
Keesokan paginya, aku membuka kedua mataku perlahan sambil memandangi sebelahku tidak ada suamiku sedang tertidur. Dengan sigap aku melangkah keluar dari kamar menuju dapur. Sosok suamiku sedang sibuk membuatkan sarapan untuk kami berdua. Aku melangkahkan kakiku perlahan tanoa menimbulkan suara langkah kaki mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, kamu masak apa?" sapaku manis.
"Aku masak sup asparagus ini spesial untukmu."
"Biar aku cicipi, suapi aku," rayuku manja.
Adrian mengambil sesendok sup lalu meniupkannya untukku dan menyuapiku menampakkan senyuman manis.
"Mmm rasanya sangat pas. Enaknya makan sup asparagus di pagi hari."
"Tapi apakah kakimu baik-baik saja? Kenapa kamu turun dari ranjang?" tanyanya berjongkok menatap kakiku yang masih diperban.
"Kakiku sudah tidak sakit lagi. Kamu tidak usah mencemaskanku lagi," balasku santai.
"Kamu duduk dulu saja. Nanti akan aku bawa supnya ke meja makan," usulnya sambil melanjutkan memasak lagi.
Aku menyunggingkan senyuman nakal sambil mempererat pelukannya membuat senyumannya semakin mengambang.
"Aku masih tidak mau melepas pelukanmu."
Adrian membalikkan tubuhnya lalu mengecup keningku selama beberapa detik.
"Bagaimana sekarang? Kau ingin menurutiku setelah aku memberikan vitamin."
"Baiklah, aku akan menurutimu."
Aku menurutinya lalu duduk di kursi makan menunggunya selesai memasak supnya. Tidak lebih dari 10 menit, ia sudah menghidangkan supnya untukku di atas meja makan.
"Sup asparagus spesial untuk istri tercintaku sudah siap disantap."
"Selamat makan!" seruku menyantapnya dengan melahap.
Sambil menyantap makanannya, tangan lembutnya mengelus kepalaku mengukir senyuman bahagianya.
"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu sarapan di sini."
"Tapi mulai besok, aku tidak hanya menikmati sarapan buatanmu, tapi aku juga memasak sarapannya juga."
Raut wajahnya terus tersenyum bahagia, apalagi netra gagahnya terfokus memandangiku. Menambah debaran jantungku sangat kencang di pagi hari.
"Sayang, besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucapnya.
"Kita mau ke mana?"
"Ada deh. Kamu pasti sangat menyukainya."
"Kamu selalu membuatku penasaran saja."
"Tapi sebelum itu aku ingin membelikan baju untukmu. Sebenarnya kemarin itu aku ingin membelikannya untukmu tapi kakimu terluka."
"Tidak usah repot membelikan baju untukku lagi. Bajuku masih banyak di lemari."
"Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku ingin membelikan baju baru untukmu," balasnya dengan keras kepala.
"Iya deh. Tapi kita kapan perginya?"
"Nanti siang."
Sesuai dengan keinginannya, kami pergi lagi ke pusat perbelanjaan untuk belanja baju. Kali ini ia menuntunku menuju pusat perbelanjaan yang berbeda dari kemarin walaupun sama-sama elit. Setibanya di sana, Adrian menggandeng tanganku memasuki Department store di mana menjual baju-baju mewah.
"Sayang, kamu tidak salah membawaku ke sini?" tanyaku dengan ragu sambil mengamati sekeliling.
"Memangnya kenapa? Kamu tidak suka, ya."
"Bukan itu. Di sini bukankah harga bajunya mahal semua? Kita beli di tempat lain saja." Aku merangkul tangannya hendak keluar dari sini.
Namun ia mencegahku sambil menuntunku mengelilingi Department Store.
"Tidak masalah, Sayang. Yang terpenting aku mau lihat penampilan terbaikmu."
"Tapi sayang--"
Adrian menarik tanganku dengan semangat membawaku ke bagian pakaian wanita lalu mengambilkan beberapa dress selutut terlihat elegan untukku.
"Coba pakai deh!"
"Iya deh, aku coba semua."
Aku langsung menurutinya dan mencoba semua dress yang dipilihnya. Tidak seperti saat aku mencoba gaun pengantinku ia terus menyuruhku ganti yang lainnya. Kali ini berbanding terbalik, ia terus mengatakan dress yang semua kucoba itu sangat cocok untukku. Aku mencoba dress terakhir yang dipilihnya dan keluar dari fitting room.
"Yang ini sangat pas dan cocok untukmu," pujinya terkagum mengacungkan jempolnya.
"Kamu gimana sih, Sayang! Jadinya dress yang buat kupakai besok itu yang mana?"
"Yang ketiga tadi."
"Sayang! Kalau begitu untuk apa aku mencoba lima dress dan semuanya kamu bilang bagus!" celotehku mencebik kesal.
"Karena aku ingin membelikannya untukmu semua," lontarnya santai menyunggingkan senyuman nakal.
"Tapi--"
"Oh iya, aku sekalian ingin membelikan baju kerja untukmu."
Adrian mengambil beberapa blazer dan juga kemeja untukku. Selain itu, ia juga mengambil beberapa celana berbahan pantofel untukku.
"Aku yakin kamu pasti sangat keren jika memakai ini."
"Sayang, ini kebanyakan untukku. Kamu membelikan dress dan juga baju kerja untukku."
"Tidak apa-apa. Sekarang kamu adalah istriku jadinya penampilanmu harus diubah sedikit."
Ucapannya barusan sedikit menyinggungku. Raut wajahku berubah drastis menjadi cemberut.
"Oh, jadinya selama ini kamu menganggap penampilanku berantakan!"
"Bukan begitu, Sayang."
"Lalu selama ini pujian manis dari mulutmu itu--"
Aku belum selesai menyelesaikan perkataanku langsung dipotongnya dengan mendaratkan ciuman manisnya pada pipiku hingga membuat pipiku merah merona menunduk malu.
"Sayang, kita sedang berada di tempat umum. Kamu jangan melakukan ini, nanti dilihat banyak pengunjung di sini," ocehku memanyunkan bibirku.
"Habisnya dari tadi kamu menuduhku terus, maka dari itu aku menciummu saja supaya kamu tidak menuduhku lagi."
Kini aku tidak bisa menahan rasa kebahagiaanku terus terpendam dalam hatiku setelah mendapatkan perlakuan manis darinya barusan. Tanpa kusadari senyumanku terus mengambang, tanganku menyentuh pipiku bekas diciumnya.
"Sudah kuduga Sayang, kamu pasti sangat bahagia diciumku barusan sampai kamu tersenyum begini. Kamu tidak usah jual mahal di depanku deh," lontarnya memajukan kepalanya di hadapanku sedikit menertawaiku.
"Memang sebenarnya aku sangat menyukai kamu memperlakukanku seperti tadi sih."
"Karena kita sekarang adalah sepasang suami istri, jadinya tidak perlu disembunyikan lagi."
Aku mendaratkan ciuman manisku pada pipinya sekilas. Senyuman bahagianya semakin lebar sambil tangannya menyentuh pipinya.
"Kamu gemas sekali, Sayang," gombalnya tersenyum mengambang membelai rambutku lembut.
"Karena kamu sudah memperlakukan manis padaku, bagaimana kalau kita mampir ke bagian pakaian pria?"
"Untuk apa?"
"Pokoknya aku juga harus membelikan pakaian untukmu."
__ADS_1
Aku menarik tangannya menuju tempat pakaian prua mengambil beberapa rompi kerja pria, kemeja dan juga dasi untuknya.
"Coba deh kamu pakai ini!" pintaku sambil menyerahkan rompi, kemeja dan dasinya.
"Tapi ini kebanyakan. Aku punya banyak rompi kerja dan kemeja di lemariku."
"Sudah coba saja semua. Habis itu kasih lihat aku."
"Baiklah, tunggu sebentar, Sayang."
Adrian memasuki fitting room dan mencoba semua rompi, kemeja, dan juga dasinya. Baru percobaan pertama ia keluar dari ruangan itu sambil mengedipkan mata kirinya membuatku menatapnya berdecak kagum.
"Sayang, kau kenapa?"
"Tampannya ...." Sorot mataku terpaku padanya hingga senyumanku mengambang.
"Padahal aku baru coba sekali. Mau kucoba lagi?"
"Jangan deh! Adanya aku jadi terlalu fokus melihat pesonamu itu."
"Kalau begitu aku lanjutkan," lanjutnya dengan senyuman usil.
"Sayang!"
"Iya deh. Aku hanya bercanda." Adrian mengelus kepalaku dengan lembut.
"Tapi kalau kamu ingin mencobanya lagi juga aku tidak mempermasalahkannya."
"Oh, jadinya kamu masih ingin melihat pesona ketampananku lebih lama lagi, ya."
"Padahal kamu ingin memakai pakaian apa pun selalu terlihat tampan di mataku."
"Kalau kamu yang memilihkan pakaiannya untukku, sudah pasti penampilanku jauh lebih tampan."
Setelah selesai mencoba semua pakaian, kami menghampiri kasir untuk membayar semua pakaian yang kami beli. Saat kami sedang berjalan menuju suatu restoran, tiba-tiba terdengar suara tangisan anak kecil yang keras. Dengan sigap Adrian menghampiri anak tersebut lalu berjongkok di hadapannya.
"Ada apa, Nak? Ayah ibumu ke mana?" tanyanya sambil mengelus kepala anak itu.
"Aku ... takut, Paman. Ayah ibu ... menghilang."
"Jangan menangis lagi, ya. Paman akan membantumu cari ayah ibumu." Adrian memeluk anak itu untuk menenangkannya.
"Paman janji?" Anak itu mengulurkan jari kelingkingnya yang mungil.
"Pasti janji." Adrian melekatkan jari kelingkingnya pada anak itu lalu mengelus kepalanya dengan kasih sayang.
Aku yang menyaksikan aksinya barusan membuatku membayangkan bagaimana Adrian akan memperlakukan anak kami dengan penuh kasih sayang seperti itu. Selain suamiku yang baik, ia juga merupakan calon ayah yang terbaik. Aku ikut bergabung dengannya dan juga memeluk anak itu dengan hangat.
"Tante juga akan membantumu. Tenang saja kami pasti akan menemukan ayah ibumu."
"Sebaiknya kita membawanya ke meja resepsionis," saran Adrian.
Aku bersama Adrian menggandeng tangan anak itu menuju meja resepsionis. Aku membayangkannya seperti aku sedang menggandeng anakku sendiri bersama dengan suamiku. Setibanya di sana, Adrian langsung melaporkannya kepada petugas yang bekerja di sana. Beberapa menit kemudian, kedua orang tua anak ini datang menghampiri anaknya dan memeluknya.
"Terima kasih telah menemukan anak kami. Maaf merepotkan Anda," ucap ayah dari anak itu dengan ramah.
"Tidak masalah. Saya hanya sekadar membantu dengan tulus. Lagi pula saya tidak tega melihat seorang anak yang sedang menangis karena tidak bertemu orang tuanya," balas Adrian merendah.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, ya. Lia, ayo bilang terima kasih kepada paman ini," ujar ibu dari anak itu.
"Makacih paman baik. Paman seperti malaikat di buku ceritaku."
"Paman boleh memelukmu sekali lagi?" tawar Adrian manis.
Lia menganggukkan kepalanya lalu Adrian memeluknya lagi sudah seperti memeluk anaknya sendiri. Adrian melepas pelukan itu dan memberikan beberapa permen untuk Lia.
"Ini permen untukmu. Jangan menangis lagi, ya. Malaikat kecil sepertimu tidak boleh menangis," ucapnya sambil mengelus kepalanya.
"Aku tidak menangis lagi. Makacih paman baik hati!" seru Lia girang.
"Lia, ayo jangan lupa berpamitan sama paman," ucap ibunya Lia.
"Tante cantik di sebelah paman juga disapa dong."
"Tante cantik, dadah."
"Dadah Lia, hati-hati, ya." Aku melambaikan tangan pada Lia.
Setelah Lia dan kedua orang tuanya meninggalkan kami berdua, tak lupa kami melanjutkan perjalanan menuju suatu restoran. Di restoran, sambil menunggu makanannya disajikan, aku menatap Adrian dengan tatapan mata kucing.
"Papa Adrian," panggilku manis.
"Iya, Sayang. Manis banget sih panggilnya," balasnya sambil mencubit pipiku.
"Papa baik hati seperti malaikat."
"Sayang, kenapa kamu jadi seperti ini tiba-tiba?"
"Suka-suka aku dong."
Di tengah pembicaraan kami, pelayan restoran menyajikan makanan yang telah dipesan oleh kami sebelumnya.
"Mama Penny makan yang banyak supaya kuat, ya," ucapnya sambil memberikan beberapa lauk untukku.
"Iya, Papa. Papa Adrian juga harus makan yang banyak." Aku menyuapinya tiba-tiba.
Seharian ini kami cukup bersenang-senang. Malam harinya, setelah makan malam, kami nonton film romantis bersama di ruang tamu. Memang ini pertama kalinya kami nonton film romantis bersama jadinya terasa aneh. Raut wajahnya mulai tidak enak dilihat ketika menonton filmnya sampai terus menguap.
"Basi nonton film romantis, kenapa, ya, semua pasangan suka nonton film genre ini!" ketus Adrian mengernyitkan alisnya.
"Aku juga tidak tahu. Rasanya biasa saja nonton filmnya membuatku mengantuk."
"Daripada menonton film romantis bersama, lebih baik kalau kita melakukan kegiatan romantis langsung bersamamu. Rasanya jauh lebih romantis."
"Aku setuju denganmu. Tapi sebenarnya nonton film romantis juga tidak ada salahnya sih."
"Asalkan ada adegan misterinya." Aku dan Adrian mengucapkannya bersamaan sambil saling tertawa puas.
"Karena film romantis biasa membosankan, tidak ada alur cerita buat tegang," tambahnya.
"Maka dari itu, sejak dulu kamu dan aku selalu menonton film misteri yang dicampur romantisnya supaya lebih seimbang selain nonton film horror."
Sorot matanya tiba-tiba tertuju pada jam dinding di hadapannya.
"Ini sudah malam, kamu mandi dulu saja."
Aku menurutinya lalu memasuki kamar mandi membersihkan diriku. Di luar hujan guyur lumayan deras disertai petir. Sebenarnya aku takut dengan petir apalagi sampai pemadaman listrik. Dengan sigap aku keluar dari kamar mandi lalu menaruh handukku di penjemuran handuk, tiba-tiba suara gemuruh lumayan keras membuatku semakin takut.
"AAAHH!" pekikku menjerit ketakutan membuatku duduk lemas di lantai sambil menutupi telingaku.
"Sayang, kamu kenapa?" Adrian langsung menghampiriku berjongkok di hadapanku menatapku sangat cemas.
Kemudian suara gemuruh itu timbul lagi membuat seisi apartemen ini mengalami pemadaman listrik.
"Sayang ... aku takut." Air mataku mulai mengalir dari kelopak mataku.
"Tidak usah takut, Sayang. Aku ambil bohlam lampu darurat dulu, ya."
"Jangan tinggalkan aku!" Aku menahannya lalu memeluknya dengan erat.
"Kamu pegang tanganku saja. Ikut aku ambil bohlam lampu daruratnya."
Aku mengikutinya ambil bohlam lampunya di rak penyimpanan. Lalu ia memasangkan bohlam lampunya pada lampu meja di sisi sofa ruang tamu. Adrian membiarkanku duduk di atas pangkuannya sambil mendekapku dengan hangat.
"Sayang, kamu masih takut tidak?" tanyanya masih mencemaskanku sambil mengusap air mataku dengan jempolnya.
__ADS_1
"Tidak terlalu sih. Tapi suara petirnya sangat menggangguku," sahutku bernapas lesuh.
"Bayangkan aku saja. Kamu pasti tidak akan takut."
Sorot mataku langsung tertuju padanya dengan pandangan berbinar sambil menyentuh pipinya. Senyuman bahagia kembali terukir pada wajahku. Memang wajah tampannya mampu menghilangkan rasa takutku.
"Aku selalu memikirkanmu, Adrian."
"Penny, sebenarnya tadi saat aku memeluk Lia. Rasanya aku ingin segera punya anak."
"Aku saat melihatmu tadi, kamu memperlakukan Lia seperti anak kita sendiri."
"Aku memang suka anak kecil sejak dulu. Apalagi kalau anakku nanti wajahnya sangat imut."
Karena suamiku sedang membahas anak, tentunya aku penasaran dengannya ingin memiliki anak seperti apa.
"Jadinya kamu berharap nanti kita punya anak perempuan atau anak laki-laki?" tanyaku.
"Mau perempuan atau laki-laki, mereka tetaplah anak kita."
"Pemikiranmu sama denganku."
"Omong-omong, kita mau bulan madu di mana? Aku masih belum dapat jawaban darimu," tanyanya mengalihkan pembicaraannya.
Berbincang tentang bulan madu lagi, aku kembali bingung. Sampai sekarang aku masih belum menetapkan ingin berbulan madu di mana.
"Aku masih bingung," desahku pasrah.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak usah terburu-buru memikirkannya."
"Kamu sendiri ada rencana ingin bulan madu di mana?" tanyaku balik.
"Aku juga tidak tahu. Aku sama sepertimu tidak suka tempat yang sudah biasa."
"Sudahlah, Sayang, aku tidak mau memikirkannya lagi, aku ngantuk nih. Aku jadikan dirimu bantal dulu sampai listriknya menyala, ya."
"Mau sampai besok pagi tidak masalah," balasnya berlagak sombong.
"Ish jangan! Nanti tubuhmu pegal-pegal karena menahan tubuhku yang berat."
"Aku punya ide. Kamu berdiri dulu."
Aku bangkit dari pangkuannya lalu ia menepuk pahanya untuk mengisyaratkan aku tidur di atas pahanya. Aku membaringkan tubuhku dan jadikan pahanya sebagai bantal. Lalu Adrian menutup daun telingaku dengan telapak tangannya agar aku bisa tertidur lelap.
"Tidur yang nyenyak, ya. Kalau listriknya sudah menyala nanti aku gendong kamu ke kamar," ucapnya sambil mengelus kepalaku.
"Terima kasih, Sayang."
"Kenapa kamu tiba-tiba mengucapkan terima kasih? Padahal aku tidak melakukan apa pun."
"Terima kasih karena membuatku tidak ketakutan seperti tadi lagi. Aku merasa sangat tenang jika kamu selalu berada di sisiku. Baru kali ini ada seseorang menenangkanku di saat kondisi begini. Biasanya orang mengejekku habis-habisan setiap melihatku ketakutan dengan petir."
"Syukurlah, aku lega mendengarnya. Kamu tidur dulu saja yang terpenting."
Tak lama kemudian, listriknya kembali menyala. Walaupun aku dalam kondisi masih tersadar, Adrian tetap menggendongku masuk ke dalam kamarnya dan menyelimuti tubuhku.
"Sayang, aku mandi dulu, ya. Kamu tidak usah menungguku."
"Tapi aku ingin menunggumu."
"Kamu terlihat kelelahan. Kamu tidur dulu saja, besok kita akan bermain sepuasnya lagi."
"Iya. Aku tidur dulu, ya. Aku sudah tidak bisa menahan kantuknya lagi." Aku terus menguap sampai mataku sudah tidak kuat lagi untuk menahannya.
Keesokan harinya, sesuai dengan janjinya Adrian mengajakku menuju suatu tempat yang sampai sekarang ia masih merahasiakannya dariku. Aku memakai gaun selutut berwarna biru laut yang merupakan gaun yang dibelikannya kemarin.
"Sayang, selama perjalanan sebaiknya kamu tidur saja," pintanya lembut.
"Tapi semalam aku sudah tidur nyenyak, Sayang."
"Kalau begitu, kamu terus pejamkan matamu."
"Kenapa begitu?"
"Aku ingin memberimu kejutan. Jadinya tidak seru kalau kamu sampai tahu tempatnya."
"Sebenarnya kamu mau membawaku ke mana sih?" tanyaku semakin penasaran.
"Ada deh. Yang pasti kamu jangan mengintip."
"Ya sudah deh, aku tidur saja."
Setelah sekitar 30 menit perjalanan, Adrian memberhentikan mobilnya di tempat tujuan. Adrian menuntunku secara perlahan berjalan di tempat itu dalam kondisi mataku masih tertutup.
"Sayang, sebenarnya kita ada di mana sih?" tanyaku semakin penasaran.
"Sebentar lagi kita akan sampai."
Tak lama kemudian, Adrian menghentikan langkah kakinya lalu aku membuka mataku secara perlahan menatap sekelilingku sangat terkagum hingga membuatku ingin menangis terharu dengan keindahan tempat ini.
"Apa kamu menyukainya?" Adrian melingkarkan kedua tangannya pada perutku dari belakang.
"Sayang, bagaimana kamu bisa tahu aku suka aquarium?" tanyaku dengan senyuman ceria.
"Dengan instingku. Sebenarnya aku sangat suka dengan tempat ini sejak dulu. Rasanya sangat tenang saat menikmatinya berdua bersamamu," jawabnya sambil menggenggam tanganku.
"Terima kasih telah mengabulkan keinginanku selama ini. Aku terlalu sibuk bekerja hingga tidak sempat mampir ke sini."
Dengan penuh rasa girang seperti anak kecil, aku mengelilingi seisi aquarium itu dengan senyuman girang. Impianku sejak kecil pergi kesini terwujud berkat suamiku sendiri. Apalagi kalau mengunjungi tempat ini bersama dengan orang yang kucintai semakin terasa romantisnya.
"Aku suka senyumanmu saat ini," ucapnya sambil menyentuh kedua tanganku.
"Benarkah? Kamu pernah mengatakan senyumanku terlihat seperti bintang. Memangnya aku tersenyum seperti apa di matamu sekarang?"
"Senyuman bahagia yang sangat tulus dari lubuk hatimu. Aku suka ciri khasmu sejak pertama kali kita bertemu."
"Apa mungkin kamu menyukaiku bukan karena aku detektif cerdas, 'kan?"
"Cinta pandangan pertamaku terhadapmu itu adalah senyuman ceria darimu. Senyumanmu itu sangat langka dimiliki oleh wanita. Aku ingin kamu tetap mempertahankan itu sampai seterusnya. Aku ingin kamu tersenyum alami bukan karena aku menggelitikmu, tapi karena kamu memang bahagia apalagi saat bersamaku. Itulah sebabnya aku menyebut senyumanmu seperti bintang bersinar di langit."
"Kalau begitu aku akan tersenyum terus setiap saat supaya kamu ikutan bahagia juga," ucapku melingkarkan kedua tanganku pada punggungnya.
"Pokoknya aku akan melakukan apa pun penuh cinta demi membahagiakanmu."
"Sepertinya aku selalu menerima apa pun darimu. Apakah ada hadiah yang kamu inginkan dariku? Aku pasti akan mewujudkannya untukmu."
"Aku punya permintaan." Adrian mulai menyunggingkan senyuman nakal.
"Apa itu? Jangan membuatku penasaran."
"Anak yang imut sepertimu."
"Ish permintaan macam apa itu! Sudah pasti kita akan memiliki anak nanti. Apakah ada hal lain lagi?"
"Kamu, Penny."
"Aduh, Adrian! Kamu mintanya yang benar dong!"
"Aku tidak menginginkan macam-macam. Yang terpenting kamu, anak kita, dan aku selalu hidup bahagia bersama." Adrian mencium keningku penuh kasih sayang.
"Hmm kalau kamu tidak mau apa pun dariku, aku akan memberitahumu tempat bulan madu kita."
"Akhirnya kamu sudah memutuskannya juga. Kamu ingin bulan madu di mana?"
"Mari kita bulan madu di Queenstown!"
__ADS_1
"Itu ide yang cemerlang, Sayang! Bahkan aku tidak kepikiran sampai sana."
"Kita harus booking tiketnya dulu sebelum itu."