
Aku mengetuk pintu ruang inspektur terlebih dahulu perlahan. Biasanya aku jarang sekali dipanggil Inspektur William seperti ini, ia hanya memanggil orang-orang yang selalu membuat kesalahan besar saat bekerja. Perasaanku jadi tidak enak sekarang.
"Masuklah!" pekik Inspektur William dari dalam.
Aku menundukkan kepalaku memasuki ruangan, lalu duduk di sebuah sofa di dekatnya.
Baru saja aku duduk sudah disambut tatapan kejam inspektur. "Kepala Detektif Penny, apakah kamu sekarang sehat?"
Tanganku mulai gemetar di dalam saki jaket. "Maksud Inspektur William apa, ya?"
"Coba pakai akal sehatmu, Kepala Detektif Penny! Kamu tidak biasanya seperti ini!" ketus Inspektur William memukuli sandaran sofa.
Aku seperti terkena sambaran petir di siang hari ketika dibentak kasar tidak seperti biasanya. Bahkan aku tidak mengerti maksudnya. "Maaf, tapi aku masih tidak mengerti maksudmu apa."
"Kamu baru saja menangkap CEO Josh Wilson dari stasiun TV BYZ, yaitu salah satu stasiun TV ternama di negara ini! Kamu tidak berpikir panjang langsung menangkapnya tanpa mencari bukti akurat!"
Sudah kuduga Inspektur William akan memarahiku karena permasalahan ini. Tapi, tetap saja aku harus melawannya berdasarkan penemuanku. "Tapi ada saksi mata yang mengatakan CEO Josh itu merupakan pelaku pembunuhannya."
"Saksi bisa saja keliru lihat kejadiannya. Lagi pula saat itu larut malam dan lampu jalanan tidak menyala semua. Apalagi saksi sudah usia lanjut pasti matanya sudah sangat rabun terutama melihat dalam kegelapan!" bentak Inspektur William sambil mengibaskan kerah kemeja.
Aku menghembuskan napas kasar. "Tapi saksi itu sangat yakin!"
"Pokoknya kamu cepat lihat rekaman kamera CCTV. Kalau sampai alibinya terungkap, kamu merusak nama baik kantor kita!"
Akhirnya aku menyerah berdebat daripada aku dipecat karena terus melawannya. Begitulah nasib bawahan harus menuruti perintah atasan. "Iya, aku mengerti."
"Untuk kali ini, akan kuampuni perbuatanmu. Tapi kalau sampai terjadi dua kali, siap-siap ajukan surat pengunduran dirimu!"
Kali ini sindirannya membuatku tersinggung hingga mataku mulai berkaca-kaca dan tanganku semakin gemetar. "Bukankah ini sangat berlebihan?"
"Maka dari itu, kamu harus selalu fokus pada pekerjaanmu itu! Pokoknya kamu jangan sampai mengecewakanku dua kali berturut-turut akibat perbuatan gegabahmu itu! Apakah kamu mengerti?"
"Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan mengulangi perbuatan cerobohku ini dan tidak akan merusak nama baik kantor ini."
"Sekarang kamu keluar dari ruanganku!"
Sebenarnya aku merasa ada sesuatu yang janggal terlintas di pikiranku. Ada suatu aroma sangat tidak asing melekat di dekat Inspektur William. Aroma itu, yaitu aroma parfum yang kuhirup saat di tempat pembuangan mobil bekas. Tapi tadi aku lihat Inspektur William tidak memakai lencana kepolisiannya. Mungkin ini suatu kebetulan saja parfum yang dipakainya sama.
Sekarang aku sedang melakukan perjalanan menuju bar tempat Josh nongkrong di sana biasanya. Karena ini keperluan mendesak, jadinya aku harus mampir ke sana terlebih dahulu. Sebenarnya aku sangat gugup saat menuju ke sana karena jika sampai persepsiku salah, aku bisa dipermalukan Inspektur William. Aku jadi ketakutan menelan saliva gugup.
__ADS_1
Sekitar hampir 30 menit perjalanan menuju ke sana akibat kemacetan di jalan, akhirnya aku tiba di bar itu. Aku berjalan memasuki ruang pemantauan CCTV di sana dengan lemas. Aku meminta rekaman CCTV di waktu kejadian itu kepada salah satu petugas keamanan di sana. Lalu aku melihat rekaman CCTV kejadian yang sebenarnya. Perasaanku jadi tidak enak dan merasa bersalah ketika melihat rekaman itu. Apa yang dikatakan Josh tadi saat interogasinya terbukti benar alibinya. Waktu dan kejadiannya sama persis dengan apa yang diucapkannya tadi. Aku terjatuh dengan lemas melihat rekaman itu hingga kedua mataku semakin berkaca-kaca. Kini aku harus bertanggung jawab dengan penangkapan Josh dan juga nama baik kantorku.
Aku mengendarai mobilku dengan kesal pada diriku sendiri sambil memukuli setiran berulang kali. Aku sangat bodoh dalam menyelidiki kasus seperti ini. Harga diriku akan ditaruh di mana saat melihat Inspektur William dan juga Josh besok. Baru pertama kali aku sangat lalai dalam menangkap pelaku kejahatan.
Setibanya di kediaman Adrian, aku melepaskan sepatuku dan membiarkannya tergeletak sembarang di lantai. Aku berjalan menuju ruang tamu dan menghempaskan tubuhku lemas di sofa. Aku hanya bisa menangis dengan keras untuk melampiaskan kekecewaanku saat ini.
Tak lama kemudian, aku mendengar Adrian sedang memasukkan kode akses kediamannya. Aku berusaha menahan tangisanku agar ia tidak mencemaskan aku, tapi tidak bisa. Justru tangisanku semakin pecah.
Dengan sigap Adrian berlari menuju ruang tamu menghampiriku memasang tatapan cemas. "Penny, kamu kenapa?"
Aku menyeka air mataku sejenak. "Tidak apa-apa."
Adrian berjongkok di hadapanku menyentuh tanganku sambil mengelusnya lambat laun.
"Kalau tidak apa-apa kenapa kamu menangis?"
Akhirnya aku tidak bisa menahan kekesalanku sejak tadi dan ingin melampiaskannya pada Adrian. "Aku memang detektif bodoh dan ceroboh." Perlahan aku memposisikan tubuhku duduk bersandar lemas pada sandaran sofa.
Adrian duduk di sebelahku. "Kenapa kamu berkata seperti itu, Penny?"
"Hari ini aku menangkap seorang CEO dari stasiun TV BYZ. Aku mengira dia adalah pelaku pembunuhan Maria dan Emma karena pernyataan dari seorang saksi. Tapi ternyata aku salah. Persepsiku salah ketika aku melihat rekaman CCTV untuk membuktikan alibinya. Lalu, tadi aku juga diancam inspektur di kantorku jika aku membuat nama baiknya hancur, aku harus mengundurkan diri dari pekerjaanku ini. Sekarang aku harus bagaimana." Aku menjelaskan semuanya kepadanya panjang lebar hingga tangisanku semakin pecah.
Adrian berinisiatif mendekapku hangat sambil menepuk punggungku berirama untuk menenangkanku. Setiap kali ia memperlakukan aku seperti ini, hatiku menjadi terasa tenang walaupun aku masih kecewa karena masalah tadi. Air mataku terus berlinang hingga jas kerjanya sedikit basah.
"Untung saja aku tidak membawanya sampai ke pihak kejaksaan. Kalau sampai aku bertindak lebih jauh, nanti kamu juga terkena dampaknya, Adrian. Harga diriku akan ditaruh di mana saat bertemu denganmu seperti ini."
Adrian masih bisa tertawa santai bahkan mengelus kepalaku gemas. "Kalau seandainya aku terkena dampaknya, tidak masalah bagiku. Asalkan kamu adalah penyebabnya."
Di saat begini ia masih bisa bercanda. Memang ia bermaksud menghiburku, tapi bercanda terdengar serius bagiku. "Adrian, ini bukan waktunya bercanda! Masa iya kamu merelakan pekerjaanmu demi aku!"
Adrian menepuk-nepuk pundakku berirama dan menempelkan bibirnya pada puncak kepalaku. "Barusan aku bercanda, karena aku hanya ingin menghiburmu saja. Yang penting kamu jangan merasa dirimu bodoh. Perbaiki kesalahanmu dengan cara membuktikan kepada Inspekturmu bahwa kamu adalah kepala detektif yang layak di depan matanya. Aku juga pernah melakukan kesalahan seperti ini tapi aku tidak menyerah begitu saja. Aku terus memperbaiki kesalahanku dan akhirnya aku bisa membuktikan kepada kepala jaksa bahwa aku adalah seorang jaksa yang layak dan kompeten."
Mendengar nasihatnya aku sedikit mengangkat kepalaku. "Benarkah?"
"Jadilah seorang Kepala Detektif Penny yang kukenal sejak dulu pantang menyerah dan cerdas," pujinya tersenyum manis padaku.
Mendengar pujiannya, aku bisa tersenyum lagi. Memang vitaminku selalu bisa diandalkan setiap kali aku mengalami masalah. Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya manja.
"Aku tidak salah memilihmu menjadi pacarku."
__ADS_1
"Aku akan selalu mendukungmu seumur hidupku." Adrian mengecup keningku penuh kasih sayang secara mendalam hingga membuat senyumanku semakin mengambang sekarang.
Aku mengelus pipinya lembur. "Adrian, hanya kamu yang bisa membuatku kembali tersenyum sekarang."
Kami saling melempar tawa bahagia. Terutama netra gagahnya terfokus memandangi wajahku membuat pipiku memerah. "Aku suka melihat senyuman indahmu, Penny. Semyumanmu itu membangkitkan semangatku selain vitamin penyemangat darimu."
"Aku tersenyum karena kamu selalu membuatku bahagia, Adrian."
Adrian membiarkanku duduk di atas pangkuannya, kembali mendekapku hangat menatapku dengan pandangan berbinar. "Penny, aku menyukai senyumanmu karena senyumanmu itu bagaikan cahaya bintang yang terus menerangi langit malam. Kalau seandainya kamu menangis seperti tadi, maka kamu bagaikan cahaya bintang yang meredup sehingga seluruh kota akan mengalami kegelapan sepanjang malam. Kamu menangis sambil merutukki dirimu sendiri, sama saja seperti membuatku ikut terjatuh ke dalam kegelapan itu."
Tidak kusangka semakin lama tingkat gombalannya semakin berkembang. Gombalannya barusan membuatku tertawa anggun. "Aku tidak menyangka kamu bisa menggombalku begini."
"Maka dari itu, kamu harus berjanji padaku jangan pernah menganggap dirimu sendiri bodoh."
Aku mengangguk semangat. "Aku pasti berjanji, Adrian!"
Adrian mengulurkan jari kelingkingnya padaku lalu aku melekatkan jari kelingkingku padanya sambil tertawa bahagia. Ia mengecup hidungku lembut sekilas. "Ini sebagai tambahan bahwa kamu pasti akan selalu menetapi janjimu."
"Kamu membuat jantungku berdebar sekarang." Aku menyentuh dadaku merasakan detak jantungku hingga pipiku merah merona.
"Jantungku juga sangat berdebar berada di dekatmu sekarang, Penny." Adrian menyunggingkan senyuman usil menyandarkan kepalanya pada pundakku dengan manja.
Hari semakin malam, perutku semakin lapar menandakan bahwa energiku sudah habis dan harus diisi lagi.
"Omong-omong, kamu tidak memasak makan malamnya, Adrian? Atau aku saja yang memasak hari ini?"
"Biar aku saja yang memasak. Kamu tinggal melihatku memasak saja. Tapi aku ingin melekat padamu lebih lama lagi, bolehkah aku melakukannya?"
"Tidak masalah bagiku. Lagi pula juga perutku tidak terasa lapar. Kamu ingin melekat padaku selama satu jam juga aku tidak akan menegurmu," tuturku santai sambil mengelus kepalanya, meski aku sedikit lapar. Tapi aku memilih bermanja dengannya.
Sebelum berangkat ke kantorku, aku mampir sebentar ke stasiun TV BYZ untuk memeriksa rekaman CCTV di saat kejadian Emma terbunuh. Saat di ruang pengendalian, aku menatap rekaman CCTV itu dengan fokus dan memang alibinya Josh benar lagi. Walaupun persepsiku salah, aku harus meminta maaf secara resmi kepada Josh atas kesalahanku ini.
Aku menghampiri sel tahanan sementara, membukakan pintu sel membiarkan Josh terbebas. Aku mengembalikan semua barangnya yang disitaku sambil meminta maaf dengannya menundukkan kepalaku bersalah. "Aku secara resmi meminta maaf padamu dengan tulus atas kelalaianku ini. Lain kali, aku tidak akan mengulanginya lagi."
Josh mengangkat kepala angkuh. "Jadi, sekarang kamu percaya?"
Aku mengangguk gugup. "Iya, aku akan memercayaimu."
Ekspresi Josh berubah dalam sekejap menjadi tertawa santai. "Sebenarnya aku ingin memarahimu habis-habisan tapi karena wajahmu ini lumayan cantik jadi aku tidak tega mengomelimu seperti itu."
__ADS_1
Perkataannya sangat ambigu justru membuatku bingung apakah ia sungguh memaafkan aku atau ia sedang menyindirku. "Kamu memaafkan aku?"
"Untuk kali ini aku akan memaafkanmu. Tapi sebagai gantinya, kamu harus mentraktirku makan di suatu tempat."