Good Partner

Good Partner
Part 33 - Menyusup


__ADS_3

Pak John hanya mengucapkan satu kata itu dan berhenti sejenak. Ia pasti sangat bingung dan ragu memberitahu yang sebenarnya padaku. Apalagi ia menyimpan banyak rahasia dariku pasti bingung ingin menjelaskannya dari mana.


Embusan angin AC mendinginkan ruang interogasi sehingga suasana semakin tegang. Aku terus memainkan pulpenku sambil menunggunya mengungkapkan semuanya.


Sudah sekitar satu menit berlalu, namun ia tidak melanjutkan perkataannya lagi hingga membuat batas kesabaranku telah habis. Aku menaruh pulpennya kasar di atas meja sambil menghembuskan napasku kasar, lalu secara terpaksa aku harus mengancamnya lagi supaya ia membuka mulutnya.


"Kalau kamu tidak ingin memberitahu semuanya pada saya, kamu akan membusuk di balik jeruji besi itu lebih lama lagi. Semua kekuasaan yang kamu perjuangkan selama ini akan lenyap begitu saja," ancamku memelototinya dengan tajam sambil memukuli meja.


"Percuma saja. Kamu tetap tidak akan pernah bisa menemukan tempat itu," balas Pak John tersenyum sinis padaku berlagak sombong.


Aku memutar bola mataku bermalasan mengambil buku catatan pribadi Pak John, lalu melemparkan ke meja dengan kasar.


Aku membuka buku itu menelusuri halaman yang tertulis kata 'Versailles' sambil melingkari kata itu terus-menerus dengan menggunakan pulpen. "Setahu saya Versailles itu merupakan sebuah istana kuno yang terletak di Eropa. Tapi kenapa kamu menulis kata ini di buku catatanmu? Apa maksud dari kata itu? Di kota ini tidak ada istana Versailles."


Pak John menghembuskan napasnya kasar sambil menggarukkan kepalanya kasar karena dirinya merasa kalah berdebat denganku. Pada akhirnya ia memutuskan membuka suaranya.


"Itu adalah tempat di mana Colin menyembunyikan sesuatu di sana."


"Kalau kamu tahu itu merupakan tempat Pak Colin menyembunyikan sesuatu di sana, pasti kamu pernah ke sana, 'kan?"


"Saya belum pernah ke sana selama ini."


"Apakah kamu yakin? Kamu sungguh tidak pernah menginjakkan kakimu di sana selama kamu bekerja dengannya?"


"Saya sungguh tidak pernah masuk ke dalam sana. Selama ini saya hanya bertemu dengannya di luar saja. Hanya itu clue yang bisa saya sampaikan padamu."


"Kenapa kamu memberitahu informasinya setengah saja!" bentakku sambil menggebrak meja kasar.


"Selamat mencari hingga ketemu," ujar Pak John dengan nada sindiran.


Aku merapikan semua barang buktinya lalu melangkah keluar dari ruangan. "Ya sudah, kalau begitu interogasinya sampai di sini dulu."


Sekarang sudah larut malam, tubuhku terasa sakit dan pegal-pegal akibat belakangan ini kelelahan bekerja. Aku memutuskan beristirahat di rumah mengisi energiku penuh.


Setibanya di rumah, aku melangkah memasuki rumahku bingung mengamati sekelilingku sangat gelap. Aku menyalakan lampu berjalan menuju ruang makan menemukan sebuah catatan kecil yang ditinggalkan ibu di meja makan. Aku mengambil selembar catatan kecil itu membacanya dalam hati.


"Penny, ibu akan di rumah sakit selama beberapa hari ini untuk menjaga ayahmu. Jadinya ibu tidak akan berada di rumah selama beberapa hari. Ibu sudah memasakkan makanan untukmu dan ada banyak makanan di kulkas. Ingat jangan bangun kesiangan lagi!"


Dengan sigap aku membuka kulkasnya terkejut melihat banyak makanan yang sudah dimasak ibu sebelumnya. Tetap saja ibu menyebalkan karena yang ada di pikiran ibu selalu saja aku bangun siang. Tapi tidak masalah bagiku karena ibu memasak makanan kesukaanku.


Keesokan pagi, aku sarapan makanan yang sudah disediakan ibu di kulkas dan bersiap-siap berangkat ke kantor.


Setibanya di kantor, aku melihat Pak John sedang duduk termenung di jeruji besi itu. Karena Tania dan Nathan sudah datang lebih awal, maka aku memanggil mereka untuk rapat lagi.


"Semalam, apakah interogasinya berjalan lancar?" tanya Tania penasaran.


"Pak John hanya memberitahu clue mengenai 'Versailles' saja. Katanya Pak Colin menyembunyikan sesuatu di sana," jawabku menghela napas pasrah.


Nathan bertopang dagu. "Hmm kira-kira dia menyembunyikannya di mana, ya?"

__ADS_1


"Mungkinkah dia menyembunyikannya di restorannya? Terakhir kali saat dia merusak restorannya sendiri, aku melihat tidak ada kamera CCTV sama sekali di restorannya. Bukankah itu sangat aneh?" tanyaku ragu hingga dahiku berkerut.


"Bisa juga sih. Mana mungkin di sebuah restoran tapi tidak ada kamera CCTV. Pasti dia tidak memasang kamera CCTV supaya pihak kepolisian tidak bisa melihatnya," sambung Tania sambil memainkan pulpennya.


"Tapi bagaimana cara kita memasuki restorannya? Kita tidak bisa masuk saat sedang terang begini. Lagi pula dia masih membuka restorannya," tanya Nathan menatapku.


"Kita akan menyusup malam ini. Kali ini aku sangat membutuhkanmu, Nathan. Kamu ahli dalam membuka gembok dengan memakai alat," pintaku pada Nathan.


"Kalau masalah itu serahkan saja semuanya padaku. Aku adalah raja dalam hal ini," sahut Nathan berlagak sombong sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Tania berdecak kesal menggelengkan kepala. "Cih! Hanya melakukan gitu saja sudah bangga!"


Malam harinya, aku dan kedua temanku menyusup restoran milik Pak Colin. Sebelum menyusup ke sana, kami memakai sarung tangan karet, topi, dan masker supaya tidak tertangkap basah kamera CCTV di jalanan sekitar restoran.


Nathan memulai aksi kerennya membuka kotak perabotnya mengambil beberapa peralatan untuk membuka gembok restoran. Nathan mencoba buka gembok dengan sekuat tenaga sambil menyeka keringatnya terus.


Sepuluh menit telah berlalu, akhirnya Nathan berhasil membuka gemboknya mengulas senyuman cerdasnya di hadapan kami.


"Wah, kamu memang hebat, Nathan!" seruku berdecak kagum padanya.


"Ya, lumayan deh melihat keterampilanmu yang unik." Tania memutar bola matanya bermalasan tersenyum paksa.


"Ayo, kita masuk sekarang!" ajak Nathan.


Kami semua memasuki restoran itu dan menyalakan senter ponsel kami sebagai alat bantu penerangan untuk mencari sesuatu. Di restoran ini, tidak ada sesuatu yang terlihat mencurigakan. Aku sudah memeriksa semua ruangan termasuk ruang kantornya, namun tidak ada benda yang mencurigakan ataupun semacam tombol rahasia di sana.


"Tidak nih, sepertinya Pak Colin tidak menyembunyikannya di restoran," jawab Tania lesu.


"Yah sia-sia deh kita kemari. Ini semua salahmu, Tania!" bentak Nathan kecewa pada Tania.


Tatapan Tania melotot. "Kenapa jadi aku yang disalahkan? Tadi aku hanya menebak saja dan setuju dengan perkataan Penny."


"Kalau begini kita jadi membuang waktu ke sini dan tidak mendapatkan hasilnya," gerutu Nathan bibirnya mengerucut.


"Kamu yang bodoh dan tidak bisa berpikir!" ketus Tania dengan lantang.


Nathan memelototi Tania dengan tajam seperti ingin menerkamnya. "Apa? Kamu bilang aku itu bodoh?"


Telingaku semakin terasa panas akibat mendengar perdebatan mereka yang cukup dahsyat. Aku menarik napasku panjang, lalu menghembuskannya pelan bersiap berteriak.


"Cukup hentikan! Kalian ini berisik sekali di situasi begini. Kalau sampai kita tertangkap gimana. Kalian harus bertanggung jawab pokoknya!" omelku memelototi mereka sambil berkacak pinggang.


"Maaf Penny, aku tidak akan mengulanginya lagi," sesal Nathan menundukkan kepalanya.


"Jadi sekarang kita harus gimana?" tanya Tania padaku.


"Hmm berarti maksud dari Pak John mengenai 'Versailles' itu adalah rumahnya Pak Colin."


"Sebaiknya kita bergegas keluar dari sini!" ajak Tania.

__ADS_1


Kami semua keluar dari restoran itu dan Nathan kembali mengunci restorannya seperti semula agar tidak ketahuan. Tania dan Nathan pulang ke rumah mereka sedangkan aku masih bingung ingin pergi ke mana. Apalagi beberapa hari ini ibu tidak berada di rumah rasanya sangat kesepian. Setelah berpikir lama, aku memutuskan mengunjungi kediaman Adrian untuk mendiskusikan hal ini.


Setibanya di sana, aku merapikan penampilanku supaya terkesan penampilanku selalu rapi di hadapannya. Lalu aku menekan bel tanpa ragu. Tidak perlu menunggu lama, Adrian langsung membukakan pintunya untukku.


"Penny, tumben sekali kamu mengunjungiku malam begini," sambutnya tersenyum manis dicampur terkejut mengamatiku.


"Maaf telah mengganggumu malam begini. Aku hanya ingin menemuimu saja."


"Tidak masalah, Penny. Ayo masuk dulu!" ajak Adrian mempersilakan aku memasuki kediamannya.


Aku melangkah menuju ruang tamu menduduki sofa. Sedangkan Adrian menghampiri pantry mengambilkan segelas air putih, lalu memberikannya padaku.


"Terima kasih, Adrian," ucapku sambil meneguk air.


"Apakah telah terjadi sesuatu padamu?"


Aku memanyunkan bibirku. "Aku hanya merasa kesepian saja. Belakangan ini ibuku tidak berada di rumahku karena harus merawat ayahku di rumah sakit."


"Jadinya kamu mengunjungiku sekarang supaya tidak merasa kesepian?"


Aku mengangguk pelan tersenyum malu di hadapannya karena aku merasa tidak enak padanya.


Adrian tertawa bahagia menyentuh punggung tangan kiriku. "Kamu tidak perlu malu. Aku sangat bahagia melihatmu mengunjungiku sekarang. Sebenarnya aku juga merasa kesepian dari tadi tapi sejak ada kehadiranmu di sini, aku merasa sangat nyaman bersamamu."


"Lagi pula aku juga rindu berbincang denganmu Adrian. Belakangan ini aku terlalu sibuk bekerja sampai tidak sempat bertemu denganmu."


Dengan sigap Adrian mendekapku hangat sehingga aku semakin merasa nyaman berada di dekatnya. "Aku bersyukur memiliki sahabat sangat perhatian seperti kamu, Penny."


"Adrian ...."


"Biarkan aku memelukmu seperti ini terus. Entah kenapa setiap aku memelukmu, aku merasa sangat nyaman saja."


Tentu saja tidak ada penolakan dariku. Ia ingin memelukku sampai tengah malam juga tidak masalah bagiku.


Setelah berbincang santai, kami berdua memutuskan berdiskusi urusan pekerjaan di ruang kerja.


"Sepertinya kita harus menerobos rumah Pak Colin. Tadi aku menyusup restorannya tapi aku tidak menemukan apa pun di sana," usulku sambil memutar pulpenku.


"Dia pasti menyembunyikan benda berharganya di rumahnya."


"Tapi masalahnya, bagaimana cara kita memasuki rumahnya begitu saja? Terakhir kali ingat tidak saat kita mengunjungi rumahnya?" tanyaku kebingungan.


"Iya, aku masih ingat. Sistem keamanan rumahnya sangat ketat. Setiap sudut rumahnya ada kamera CCTV."


"Selain itu, pagar rumahnya juga ada sensor wajah tamu dan pagar rumahnya terbuka secara otomatis jika wajah kita terverifikasi," sambungku sambil mengetuk meja berirama.


"Kita harus membuat dia mengundang kita sebagai tamunya agar kita bisa masuk ke sana," usulnya.


"Kita harus menyusun strateginya dulu."

__ADS_1


__ADS_2