat geram rasanya ingin mencakarnya.
"Apa maksud Anda? Saya tidak mengerti sama sekali ucapanmu barusan," balasnya berpura-pura bodoh.
"Tidak usah berlagak polos. Saya punya bukti bahwa Anda selingkuh. Fiona terlalu stress sampai kakinya tersandung di tangga darurat! Saya tidak akan pernah memaafkan Anda begitu saja!" celetukku balik semakin kesal.
"Anda benar-benar tidak punya akhlak, Detektif Penny! Beraninya Anda mengatakan itu di depan anak saya!"
PLAKK
Tamparan yang sangat kuat dari Bu Margareth mengenai pipiku hingga memerah. Aku berusaha untuk menahan rasa sakitnya dan berlagak kuat di hadapannya.
"SUDAH CUKUP, IBU!" pekik Fiona menjerit.
"Sebaiknya kamu diam saja, jangan ikut campur urusan orang dewasa!" bentak Bu Margareth.
"Tidak apa-apa. Anda menampar saya berulang kali juga saya tidak akan takut."
"Beraninya Anda berbicara tidak ada sopan santun!"
"Justru Anda yang tidak ada akhlaknya." Tanpa berpamitan, aku menatapnya dengan tajam lalu meninggalkannya begitu saja.
Di luar kamar, aku berpapasan dengan Pak Celio. Aku hanya tersenyum ramah lalu tanpa sepatah kata meninggalkannya.
Di tengah perjalanan pulang, rasanya aku ingin menangis untuk melampiaskan amarahku saat ini. Seumur hidupku baru kali ini aku bertemu dengan orang tua yang tidak punya akhlak. Kalau aku jadi Bu Margareth, aku tidak akan bermuka tebal. Aku mengendarai mobilku sambil memukuli setirannya melampiaskan amarahku saat ini.
Setibanya di apartemen, sambil memasukkan kode akses aku menutupi wajahku dengan rambutku dan juga menyeka air mataku yang membekas pada pipi supaya suamiku tidak mencemaskanku. Lalu aku memasuki kediamanku dengan berlagak percaya diri. Adrian ternyata telah menungguku dari tadi tepat di belakang pintu.
"Akhirnya kamu pulang juga, Sayang. Aku menunggumu dari tadi," sambutnya dengan senyuman ceria.
"Kamu pasti sudah menungguku lama sekali disini. Maaf, ya, Sayang," balasku tersenyum hangat sambil mengelus pipinya.
"Tidak apa-apa. Ayo kita makan malam bersama!" ajaknya menggandeng tanganku menuju meja makan.
Adrian menarik kursinya untukku lalu menatapku dengan curiga. Tatapannya terfokus pada pipiku.
"Sayang, pipimu kenapa merah begitu?" tanyanya sangat cemas.
"Oh, ini mungkin karena aku kelamaan bersamamu jadinya pipiku memerah begini," jawabku terpaksa membohonginya.
Adrian tidak memercayai ucapanku barusan lalu dengan sigap menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahku.
"Dasar bohong! Kamu ditampar oleh seseorang, ya! Rasanya aku ingin menampar balik orang itu! Teganya dia memperlakukan istri kesayanganku dengan melakukan hal kejam begini! Tidak akan kuampuni begitu saja!" ketusnya panjang lebar sambil mengepalkan tangannya kuat.
"Sudahlah, Sayang. Ini tidak terlalu sakit. Kamu berlebihan sekali. Sebaiknya kita lanjutkan makan malamnya saja."
"Aku marah begini karena aku sangat sayang padamu. Aku tidak tega melihatmu menderita terus."
"Adrian ...."
Butiran air mataku mulai mengalir dari kelopak mataku. Aku bermaksud untuk menahannya tapi aku tidak sanggup lagi. Ia menatapku sendu sambil menggenggam tanganku mengelus pelan.
"Penny, kalau mau menangis, menangis saja sepuasnya. Tidak ada yang melihatmu."
"Tapi kamu melihatku menangis, aku jadi malu."
Adrian menyentuh pipiku dengan kedua tangannya sambil mengusap air mataku yang terus mengalir.
"Untuk apa kamu malu di hadapanku. Daripada kamu pendam di hati, lebih baik kamu keluarkan saja semuanya."
"Sebenarnya pipiku sakit sekali, Adrian."
Adrian langsung mencium pipiku yang habis kena tamparan dengan mendalam tanpa melepaskannya sedetik pun. Aku bisa merasakan ia sedang bermaksud untuk menyembuhkan lukaku ini dengan kasih sayangnya terhadapku. Ia mencium pipiku dalam durasi yang cukup lama lalu melepaskannya dan melingkarkan kedua tangannya pada leherku dari belakang dengan manja. Hatiku terasa tenang sekarang dan aku langsung berhenti menangis berkat dirinya.
"Apakah pipimu masih sakit?" tanyanya sambil mengusap kepalaku terus.
"Masih sakit sedikit sih."
"Mau aku cium pipimu lagi supaya cepat membaik?"
"Mmm kalau kamu tidak keberatan boleh juga," balasku dengan senyuman manis.
Adrian mencium pipiku lagi dan semakin memelukku mesra. Secara perlahan luka yang kualami tadi terhapus dan digantikan dengan obat yang langka membawakan kebahagiaan untukku. Aku ingin menikmati ini lebih lama lagi. Tak lama kemudian, ia melepaskannya menatapku tersenyum nakal.
"Mau lebih lama lagi?" tanyanya lagi.
"Sudahlah, aku lapar nih mau makan. Nanti aku kompress pipiku pakai es batu saja," ucapku membohonginya. Padahal sebenarnya aku ingin Adrian mencium pipiku lebih lama lagi.
"Baiklah kalau begitu kita lanjutkan makan malamnya dulu baru nanti kamu bisa beristirahat yang cukup." Adrian mengecup pipiku lagi sekilas sambil tertawa usil.
__ADS_1
"Kamu tahu saja aku ingin dicium lagi."
"Karena aku ingin melakukannya."